
"Aku juga heran. Black cat ini. Orang yang sangat bar-bar dan tidak bisa diajak kompromi. Bagaimana dia bisa sangat penurut kepada Tigor?" Tanya Birong.
"Lelaki hitam misterius itu aku tidak tau bagaimana cara menangani nya bang. Dia seperti angin. Sebentar ada lalu menghilang." Jawab Togar.
"Sudah banyak yang menjadi korban keganasan setan hitam ini. Kita tidak boleh lagi lengah. Asah terus kemampuan kalian! Kita terlalu lama tidak mendapatkan kejutan. Makanya tubuh kalian sudah berlemak. Ada saatnya hanya tinggal diri sendiri tanpa ada yang menolong. Ingat itu!" Kata Birong.
Togar dan Tumpal sama-sama mengangguk dan tanpa membantah.
Memang apa yang dikatakan oleh Birong itu ada benarnya juga.
Sampai kapan mereka akan mengandalkan anak buah? Jika bukan karena kemampuan sendiri, maka di saat-saat genting, siapa yang akan menolong?
***
Dolok ginjang
Berita tentang babak belur nya Ronggur akhirnya sampai juga ke telinga Lalah.
Lalah yang memang sampai saat ini masih menyimpan rasa sakit hati terhadap Ronggur yang mencoba mengganggu Wulan putrinya ketika di pusat hiburan dunia gemerlap malam di Kota Tasik Putri beberapa bulan yang lalu merasa sangat bersyukur atas kejadian yang menimpa Ronggur ini.
Bagaimana tidak? Kabar yang dia dengar yang berasal dari sumber yang sangat dia percaya mengatakan bahwa Ronggur keluar dari lokasi proyek milik Tigor itu dengan cara di seret dalam keadaan pingsan setelah Monang, yang tersinggung dengan perkataan Ronggur kembali menghajar putra Jordan itu sebelum mengirim tubuh bonyoknya ke komunitas elite kota Kemuning.
"Baru puas hatiku mendengar anak bajingan itu babak belur." Kata Lalah dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Benar Bos. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu seumur hidupnya. Kali ini dia kena batunya." Kata Roger, pengawal setia Lalah.
"Anak kemarin sore yang terlahir dalam buaian mimpi indah dan selalu di manja. Dia mengira bahwa dunia ini hanya sebatas kota Kemuning saja. Dasar katak di bawah tempurung. Tidak tau luasnya dunia. Berani melawan orang-orang dari Metro City? Bosan sekali dia hidup." Kata Lalah lagi.
"Sebenarnya saya juga tidak begitu tau Bos, siapa sebenarnya orang-orang dari Metro City ini. Siapa mereka ini Bos?" Tanya Roger yang mulai merasa penasaran.
"Mereka ini adalah bawahan Jerry William. Orang yang memiliki kekuasaan yang mampu mendirikan sebuah negara di dalam negara.
Nyaris sempurna. Kekayaan, kekuasaan, kepandaian, kepemimpinan, semua dimiliki oleh anak muda yang bahkan lebih muda dari diri mu itu, Roger." Kata Lalah tanpa maksud melebih-lebihkan tentang Jerry William ini.
"Apakah sebegitu super power nya Jerry William ini bos?"
"Di luar dugaan mu. Perusahaan miliknya tersebar luas di beberapa negara. Bahkan, untuk perusahaan konstruksi miliknya saja, jika di total mencapai miliaran dollar Amerika serikat. Belum lagi bisnis Hotel, restoran, real estate, tambang timah, batu bara, perusahaan nikel dan masih banyak lagi. Jika aku dan seluruh kekayaan para pengusaha di provinsi ini di gabungkan, maka tidak ada seperempat kekayaan milik Jerry William ini."
"Pantas saja mereka dengan sangat mudah bisa mendapatkan izin pembangunan di kota Kemuning." Kata Roger.
"Suatu kehormatan karena bisa menjalin kerjasama walau hanya dengan anak perusahaan sekalipun. Tigor benar-benar sangat beruntung. Nasib anak itu selalu mujur." Kata Lalah.
"Dia orang baik Bos. Selalu mendapat perlakuan yang tidak adil. Padahal jika bukan karena dirinya, mungkin geng kucing hitam saat ini hanya tinggal nama saja. Kehadiran dirinya bukan hanya berguna bagi geng kucing hitam. Tapi juga berguna untuk kita. Pembatas yang menghalangi geng tengkorak untuk menguasai Dolok ginjang ini karena masih adanya kota Tasik Putri yang masih berada di tangan Martin. Jika mereka runtuh, geng tengkorak pasti akan menyebrang dan meruntuhkan kita di sini." Kata Roger.
"Aku juga dulu sempat was-was ketika Togar merebut gang kumuh. Tinggal sedikit saja lagi mereka akan menguasai jembatan. Bahkan kafe melodi pun nyaris berpindah tangan. Untungnya Tigor segera bergabung dengan Martin. Kalau tidak, entahlah."
"Makanya kita harus bisa membantu mereka. Bukan karena mereka adalah sahabat, tapi ini juga berhubungan dengan kepentingan kita di Dolok ginjang ini." Kata Lalah.
*********
Kriiiiiing...
Kriiiiiing....!
Terdengar suara ponsel berdering.
Tampak seorang gadis mengenakan seragam putih, buru-buru menarik laci meja kerjanya untuk mengeluarkan ponsel.
Begitu ponsel itu berada di dalam genggamannya, dia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hey Debora. Apa kau sudah mendengar kabar tentang Tigor?" Tanya Wulan melalui sambungan telepon.
"Mana lah aku tau. Kau tau kan kalau aku sedang sibuk-sibuknya ini. Memangnya ada apa dengan Tigor?" Tanya Debora.
"Aku tadi menguping pembicaraan ayah ku. Katanya Tigor dan Monang serta para kontraktor di proyek pembangunan di sana menghajar Ronggur dan anak buahnya." Kata Wulan berapi-api.
"Ronggur?"
"Iya Ronggur. Kau ingat yang memukuli Irfan di pusat hiburan dunia gemerlap malam waktu itu?" Tanya Wulan.
"Oh. Ronggur yang di hajar oleh black cat itu kan?" Tanya Debora yang mulai mengerti arah tujuan perkataan Wulan barusan.
"Nah iya benar. Saat ini Ronggur itu sedang di rawat di rumah sakit karena pingsan dihajar oleh Monang. Mereka lalu mengirim tubuh babak-belur Ronggur tepat di depan rumah ayah nya."
"Ah yang benar Lan?! Masalah apa?" Tanya Debora yang mulai tertarik.
"Apa lagi. Sama seperti ketika di dunia gemerlap malam. Dia sengaja datang mencari gara-gara. Akhirnya dia dan rombongan anak buah nya dipukuli sampai tidak sadarkan diri."
"Lalu bagaimana dengan Tigor? Setahuku Ronggur itu kan juga anggota gengster. Apakah mereka nanti tidak membalas dendam kepada Tigor?" Tanya Debora yang mulai khawatir.
"Kau tampaknya sangat mengkhawatirkan Tigor." Ledek Wulan.
"Ah siapa bilang. Aku hanya... Ak.., aku.. aku hanya..."
"Sudah lah Debora. Mangaku Saja!" Kata Wulan semakin menggoda Debora.
"Sudahlah Lan! Ntar aku matiin nih handphone ku jika kau terus menggoda." Ancam Debora.
"Iya iya iya! Maaf. Kau tidak perlu khawatir soal Tigor ini. Kau belum tau saja siapa Tigor yang sekarang. Dia sekarang adalah bos di kota Kemuning. Dia juga memiliki anak buah yang ramai. Jordan mana berani mencari gara-gara sama Tigor. Mati dia." Kata Wulan.
Ada nada bangga dan menyanjung dari setiap ucapannya yang membuat wajah Debora mendadak bersemu merah.
"Bora, aku berencana ingin mengunjungi kota Kemuning. Apa kau mau ikut?" Tanya Wulan.
"Aku tidak punya waktu Lan. Klinik ku tidak bisa di tinggal. Kasihan pasien ku nanti." Kata Debora beralasan.
"Minggu kan klinik mu tutup? Begini saja. Hari Sabtu kau tutup lebih awal. Kita berangkat pukul satu dari kota Tasik Putri. Kemungkinan kita akan tiba sekitar pukul sepuluh atau sembilan malam di sana. Sebelum berangkat, aku akan membooking Hotel untuk kita menginap. Bagaimana?" Tanya Wulan.
"Sebelum berangkat, kau pastikan dulu apakah Tigor punya waktu atau tidak? Apalah dia mau menerima kita atau tidak? Jangan sampai keberangkatan kita menjadi sia-sia karena yang ingin kita temui tidak bersedia menerima kita." Kata Debora mengungkapkan keraguan nya.
"Benar juga kata mu itu. Nanti akan aku tanyakan langsung kepadanya. Udah dulu ya. Sampai ketemu hari Sabtu." Kata Wulan sambil mengakhiri panggilan.
"Ok Lan." Jawab Debora lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Terdengar tarikan nafas berat.
Ada riak penyesalan di wajah Debora.
Bagaimana mungkin dia dulu begitu saja melepaskan Tigor. Sebongkah permata yang tak disadari olehnya. Malah di buang dan memilih Irfan hanya karena Irfan menawarkan dirinya untuk naik mobil yang baru dia beli.
Bukan sekali dua kali dia menghina Tigor. Mengatakan bahwa Tigor hanya seorang gelandang, pengamen jalanan yang tidak memiliki masa depan. Namun sekarang? Tigor bahkan melebihi ekspektasi nya sendiri.
"Huhhh....!"
Terdengar Debora menghembuskan nafas berat sekali lagi.
Dengan lemas dia mengemas barang-barangnya lalu bersiap untuk menutup klinik praktek miliknya itu.