BLACK CAT

BLACK CAT
Rencana jahat Beni dan Tumpal



Blok B perumahan Tasik Putri.


Setelah melakukan perjalanan beberapa menit dengan mengendarai mobil dari Kafe Melody, akhirnya Tigor dan Martin pun sampai di depan sebuah rumah yang menurut Tigor sangat mewah.


Dari mulai ukuran, luas halaman dan juga dekorasi, semuanya melambangkan kemewahan.


Untuk saat ini Tigor benar-benar tidak mampu menyembunyikan kekagumannya begitu melihat Rumah dua tiga lantai itu. Keangkuhan yang selama ini yang selalu dia tonjolkan supaya orang lain tidak memandang rendah di hadapannya benar-benar tidak berlaku.


"Ayo Tigor! Mari kita lihat rumah mu." Ajak Martin sambil menyerahkan kunci rumah tersebut kepada Tigor.


"Pak Martin. Kau serius? Ini berlebihan menurut ku. Ini terlalu tinggi. Aku tidak bisa menerimanya." Kata Tigor.


"Apa yang tinggi? Kelak kau akan mendapatkan lebih dari ini. Ini bukan apa-apa Gor." Kata Martin.


"Andai aku sendiri, mungkin tidak jadi masalah. Namun bagaimana dengan sahabat-sahabat ku? Mereka akan kaget. Bayangkan saja! Tadinya kami adalah gelandangan yang tinggal di bawah jembatan hampir delapan tahun. Tiba-tiba dari tempat sampah kemudian naik beberapa level. Ini tidak baik. Benar-benar ini sesuatu yang tidak baik." Kata Tigor menggeleng.


"Seperti yang aku katakan tadi. Tidak masalah jika kau tidak mau menempati rumah ini untuk sementara waktu. Tapi yang jelas aku tidak akan menarik balik apa yang telah aku berikan dan kau juga tidak boleh menjual rumah ini. Jika kau merasa ini berlebihan, kau boleh memulai dari bawah. Di belakang dunia gemerlap ada satu rumah yang kosong. Kau bisa bertetangga dengan Monang di sana. Bagaimana?" Tanya Martin.


"Nah. Kalau itu aku setuju. Jujur saja bahwa aku sangat khawatir terhadap sahabat-sahabat ku. Aku takut mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang mendadak ini. Bisa gila mereka." Kata Tigor.


"Baiklah. Aku mengerti maksudmu itu. Yang penting sekarang adalah kau harus menandatangani surah kepemilikan itu dulu. Setelah serah terima selesai, aku akan mengantar mu ke belakang pusat hiburan dunia gemerlap. Sekalian kau bisa memantau pusat hiburan itu, sekaligus bisa menjaga keamanan di restoran samporna dan juga Hotel Samporna. Bagaimana?" Tanya Martin.


"Aku setuju saja. Yang pasti asal jangan langsung menempati rumah yang sangat mewah ini. Paling tidak untuk satu tahun ini." Kata Tigor.


Sebenarnya apa yang di khawatirkan oleh Tigor ini sangat beralasan. Walaupun dulu Tigor ini bukanlah orang miskin dan sempat mengenyam pendidikan, tapi itu adalah dirinya dan bukan keempat sahabat nya. Tujuannya menolak menempati rumah ini katrna dia lebih menjaga keseimbangan untuk sahabat-sahabatnya. Seumur hidup mereka terbiasa di jalan. Tidur kadang di mana saja dan kebanyakan di bawah jembatan selama hampir delapan tahun ini.


Bagi Tigor, dia takut sahabat nya akan lupa diri, menjadi serakah dan mulai arogan. Jika semua itu terjadi, maka tidak akan ada jalan mundur baginya. Lebih baik mencegah daripada nanti menimbulkan masalah.


*********


Setelah proses serah terima berjalan dengan lancar, akhirnya Tigor dan Martin pun meninggalkan kawasan perumahan orang-orang berduit itu menuju ke restoran Samporna.


Ketika mobil yang mereka kendarai tiba di depan restoran itu, dari dalam tampak Beni dan Tumpal sangat antusias membukakan pintu mobil tersebut. Namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat bahwa Tigor sedang duduk santai di kursi milik boss besar mereka sedangkan boss besar mereka sendiri bertugas seperti seorang sopir.


"Terimakasih." Kata Tigor dengan lagak acuh keluar dari mobil itu dan membukakan pintu depan untuk Martin.


"Silahkan Pak!" Kata Tigor sambil diikuti tatapan berapi-api dari Beni dan Tumpal.


"Apa-apaan kau ini bocah? Berani sekali kau duduk di kursi boss dan membiarkan dia menjadi pengemudi." Kata Beni menegur dengan keras.


"Oh. Maafkan saya pak Beni. Saya tidak bermaksud begitu. Ini karena saja sedikit kelelahan. Jadi, boss besar kita bermurah hati untuk mengemudikan kendaraan. Apa saya salah?" Tanya Tigor sambil berpura-pura tertunduk ketakutan.


"Ada apa ini? Hentikan tindakanmu itu Tumpal!" Kata Martin berusaha menengahi. Dalam hatinya dia berdoa semoga saja Tigor tidak terpancing emosi. Jika Tigor sampai emosi, dia khawatir bahwa Tumpal dan Beni akan dibikin babak belur oleh anak muda itu.


"Maaf bang. Anak ingusan ini sudah keterlaluan. Jika tidak diberi pelajaran, besok-besok dia akan menginjak kepala mu bang!" Kata Tumpal.


"Mengapa jadi kau yang keberatan? Aku yang sengaja ingin menyetir sendiri. Bukan salah Tigor." Kata Martin memberi pembelaan.


"Bang. Mengapa kau terlalu memberi muka kepada orang ini?"


"Sudah. Aku tidak mau kalian terlalu banyak bicara dan memperbesar masalah. Lagi pula, Tigor ini sudah resmi menjadi anggota organisasi kucing hitam. Mulai saat ini kalian harus menganggap Tigor menjadi sebagian dari keluarga kita." Kata Martin.


"Tigor. Ikuti aku. Aku akan menunjukkan rumah kosong yang bisa kalian tempati." Kata Martin sambil mengajak Tigor untuk melihat rumah yang terletak di belakang restoran dan pusat hiburan gemerlap malam.


Setelah Martin dan Tigor berlalu, Beni yang masih merasa tidak puas langsung menghampiri Tumpal.


"Kau lihat gelandangan itu Tumpal? Suatu hari dia akan menjadi dinding pemisah antara kita dan Martin." Kata Beni dengan nafas memburu menahan marah.


"Kau benar Beni. Anak itu bisa menjadi duri dalam daging. Jika kita tidak cepat-cepat menyingkirkan duri ini, maka dia akan terus menusuk kulit kita." Kata Tumpal.


"Kita lihat saja sampai di mana dia terus-terusan menjilat kepada Martin."


"Kita tidak bisa hanya melihat saja. Tapi kita harus segera bertindak." Kata Tumpal.


"Baik. Malam ini kau hubungi Bedul. Katakan kepada nya bahwa kita akan membuka jalan baginya untuk menguasai kawasan seberang jembatan. Aku ingin melihat apakah anak itu bisa diandalkan oleh Martin atau tidak. Tutup ponsel mu dan jangan di aktifkan sampai besok." Kata Beni.


"Lalu apa alasan kita jika Martin bertanya?" Tanya Tumpal.


"Katakan saja bahwa ponsel mu tertinggal di rumah. Aku akan beralasan bahwa ponsel ku hilang." Kata Beni.


"Alasan seperti ini terlalu mengada-ada."


"Lalu bagaimana menurut mu?" Tanya Beni.


"Begini saja. Jangan matikan ponsel mu. Kita bisa mengikuti perintah dari Martin. Namun, usahakan untuk datang telat. Pastikan ketika kita sampai, keributan yang di ciptakan oleh geng tengkorak sudah berakhir." Kata Tumpal.


"Benar juga katamu. Baiklah jika begitu. Aku akan segera menghubungi Bedul. Selama ini kerjasama kita dan Geng tengkorak terjalin dengan sangat baik. Tidak mungkin dia menolak untuk melanggar kawasan perbatasan. Bukankah kita telah memberikan ladang uang kepada mereka?" Kata Beni.


"Kau atur lah gimana baik nya. Aku hanya ingin anak itu mati. Ketika Martin mengutusnya untuk mengamankan keributan, disaat itu lah kematiannya oleh anak buah Bedul. Hahahahaha...."