
Seorang pemuda berumur sekitar 25 tahun sedang duduk santai sambil menaikkan kedua belah kakinya di atas meja.
Di samping kursi kiri dan kanan nya saat ini tampak tiga orang lelaki setengah baya berbadan gemuk dan berperut buncit sedang berusaha menjilat terhadap pemuda yang tampaknya adalah seorang Tuan muda dari keluarga kaya raya itu.
Hal ini terlihat dari penampilannya yang sangat mewah.
"Marven. Selamat atas perayaan kembalinya gang kumuh ke tangan geng kucing hitam." Kata salah satu dari lelaki gemuk itu.
"Hahaha... Kau memang pandai menjilat, Strongkeng. Kau terlihat sangat bahagia. Apa yang membuat mu begitu bersemangat?" Tanya pemuda yang bernama Marven itu.
"Jelas lah kita sangat bersemangat. Ini karena setelah sekian lama kita selalu di kalahkan oleh geng tengkorak, akhirnya kita bisa merebut kembali Gang kumuh ini dari tangan mereka. Bukankah itu satu prestasi yang membanggakan?!" Kata salah seorang lagi dari ketiga lelaki setengah baya itu.
"Prestasi kata mu? Prestasi apa yang sudah kalian bertiga lakukan? Ini adalah kerja keras Tigor. Kalian lihat! Semenjak dia bergabung dengan organisasi kita, sudah berapa banyak kemajuan yang dia buat? Itu baru namanya prestasi." Kata Marven mencibir.
"Tigor atau kami sama saja Tuan muda. Siapapun yang melakukannya, toh anda juga yang memetik hasilnya. Ini karena kau adalah pewaris satu-satunya ketika Ketua kita yaitu Martin memilih pensiun kelak." Kata Mereka.
"Beni! Aku ingat betul beberapa tahun yang lalu, kau melarikan diri ketika rombongan geng tengkorak datang menyerbu tempat ini. Sekarang, kau merasa bangga atas prestasi dari orang lain. Apakah kau masih punya malu?" Tanya Marven.
"Marven. Tigor hanyalah sebuah alat. Seorang gelandangan akan tetap menjadi seorang gelandangan. Burung Gagak tidak akan pernah menjadi burung Merak. Itu sudah menjadi kodrat nya. Baginya, ketika Ketua memungut dirinya dari tempat sampah, maka dia harus melakukan apapun demi kepentingan organisasi. Tugas dia adalah mengabdi dan berkorban. Jelas dia tidak bisa disamakan dengan kami. Kami adalah anggota senior dalam organisasi. Sedangkan dia, hanya setumpuk kotoran bersama dengan kotoran-kotoran yang lainnya." Ujar Beni masih tetap tidak tau malu.
Jelas saat ini Beni tidak boleh tersinggung dengan Marven ataupun menyinggung nya. Ini karena dia memiliki misi terselubung bersama kedua sahabatnya yaitu Strongkeng dan Togi yang saat ini sedang bersama dengan dirinya untuk menjilat anak lelaki dari ketua kelompok geng kucing hitam itu.
Lalu Strongkeng menambahkan. "Tuan muda Marven. Anda adalah orang yang sangat kompeten. Memiliki bakat alami untuk menakhodai organisasi ini. Usia mu saat ini adalah usia yang sangat memungkinkan untuk menjadi pemimpin. Dengan tenaga muda, darah yang masih panas, serta ketegasan, membuat dirimu adalah paket komplit untuk menjadi pemimpin." Ujar nya.
"Apa maksud dari perkataan mu ini Strongkeng?" Tanya Marven serius.
"Biarkan Beni yang menjelaskan."
"Marven. Akhir-akhir ini aku melihat ketua selalu membanding-bandingkan antara dirimu dengan Tigor. Dia bahkan dengan bangganya mengatakan kepada semua orang bahwa Tigor itu adalah anak angkat nya. Setiap hari pujian demi pujian hanya tertuju kepada Tigor. Aku jadi tidak habis fikir. Sebenarnya yang menjadi anak dari Ketua itu apakah dirimu atau Tigor?" Tanya Beni.
"Wajar jika dia mendapat pujian dari Ayah. Ini karena dia memang pantas mendapatkan pujian itu. Apakah kau iri?" Tanya Marven.
"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi tidakkah kau merasa bahwa suatu saat nanti Tigor ini bisa menggeser posisi mu dari pewaris tahta dalam organisasi?" Tanya Beni.
"Jangan ajak aku berpolitik seperti ini Beni. Tujuanku di sini untuk bersenang-senang. Jangan rusak suasana hati ku dengan hasutan mu itu. Aku masih dapat membaca niat tulus dari Tigor itu. Sebaiknya jangan bahas hal itu lagi!" Kata Marven tidak senang.
"Maafkan kami Marven. Kau jangan marah. Tapi walau bagaimanapun, kami ini adalah orang yang sangat dekat dengan mu. Kau sebagai dengan putraku Irfan dan sering main bersama. Kalian berdua besar dalam pelukan ku. Aku tidak ingin suatu saat nanti kau akan menyesal ketika semuanya sudah terlambat." Kata Beni.
Marven sudah tidak tertarik lagi dengan obrolan itu. Dia segera meninggalkan ketiga lelaki setengah baya yang seperti badut itu dan berjalan menuju ke bagian depan pusat hiburan untuk mencari di mana Wulan.
"Bagaimana Beni?" Tanya Strongkeng.
"Jangan terlalu memaksa. Pelan-pelan saja. Biarkan dia berperang dengan hatinya. Masih banyak waktu." Jawab Beni dengan seringai jahat.
"Kalian tenang saja. Aku memiliki segudang cara. Fokus kita adalah, kita akan menjadikan dirinya sebagai ketua boneka. Aku ingin dengan tangannya sendiri dia membunuh Martin. Huh.., Venia. Andai bukan karena bangsat Martin ini, Venia seharusnya menjadi milik ku." Kata Beni diikuti oleh gelak tawa dari Togi dan Strongkeng.
Di waktu yang sama, saat ini Tigor sedang bersama dengan Andra, Ameng, Acong dan Timbul serta sepuluh orang lainnya sudah berada di perbatasan antara kota Tasik putri dan Kota Batu.
Karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan, Tigor memilih jalan pintas mengikuti perkebunan tebu sehingga mereka tiba di perkebunan karet milik PT.
"Apakah di sini tempat nya Meng?" Tanya Tigor.
"Benar bang. Ini adalah perkebunan karet itu. Tapi orang-orang kita tidak di sini. Mereka di bagian depan sana sekitar satu kilo meter dari sini." Kata Ameng.
"Pas. Memang seperti ini yang aku inginkan. Kita parkir mobil kita di sini, lalu kita berjalan ke depan sana untuk menguasai kawasan." Kata Tigor yang memilih mengendarai sepeda motor sebagai penunjuk jalan dan diikuti oleh rombongan Andra yang mengendarai mobil Van.
"Ayo bantu aku mendorong motor ku ini. Kuda besi ku ini terlalu berat." Kata Tigor.
Mereka lalu berjalan mengikuti jalan tanah yang semak dan berembun di tengah perkebunan karet itu dan secara bergantian membantu Tigor mendorong sepeda motor yamaha milik nya.
"Di sana bang. Orang-orang kita berada sekitar 200 meter di depan sana." Kata Ameng.
"Ok. Ayo kita berjalan ke depan sana. Di sana ada sebuah parit pembuangan air. Dulu rencananya parit itu bertujuan untuk membuang segala limbah dari bangunan itu. Namun karena bangunan rusun itu tidak selesai, parit itu pun juga tidak selesai dengan sempurna. Kita bisa mengikuti parit itu untuk sampai ke kawasan lantai bawah bangunan bangkrut itu." Kata Tigor sambil memimpin teman-temannya berjalan di depan.
"Meng. Kau hubungi orang-orang kita. Katakan kepadanya bahwa aku sudah berada di sini dan suruh mereka untuk bersiap sedia!"
"Baik Bang."
"Cepat Meng! Kami akan menunggu mu di sini." Kata Tigor berbisik.
Setelah semuanya selesai, Mereka pun mulai mengendap-endap menelusuri lorong parit yang pengap, gelap dan berlumut itu.
Hampir satu jam juga mereka berjalan meraba-raba dalam gelapnya parit sepanjang lima ratus meter itu dan pada akhirnya mereka tiba juga di sebuah terowongan.
Dengan susah payah mereka menyingkirkan besi beton seperti pentilasi yang menutupi lubang parit. Setelah berhasil, satu per satu mereka merangkak ke atas dan kini mereka sudah tiba di lantai bawah bangunan rusun bangkrut itu.
"Ayo kita menyebar dan perhatikan keadaan di sekitar sini. Kita harus tau dimana saja Birong menempatkan anak buah nya." Kata Tigor.
"Baik. Mari kita menyebar. Setiap kelompok terdiri dari dua orang." Kata Andra.
Setelah menyusun rencana, Ke empat belas pemuda berseragam polisi gadungan itu pun menyebar membentuk tujuh kelompok ke arah tujuh mata angin. Kini tinggallah Tigor sendirian yang mulai melepaskan pakaian luarnya dan memakai topeng kucing.
Sejenak Tigor meraba-raba beberapa bilah pisau yang terselip di pinggang nya.
"Ada dua puluh. Semoga saja cukup." Kata Tigor dalam hati sambil merapikan susunan pisau lempar itu di pinggangnya.
Tak lama kemudian Tigor alias Black Cat sudah melompat dari jendela dan menghilang di balik semak rerumputan.
Dalam kepekatan malam dan hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang berbunyi memekakan telinga, Beberapa sosok tubuh mulai mengendap-endap menandai setiap titik dari orang-orang yang ditempatkan oleh Birong untuk mengawal transaksi yang akan di adakan oleh Acun.