BLACK CAT

BLACK CAT
Tikungan Pitu.



Kriiiing...!


Kriiiing...!


"Siapa lagi ini? Orang lagi mau buru-buru malah nelpon." Kata Tigor dalam hati.


Saat ini Tigor sedang terburu-buru mengganti pakaian serba hitam lalu membalutnya dengan pakaian luar warna putih dan celana jeans biru.


Kriiiing....!


Kriiiing....!


Sekali lagi ponsel miliknya berdring membuat Tigor mau tak mau akhirnya melirik juga ke arah ponselnya yang tergeletak di tempat tidur.


"Hmmm.., ada apa Ameng ini menelepon?" Kata Tigor dalam hati lalu segera menjawab panggilan itu.


"Hallo Meng. Ada apa?" Tanya Tigor.


"Bang. Aku mendapat kabar dari orang-orang kita bahwa tadi anggota geng tengkorak diketuai oleh Hasian anak Birong sedang bergerak menuju kota Tasik putri. Aku khawatir kalau mereka akan membuat onar di kawasan yang abang jaga." Kata Ameng memberi kabar.


"Berapa jumlah mereka Meng?" Tanya Tigor.


"Menurut perkiraan anak buah ku, mereka yang berangkat dari kota batu berjumlah sekitar 20 orang bang. Belum termasuk yang bersama Hasian." Kata Ameng.


"Maksud mu?"


"Sekitar 20 orang sudah lebih duluan bergerak sekitar pukul setengah lima. Setelah itu hasian menyusul sekitar satu jam kemudian." Kata Ameng lagi menjelaskan.


"Baiklah Meng, terimakasih." Kata Tigor lalu mengakhiri panggilan.


Saat ini Tigor langsung mengeluarkan sebilah pedang yang sangat tipis dan lentur. Memasukkan pedang tersebut kedalam sarung yang terbuat dari kulit, kemudian mengikatkannya ke pinggang. Setelah semuanya dirasa siap, Tigor pun memanjatkan doa sejenak lalu bergegas keluar dari kamar dan terus berjumpa keluar rumah.


Saat di luar, dia tidak lagi bertemu dengan Karman. "Mungkin sudah pulang." Kata Tigor dalam hati.


Di waktu yang sama, di Villa bukit batu, Birong baru saja menerima pesan gambar yang di kirim oleh Tumpal menggunakan aplikasi Whatsapp.


Setelah membuka pesan itu, kini Birong melihat gambar sebuah mobil sport BMW i8 warna silver dari berbagai sudut.


"Hmmm.., kalian lihat ini. Mobil ini adalah mobil yang di kendarai oleh Marven. Menurut Tumpal, bukan Tigor yang mengantarkan putri Lalah kembali ke Dolok ginjang. Tapi si Marven putra Martin. Siapapun itu aku tidak perduli. Marven pun hajar saja lah!" Kata Birong.


"Bang. Kirim lah gambar itu kedalam group whatsapp bang. Biar anak buah kita bisa dengan segera mengenali mobil itu. Ketika mereka melalui tikungan pitu, mereka akan segera mencegat mobil itu dan membantai Marven putra Martin ini." Kata si Bongsor.


"Iya. Betul juga kata kau itu Bongsor. Baik. Aku akan segera membagikan foto ini ke dalam Group Whatsapp." Kata Birong lalu bergegas mengklik 'teruskan' di aplikasi whatsapp.


"Beres sudah. Hahaha... Kau tunggu lah anak mu kembali tanpa nyawa, Martin...! Hahahaha..."


Tikungan pitu atau tikungan kelok tujuh yang menjadi jalan poros yang menghubungkan antara Tasik putri dan Dolok ginjang adalah area perkebunan kelapa sawit yang membentang sepanjang jalan perbatasan itu.


Dulu, di tahun 70-an ketika listrik belum masuk ke perkampungan di sekitar sebelum Tikungan pitu ini, tempat ini ketika sudah malam tidak ada yang berani melewatinya.


Selain kepercayaan masyarakat tentang kawasan ini mempunyai penunggu seperti hantu, demit atau sebagainya, kawasan ini juga menjadi sarang bandit.


Banyak perampokan dan pembunuhan terjadi di kawasan ini. Namun setelah pemerintah setempat melakukan pelebaran jalan, dan memasukkan listrik di kampung-kampung sebelum kelok pitu ini, baru lah kawasan ini kian banyak dilewati oleh kendaraan. Dan tingkat kejahatan pun di kawasan ini berangsur-angsur menurun walaupun tidak sepenuhnya aman bagi truck-truck pengangkut barang-barang berharga.


Saat ini di dalam mobil BMW i8, tampak seorang pemuda sedang mengemudikan kendaraan mobil sport itu sambil asyik mengobrol dengan gadis yang berada di samping nya.


Walaupun obrolan itu terasa sedikit membosankan, namun karena di selingi dengan tawa, maka tanpa terasa mereka sudah mulai memasuki area tikungan yang memiliki tujuh kelok itu.


"Bang. apakah kita bisa sedikit lebih cepat? Sebentar lagi kita akan melewati kawasan berbahaya. Sudah banyak kejadian perampokan di depan sana." Kata seorang gadis mengingatkan.


"Wulan. Kau tenang saja. Siapa yang berani dengan Marven? Berani mengusik Marven, berarti mencari penyakit." Kata pemuda itu dengan bangga.


Sebenarnya dia sengaja tidak memacu kendaraannya dengan kelajuan tinggi walaupun mobil sport itu mampu melaju dengan kecepatan puluhan kilo meter per jam.


Semua itu sengaja dia lakukan agar bisa bersama dengan gadis itu dalam waktu yang lama.


Baginya, ini adalah kesempatan yang sangat jarang dia dapat. Terlebih lagi Wulan ini selain cantik menurut nya, juga adalah seorang putri pengusaha mobil gelap dan penampung banyak barang curian. Ketika barang hitam telah masuk ke gudangnya, maka barang itu bisa di sulap menjadi barang putih. Begitulah perumpamaan yang dapat di gambarkan mengenai sepak terjang ayah dari gadis bernama Wulan ini.


"Bukan begitu bang. Para begal yang menguasai kawasan tikungan pitu itu bukan sembarangan. Ketika mereka beraksi, mereka tidak mau tau asal usul dan identitas korbannya. Yang penting bagi mereka adalah mendapat jarahan. Kalau bisa, peercpat laju mobilnya bang!" Kata Wulan dengan mimik wajah ketakutan.


"Kau takut Wulan? Tenang saja. Ada abang yang akan melindungi dirimu. Bahkan jika abang harus bertaruh nyawa pun, abang akan melakukannya demi dirimu." Kata Marven.


"Ah abang pintar kali menggombal." Kata Wulan malu-malu.


"Serius dek. Abang ini tidak suka main-main. Ketika pertama kali abang melihat wajah adek, abang sudah merasakan hentakan gendang dangdut koplo di hati abang. Abang tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya." Kata Marven mencoba sedaya upaya merayu Wulan.


Ketika itu Wulan sudah hampir klepek-klepek dengan rayuan alakadar dari Marven. Namun sebelum dia membuka mulut untuk berucap, tiba-tiba sesuatu yang cair seperti terbang menghantam kaca mobil yang mereka kendarai tersebut tepat di bagian pengemudi membuat Marven segera mengaktifkan windscreen wiper untuk membersihkan kaca mobil itu.


Malang bagi mereka, bukannya kaca itu bersih dari benda cair tadi, tapi malah semakin lama semakin membuat kaca mobil itu manjadi Blur dan menutup pandangan membuat Marven kini menghentikan kendaraannya secara mendadak.


"Sialan! Siapa yang berani bermain-main dengan ku?" Kata Marven bergegas keluar dari mobil untuk memeriksa kaca mobil yang sudah blur itu.


Baru saja Marven turun dari mobil tersebut, tiba-tiba dari arah semak-semak tampak beberapa bayangan samar-sama diantara semak dan pekatnya malam bergerak mendekat ke arah mobil mereka.


"Bang. Kau lihat itu ada yang datang. Cepat kau masuk ke mobil bang!" Kata Wulan cepat memberitahu kepada Marven.


Terlambat bagi Marven untuk masuk kembali ke dalam mobil karena beberapa dari sosok bayangan itu telah berada tepat di depannya sehingga menghalangi jalannya untuk menuju ke pintu mobil.