
Mobil BMW hitam melaju kencang membelah jalan Dolok ginjang-Tasik putri.
Seorang pemuda berkacamata hitam, memakai masker juga warna hitam dan berbaju Sweater hoodie tampak seperti tidak memperdulikan keselamatannya. Ini jelas terlihat dari caranya melewati tikungan pitu tanpa mengurangi kecepatan mobil.
Melihat dari plat mobil itu, para pengendara yang di salib oleh pemuda itu merasa ngeri. Bagaimana tidak, seluruh kota Tasik putri sampai ke kota batu dan Dolok ginjang tau kalau itu adalah mobil milik Martin. Ketua organisasi kucing hitam.
Sulit dibayangkan jika perjalanan yang harusnya memakan waktu 5 jam itu kandas hanya 2 jam saja. Dan itu pun si pengemudi sudah merasa sangat terlambat.
Ketika tiba di depan sebuah kafe berdekatan dengan jembatan, Pemuda itu mengurangi laju kendaraannya dan berbelok ke kanan tempat biasa Andra dulu mangkal ketika masih menjadi pengojek.
"Ambil semua barang yang berada di dalam mobil itu dan cepat bawa turun ke bawah jembatan!"
Terdengar suara perintah dengan tergesa-gesa begitu pemuda yang mengendarai mobil secara membabi-buta tadi keluar dari dalam mobil.
"Baik Bang!" Jawab mereka lalu segera bergotong royong mengangkat barang-barang yang ada di dalam bagasi dan sebagian di kursi belakang mobil itu.
Pemuda yang baru turun dari mobil tadi terus berjalan mendaki benteng dan ketika tiba di sana, dia terus turun menuju bibir sungai lalu berbelok ke kiri tepat di bawah jembatan.
"Sudah lama kalian menunggu?" Tanya nya dengan nafas sedikit memburu.
"Belum bang. Andra bahkan belum sampai." Jawab salah seorang dari sekitar dua belas orang yang berada di tempat itu.
"Hanya ada Acong dan Timbul. Kemana Ameng dan Andra?" Kata pemuda itu dalam hati.
"Bang. dari mana kau tadi?" Tanya Acong.
"Dari dolok ginjang. Kalian pergi dulu bantu mereka membawa barang kemari!" Perintah pemuda bermasker itu kepada sepuluh orang anak buah Acong.
"Siap Bang!" Kata mereka.
Tak lama setelah itu mereka pun beramai-ramai membawa turun barang-barang yang di bungkus dengan plastik hitam besar dan saling terpeleset karena untuk turun dari benteng tanah menuju ke pinggiran sungai itu cukup terjal.
Tampak juga di sana ada Andra ikut membantu.
"Gor apa ini?" Tanya Andra ingin tau.
"Perlengkapan kita untuk malam ini." Jawab pemuda tadi yang ternyata adalah Tigor itu.
"Mengapa jam segini masih belum kumpul semua?" Tanya Tigor kepada Andra.
"Rumit Gor."
"Maksud mu?" Tanya Tigor.
"Ternyata bukan Acun dan Birong yang melakukan transaksi. Melainkan Acun dengan orang China keturunan dari Pilipina." Jawab Andra.
"Lalu?"
"Birong hanya menjadi tuan rumah saja. Dia menawarkan jalan tengah karena antara Acun dan orang Pilipina itu tidak ada yang mau mengalah. Kabarnya Birong mengutus Prengki untuk menjadi penengah. Dengan begitu, tampa modal apa-apa, Birong akan mendapat untung dari kedua belah pihak. Dengan catatan, Birong harus menyuap para aparat penegak hukum. Makanya tidak heran jika Acun berani datang ke kuala nipah siang bolong tadi." Kata Andra.
"Sialan Birong ini. Dia menjadikan Negara kita sebagai tempat persinggahan bagi sindikat narkoboi." Kata Tigor dengan geram.
"Kita tunggu saja Ameng. Mungkin dia memiliki berita lain." Kata Andra.
Saat ini Tigor mulai gelisah. Berulang kali dia melirik ke arah jam tangan yang sudah hampir pukul 6 sore itu.
Tepat ketika Tigor akan membuka bungkusan barang-barang yang dia beli dari Dolok Ginjang, dari atas terdengar suara sepeda motor RX king menderu dan berhenti tepat di bawah pohon beringin di atas benteng berpasir tidak jauh dari jalan menuju kebawah jembatan.
"Tuh si Ameng kembali." Kata Acong sambil bangkit berdiri.
"Maaf aku terlambat!" Kata Ameng.
"Bagaimana Meng?" Tanya Tigor.
"Mereka akan mengadakan pameran dulu di hotel bintang lima milik Birong. Namun Acun tidak menghadiri pameran itu."
"Dari informasi yang aku dapat, Birong menyediakan lokasi transaksi dan bertanggung jawab atas keamanan selama acara transaksi itu." Kata Ameng lagi.
"Awalnya sesuai dengan perintah mu, kami melakukan penyelidikan dan menguasai kawasan sekitar. Namun mereka melakukan transaksi di bangunan tua sekitar dua kilo meter dari bukit batu." Kata Ameng.
"Hmmm.., tepat dugaanku. Mereka melakukan transaksi di sana. Dan mereka akan mengulangi kegagalan yang sama." Kata Tigor.
"Apa maksud mu Gor dengan kegagalan yang sama?" Tanya Andra.
"Delapan tahun yang lalu, mendiang ayah ku menggagalkan transaksi mereka di sana. Malam ini, aku akan menggagalkan transaksi mereka."
"Lalu, apakah kalian sudah menempatkan anak buah kita di perkebunan karet yang berjarak sekitar 500 meter dari bangunan itu?" Tanya Tigor.
"Sudah Bang. Semua perbekalan mereka sudah ada dan mereka akan bertahan di sana sampai dini hari nanti. Oh ya bang. Apa rencana abang selanjutnya?" Tanya Ameng.
"Gerak cepat!" Jawab Tigor.
"Semua orang yang ada di sini adalah orang-orang pilihan yang memiliki keahlian bertarung dan lari. Kalian tau bahwa senjata kita adalah senjata palsu. Maka dari itu, kegesitan kalian sangat diperlukan."
"Saat ini, di lokasi bangunan itu, anak buah Birong sudah bersiap sedia bang." Kata Ameng.
"Biarkan mereka di sana. Kita akan menyergap mereka satu per satu dari belakang. Apakah ada diantara kalian yang pintar menggunakan pistol?" Tanya Tigor.
"Aku bisa Gor!" Jawab Andra.
"Ini pistol kau pegang. Ada sebelas peluru tersisa. Tugas mu adalah menyandra Acun. Tembak beberapa anak buah yang terdekat agar mereka mengira bahwa senjata kita semuanya adalah senjata Asli. Di bagian samping bangunan tua itu ada sisa peranca bangunan dan besi-besi yang masih bisa di injak. Bawa Acun turun satu tingkat dan lemparkan dia kebawah. Di dalam plastik hitam itu ada beberapa utas tali. Itu bisa kita pergunakan untuk turun dari bangunan itu." Kata Tigor sambil menunjuk ke arah bungkusan kecil.
Mereka kini membuka bungkusan yang lebih kecil dari bungkusan yang lain dan menemukan 14 utas tali yang sudah diberi pengkait seperti pancing raksasa atau lebih tepat nya seperti gancu.
"Di dalam tas itu ada lampu senter dan rompi anti peluru. Namun jangan terlalu bergantung kepada rompi itu. Kalian sendiri harus maklum. Aku tidak memiliki banyak uang untuk membeli rompi anti peluru dengan kualitas terbaik." Kata Tigor.
"Kami mengerti bang!" Jawab Timbul.
"Ingat teman-teman! Rencana hanya rencana. Keputusannya adalah bagaimana nanti kita ngerespon keadaan. Ketika rencana tidak berjalan dengan lancar, segera lari. Aku tidak ingin ada korban dari kalian."
"Kami memang akan lari bang. Lari ke perkebunan karet itu. Karena hampir 200 orang-orang kita ada di sana. Perkebunan itu akan menjadi kuburan bagi mereka." Kata Ameng.
"Baiklah. Jalankan sesuai dengan rencana yang sudah-sudah. Fokus kepada target masing-masing. Jangan mencari aku. Karena akan sangat sulit mencari ku. Jangan harapkan kehadiran Black Cat. Dia memiliki urusannya sendiri. Kemungkinan, aku atau Black Cat akan menghabisi orang-orang Birong yang berada di bawah terlebih dahulu. Setelah ada tanda dari ku, Andra akan memimpin kalian untuk melakukan penyergapan di atas bangunan itu." Kata Tigor.
"Hidup matinya kelompok kita tergantung dari keberhasilan kita malam ini. Andai gagal, mari kembali menjadi pengamen atau tukang ojek. Kemungkinan terbesarnya adalah, menjadi santapan cacing."
"Tidak semudah itu bang. Daging kami masih pahit. Cacing belum mau menikmati tubuh kami. Sebagai gantinya, b*ngkai anak buah Birong lah yang akan menjadi santapan cacing tanah." Kata Acong.
"Ok. Sekarang buka semua bungkusan itu dan ambil perlengkapan kalian!" Kata Tigor.
Mendengar perintah itu, 14 orang anggota pilihan dari dua ratus anak buah Tigor itu langsung membuka bungkusan dan mengambil pakaian seragam kepolisian, sepatu, senter, tali yang telah di ikatkan kail di ujung nya dan banyak lagi perlengkapan lainnya.
Mendadak kini terjadi perubahan penampilan bagi setiap orang yang berada di tempat itu.
"Asem. Gagah sekali aku." Kata Acong.
"Ho'oh. Kau pernah lihat film india inspektur Vijay? Aku lah orang nya." Kata Timbul.
"Ah. Sialan. Pangkat ku lebih rendah." Kata Ameng.
"Kau berapa bintang?" Tanya Ameng kepada Andra.
"Aku jendral. Lihat nih ada 3 bintang!" Kata Andra bangga.
"Kau Cong?" Tanya Ameng.
"Aku entah apa namanya ini. Bintangnya ada dua." Jawab Acong.
"Sama. Punya ku juga ada dua bintang." Kata Timbul pula.
"Ini tidak adil. Ndra. Copot bintang mu satu dan berikan kepada ku!" Kata Ameng setengah memaksa.
"Eiiit... Mana boleh. Aku adalah atasan mu. Segera beri hormat kepada Jendral!" Kata Andra.
"Celana ku kebesaran ini. Hahaha. Bagaimana ini?" Kata yang lainnya.
"Ada sabuk. Lihat di sana! Pakai sabuk supaya pas lari nanti, celana mu tidak melorot." Kata Tigor sambil menahan tawa.
Tigor hanya bisa senyam-senyum melihat ulah sahabat-sahabatnya ini. Bagaimana mereka menyikapi masalah. Bahkan di saat genting dan malam ini akan bertaruh nyawa pun, mereka masih sempat-sempatnya becanda.
"Kenapa lagi dengan mu Meng?" Tanya Tigor.
"Bintang ku satu bang. Ini yang bikin aku tidak semangat." Jawab Ameng.
"Nanti di jalan singgah ke apotik." Kata Tigor.
"Untuk apa bang?" Tanya Ameng.
'Beli puyer bintang toedjoe. Lumayan buat tambahan supaya bintang mu jadi delapan." Kata Tigor di sambut gelak tawa semua yang ada di tempat itu.
"Kita tunggu hari gelap. Setelah itu, kita berangkat." Kata Tigor.
"Kalian di sini dulu. Aku akan mengembalikan mobil Martin. Apakah semua sudah kau siapkan Ndro?" Tanya Tigor kepada Andra.
"Sudah. Semuanya sudah aku siapkan. Termasuk dua mobil Van." Jawab Andra.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Pukul delapan, Aku pasti sudah berada di atas jembatan ini." Kata Tigor lalu buru-buru meninggalkan tempat itu menuju ke arah mobil BMW hitam yang terparkir tepat di pangkalan ojek.
*
Kriiiing...
Kriiiing...!
"Setan mana pulak lagi nih yang sibuk menelepon. Apa tak tau kalau aku lagi sibuk?" Maki Tigor dalam hati.
"Wulan? Ah sialan. Ada apa dia menelepon ku?"
"Hallo Lan!" Kata Tigor menjawab panggilan.
"Hey Gor. Di mana mau sekarang?" Tanya Wulan.
"Aku sedang bekerja. Ada apa?" Tanya Tigor.
"Gor. Malam ini Marven akan mengadakan pesta selamatan atas kembalinya gang kumuh menjadi milik geng kucing hitam. Marven mengundang banyak orang untuk hadir. Ini termasuk Beni, bersama para senior geng kucing hitam. Ayah ku, Sudung dan Roger. Aku berniat mengajak mu untuk menjadi pelayan. Lumayan lah. Marven akan membayar mu dengan mahal. Bagaimana?" Tanya Wulan.
Deg....!
"Bangsat kalian ini. Aku dan anak buah ku bertaruh nyawa merebut gang kumuh, kalian yang memetik hasil nya." Kata Tigor dalam hati.
"Oh. Maaf Lan. Aku tidak punya waktu. Ini karena aku sedang bekerja. Lain kali saja ya." Kata Tigor dengan wajah mulai masam.
"Kau jangan menolak ku Gor. Apa kau kira pesta seperti ini setiap hari diadakan? Tidak Gor. Kau harus datang. Jika tidak...,"
"Jika Tidak apa Lan? Katakan kepada ku! Jika aku tidak datang kau mau apa Lan?" Tanya Tigor mulai emosi.
"Mengapa kau membentak ku?" Marah Wulan.
"Kau terlalu memaksa. Apa kau kira aku ini babu bapak mu? Apa kau kira aku ini hamba sahaya bagimu yang bisa kau perlakukan seperti budak suruhan? Mengapa hanya aku saja yang kau ganggu? Aku tidak pernah mengusik hidup mu. Kau fikir kau siapa?" Tanya Tigor dengan marah.
"Kau...!"
"Kau kau apa Lan? Makanya jadi manusia itu jangan terlalu manja. Aku sudah cukup dengan penghinaan yang kalian lakukan kepada ku. Kau kira hanya karna kau anak dari Lalah dan kakesih Marven, maka semua yang kau mau bisa kau dapat? Silahkan kau dengan kekayaan mu dan kemanjaan mu. Tapi jika aku yang kau ganggu, terus terang aku katakan bahwa kau salah orang."
"Ok aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Dasar perempuan manja yang tak punya hati." Kata Tigor langsung mengakhiri panggilan.
Setelah selesai melampiaskan kemarahannya kepada Wulan, Tigor langsung menonaktifkan ponselnya lalu masuk ke dalam mobil.
"Sial.... Sial... Sial semuanya. Aku yang berjuang mendapatkan gang kumuh, tapi orang lain yang memetik hasil nya."
Tiiiin.....!
Tanpa sengaja Tigor menekan klakson panjang karena luapan emosi nya.