BLACK CAT

BLACK CAT
Perbedaan pendapat antara Tigor dan sahabatnya



Selepas mengadakan pertemuan di bawah jembatan, Tigor pun akhirnya membubarkan pertemuan itu dan dia kini memilih untuk kembali ke Blok B.


Di lampu merah, tampak banyak anak-anak gelandangan. Ada yang ngamen, dan ada pula yang membersihkan kaca mobil.


Tepat ketika dua orang anak berusia sekitar 12 tahun datang menghampiri mobil nya, tampa berkata banyak, Tigor langsung membuka pintu mobil nya dan memanggil semua anak-anak gelandangan yang berjumlah belasan orang itu untuk berkumpul dan memberikan uang kepada mereka.


"Terimakasih Bang!"


"Terimakasih atas kebaikan Abang."


"Makan enak kita hari ini." Kata anak-anak itu sambil tersenyum riang.


Itu adalah bahasa yang paling menyentuh sekaligus menampar pipi Tigor kiri dan kanan secara bolak-balik.


Takut terlihat cengeng, Tigor buru-buru masuk ke mobil nya dan menangis sejadi-jadinya di dalam mobilnya itu.


Tigor baru menjalankan kendaraan nya menuju Blok B setelah pengemudi di belakang mobil nya membunyikan klakson berkali-kali.


"Oh Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? mengapa aku bisa melupakan mereka?" Kata Tigor dalam hati.


Sesampainya di rumah, Tigor tidak lagi dapat tenang. Saat ini dia terus berfikir akan dikemanakan anak-anak gelandangan ini.


"Kuncinya adalah uang. Ketika aku memiliki banyak uang, aku akan mendirikan yayasan untuk anak-anak terlantar ini." Kata Tigor dalam hati.


"Sebentar lagi aku akan dikirim ke kota Kemuning. Setelah berhasil dalam misi perampokan ini, aku akan memiliki banyak uang. Dengan begitu aku akan bisa membangun tempat tinggal untuk anak-anak ini dan mereka akan bisa sekolah. Walaupun aku jahat, seorang pembunuh dan Mafia, tapi setidaknya aku tidak boleh melupakan dari mana aku berasal."


Tigor kembali berdiri dan mondar-mandir di dalam ruangan tamu itu. Niat awal untuk tidur siang sirna sudah gara-gara kejadian di lampu merah tadi.


"Andra dan yang lainnya mungkin sudah bergerak. Kemana aku harus pergi?"


Berfikir sejenak, Tigor akhirnya memutuskan untuk berangkat ke perumahan staf restoran Samporna. Di sana ada Ucok, Sugeng, Jabat dan Thomas. Sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu dan becanda. Ada rasa kerinduan di hati Tigor kepada empat sahabatnya itu.


Memasuki garasi, Tigor tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Dalam garasi itu dia melihat 1 unit mobil sport, dan dua unit sepeda motor dengan harga yang tidak murah.


Dalam hati Tigor berfikir, "Ayah ku. Seorang polisi yang jujur. Terbunuh karena mempertahankan kejujurannya. Jangankan membeli mobil sendiri. Membeli sebelah ban nya pun tidak mampu. Jika mendiang ayah tidak bisa menjadi orang kaya, maka aku harus jadi orang kaya. Dengan uang dan kekuasaan, apa yang tidak bisa aku lakukan? Ayah meninggal karena mempertahankan prinsip dan kejujuran sebagai anggota kepolisian. Tapi apa yang aku dapat? Aku bahkan harus menjadi gelandangan. Aku tidak ingin mengikuti jejak ayah. Terserah Rio mau jadi polisi silahkan. Aku akan menghasilkan uang dengan caraku sendiri dan mencekik geng tengkorak dengan kekuasaan yang aku miliki. Kota Kemuning... Tunggu tuan besar mu ini datang!" Kata Tigor dalam hati.


Selesai berperang dengan hatinya sendiri, Tigor langsung menghidupkan mesin sepeda motornya dan segera keluar dari garasi itu.


"Maaf bang. Aku buru-buru. Tolong tutup garasi itu!" Kata Tigor kepada penjaga rumahnya dan langsung tancap gas menuju restoran samporna.


*********


Sepeda motor Yamaha R1 itu menderu dan berhenti di samping lorong antara rumah-rumah staf yang disediakan oleh Martin untuk pekerja restoran samporna dan pusat hiburan gemerlap malam.


Dia sengaja menyembunyikan sepeda motor nya agar tidak terlalu menarik perhatian orang. Maklum motor mahal.


Ketika dia mengetuk pintu, tampak Ucok membukakan pintu dan tampak sangat gembira melihat kedatangan Tigor.


"Woy Bang Tigor. Lama kau tak datang kemari. Angin apa yang membawamu datang?" Tanya Ucok dengan sangat antusias.


"Angin Utara!" Jawab Tigor sambil melangkah memasuki rumah yang ditempati oleh keempat sahabat nya itu.


"Eh woy..! Bang Tigor datang." Teriak Ucok membuat yang lainnya langsung berkumpul di ruang tengah rumah itu.


"Bagaimana kabar mu bang?" Tanya Jabat.


"Alhamdulillah baik." Jawab Tigor.


"Kalian sendiri, bagaimana kabar kalian?" Tanya Tigor.


"Kabar kami macam yang abang lihat ini lah. Selalu seperti ini." Jawab Sugeng.


"Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikiran abang. Apa itu bang? Kalau kami boleh tau. Soalnya aku lihat kusut kali wajah abang itu." Tanya Thomas.


"Iya. Memang ada sesuatu yang membuat aku datang kemari. Tapi aku masih belum yakin apakah akan memberitahukan kepada kalian atau tidak." Kata Tigor.


Tampak ada sedikit keraguan dari raut wajahnya kali ini.


"Eh jangan lah gitu bang. Kita kan udah macam keluarga. Apa pulak yang mau abang ragukan sama kami. Bilang aja lah. Kami akan dengar." Kata Ucok.


"Justru itu lah yang membuat aku ragu. Aku menganggap kalian ini bukan lagi sahabat. Tapi, sudah seperti keluarga ku sendiri. Masalahnya adalah, bulan depan aku mungkin akan pindah ke kota Kemuning. Martin ingin menjadikan aku CEO di Restoran, kafe dan pusat hiburan milik nya di kota itu. Tapi, yang jadi fikiranku saat ini adalah, di sana nanti sangat berbahaya. Kemungkinan terbesar adalah, aku akan menghadapi geng tengkorak." Ujar Tigor.


"Kalau itu masalahnya bang, kan bagus kalau kami juga di sana. Kita bisa saling bantu membantu seperti dulu." Kata Jabat.


"Betul itu bang! Karena, tanpa mengusik geng tengkorak pun, cepat atau lambat mereka pasti akan mengusik kami juga. Siapapun itu, asalkan bekerja untuk Martin, geng tengkorak pasti akan mengganggu juga. Apa bedanya. Terlanjur basah, ya udah lah nyemplung aja sekalian." Kata Sugeng.


"Ok lah. Nanti kalau urusanku yang lain sudah beres, aku akan segera memberitahu kepada kalian kapan kita akan pindah ke sana. Sekalian aku akan mengajak Karman." Kata Tigor.


"Urusan apa itu bang?" Tanya Thomas.


"Dalam minggu ini aku akan pergi ke Hongkong." Jawab Tigor.


"Waaah. Mau ketemu sama Dao ming shi kau ya bang?" Tanya Ucok.


"Eh salah kau Cok. Dao ming shi itu Taiwan bukan Hongkong." Kata Thomas.


"Apa itu artis. Sama sekali aku tak tertarik. Kepergianku nanti adalah awal dari kebangkitan kita atau tenggelam sama sekali." Jawab Tigor.


"Alamak. Serius kali nampaknya ini." Kata Jabat.


"Doakan saja. Malam ini akan ada misi yang harus aku selesaikan. Hanya ada satu pilihan. Yaitu berhasil. Jika gagal, kalian siapkan pemakaman untuk ku." Kata Tigor membuat keempat orang itu tercengang.


Dan, benar saja. Baru selesai Tigor berbicara seperti itu, kini ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk.


Tigor buru-buru mengeluarkan ponselnya dan melihat bahwa Acong mengirimkan pesan teks dan beberapa jepretan foto kegiatan di pelabuhan Kuala nipah.


Di sana terlihat beberapa orang pendatang asing berkulit putih sedang sibuk mengangkat barang-barang dengan bantuan penduduk upahan setempat sedang mengangkat barang memasuki kendaraan hardtop.


Terlihat di sana setidaknya ada tujuh atau delapan kendaraan yang menunggu dan semuanya berwarna hitam legam.


"Hmmm.., ternyata dugaanku tidak meleset. Pandai sekali Birong ini. Mungkin polisi sudah di suap oleh mereka. Polisi tidak akan menangkap mu Cun! Tapi aku yang akan mengejar mu. 1 milyar untuk nyawa ayah ku akan kau tebus dengan kepala mu." Kata Tigor dalam hati.


Melihat wajah Tigor memerah bagai kepiting rebus, membuat keempat sahabatnya itu saling pandang dan mulai bertanya, "Ada apa Bang?" Tanya mereka.


"Rombongan Acun dari Singapore sudah bersandar di pelabuhan Kuala nipah." Jawab Tigor.


"Siapa pulak Acun itu bang?" Tanya mereka lagi.


"Acun ini adalah gembong narkoba dari Singapore. Dia lah yang menghargai nyawa mendiang ayah ku seharga satu milyar tepat delapan tahun yang lalu." Kata Tigor sambil mengertakkan gigi nya.


"Jadi, ini lah sasaranmu malam ini bang?" Tanya Ucok.


"Benar. Saat ini anak buah Andra ojek sudah tersebar di sekitar kota batu. Oh ya. Aku akan ke Dolok ginjang. Ada keperluan di sana. Kalian ingat! Malam ini jangan keluar kemana-mana. Aku khawatir ada yang melihatku bertemu dengan kalian. Hati-hati saja! Apa lagi setelah aku berangkat ke Hongkong nanti." Kata Tigor memberi peringatan.


"Tenang aja bang. Kami pun bukan anak manja yang tak pandai berkelahi. Kita dulu sama-sama malang melintang di sini bersama-sama. Kalau mereka hanya sepuluh orang, minta maaf saja, mereka pasti akan kembali ke kota batu dalam keadaan kaki patah." Kata Sugeng.


"Aku percaya kepada kemampuan kalian. Tapi harus tetap hati-hati. Lebih baik menghindari resiko. Jika tidak berfikir panjang, aku juga sudah pasti akan menarik kalian kedalam kelompok ku. Tapi ternyata aku terlalu sayang dengan kalian setan-setan kurap ini. Makanya aku menunggu moment yang tepat untuk mengajak kalian." Kata Tigor.


"Wah bang. Kalau berhasil, bisa kaya lah kau bang?!" Kata Thomas.


"Makanya itu tadi kan aku bilang. Ini awal kebangkitan atau tenggelamnya kelompok kita. Jika berhasil, pasti bisa kaya. Kau kira saja berapa triliun nilai transaksi mereka nanti. Di pihak Acun ada barang, di pihak Birong ada uang. Kalau di total, ah sakit lah mata kita menghitung uang nya itu." Jawab Tigor.


"Niat ku hanya satu. Setelah berhasil, kita akan kumpulkan seluruh anak gelandangan di kota tasik putri ini, lalu kita bawa mereka ke kota kemuning. Kita dirikan rumah dan bangun sekolah SD dan SMP. Hal ini pasti akan menggugah hati pemerintah kota Kemuning. Mereka pasti akan memihak kepada kita andai orang-orang geng tengkorak mengusik kita. Di permukaan, kita tampak baik. Di belakang, kita cekik mereka." Kata Tigor.


"Gila kau bang. kau pergunakan anak-anak itu untuk perisai bagi mengelabui pemerintah dan menarik simpati dari masyarakat. Aku tidak setuju dengan cara seperti itu." Ujar Jabat.


"Lalu menurut mu?! Apakah mereka harus selamanya seperti itu? Apakah kau tidak ingat dulu bagaimana si Bungkring memperlakukan kalian? Apa kalian menolak ketika itu?" Tanya Tigor.


"Tapi cara kau itu bang. Kau tidak iklas. Kau berpolitik dengan kedok kedermawanan mu itu. Itu yang membuat aku tidak setuju."


"Aku ingin bertanya kepada kalian beberapa hal. Kalian jawab dengan jujur! Dulu, ketika kita belum kenal, mengapa kalian mengikuti si Bungkring? Apakah kalian pernah berfikir ketika itu apa niat si Bungkring kepada kalian?" Tanya Tigor.


" Berapa gaji kalian dan berapa yang harus kalian setor kepada bangsat itu? Kalian dulu hanya berfikir asalkan bisa makan dan masih hidup, maka itu jauh lebih baik. Nah, aku?!. Aku tidak menginginkan apa-apa dari anak-anak itu. Aku hanya ingin memberikan tempat tinggal dan pendidikan yang layak. Masalah timbal baliknya, itu adalah lumrah. Kau jangan samakan aku dengan Ustadz di pesantren. Aku ini mafia. Berfikir ku pun adalah cara berfikir mafia. Aku bukan mau memperdagangkan organ tubuh mereka. Aku hanya ingin mengalihkan perhatian. Dengan adanya yayasan yang akan aku buat nanti, setidaknya itu bisa menguntungkan kedua belah pihak. Anak-anak itu bisa tulis baca, mendapat tempat yang layak, makan makanan yang layak, pakaian bersih dan sehat. Sedangkan keuntungan bagiku adalah, bisnis ku bisa lancar, mendapat predikat baik di mata masyarakat, mendapat pengakuan dari pemerintah dan apabila ada benturan dengan geng tengkorak, maka aku akan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Apa kau mau mereka seperti kita dulu yang nyaris seumur hidup tinggal di bawah jembatan? Jawab pertanyaan ku ini!" Bentak Tigor.


"Kau memang benar bang. Jaman sekarang ini mana ada yang benar-benar berbuat tanpa pamrih. Semua orang butuh makan. Kami saja yang terlalu kolot dengan cara berfikir yang kami miliki. Ternyata kau berpandangan lebih jauh dari kami." Kata Ucok.


"Aku tidak ingin kegagalan yang akan membuat kita hidup susah dan selamanya terhina. Jujur saja kepada ku! Kalian tau apa pekerjaan ku setelah aku memilih bergabung dengan Martin. Tapi mengapa kalian mau mengikuti ku? Mengapa kalian tidak memilih menjadi remaja mesjid saja?" Tanya Tigor.


Tidak ada satupun dari mereka yang bisa menjawab pertanyaan Tigor. Terutama Ucok dan Jabat. Ini karena mereka berdua bekerja di pusat hiburan gemerlap malam yang bukan menjadi rahasia lagi bahwa tempat itu adalah sarang nya segala maksiat.


"Sudah lah. Aku pergi dulu. Waktuku sangat sedikit. Kalian bantu doa untuk ku. Hidup mati nya akan di tentukan dalam satu minggu ini." Kata Tigor sambil bangkit dari duduknya dan melangkah dengan mantap menuju pintu.


Tak lama kemudian terdengar deru mesin sepeda motor meninggalkan halaman rumah itu di ikuti oleh keempat sahabatnya yang saling pandang dengan berbagai bentuk ekspresi pada wajah mereka.


"Mungkin dia benar dan kita salah. Tapi bisa juga sebaliknya. Yang jelas, Tuhan maha tau isi hati hamba-Nya. Mengapa kita mau menghakimi bang Tigor?"


"Hmm.., entah lah. Mengapa tadi aku mendadak menjadi sok suci. Sialan mulut ku ini." Kata Jabat.


"Menurutmu apakah dia akan tersinggung?" Tanya Sugeng.


"Mana ada ruang di hati nya untuk tersinggung sama kita. Lihat saja lah. Bentar lagi sudah baikan." Kata Ucok sambil meninjau ke arah pintu.