BLACK CAT

BLACK CAT
Carmen Bond mulai beraksi



Jalan raya gang kumuh Tasik Putri


Mr Carmen Bond yang saat ini sedang mengemudikan kendaraan yang membawa Marven dari Gang kumuh untuk kembali ke kompleks elite saat ini sedang berpikir keras bagaimana untuk memulai taktik adu domba antara Marven, Beni dan Venia sekaligus menyeret Birong memasuki kancah saling curiga ini.


Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Mr Carmen Bond sang Agen legendaris 070 tidak sengaja menguping pembicaraan antara Beni dan Venia tentang diri Marven.


Menemukan celah yang tidak di sangka-sangka itu, membuat Carmen Bond tidak ingin membuang kesempatan ini begitu saja.


Sambil terus bersembunyi, Dia telah menyelipkan kamera action GoPro miliknya di tempat yang aman lalu memantau pembicaraan mereka berdua melalui ponselnya yang telah dikoneksikan dengan kamera action tersebut.


Setelah dirasakan cukup, dia pun lalu menyimpan Video itu di memori ponsel nya lalu bersiul-siul seperti tidak ada kejadian apa-apa.


"Benar-benar pucuk di cinta ulam pun tiba. Si Beni dan Venia ini bisa saja membuat tugas ku menjadi semakin mudah." Kata Carmen dalam hati.


"Carmen. Aku lihat sejak tadi kau diam saja. Biasanya mulut mu itu seperti moncong meriam?" Tanya Marven.


"Hehehe bos. Saat ini ada kebutuhan mendadak dan aku tidak memiliki uang. Bolehkan jika aku meminjam uang kepada mu bos. Tidak banyak. Hanya lima puluh juta rupiah saja." Kata Carmen.


"Mungkin dengan begini aku baru bisa mencari celah untuk mengadu domba kucing bangsat yang penuh kurap ini." Kata Carmen Bond dalam hati.


"Sial. Tidak banyak tapi lima puluh juta rupiah. Kau akan membayar dengan apa? Dengan gaji mu yang hanya lima juta sebulan, mau sepuluh bulan baru lunas? Sialan kau ini." Kata Marven mengomel panjang pendek.


"Yakin tidak mau memberikan ku uang lima puluh juta rupiah bos? Padahal aku ingin menjual informasi penting loh. Ini demi keselamatan bos juga." Kata Carmen sambil tersenyum jelek.


"Apa maksudmu dengan mengatakan informasi penting dan juga apa hubungannya dengan keselamatan ku?" Tanya Marven.


"Mungkin Bos tidak tau. Tapi aku adalah anak buah yang sangat mementingkan keselamatan Tuan nya. Ini semua tentang rencana Beni dan Ibu mu Bos. Mereka berdua berkomplot dengan Birong untuk menyingkirkan mu dari kursi ketua organisasi kucing hitam ini." Kata Carmen Bond sambil terus tersenyum.


"Kena kau Marven." Katanya dalam hati.


"Kau jangan asal-asalan Carmen. Ku bunuh kau jika memfitnah Ibu ku."


"Aku memiliki bukti serta rekaman video nya Bos. Semuanya ada pada ku. Carmen Bond tidak akan bicara jika tanpa bukti."


"Mana rekaman video nya? Aku mau lihat." Pinta Marven penasaran.


"Semua bisa di atur Bos. Tapi transfer dulu uang lima puluh juta rupiah ke dalam rekening ku!" Kata Carmen.


Dia yakin demi memenuhi rasa ingin tahunya, jangankan lima puluh juta. Seratus juta pun pasti akan dibayar oleh Marven.


"Baiklah. Aku akan mentransfer uang ke rekening mu. Tapi ingat! Jika kau menipu ku. Ku cincang-cincang tubuh kerempeng mu itu." Ancam Marven.


Tak lama setelah itu, ponsel Carmen pun berdering menandakan ada pesan yang masuk.


Sekilas dia melirik ke arah layar ponselnya lalu tersenyum penuh kemenangan.


"Bos. Saya akan mengirim potongan Video kepada mu dalam tiga episode. Aku harap setelah ini, kau bisa mencari jalan keluarnya." Kata Carmen lalu meminggirkan kendaraan itu di pinggir jalan.


Setelah itu, dia mengirim Video hasil rekaman itu kepada Marven. Karena kualitas video tersebut sudah di pres agar tidak banyak memakan memori, maka durasinya sedikit lebih panjang.


"Sudah sampai Boskuh. Kau bisa menyimak isi pembicaraan mereka. Lalu nanti kita pikirkan solusi nya."


Kini Carmen Bond mulai menginjak pedal gas kembali dan mobil itu kini mulai memasuki area kompleks elite Tasik Putri.


*********


"Dia bahkan bertambah benci kepadamu ketika dia mengetahui bahwa kau adalah Ayah kandung nya." Kata Venia.


"Kau tidak usah terlalu memikirkannya Venia. Sebaiknya tetap lah bersikap sewajarnya saja. Ini karena aku juga tidak ingin Irfan dan istri ku tau tentang hubungan di masa lalu kita."


"Yang terpenting adalah, tujuan utama kita sudah tercapai yaitu menyingkirkan Martin melalui tangan anak itu. Jadi, tidak sia-sia kau membesarkan anak itu. Dan sekarang, ada gunanya juga buat kita." Kata Beni sambil meraih tubuh Venia ke dalam dekapan nya.


"Tapi rasa khawatir itu tetap ada Beni. Aku khawatir jika dengan Martin yang begitu sangat menyayangi dirinya saja dia sanggup membunuh. Apa lagi kepada dirimu yang dia benci. Mungkin sebentar lagi dia pasti akan membunuh mu atau membunuh ku juga." Kata Venia mengutarakan kekhawatiran nya.


"Kau bersabar lah sedikit Venia. Kita masih membutuhkan anak itu sebagai alat. Jika nanti Kota Kemuning berhasil di rebut dan Tigor berhasil dia bunuh, maka ancaman terbesar sudah tidak ada lagi. Kita baru bisa mengakhiri hidup anak durhaka itu. Lalu aku akan menceraikan istri ku dan menikahi mu. Kita bisa menikmati kebersamaan kita. Menikmati kekayaan yang ditinggalkan oleh Martin ini bersama. Bukankah itu sangat menyenangkan." Kata Beni yang semakin mempererat pelukannya.


"Apa kau tega membunuh anak kita itu?" Tanya Venia.


"Tega atau tidak tega. Yang jelas, jika kita tidak tega melakukannya, maka dia yang akan membunuh kita. Saat itu terjadi, untuk apa lagi gunanya penyesalan."


"Kau jangan lupa dengan tujuan utama kita membesarkan anak itu. Tujuannya adalah merebut kekuasaan lalu memberikan kekuasaan itu kepada kita. Walaupun sedikit melenceng, tapi masih belum terlambat untuk memperbaiki nya. Kita akan bicarakan lagi hal ini kepada Birong setelah anak durhaka itu berhasil membersihkan kota Dolok ginjang."


"Biarkan untuk saat ini dia mabuk dengan kekuasaan. Toh juga semua orang yang dia bawa itu adalah anak buah ku. Dia sama sekali sebatang kara. Membunuhnya sama dengan membunuh seekor semut." Kata Beni.


"Baiklah. Jika itu yang terbaik, maka lakukan saja. Daripada kelak dia membunuh kita seperti dia membunuh Martin." Kata Venia yang mulai termakan hasutan Beni.


"Hahaha. Tunggulah dia berhasil merebut kota Kemuning." Kata Beni.


Prak...


Tampak ponsel itu hancur dibanting oleh Marven.


"Kurang ajar mereka ini. Ternyata mereka ingin mencelakakan aku."


"Cepat Carmen. Kita harus segera menemui Beni. Akan aku tembak kepalanya itu dengan pistol ku ini." Bentak Marven.


"Jangan gegabah Bos. Ingat lah bahwa semua anggota di dalam organisasi saat ini adalah orang-orangnya Beni."


"Jika kau membunuh Beni, Masih ada Tumpal, Strongkeng dan Togi yang akan membunuh mu juga. Lalu setelah kalian Mati, Birong akan menguasai semuanya. Apa kau mau seperti itu Bos?" Tanya Carmen yang mulai berhasil menghasut Marven.


"Lalu menurut mu bagaimana?" Tanya Marven.


"Kau memiliki dua kesempatan bos."


"Katakan apa itu?!" Buru Marven yang tidak sabaran ini.


"Yang pertama, tunda serangan yang akan bos lancarkan ke kota Kemuning. Yang ke dua, manfaatkan Butet sebagai senjata agar Birong bisa berpihak kepada mu."


"Bagaimana caranya?" Tanya Marven.


"Bos. Aku rasa lima puluh juta rupiah tadi masih kurang." Kata Karman/Carmen.


"Aku akan transfer ke rekening mu seratus juta. Asalkan kau bisa membantu ku menyelesaikan masalah ini."


"Terimakasih Bos."


"Kita harus sampai dulu di rumah. Baru enak membahasnya. Karena ini menyangkut kelangsungan anda sebagai ketua organisasi." Kata Mister Carmen Bond 070 dengan senyum penuh kemenangan.