BLACK CAT

BLACK CAT
Sandiwara yang sukses



Tiga pasang mata kini serentak memandang kearah seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun dengan penampilan bagaikan tuan muda dari negri antah berantah dengan gaya dibuat se-machoo mungkin.


"Maaf Nona. Jika saya boleh tau, ada apa antara anda dan anak buah saya ini? Mengapa kalian ribut-ribut di tempat ini?" Tanya pemuda itu dengan sopan dan nada bicara dibuat selembut mungkin.


"Apakah dua ekor bodat ini anak buah anda?" Tanya gadis itu sambil menuding tepat di batang hidung Tigor.


(Bodat \= Monyet)


"Benar. Maaf. Jika boleh saya tahu, siapa Nona ini, dari mana anda berasal, dan apa keperluan anda datang kemari dengan membawa kendaraan Truck berkontainer itu?" Tanya pemuda itu seperti peluru yang muntah dari senapan otomatis.


Sebenarnya dia sudah mengetahui tentang identitas gadis itu. Namun entah kenapa dia berpura-pura tidak tau.


"Namaku adalah Wulan. Aku khusus kemari karena paman Martin memesan satu unit mobil sport BMW i8 kepada ayahku dengan langsung memodifikasi mobil sport tersebut menggunakan bahan bakar. Tapi tidak di sangka aku bernasib sial harus bertemu dengan dua ekor monyet ini." Kata Wulan sambil mengarahkan telunjuk tangannya ke samping tanpa melihat. Kali ini karena terlalu bersemangat menunjuk sampai-sampai mata Karman tertusuk jari telunjuknya membuat Karman meraung kesakitan.


"Nona. Apakah sebelum kemari tadi kau ada menggiling cabe di dapur? Tangan mu terasa sangat pedas." Kata Karman sambil menutup matanya menggunakan telapak tangannya.


"Rasain. Itu belum seberapa. untuk menghukum mu, aku pasti akan menyuruh paman Martin untuk mencabut biji mata mu itu." Kata gadis bernama Wulan itu.


"Oh. Ternyata anda adalah Wulan putri Lalah dari Dolok ginjang." Kata pemuda berusia 25 tahun itu.


"Kalau sudah tau mengapa tidak menyuruh mereka berlutut. Mereka kan anak buah mu. Suruh mereka berlutut dan menampar pipi nya sendiri dan katakan, 'maafkan aku kakak Wulan!' Begitu. Jika tidak..,"


"Eh jangan jangan jangan..! Saya pasti akan menghukum mereka berdua ini." Kata pemuda itu.


"Oh ya Nona. Kita kan belum kenalan. Bagaimana jika kita berkenalan.terlebih dahulu."


"Berkenalan? Apakah kau pantas untuk berkenalan dengan ku?" Tanya Wulan.


"Mungin anda telah mendengar nama ku yang terbawa hembusan angin sampai ke Dolok ginjang. Namun belum pernah bertemu dengan orangnya. Perkenalan namaku adalah Marven. Dan aku adalah putra Tunggal Martin dan Venia. Apakah aku pantas untuk berkenalan dengan mu?" Tahya pemuda yang ternyata adalah Marven itu.


"Ja.. Jadi kau ini adalah si Marven itu? Hmmm... Kebetulan sekali. Aku tidak perlu lagi memanggil paman Martin kemari. Kau sebagai atasan harus bertanggung jawab atas perbuatan dua ekor bodat ini." Kata Wulan.


"Sialan sekali betina landak ini. Dia sama sekali tidak bergeming mendengar nama kondang milik ku. Sialan benar." Kata Marven dalam hati. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Wulan sama sekali tidak terpengaruh setelah dia memperkenalkan diri tadi.


"Baiklah Nona. Sekarang aku akan menghukum kedua anak buah ku ini. Hukuman seperti apa yang kau inginkan?" Kata Marven sambil membetulkan letak dasinya lalu bergegas menuju mobilnya kemudian mengeluarkan sebatang besi pipa sepanjang tiga jengkal.


"Mak.....! Anakmu ini akan segera menyusul mu ke akhirat mak...!" Ratap Karman ketakutan.


"Katakan kepadaku hukuman apa? Apakah ini pantas?" Kata Marven sambil mengayunkan besi pipa itu tepat menghantam bahu Tigor.


Sebenarnya pukulan itu tidak begitu keras. Namun karena acting mereka membuat pukulan itu seolah-olah mampu mematahkan tulang pundak Tigor.


Ketika pukulan itu mendarat ke bahunya, Tigor pun berpura-pura terjatuh dengan kaki ditekuk sambil meringis kesakitan.


"Apakah seperti ini cukup?"


Plaaak....!


Sebuah tendangan dengan telak menghantam punggung Tigor membuat Tigor langsung menyungsep tengkurap ke depan.


"Kau ini lagi Karman. Bikin malu saja. Mana tanganmu?!" Kata Marven membuat celana Karman kembali basah oleh air yang berbau sangat menyengat.


"Julurkan tanganmu dan aku akan mematahkannya agar Nona ini puas!" Kata Marven membuat Karman tidak ada pilihan lain selain menjulurkan kedua lengannya dengan pasrah.


"Aku akan mematahkan tanganmu ini." Kata Marven lalu mengangkat besi pipa itu tinggi-tinggi dan siap untuk memukul. Namun sebelum hal itu terjadi,


"Berhenti...!"


"Sudah bang! Itu sudah terlalu kejam. Tidak perlu diteruskan lagi!" Kata Wulan sambil menutup matanya dengan kedua tangan.


Mendengar jeritan dari Wulan barusan, Marven hanya mengulum senyum sambil mengedipkan matanya kepada Tigor yang berpura-pura mengerang kesakitan.


Sambil merangkak, Tigor akhirnya merengsek mendekati kaki gadis itu diikuti oleh Karman dari belakang dan langsung berlutut dihadapan Wulan.


"Maafkan kami Kakak Wulan. Karena kami telah bersalah kepada Kakak yang terhormat." Kata Tigor juga diikuti oleh Karman.


"Hmmm..., kali ini kalian berdua ku maafkan. Jangan ulangi lagi kesalahan kalian! Jika kalian masih melakukannya kepada orang lain, aku akan meminta kepada paman Martin untuk menghukum kalian lebih berat daripada ini. Mengerti kalian?" Kata Wulan sambil berkecak pinggang.


"Kami mengerti Kak." Jawab Tigor dan Karman.


"Bagus!!!"


"Em.., Wulan. Aku lihat mobil truck sudah pergi dan mobil baru itu sudah di turunkan. Apakah akan ada anak buah paman Lalah yang akan menjemputmu?" Tanya Marven sekedar berbasa basi.


"Abang Marven. Bolehkan abang saja yang mengantarkan aku kembali ke Dolok ginjang?" Pinta Wulan dengan gaya malu-malu.


"Abang mau aja dek Wulan. Tapi nanti bagaimana kata orang? Apa lagi dek Wulan yang cantik pasti sudah punya pacar." Kata Marven nyengir-nyengir kuda sambil mengusap-usap telapak tangannya.


"Ah abang ini bisa aja. Justru abang Marven lah yang banyak digandrungi oleh wanita-wanita cantik." Kata Wulan sambil membuang muka.


"Sumpah disamber sepeda ontel dek kalau abang ada pacar atau digandrungi oleh banyak wanita. Abang ini adalah jenis lelaki yang pemalu dan tidak pandai bergaul dengan wanita. Adek tidak perlu khawatir tentang itu." Kata Marven dengan tingkah layaknya seorang anak yang baru beranjak dewasa.


Dalam hatinya dia saat ini seperti medan tempur yang bergejolak. Degup jantungnya juga saat ini laksana beduk menandakan waktu berbuka puasa. Dag dig dug ser.


"Baiklah bang. Jika abang tidak keberatan, maka Wulan sangat mengucapkan terimakasih kepada Abang." Kata Wulan.


"Oh. Dengan senang hati. Adik tinggal pilih. Mau pakai mobil yang lama atau mobil yang baru?" Tanya Marven seolah-oleh mobil baru sampai itu adalah miliknya.


"Kan katanya sekalian test mengemudi. Sebaiknya kita coba saja mobil baru itu. Jika ada masalah, supaya abang bisa memberitahu agar ayahku bisa segera mengatasinya." Kata Wulan.


"Ya sudah. Ayo dek, kita berangkat sekarang." Kata Marven membungkuk sambil mempersilahkan seolah-olah Wulan adalah tuan putri dari negri dongeng.


Mendapat perlakuan yang sangat manis itu, seketika membuat hati Wulan jadi berbunga-bunga.


"Dasar biawak buntung." Kata Tigor beribisik ke telinga Karman.


"Tigor. Kami pergi dulu. kau bisa menungguku kembali dari mengantar Wulan ke Dolok ginjang." Kata Marven lalu segera memasuki mobil dan tancap gas menuju jalan raya Tasik putri-Dolok ginjang.


"Sial sekali nasib ku hari ini. Udah kalah judi, kencing di celana, mata keculek dan tangan nyaris patah. Sialan benar." Kata Karman sambil memandang ke depan dengan tangan masih sesekali mengusap matanya yang terasa perih.


Baru saja Karman membuka matanya, tiba-tiba dia melihat seorang lelaki mengendap-endap sambil memotret mobil BMW i8 yang di kendarai oleh Marven dan Wulan.


"Hey ngapain kau mengendap-endap di sana itu hah?" Kata Karman menegur membuat lelaki itu segera melarikan diri.


"Ada apa Karman?" Tanya Tigor.


"Itu tadi. Ada seorang lelaki aku lihat mengendap-endap sambil mengarahkan kamera ponselnya menangkap gambar mobil yang dikendarai oleh tuan muda." Kata Karman.


"Celaka. Kemana orang itu Karman?" Tanya Tigor bergegas lari ke arah depan.


"Sudah kabur dia Gor. Mengapa?" Tanya Karman heran.


"Celaka. Kalau begitu Marven dan Wulan dalam bahaya. Kita harus mengejar mereka, Karman!" Kata Tigor dengan bibir memucat.


"Mengejar pakai apa?"


"Kurang asem betul Marven ini. Kunci mobil nya di bawa pula. Macam mana aku mau mengejar? Andra. Ya. Aku harus menghubungi Andra." Kata Tigor sambil mengeluarkan ponselnya. Namun sebelum dia melakukan panggilan, dia berhenti dan batal melakukannya.


"Mengapa Gor?" Tanya Karman.


"Sama saja. Mereka baru di rekrut. Mana mereka memiliki kendaraan. Begini saja. Kau pulang sendiri menemui Monang. Aku akan menaiki sepeda motor milik ku untuk mengejar Marven dan Wulan." Kata Tigor bergegas memasuki rumah.