
Masih di malam yang sama, ketika Black Cat duduk di taman kota Tasik putri, Beni dan orang-orang terdekat dengannya langsung mengadakan pertemuan setelah kembali dari rumah mewah milik Martin di Komplek elit.
Baginya, setelah lepas dari mimpi buruk yang ditimbulkan oleh Black Cat yang mengakibatkan salah satu dari lima sahabatnya harus terbunuh di tempat, hal ini memicu dirinya untuk segera mencari jalan bagaimana caranya untuk menyingkirkan Martin dan Black Cat ini.
Baginya menyingkirkan Martin tidak terlalu susah andai Black Cat mampu dia singkirkan terlebih dahulu.
Karena, semenjak adanya Tigor dan orang-orang nya, kekuatan Geng kucing hitam kembali bangkit dan di tambah lagi dengan kehadiran Black Cat yang seperti hantu dengan muncul dan menghilang sesuka hatinya membuat Beni harus memikirkan cara ampuh dan memeras otak.
"Tigor tidak terlalu bahaya. Tapi yang lebih berbahaya itu adalah Black Cat.
Ketika Tigor berhasil pindah ke kota kemuning, maka kita akan memblokir jalan nya untuk kembali ke kota Tasik putri ini. Dengan begitu, selesai satu urusan.
Kalian tau? Saat ini yang menjadi beban pikiran ku adalah Black Cat. Dia sungguh kejam dan haus darah. Bahkan di depan Martin pun dia tidak sungkan untuk membunuh." Kata Beni sambil memandangi satu per satu wajah keempat orang yang sangat senior di dalam organisasi kucing hitam.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya mereka.
"Itu lah yang membuat aku sangat pusing. Bagaimana cara menyingkirkan Black Cat agar kita bisa melibas Martin. Terus terang saja. Jika kita menilik kembali kekuatan yang kita miliki, aku yakin kita tidak akan sanggup menghadapi tenaga muda milik Tigor dan orang-orang nya."
"Sepertinya sangat sulit untuk menguasai kota Tasik putri ini."
"Kita bubarkan dulu pertemuan ini. Ingat lah untuk tetap menjaga sikap. Boleh benci tapi simpan rapat-rapat seperti kau menyembunyikan aib mu. Jika sampai bocor, aku dan kalian akan mati." Kata Beni memberi peringatan.
"Baiklah Beni. Kita berpisah dulu di sini. Kami berempat juga tidak akan tinggal diam. Kami pasti akan mencari jalan untuk membantu mu."
"Perhatikan terus kegiatan Tigor. Kumpulkan semua kesalahan yang dia lakukan. Suatu saat itu akan sangat berguna untuk menjatuhkan dirinya di depan semua orang.
Kuncinya adalah, tetap waspada dan terapkan sistem pecah belah antara sesama geng kucing. Buat mereka untuk membenci Tigor. Kecuali dua ratus orang rekrutannya. Jangan gegabah dengan mereka. Karena informasi yang aku dapat, mereka sudah menjalani ritual sumpah darah. Ingat pesan ku!"
"Baik lah. Kalau begitu kami permisi dulu." Kata mereka.
"Pulang dengan mencari jalan masing-masing. Ini agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa kita sedang merencanakan kudeta untuk Martin. Aku sendiri juga akan mempelajari setiap perkembangan. Begitu ada peluang, gunakan peluang itu untuk mengakhiri kekuasaan nya di tasik putri ini."
"Beni! Sebenarnya aku masih bingung. Bukankah Martin sangat baik kepada kita? Lalu mengapa kita harus menggulingkannya?"
"Dulu dia memang baik. Tapi sekarang tidak lagi. Dia terlalu berpihak. Kau ingat nasib Tumpal? Dia terpaksa harus lari."
"Oh ya. Berbicara tentang Tumpal. Aku ada idea."
"Katakan idea apa yang kau miliki Strongkeng!"
Lelaki setengah baya yang di sebut oleh Beni dengan nama Strongkeng itu diam sejenak lalu berkata, "Tumpal. Bukankah Tumpal ini berada di Bukit batu Villa milik Birong?"
"Oh.... Sialan. Mengapa aku lupa. Kita harus menghubungi Birong. Mungkin dia memiliki cara." Kata Beni.
"Apakah dia tertarik untuk membantu kita?" Tanya Strongkeng.
"Asalkan itu untuk kehancuran organisasi kucing hitam, dia pasti akan tertarik."
"Sabar dulu. Saat ini Birong sedang banyak urusan. Kita tunggu Birong mengalami musibah lagi. Baru kita bergerak. Dia pasti akan dengan senang hati. Semenjak terbunuhnya tiga orang tangan kanan nya, saat ini dia sedang menyusun kekuatan baru. Pastikan kita akan datang menawarkan tambahan amunisi untuk geng tengkorak. Bagaimana menurutmu?" Tanya Beni.
"Mantap. Pas kali lah itu. Hahahaha." Kata Strongkeng sambil tertawa.
"Beni. Kami pulang dulu. Ayo Strongkeng! Aku takut kalau kemalaman, nanti di cegat Black Cat pula di jalan."
"Iya Togi. Hati-hati di jalan. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku." Kata Beni sambil mengantar keempat sahabat nya itu sampai ke teras rumah nya."
*********
Kriiiing...!
Kriiiing...!
"Hallo Martin."
"Tigor. Di mana kau saat ini?"
"Aku sedang sarapan pagi di kafe dekat jembatan. Ada apa?" Tanya Tigor.
"Pulang kau sekarang Gor. Aku ingin mengajak mu ke Dolok ginjang untuk bertemu dengan Lalah." Kata Martin.
"Sekarang juga?"
"Ada apa Gor?" Tanya Andra.
"Tau tuh boss besar mu itu. Suka betul mengganggu kesenangan orang." Kata Tigor merengut.
"Maksud mu Boss Martin?"
"Iya lah. Emangnya kau punya berapa Boss?"
"Kan Boss ku ada dua. Kau dan Martin." Kata Andra becanda.
"Aku duluan. Jika terlambat, kepala ku akan kena jitakan terus."
"Kau bayar sarapan ku ini!" Kata Tigor sambil meletakkan uang seratus ribu rupiah di atas meja.
"Bang. Ini masih ada sisa." Kata Ameng.
"Ambil saja. Besok juga ada lagi." Kata Tigor sambil menaiki sepeda motor Yamaha RX king milik Andra.
"Nanti ajak Ameng atau Acong untuk menjemput motor mu ini. Aku pergi dulu." Kata Tigor.
"Dua puluh ribu Gor." Kata Andra becanda.
"Utang." Jawab Tigor sambil menarik gas dan berangkat meninggalkan Kafe itu.
"Akhir-akhir ini Tigor selalu sibuk. Kadang ketemu kadang tidak dengan dia. Ada apa sebenarnya ini?" Kata Andra bergumam.
"Aku tau mengapa Bang Tigor ini begitu sibuk. Ini karena Birong sedang bernegosiasi untuk kerja sama dengan Jordan sang penguasa kota Kemuning." Kata Acong.
"Oh. Begitu ternyata. Pantas saja dia menyuruh ku untuk menarik semua orang-orang kita dari kota Kemuning."
"Sepertinya ini bukan perkara main-main. Aku juga sempat mengetahui bahwa tadi malam Black Cat berkeliaran dari taman sampai ke pusat hiburan gemerlap malam." Kata Acong.
"Apakah ada korban?" Tanya Timbul.
"Tidak. Sekitar jam 11 malam itu Black Cat menelepon ku. Katanya dia menyuruh ku untuk memboking seorang perempuan penghibur di gemerlap malam. Hanya saja ntah untuk apa. Tak tanggung-tanggung. Seminggu! Habis uang ku 15 juta untuk itu saja." Kata Acong.
"Masih punya uang kau Cong?" Tanya Andra.
"Ada sisa satu juta lagi." Jawab Acong.
"Lumayan ada sejuta. Nanti juga paling akan di ganti oleh Tigor. Coba kau bayangkan ketika kita menjadi gelandangan dulu. Jangankan 15 juta. Punya duit sejuta saja rasanya surga berada di depan mata." Kata Ameng.
"Iya. Bersyukur lah karena sejak kecil kita mengenal Tigor. Walaupun tidak terlalu akrab seperti dia dengan Thomas, Ucok, Jabat dan Sugeng, tapi setidaknya dia tidak melupakan kita."
"Betul kata kau itu Mbul. Hanya saja, aku sangat menantikan terobosan yang akan dilakukan oleh Tigor ini. Aku yakin dia tidak akan berhenti sampai di sini saja. Suatu saat aku yakin dia akan membawa perubahan besar dalam hidup kita."
"Iya Ndra. Aku percaya itu. Makanya kita harus saling membantu."
"Sayang sekali Tigor tidak mau mengajak Ucok, Sugeng, Jabat dan Thomas bersama dengan kita. Pasti seru." Kata Timbul.
"Emm.., jangan lupakan Karman!" Kata Acong sambil tertawa.
"Hahaha. Karman. Bicara nya terlalu besar. Semua padepokan, semua guru silat, dukun santet pun pernah jadi tempat dia belajar. Udah gitu, dia akan bilang begini. 'Pakailah ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk.' Karena terlalu merunduk, di gertak Marven sampai kencing di celana." Kata Andra sambil tertawa diikuti oleh yang lainnya.
"Sudah sudah sudah. Dia juga sahabat kita." Kata Ameng tapi masih tetap tak dapat menahan tawa.
Setelah selesai, mereka lalu membayar semua yang mereka makan termasuk sarapan dan minuman Tigor tadi.
"Yuk cabut!"
"Ayo."
"Eh Cong. Antar aku ke rumah Tigor untuk menjemput kuda besi milik ku." Kata Andra.
"Siap Ndra...!"
Mereka lalu berpisah di depan kafe dekat jembatan itu mengikuti tujuan masing-masing.