BLACK CAT

BLACK CAT
Marven menginginkan Kota Kemuning



Hari ini di komplek elite Tasik Putri, tampak Marven terlihat seperti uring-uringan.


Dia tidak Makan mulai pagi bahkan tidak keluar dari kamarnya.


Hal ini tentu membuat Venia dan Martin merasa khawatir melihat sang putra berkelakuan seperti tidak biasa.


Memang, sejak lamarannya di tolak oleh Butet yang meminta persyaratan yang cukup berat, Marven tampak kehilangan semangat.


Dia terus memutar otak bagaimana caranya agar segera menjadi ketua di organisasi kucing hitam atau minimal, berkuasa di kota Kemuning.


Dengan hasutan yang terus-menerus dilancarkan oleh Beni serta lamarannya di tolak oleh Butet, ditambah lagi rasa iri dan dengki nya terhadap Tigor, membuat Marven menjadi pemurung belakangan ini.


Dia jadi gampang marah, suka menyendiri bahkan betah di kamar seharian.


Venia, ibu dari Marven berusaha untuk menanyakan kepada Martin ada apa sebenarnya yang terjadi dengan putra mereka itu.


"Bang. Ada apa dengan Marven? Aku lihat dia sangat murung belakangan ini." Tanya Venia.


Sebenarnya dia tau penyebabnya.


Namun, karena sikap Martin yang seolah hanya membiarkan saja, maka dia harus menggunakan cara lain untuk menarik perhatian Martin terhadap perubahan sikap putranya itu.


"Mana lah aku tau. Kau kan ibunya. Kau lebih memahami bagaimana sifat anak mu itu. Mengapa tidak kau tanyakan saja kepadanya?" Jawab Martin.


"Aku sudah berkali-kali menanyakan kepadanya. Tapi tidak pernah di jawab. Dia terus saja mengurung diri dalam kamarnya."


"Coba Abang saja yang menanyakan! Mana tau dia mau menjawab dan bisa dibujuk agar mau mengatakan kepada kita ada apa sebenarnya sehingga dia akhir-akhir ini sering mengurung diri di kamar." Kata Venia lagi.


Mendengar perkataan Istrinya ini, Martin pun hanya mengangguk saja lalu segera berdiri untuk menghampiri kamar Marven.


Tiba di depan pintu kamar milik Marven, Martin pun langsung mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok..!


"Marven. Apakah kau ada di dalam?"


Tidak ada jawaban.


Martin segera memandang ke arah istrinya dengan ekspresi wajah tanda tanya.


"Ketuk lagi Bang! Dia mungkin tertidur." Kata Venia meminta supaya Suaminya itu agar mengetuk pintu kamar Marven sekali lagi.


Tok.. tok.. tok..!


"Marven! Apakah kau tidur? Jika tidak, segera keluar! Aku ingin berbicara kepada mu." Kata Martin lalu segera kembali turun ke lantai bawah dan duduk di sofa tempatnya tadi duduk.


Tak berapa lama, tampak seorang pemuda dengan wajah kusut turun dari lantai dua menuju ke ruang tamu.


Begitu dia tiba di depan Martin, dia pun langsung diberondong dengan pertanyaan.


"Ada apa dengan mu Marven? Aku melihat akhir-akhir ini kau tampak murung dan selalu mengurung diri di kamar. Coba katakan ada apa sebenarnya?!" Tanya Martin.


"Benar Marven. Jika ada masalah, kau harus menceritakan kepada kami. Jangan di pendam sendiri!" Kata Venia pula.


"Anak ini. Di tanya malah diam saja. Katakan ada apa dengan mu?!" Bentak Martin yang sudah mulai tidak sabaran.


"Ayah. Akhir-akhir ini bisnis ku di gang kumuh menurun drastis. Club malam sepi pengunjung. Restoran juga sepi pelanggan. Saat ini yang masih bertahan hanya memungut uang keamanan dari pengusaha lain. Ini mana cukup. Aku harus menggaji lagi para staf dan anak buah ku." Kata Marven beralasan.


Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya karena khawatir Martin akan memarahinya.


Sudah bukan rahasia lagi bahwa Geng kucing hitam adalah musuh berat dengan geng tengkorak dari kota Batu. Sementara Butet adalah putri dari ketua nomor dua di organisasi geng tengkorak tersebut.


Hal ini tentu akan mendapat penentangan dari Martin dan Venia tentu tidak dapat membantunya.


Maka, untuk saat ini dia hanya bisa berbohong sambil memutar otak bagaimana caranya supaya dia bisa secepatnya menjadi ketua.


"Orang lain, jika bisnis miliknya macet, dia akan berusaha giat melakukan promosi dan berbagai event untuk menarik minat pelanggan. Bukannya menyerah, frustasi lalu mengurung diri di kamar." Kata Martin sambil menatap heran ke wajah Marven.


"Jika aku tau begini, lebih baik aku saja kemarin itu berangkat ke kota Kemuning bersama Beni. Dan biarkan Tigor bersama anak buahnya yang mengurus Gang kumuh itu." Kata Marven.


Demi memenuhi ambisinya, dia membuang jauh-jauh perasaan malu nya dan tanpa rasa malu, dia mengutarakan niatnya untuk menggeser posisi Tigor yang tampak sangat menjanjikan di kota Kemuning.


"Apa maksud mu Marven?" Tanya Martin yang mulai menebak ke mana arah tujuan perkataan dari Marven ini.


"Ayah. Aku ingin agar Ayah menarik Tigor kembali ke kota Tasik Putri dan menjaga gang kumuh. Biarkan aku yang menggantikan posisinya di kota Kemuning." Kata Marven dengan tidak tau malu itu.


"Apa...?"


"Kau jangan mengada-ada Marven! Dulu aku menawarkan kepada kalian terutama Beni untuk berangkat ke kota Kemuning dan menjaga aset ku yang berada di sana. Tapi apa? Macam-macam alasan kalian. Yang tempat jin buang anak lah. Yang sarang harimau lah. Yang menjadi umpan mulut buaya lah. Itu kan yang kalian katakan dulu?" Bentak Marven.


Dia benar-benar sangat kecewa dan tak habis pikir mengapa Tigor ini sekarang ingin diperlakukan seperti bola oleh Marven yang bisa di kejar, tendang sana lalu oper sini.


"Sekarang kota Kemuning sudah sangat menjanjikan. Berkat Tigor, kekuasaan Jordan di sana telah runtuh. Begitu Jordan sudah terpinggirkan, kalian mulai merasa bahwa kota itu saat ini sangat menjanjikan. Di mana letak otak mu itu?" Tanya Martin lagi.


"Aku tidak mau tau. Pokoknya aku mau kota Kemuning itu dan Tigor di tarik kembali ke kota Tasik Putri ini. Jika Ayah tidak mau, aku akan pergi dari rumah ini." Kata Marven mengancam.


"Marven. Kau pikirkan lagi keinginan mu itu. Jangan menurut hawa nafsu mu saja. Berfikir lah dewasa. Tigor di sana juga demi organisasi ini agar semakin berkembang dan bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Untuk kita juga. Untuk mu kelak." Kata Martin sedikit mengendorkan kemarahan nya.


"Aku hanya mau Kota Kemuning. Bukan nasehat." Kata Marven lalu bergegas keluar menuju mobilnya.


"Marven! Kemana kau? Kembali! Aku belum selesai bicara." Bentak Martin.


Namun Marven sudah memasuki mobilnya dan tak lama kemudian Mobil itu mangaung dan seperti kesetanan bergerak meninggalkan halaman rumah besar itu.


"Dasar anak setan." Kata Martin menahan geram.


"Lihat itu! Itu lah anak mu yang selalu kau manjakan itu." Bentak Martin kepada Venia.


"Sudahlah bang. Dia itu putra kita satu-satunya. Jangan terlalu keras dengan nya." Bujuk Venia sambil membelai pipi Martin.


"Huhf... Semakin lama anak itu semakin tidak terkendali. Entah apa nanti yang akan terjadi jika posisi ketua di organisasi ini pindah ke tangan nya. Bisa-bisa kelak banyak yang akan ditindas oleh anak itu." Kata Martin mengungkapkan kekhawatirannya.


"Dia adalah anak mu. Tentu perangai nya tidak jauh berbeda dari dirimu. Percaya lah. Dia hanya belum dewasa." Kata Venia.


"Ya sudah. Aku mau istirahat dulu. Masih banyak urusan yang harus aku kerjakan setelah ini." Kata Martin sambil bangkit berdiri dan melangkah menuju ruangan untuk beristirahat.