BLACK CAT

BLACK CAT
Acun akan menjadi kambing hitam



Kriiiiiing...!


Kriiiiiing...!


"Siapa lagi ini yang mengganggu?" Kata Tigor yang sedang duduk di sisi pembaringan dengan Mirna.


"Coba lihat bang. Siapa tau ada keperluan mendadak." Kata wanita yang baru saja menjadi istri Tigor itu.


"Malam-malam begini. Apa dia tidak tau orang lagi punya kegiatan." Kata Tigor sambil menggerutu.


Kriiiiiing


Kriiiiiing...!


Terdengar ponsel Tigor berdering lagi.


"Ambilkan hp-ku itu!" Kata Tigor menyuruh istrinya untuk mengambilkan ponselnya di atas meja.


Mirna pun beringsut bangun lalu melangkah ke arah meja untuk mengambilkan ponsel milik suaminya itu.


"Rio, Bang!" Bisik nya dengan pelan.


"Hmmm.."


Begitu ponsel itu berada ditangannya, Tigor lalu mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Rio. Ada apa kau malam-malam begini menelepon ku?" Tanya Tigor.


"Maaf bang kalau aku menelepon mu di waktu yang tidak tepat. Tapi aku mempunyai satu berita penting yang harus aku sampaikan kepada Abang." Kata Rio di seberang sana.


"Berita apa itu Dik? Apakah sebegitu pentingnya?" Tanya Tigor penasaran.


"Sangat-sangat penting bang."


"Begini bang. Aku sudah mempelajari tentang kasus Black Cat ini. Sangat berbahaya jika Abang tertangkap dengan menggunakan identitas sebagai Black Cat. Ini karena, Black Cat ini bukan hanya diinginkan oleh kepolisian dalam negri saja. Bahkan interpol juga sedang memburu keberadaan Black Cat ini."


"Saran ku, Abang tidak perlu menggunakan identitas Black Cat untuk menyerang kota Batu. Cukup gunakan identitas Tigor saja. Kalau hanya hukuman penjara, kemungkinan Abang bisa menjalani walaupun selama dua puluh tahun. Tapi masalahnya, begitu banyak kasus kriminal yang dilakukan oleh Black Cat ini. Dan itu cukup untuk menyeretnya ke tiang gantungan jika terbukti bersalah di pengadilan internasional." Kata Rio dengan serius.


"Rio. Besok pagi, aku akan memberikan jawaban kepada mu. Malam ini aku belum bisa. Aku butuh mengadakan pertemuan dulu dengan Abang-abang mu yang lainnya. Kau tunggu besok kabar dari ku!" Kata Tigor yang mulai gelisah.


"Baiklah bang. Aku tidak ingin hidup sendiri di dunia ini. Abang harus memikirkan kembali rencana itu dengan cermat." Kata Rio.


"Ya sudah. Kau jangan khawatir. Besok Abang akan memberi kabar." Kata Tigor pula.


"Baiklah bang."


Rio kini telah mengakhiri panggilan yang membuat Mirna merasa heran melihat perubahan pada wajah Tigor.


Dengan lembut, wanita itu pun menanyakan ada apa sebenarnya yang dikatakan oleh Rio.


Tigor menatap wajah istrinya itu lalu menceritakan semua isi dari obrolannya dengan adiknya yang seorang polisi dan bekerja di kota Batu tersebut.


Mendengar penjelasan dari Tigor ini, membuat Mirna juga menjadi pucat.


Dia tau bahwa rencana penyerangan itu sudah sangat matang dan tidak bisa di ganggu gugat lagi. Ini karena sudah banyak yang telah dikorbankan oleh Tigor demi untuk membalas dendam terhadap Birong.


Namun sebagai Istri, dia juga tidak ingin suaminya terbunuh di tiang gantungan.


"Kau tidak perlu khawatir sayang! Aku paling hanya dipenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan ku. Aku tidak akan mati karena tidak semudah itu membunuh Tigor yang sudah kenyang malang melintang di dunia hitam ini."


"Aku percaya kepada mu bang." Kata Mirna sambil merebahkan kepalanya di pundak suaminya itu.


"Yang perlu kau lakukan adalah menunggu ku. Tunggu sampai aku keluar dari penjara, lalu kita akan bahagia bersama." Kata Tigor sambil membelai rambut istri tercinta nya itu.


*********


Dari malam dia menerima panggilan telepon dari adiknya yang seorang polisi itu, sampai ke pagi sedikitpun Tigor tidak bisa memejamkan mata.


Pagi-pagi sekali dia sudah menelepon semua sahabat-sahabatnya untuk membahas masalah ini.


Kini di rumah miliknya itu, satu persatu sahabat-sahabatnya mulai berdatangan.


Melihat wajah Tigor seperti menanggung beban, mereka pun mulai serius dan langsung bertanya.


"Bang. Ada masalah apa sampai Abang menyuruh kami pagi-pagi buta ini untuk datang kemari?" Tanya Ameng yang merasa penasaran.


Jika Tidak karena sesuatu yang sangat penting, jarang sekali Tigor mengumpulkan sahabat-sahabatnya itu di pagi buta ini.


"Kalian semua duduk lah dulu!" Kata Tigor sambil mempersilahkan semua yang ada di ruangan itu untuk duduk.


"Aku melihat sepertinya kau sedang menanggung suatu beban masalah Gor. Boleh kau ceritakan?!" Kata Monang sambil duduk.


"Benar. Aku memang sedang dalam dilema yang besar." Jawab Tigor.


Sambil menghela nafas berat lalu menghembuskan nya, Tigor pun menceritakan semua isi pembicaraan antara dirinya dengan adiknya Rio tadi malam.


Begitu mereka mendengar semua penuturan dari Tigor, semuanya kini saling pandang dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.


"Bisa kacau kalau begini." Kata Andra.


"Tigor. Mengapa kau tidak tinggalkan saja identitas Black Cat itu? Ini karena terlalu beresiko." Kata Monang berusaha menasehati.


"Bisa. Aku bisa saja menanggalkan pakaian serba hitam itu. Yang aku pikirkan saat ini adalah prestasi adik ku Rio. Jika dia bisa menangkap Black Cat, namanya dan popularitas nya akan naik karena di dongkrak oleh prestasi ini. Di kepolisian itu yang dibutuhkan adalah prestasi bukan sensasi." Kata Tigor lalu melanjutkan.


"Harus ada kambing hitam. Benar. harus ada kambing hitam." Kata Tigor mengulang-ulang perkataannya.


"Kalau hanya masalah kambing hitam, itu bukan lah hal yang sulit. Kita memiliki seseorang yang bisa kita jadikan sebagai kambing hitam." Kata Acong.


"Kau yakin Cong?" Tanya Tigor mulai penasaran.


"Apakah Abang lupa dengan tawanan kita si Acun itu?" Tanya Acong.


"Iya bang. Kita punya Acun yang selalu kita bawa bersama-sama ketika pindah ke sini." Kata Timbul pula.


"Siapa Acun ini Cong?" Tanya Ucok yang memang tidak tau karena tidak diikutsertakan oleh Tigor dalam misi perampokan di bangunan tua.


Hal ini dilakukan oleh Tigor karena tidak ingin keempat sahabatnya dalam suka dan duka itu terlibat dan masuk ke dalam kubangan yang sama.


Makanya, baru di Kota Kemuning ini lah dia mengajak keempat sahabatnya yaitu Ucok, Thomas, Sugeng dan Jabat bergabung.


"Acun ini adalah ketua sindikat dari Singapura. Dia ini adalah rekan bisnisnya Birong. Dulu entah mengapa kami tidak membunuh nya. Malah memenjarakan nya di tahanan bawah tanah. Ternyata ada gunanya juga." Jawab Acong atas pertanyaan dari Ucok ini.


"Bagus. Ternyata bangsat yang menjadi dalang terbunuhnya ayah ku berguna juga." Kata Tigor.


"Begini Bang. Pada hari 'H' nya nanti, kita cekoki Acun ini dengan minuman sampai mabuk. Kemudian ganti pakaian nya dengan yang sering di pakai oleh Black Cat. Setelah pihak polisi datang, kita lepaskan Acun ini biar jadi buruan oleh Rio. Dengan begitu, antara Tigor dan Black Cat baru bisa dipisahkan." Kata Acong mengemukakan ide nya.


"Baiklah. Kalian bisa mengatur itu untuk ku. Aku juga akan mengabari kepada Rio tentang rencana kita ini."


"Semuanya sudah kita rencanakan. Begitu geng tengkorak dan geng kucing hitam habis terbantai, Rio pun datang dengan pasukannya. lalu setelah semuanya melarikan diri, lepaskan Acun. Pasti nya dia akan kebingungan dan akan kalang-kabut begitu pihak kepolisian mengejarnya. Dengan begitu, satu umpan yang tadinya mendapatkan dua mangsa, kini bertambah satu mangsa lagi." Kata Tigor.


"Ok bang. Semuanya sudah ditetapkan. Kami akan atur semuanya. Dan Abang atur juga rencana Abang dengan Rio." Kata Ameng.


"Jangan terlalu fokus Gor. Gasak juga istri mu. Siapa tau bibit mu bibit unggul. Kan lumayan begitu kau dipenjara nanti, Mirna mu hamil. Setelah kau bebas, langsung punya anak." Kata Andra becanda.


"Gila kau. Apa iya empat hari bisa jadi?" Tanya Tigor mendadak hilang wibawanya.


"Kata yang aku tonton di TV itu, bisa. Bahkan sekali aja bisa jadi kalau memang benar-benar benih yang baik." Jawab Andra.


"Sialan kalian semua. Pergi kalian sekarang!" Bentak Tigor dengan wajah bersemu merah.


Mereka semuanya lalu kabur sambil tertawa terbahak-bahak.