
Kriiiing...
Kriiiing....!
"Hallo Gor. Ada perlu apa kau menelepon ku?" Tanya satu suara dengan malas menjawab panggilan yang datang dari Tigor.
"Pak Martin. Aku ingin meminjam mobil mu untuk keperluan membeli barang di Dolok ginjang." Jawab Tigor.
"Meminjam Mobil? Lalu kemana mobil mu yang aku belikan itu?" Tanya Martin heran.
"Mobil ku mana bisa mengangkut banyak barang? Salah mu membelikan ku mobil dua pintu begitu." Jawab Tigor seenaknya.
"Kau datang ke rumah ku sekarang! Aku sedang malas untuk kemana-mana." Kata Martin lalu mengakhiri panggilan.
"Hallo..."
"Hallo....!"
"Ah sialan Martin ini. Jika bukan menganggap kau ini boss sekaligus bapak angkat, sudah ku tinju hidung mu ini." Kata Tigor sambil menunjuk-nunjuk ke layar ponsel nya.
Sejenak Tigor berfikir, lalu segera memasuki kamar pribadi nya dan bertukar pakaian. Setelah itu dengan mengendap-endap dia keluar dari kamar dan memasuki garasi.
Dia lalu mengeluarkan sepeda motor Ducati hitam hadiah dari Lalah dan sesegera mungkin meninggalkan rumah itu tanpa menutup pintu garasi.
"Mustahil penjaga rumah ini tidak curiga kalau Tigor itu adalah Black Cat." Kata Tigor dalam hati.
Namun dia tetap masa bodoh. Baginya, selagi penjaga rumah itu tidak berkhianat, maka nyawanya akan selamat dari pedang lentur milik Black Cat.
Sepeda motor hitam pekat dan dikendarai oleh sosok yang juga serba hitam itu terus melesat memotong beberapa kendaraan yang berada di depannya.
Jauh di dalam hati Tigor, dia memuji betapa hebat nya sepeda motor milik nya itu yang dia dapat dari Lalah.
"Hebat kau Lalah. Kau tau apa yang aku mau." Puji Tigor dalam hati.
Tidak seberapa lama, kini Tigor dan kendaraan hitam nya telah tiba di tikungan mengarah ke Komplek elit kota Tasik putri.
Dia segera berbelok ke kanan dan kembali melesat kencang menuju ke salah satu rumah mewah kelas satu di komplek itu dan berhenti tepat di depan pintu pagar yang di jaga oleh beberapa orang pengawal.
Melihat siapa yang datang, para pengawal itu tanpa banyak tanya langsung membukakan pintu pagar dan segera mempersilahkan Tigor untuk lewat.
"Selamat datang Black Cat! Boss besar sudah menunggu mu di ruang tamu." Kata Pengawal itu dengan hormat.
"Terimakasih!" Kata Black Cat dengan suara dingin.
"Martiiiin...! Mana mobil nya? Aku tidak punya banyak waktu."
Terdengar suara teriakan dari luar membuat beberapa pengawal berlarian menuju pintu depan. Namun begitu melihat siapa yang berteriak, para pengawal itu akhirnya mundur dengan teratur.
"Anak monyet ini benar-benar tidak sabaran." Kata Martin sambil menggerutu.
Dia langsung menuju ke arah pintu dan melemparkan kunci mobil ke arah Black Cat yang langsung di sambut olehnya dengan cekatan.
"Barang apa yang mau kau angkut heh anak monyet?" Tanya Martin.
"Martin. Siang ini Acun sudah tiba di Kuala nipah." Kata Black Cat sambil berbisik.
"Hah? Berani sekali dia siang-siang bolong begini." Kata Martin heran.
"Mengapa kau heran? Mereka mungkin sudah menyuap para aparat. Makanya mereka aman-aman saja."
"Darimana kau tau Gor?" Tanya Martin.
"Saat ini semua anak buah ku sudah bertebaran dimana-mana. Aku tinggal menunggu laporan saja dari mereka. Setelah itu, tengah malam nanti, kami akan mulai beraksi." Kata Black Cat masih sambil berbisik.
"Lalu mobil itu?" Tanya Martin.
"Apakah kau butuh bantuan dariku?" Tanya Martin.
"Tidak. Aku tidak mempercayai semua orang yang ada di sekitar mu. Hati-hati Martin. Jangan sampai kau salah bicara. Jika bocor, kita pasti akan gagal." Kata Black Cat memperingatkan.
"Ayo masuk sebentar!" Ajak Martin sambil menarik tangan Black Cat alias Tigor.
"Aku mana punya banyak waktu lagi untuk mengobrol dengan mu." Tolak Black Cat.
"Sebentar saja." Kata Martin.
Begitu mereka sudah tiba di dalam, Martin segera memasuki kamar nya dan tak lama kemudian keluar lagi sambil menyerahkan sepucuk senjata api berwarna keemasan.
"Kau gunakan pistol ku ini untuk melindungi diri. Di dalam ada 12 butir peluru. Setiap satu butir, satu nyawa." Kata Martin.
"Untuk apa ini? Aku tidak pandai menggunakan senjata seperti ini. Keahlianku adalah menggunakan pedang dan pisau lempar." Kata Tigor.
Jelas dia menolak. Karena seumur hidup, walaupun bekerja sebagai mafia dan sering membunuh, namun dia tidak pernah menggunakan pistol. Seumur hidup baru kali ini dia menyentuh senjata seperti itu.
"Kau akan memerlukannya. Bawa saja. Jika tidak kau pergunakan pun, tidak apa-apa." Kata Martin sambil memaksa Black Cat menerima senjata itu.
Merinding juga Black Cat menyentuh senjata itu. Terlintas dalam benaknya saat-saat mendiang ayah nya menghembuskan nafas terakhir. Pasti senjata seperti ini lah yang telah merenggut nyawa kedua orang tua nya itu.
"Ada apa Gor?" Tanya Martin.
"Tidak apa-apa." Jawab Black Cat.
"Lalu mengapa kau seperti berketingat dingin? Aku fikir kau terlalu kuat. Ternyata melihat pistol saja kau ketakutan." Ejek Martin.
"Bukan. Aku bukan takut. Aku hanya membayangkan ketika ayah ku di bunuh. Pasti senjata seperti ini lah yang merenggut nyawa ayah ku." Kata Tigor.
"Nanti jika ada kesempatan, kau harus menembak kepala Birong dengan pistol ini. Biar dia tau rasanya mati di terjang peluru. Selama ini hanya dia saja yang sering menembak orang. Biar dia rasakan seperti apa rasanya tertembak." Ujar Martin.
"Doakan keberhasilan ku malam ini Pak Martin! Setelah malam ini, semuanya akan kembali membaik. Dulu Birong mencekik geng kucing hitam dari depan dan belakang. Setelah ini, gantian. Kita yang akan mencekik mereka dari samping kiri dan kanan." Kata Tigor.
"Ada atau tidak keuntungan yang akan aku peroleh dari misi mu kali ini, asalkan itu untuk menghancurkan geng tengkorak, aku pasti akan selalu mendoakan mu. Selain penyelamat, kau sudah aku anggap seperti anak ku sendiri. Oleh karena itu, kau harus selamat pergi dan selamat kembali." Kata Martin berpesan.
"Mudah-mudahan. Aku yakin dengan keberhasilan ini. Karena aku sangat menguasai seluk beluk kota Batu. Kota itu adalah kota tempat kelahiran ku. Aku pasti kota itu tidak akan membuat aku celaka."
"Ah mengapa jadi dramatis begini. Sudah lah. Sebelum aku di usir, lebih baik aku pergi." Kata Black Cat sambil menyelipkan pistol martin di pinggang nya.
"Dasar anak monyet. Pergi sana kau! Lama-lama berada di rumah ku membuat aku muak!" Kata Martin sambil menendang pantat Black Cat.
"Sialan kau ya. Awas kalau kau datang ke rumah ku. Sebelum masuk, aku akan tulis di depan pintu, 'TIDAK MENERIMA TAMU'." Kata Black Cat sambil ngacir meninggalkan Martin.
Martin hanya memperhatikan saja kepergian Black Cat membawa mobil milik nya yang sengaja dia siapkan untuk kegunaan Black Cat.
"Ada apa ribut-ribut?" Terdengar suara teguran dari arah belakang.
"Oh Venia sayang ku. Itu tadi Black Cat datang meminjam mobil." Jawab Martin kepada seorang wanita setengah baya yang masih cantik.
Dia adalah Venia. Ibu Marven dan Istri Martin.
"Mengapa aku tidak diberi tahu kalau Black Cat akan datang?" Tanya Wanita itu.
"Dia bukan akan datang. Tapi sudah pergi. Dia sedang buru-buru. Ada misi yang harus dia selesaikan." Kata Martin.
"Apakah itu untuk kepentingan organisasi?" Tanya Wanita itu.
"Lebih dari itu Istriku."
"Ya. Semoga dia bisa berhasil dengan misinya." Kata wanita itu yang di sambut dengan anggukan dan senyuman dari Martin.
Bibir nya tersenyum. Namun hatinya jauh memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam. Apakah Tigor akan berhasil atau gagal. Jika Tigor gagal, habis lah tulang punggung bagi organisasi kucing hitam. Dan kehancuran kelompok yang dipimpinnya itu pasti hanya menunggu waktu saja.