
Pagi itu, di lantai atas Martins Hotel, tampak Tigor ditemani oleh Monang dan Andra. Kemudian ada Mister Long Khang, Mister Ming kang Khang, juga ada Arslan dan Rio.
Kini ketujuh orang itu sedang membahas rencana penyerangan ke kota Tasik Putri untuk menumpas geng kucing hitam yang di pimpin oleh Martin serta geng tengkorak yang diketuai oleh Birong.
"Tuan Tigor. Kapan rencana penyerangan itu akan kita lakukan?" Tanya Arslan yang memang tidak boleh terlalu lama di tempat asing seperti kota Kemuning ini.
Ini karena, di Metro City dan Starhill, ada setumpuk pekerjaan yang menanti untuk dikerjakan olehnya.
"Begini Tuan Arslan. Mata-mata saya di kota Tasik Putri mengatakan bahwa empat hari lagi akan diadakan acara pernikahan antara ketua geng kucing hitam dengan putri dari ketua geng tengkorak."
"Pernikahan ini adalah pernikahan dua kekuatan besar di provinsi ini. Mereka sengaja bersekutu untuk melakukan penyerangan terhadap orang-orang ku di kota Kemuning ini dan ingin menguasai kota ini. Setelah mereka berhasil menyerang kota Dolok ginjang dan membuat Lalah dan Poltak terpaksa harus melarikan diri ke kota Kemuning ini." Kata Tigor menjelaskan.
Saat ini Rio yang memang masih mempelajari semua yang mereka bahas hanya menjadi pendengar yang baik saja sambil mempelajari apa sebenarnya yang sedang terjadi dan apa pekerjaan Abang nya ini. Mengapa begitu banyak orang-orang besar yang berada di sekitarnya. Bukankah Abang nya ini adalah seorang gelandangan yang setiap hari hanya menjadi seorang pengamen untuk mengisi perut dan membiayai pendidikannya.
"Begini saja Mister King no Kong. Jika dalam waktu empat hari lagi mereka akan mengadakan acara pernikahan, sebaiknya kita mengatur rencana penyerangan dari sekarang. Aku sebenarnya tidak mengetahui rencana anda ini. Jika tidak, aku pasti akan membawa seribu lebih anak buah ku. Namun tidak mengapa. Seratus orang ini pun aku harap bisa bergotong royong membantu meringankan misi yang akan anda laksanakan." Kata Mister Long Khang yang memang murni datang sebagai tamu undangan saja.
"Tigor. Bagi tiga kelompok mu! Satu kelompok memata-matai pergerakan pihak penegak hukum. Kami juga akan memecah kelompok kami menjadi dua. Sementara kelompok kedua mu akan bergabung dengan kelompok pertama dari kelompok ku untuk menyerang kota Batu. Sisanya, bergabung dengan anak buah Mister Long Khang, berangkat ke kota Tasik Putri. Kita ratakan semua mereka di sana." Kata Arslan membagi-bagikan tugas masing-masing.
"Benar Tuan Arslan. Aku juga berpendapat sama dengan anda. Ini adalah serangan pertama dan terakhir. Sekali terjun, semuanya harus tuntas." Kata Tigor.
"Kalian boleh mengatur rencana apa saja yang kalian suka. Kalian juga boleh meratakan kota batu. Namun nyawa Birong adalah milik ku. Aku akan mengamankan semua anak buah ku di kantor Kapolres kota Batu. Tapi ingat! Nyawa Birong adalah milik ku." Kata Rio tiba-tiba membuka suara.
"Tuan Tigor?"
Arslan kini menatap ke arah wajah Tigor yang masih menatap lekat ke wajah adiknya Rio.
"Tuan Arslan. Dia adalah adik saya. Dia juga adalah seorang anggota kepolisian dari kota Batu." Jawab Tigor.
"Rio. Kau akan mendapat dua buruan dalam sekali sergap. Pertama Birong, kedua Black Cat." Kata Tigor sambil menepuk pundak adiknya itu.
"Mengapa Abang begitu yakin kalau aku akan mampu menangkap Black Cat itu?" Tanya Rio heran.
Tigor tidak menjawab pertanyaan dari adiknya itu. Dia hanya melepaskan pakaiannya lalu tampaklah pakaian ketat berwarna hitam di balik pakaian luarnya tadi.
Sambil mengecup benda hitam yang ada di tangannya, dia pun lalu memasang topeng itu dan kini terlihatlah oleh semua orang sosok yang sangat di takuti, dan menjadi incaran pihak kepolisian yaitu Black Cat.
"Bang. Kau?!"
Saking kagetnya, Rio sampai terlonjak berdiri sambil menatap tak percaya ke arah Black Cat.
"Aku tau kau terkejut. Tapi satu yang harus kau ingat Rio. Belasan tahun aku mengatur semua ini demi satu tujuan. Yaitu membalas kematian kedua orang tua kita, paman, bibi serta sepupu kecil kita. Ingat itu. Jika kau mengacaukan rencana ini, maka kau bukan adikku lagi." Kata Black Cat dengan nada suara yang sangat dingin.
"Aku akan mencoba membutakan mata dan memekakkan telinga untuk masalah ini. Tapi ingat bang! Setelah ini bersihkan nama mu dengan cara menyerah kepada pihak kepolisian." Kata Rio.
"Kau yang akan menangkap ku. Dengan begitu, hanya satu umpan, kau mendapatkan dua buruan." Kata Tigor.
Mereka lalu saling berjabat tangan lalu segera melangkah menuju ke pintu untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Tiba di bawah, alangkah terkejutnya Tigor melihat seorang lelaki tua berpakaian serba hitam sedang berdiri di tengah ruangan.
Dengan kegugupan yang sangat nyata, Tigor akhirnya buru-buru menarik tangan Rio lalu berlutut di depan lelaki tua itu.
"Rio!" Tegur nya kepada adiknya itu.
Rio yang kebingungan pun akhirnya ikut berlutut juga.
"Salam kami untuk kakek." Kata Tigor sambil mencium tangan lelaki tua itu.
"Hmmm. Sudah besar kau Rio."
Tampak lelaki tua itu membelai rambut Rio dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Rio. Dia adalah kakek kita. Mengapa kau tidak memberikan penghormatan?" Tanya Tigor.
"Oh. Eh. Iya bang." Kata Rio tergagap lalu segera menyalami kakek tua itu lalu mencium tangannya juga dalam posisi masih berlutut.
"Bagaimana dengan rencana kalian Tigor?" Tanya lelaki tua itu.
"Sudah di tetapkan kek. Empat hari lagi kami akan menyerang dua kota itu tepat di hari pernikahan Marven dan Butet." Kata Tigor menjawab pertanyaan lelaki tua itu.
"Kau boleh meluluh lantakkan kedua kota itu. Namun jangan kau bunuh pengantin yang sedang melangsungkan pernikahan. Pantang bagi kita. Mengerti?" Tanya lelaki tua itu dengan suara menekan.
"Tapi kek?"
"Jika kau melakukan itu, seumur hidup kau akan mendapat kutukan. Marven dan Butet tidak boleh di bunuh!" Kata lelaki tua itu lagi.
"Dia sudah membunuh Martin kek. Bagaimana aku bisa memaafkan Marven ini?" Tanya Tigor masih merasa tidak puas hati.
"Kau pasti punya bukti kan? Biarkan Rio yang memenjarakan Marven itu dan kau harus menyantuni Butet sebagai wanita yang menjadi korban keadaan."
"Tigor menurut perintah kakek."
"Monang dan kau Andra. Kalian dengar kan? Kelak itu akan menjadi tugas mu untuk menyantuni Butet. Karena mungkin aku saat itu sudah meringkuk di kamar besi." Kata Tigor lagi.
"Kami mendengar nya Gor. Kau tidak perlu khawatir." Jawab mereka berdua.
"Ya sudah. Kalau begitu aku pamit dulu. Masih ada waktu empat hari lagi. Kau perlakukan Mirna dengan baik." Kata lelaki tua itu lalu melangkah pelan keluar ruangan hotel itu.
Terlihat langkah kakinya biasa saja. Namun yang mereka lihat, lelaki tua itu sudah berada di ujung koridor dan hilang di balik tikungan.