BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor akan di dempul oleh Wulan



Mobil BMW i8 terus melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan perkebunan karet perbatasan antara kota batu dan kota kemuning.


Saat kendaraan itu sudah memasuki pusat kota Batu, ketika itu subuh sudah mulai beranjak pagi dan mentari sudah mulai akan menyingsing di ufuk timur.


Di dalam kendaraan sport itu tampak seorang pemuda mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut belah tengah sedikit pirang sedang fokus mengendalikan laju kendaraan itu dengan tenang. Dia harus tetap fokus karena sudah dua malam dia kurang tidur ditambah lagi malam tadi sama sekali dia tidak tidur, bahkan sejenak saja. Jika lalai, dia bukan mati di tangan musuh melainkan mati karena kecelakaan lalu lintas.


Dengan sesekali menuap dan berkali-kali menggelengkan kepala mengusir rasa kantuk, pemuda itu akhirnya meminggirkan kendaraannya ke arah bahu jalan dan berhenti di sana.


"Seharusnya pak Harianja sudah berangkat. Sudah sampai di mana dia sekarang?" Kata pemuda itu dalam hati.


Tidak mau terus menerus berpraduga, pemuda itu akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Rio adiknya dari daftar kontak lalu segera membuat panggilan.


"Bang...!"


Terdengar suara menyapa di seberang sana ketika panggilan itu sudah terhubung.


"Rio! Sudah sampai di mana kalian sekarang?" Tanya pemuda itu.


"Kami saat ini sudah di jembatan tempat kita dulu bang. Sebentar lagi akan melewati gapura selamat jalan. Abang di mana sekarang?" Tanya Rio.


"Abang ada di kota Batu. Abang akan membuntuti kalian dari kejauhan."


"Rio! Kau harus hati-hati. Jangan ungkit-ungkit tentang nama Kapten Bonar atau mengaku-aku bahwa kau memiliki seorang abang bernama Tigor. Ingat ya! Ini demi keselamatan dirimu. Saat ini geng tengkorak mengincar dirimu dan diri abang. Kau harus ingat pesan abang itu!" Kata pemuda itu memperingatkan.


"Iya bang aku ingat." Jawab Rio.


"Abang tidak bisa mengantar mu sampai ke tempat tujuan secara terbuka. Jika musuh mengetahui, bisa membahayakan keselamatan mu. Belajarlah yang rajin. Kelak jika sudah menjadi polisi, kau harus bisa membalaskan kematian ayah kita. Jika abg gagal menuntaskan musuh, kau yang akan melanjutkan nya." Kata pemuda itu menasehati sekaligus memotivasi adik kesayangan nya.


"Oh ya dek. Kemana pak Harianja akan membawamu?" Tanya Tigor.


"Gor. Kami akan pindah ke Kampung baru. Kau tenang saja. Aku punya kawan lama di sana. Rencananya kami akan menunpang dulu di rumah sahabatku itu sekitar seminggu sebelum membeli rumah. Kan tidak mungkin begitu tiba langsung punya rumah. Namanya juga orang baru. Ya pasti harus lihat-lihat dulu ya kan?"


Di seberang telepon terdengar suara pak Harianja yang menjawab pertanyaan Tigor kepada Rio tadi.


"Oh baiklah pak. Bersikap lah layaknya juragan baru di sana nanti. Jangan perlihatkan kelemahan apa lagi rendah diri. Masalah uang jangan khawatir." Kata Tigor.


"Hahaha.. Kau terlalu berlebihan Gor. Tidak boleh begitu." Kata pak Harianja sambil tertawa.


"Bukan pak. Aku tidak ingin bapak merasa rendah diri lalu di hina oleh orang-orang di sana nanti. Ini tidak baik untuk Rio. Dia akan mampu menyerap pelajaran jika dia memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Jika dia di hina atau di bully karena gelar kemiskinan yang dia sandang, aku khawatir selamanya dia tidak akan mampu beradaptasi apa lagi menyerap pelajaran. Terkadang menjadi sombong juga perlu untuk meningkatkan rasa percaya diri." Kata Tigor.


"Lalu bagaimana dengan mu?" Tanya pak Harianja.


"Aku? Aku akan baik-baik saja." Kata Tigor lalu mengakhiri panggilan.


Sambil menarik nafas dalam, Tigor mulai akan kembali menjalankan kendaraannya. Namun sebelum itu terjadi, ponselnya sudah kembali berdering.


"Aduh sialan. Mak lampir ini mau apa dia?"


Tigor mengeluh di dalam hati ketika melihat ke layar ponsel tertera nama si pemanggil adalah Wulan.


"Hallo Kakak yang baik hati, yang imut dan manis." Kata Tigor sembari menahan mual di perutnya karena perkataannya sendiri.


"Hey Tigor! Ingat nanti malam kau harus menemani aku untuk bertemu dengan sahabat-sahabat ku. Nanti sore aku akan menemui mu. Kau harus di permax dan di dempul biar kelihatan kinclong."


Terdengar suara seorang wanita di seberang sana berbicara layaknya seperti peluru yang keluar dari moncong senapan otomatis.


"Di dempul? Emangnya aku body mobil yang lekang cat? Kenapa kau tidak katakan harus di amplas dan di plitur?" Tanya Tigor dengan kesal.


"Aku tidak mau tau apa pun namanya itu. Mau dempul atau apa lah. Kau harus tampil tampan dan machoo biar tidak membuatku malu nanti."


"Heh Wulan! Kau jangan melampaui batas ya! Emang aku ini lelaki apaan mau-maunya dibegituin sama cewe. Jika kau mau yang sempurna, Marven tuh ajak. Mengapa harus aku yang jadi korban selera mu?" Tanya Tigor mulai sewot.


"Berani menolak aku berarti cari penyakit. Aku tidak terbiasa di tolak." Jerit Wulan dengan kesal.


"Kau ini mau mempersulit diriku Lan. Bagaimana jika nanti aku bertemu dengan Ronggur atau nanti malah dipergoki sedang jalan bareng sama kamu oleh Marven? Apa nanti alasannya?"


"Kau ini cocoknya jadi penjual pakaian bekas. Terlalu banyak cingcong. Dengan Ronggur kau tidak usah khawatir. Dia sama sekali bukan level ku. Masalah Marven juga tidak perlu khawatir. Dia juga bukan level ku." Kata Wulan.


"Lalu menurut mu aku ini level mu?"


"Eh kau jangan gede rasa ya Tigor! Kau hanya kacung! Kau memiliki masalah yang belum tuntas denganku. Permintaan maaf yang kemaren belum cukup. Jika kau ingin masalah itu aku anggap selesai, maka jangan banyak bacot. Ikuti saja arah telunjukku. Lagian hanya untuk malam ini saja." Kata Wulan.


"Iya iya iya. Terserah lah." Kata Tigor menyerah.


"Nah begitu lebih baik daripada kau cerewet dengan ku. Pukul empat nanti aku akan menjemputmu. Kita belanja pakaian dulu dan ke shalon untuk mendempul wajah mu itu. Pokoknya kau harus mau menurut." Kata Wulan.


"Iya iya iya. Dempul pun dempul lah. Seterah kau aja."


"Itu lah kegoblokan mu. Terserah kau bilang seterah. Ok. Aku mau santai dulu. Sampai ketemu nanti sore." Kata Wulan sambil mengakhiri panggilan.


"Dasar anak tukang mobil. Tau nya dempul. Emang aku ini odong-odong. Parah banget." Kata Tigor dalam hati.


Sambil berlalu, Tigor tak henti-hentinya mengutuki dirinya sendiri mengapa harus berkenalan dengan Wulan ini.


"Ini semua gara-gara Karman. Sampai sekarang aku yang menanggung susah nya." Kata Tigor menangis dalam hatinya.