
Monang. Salah seorang sahabat sekaligus bawahan Tigor mengernyitkan dahi ketika mendengarkan isi pesan suara dari Black Cat.
Dengan menggeser kursinya, dia memberikan sebelah headset nya kepada Andra.
"Kau dengar pesan suara ini Ndro?!" Kata Monang.
"Iya. Bagaimana ini?" Tanya Andra.
"Bagaimana lagi. Bawa semuanya ke lokasi proyek!" Kata Monang.
"Lalu bagaimana dengan dua ekor betina itu?" Tanya Andra mengacu kepada Wulan dan Debora.
"Biang kerok nya sudah mampus. Ayo kita ke sana!" Ajak Monang sambil melangkah keluar restoran milik Martin yang berada di kota Kemuning ini.
Sementara itu, Wulan dan Debora yang menyaksikan dari jendela kamar hotel di lantai empat merasakan bahwa mereka berdua sama sekali sudah tidak dipedulikan oleh Tigor.
Terbukti kini semua pengawal yang menjemput dirinya dan Debora pergi secara tiba-tiba meninggalkan halaman depan restoran yang tidak jauh jaraknya dari Hotel yang sama-sama milik Martin itu.
***
Selama Monang masih dalam perjalanan menuju ke lokasi proyek, Tigor alias Black Cat telah meninggalkan lokasi proyek dan menyelinap dalam kegelapan menuju tempat dia menyembunyikan mobilnya yang ada Mirna di dalamnya.
"Habis sudah terbongkar kedok ku." Maki Tigor dalam hati.
"Apa boleh buat. Aku harus mengancam Mirna." Kata Tigor lagi dalam hati lalu segera membuka pintu mobilnya.
"Black Cat!" Kata Mirna dengan lirih.
"Lupakan apa yang kau saksikan tadi Mirna. Ingat untuk menjaga rahasia atau kau akan aku bunuh!" Kata Tigor pura-pura memberi ancaman.
"Mau bunuh sekarang?" Tanya Mirna malah menantang.
"Apa kau sudah bosan hidup?" Tanya Tigor yang masih memakai topeng kucing itu.
Plak...!
"Aku benci dengan mu yang mempermainkan aku. Selama ini aku selalu merindukan orang yang telah merebut hatiku. Apa maksudmu mempermainkan ku Bang?" Tanya Mirna sambil menampar pipi Black Cat atau Tigor.
Kaget juga Tigor menerima tamparan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Dia yang salah.
"Aku punya alasan mengapa tidak ada yang boleh mengetahui penyamaranku.", Kata Tigor sambil membuka topengnya.
"Apa kau tidak mempercayai ku bang?" Tanya Mirna.
"Sekarang percaya." Kata Tigor mulai menghidupkan mesin mobil. Dia harus buru-buru pergi dari tempat itu sebelum Monang dan yang lainnya melihat. Semua akan menjadi semakin kacau.
"Kau mau tau alasanku kan?" Tanya Tigor.
"Begini. Hampir sepuluh tahun yang lalu, ayah ku yang seorang kapten di Kapolres kota Batu dibunuh oleh kelompok mafia bernama geng tengkorak. Saat ini aku baru berumur lima belas tahun dan adikku berumur hampir enam tahun." Lalu Tigor menceritakan semua kejadian itu dari mulai Ayah nya terbunuh, sampai dia menjadi gelandangan dan seterusnya bertemu dengan Martin.
"Aku tidak mungkin membuka identitas ku kepada mu sementara kita baru saja kenal ketika itu. Aku harus menunggu waktu yang tepat." Kata Tigor.
"Lalu, apakah ini adalah waktu yang tepat?" Tanya Mirna.
"Sebenarnya belum. Tapi keadaan yang memaksa." Jawab Tigor.
"Jahat sekali kau bang!" Kata Mirna sambil memukul lengan Tigor.
"Sekarang kan sudah tau. Lalu, apakah kau masih mencintai Black Cat atau Tigor?" Tanya Tigor menggoda.
"Emang harus dikasih tau ya?" Tanya Mirna manja.
"Nggak juga sih. Aku lebih suka praktek daripada Teori." Kata Tigor sambil merengkuh pundak Mirna hingga membuat gadis itu tersuruk di dada bidang Tigor.
"Kau menantang kejantanan ku Mirna? Ok. Sekarang tunjukkan kebetinaan mu!" Kata Tigor sambil meminggirkan mobilnya.
"Apaan sih? Emang ga mau nikah dulu?" Tanya Mirna.
"Emmm... Harus nikah dulu. Iya kita harus nikah dulu. Tidak boleh berbuat yang tidak halal ya kan? Baiklah. Lusa kita kembali ke tanjung karang. Aku akan melamar mu secara baik-baik." Kata Tigor bersungguh-sungguh.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi bang selain Nenek dan Kakek ku yang sudah sangat tua." Kata Mirna.
"Lumayan. Aku selain Rio juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayah dan ibuku di bunuh. Paman adik angkat ayah ku juga di bunuh sekeluarga. Hal yang sampai saat ini mengganggu fikiran ku adalah ketika aku melihat adik sepupu ku yang baru berusia satu tahun juga ikut menjadi korban kebiadaban Birong dan anak buah nya. Sakit sekali rasanya." Kata Tigor sambil memukul stir mobilnya.
"Apa kau ingin benar-benar membalas dendam bang?" Tanya Mirna sambil menatap serius ke arah Tigor.
"Aku berdoa siang dan malam semoga jangan mati dulu sebelum bisa membalaskan dendam kematian kedua orang tua ku. Setelah aku pastikan Birong tewas, terserahlah apa yang terjadi selanjutnya. Mau dipenjara, mau hancur dan mati sekalian aku juga tidak perduli." Kata Tigor menjawab pertanyaan dari Mirna tadi.
"Jika kau benar-benar ingin membalas, kau harus menyusun kekuatan. Kau juga harus mempu menambah koneksi mu. Jika kekuatan mu masih hanya dengan dua ratus orang ini, mustahil kau bisa menyentuh siapa tadi namanya?" Tanya Mirna.
"Birong maksud mu?"
"Nah iya Birong. Dia itu kan hitam kan bang?" Tanya Mirna.
"Hitam seperti pantat kuali. Makanya nama dia Birong."
(Birong \= Hitam dalam bahasa Batak)
"Mengapa kau tidak berusaha menambah kekuatan?" Tanya Mirna.
"Aku juga sudah memikirkan hal ini. Tapi untuk sementara, sebaiknya harus difikirkan dulu. Merekrut anggota tidak sama dengan membeli sesuatu di kedai. Ada banyak sisi yang harus di lihat. Dan yang paling utama adalah kesetiaan dan kemampuan setiap individu. Jangan jadi seperti membeli kucing dalam karung. Beli tanpa melihat. Akhirnya menyesal karena kucing yang di beli itu kurapan"
"Seperti Abang ya kan? Kucing berkurap." Kata Mirna sambil terkikik geli.
"Asem tenan. Baru kali ini ada yang berani meledek Tigor separuh Black Cat." Kata Tigor.
"Dan itu adalah aku." Kata Mirna dengan masih tertawa.
"Mirna. Kau sayang kan sama aku?"
"Apa harus dijelaskan lagi?" Tanya Mirna.
"Bukan karena aku telah mengeluarkan banyak uang kan?"
"Bang. Sebelum nya aku sangat merindukan Black Cat. Tapi sekarang apa bedanya antara dirimu dengan Black Cat?" Tanya Mirna.
"Ada bedanya Mirna. Bahkan sangat berbeda." Kata Tigor serius.
"Apa itu kalau aku boleh tau."
"Perubahan yang paling terasa adalah, setiap kali aku memakai topeng ini, nafsu membunuh ku sangat tinggi sekali. Mungkin topeng ini sudah banyak berlumuran darah. Sisi manusia ku hilang begitu aku memakai topeng dan pakaian serba hitam ini." Kata Black Cat alias Tigor.
"Terdengar sangat mengerikan sekali. Lalu, mengapa Abang bisa suka kepadaku? Bukannya ketika kita dulu bertemu pertama kali, Abang memakai topeng ini?" Tanya Mirna sambil menunjuk ke arah topeng kucing yang berada di pangkuan Tigor.
"Entahlah. Maksud ku adalah, nafsu membunuh kepada orang yang mengusik ketenangan ku."
"Oh begitu." Kata Mirna mengerti.
Di sepanjang jalan mereka berdua terus saja mengobrol hingga kini mobil yang mereka kendarai tiba juga di perusahaan staf milik Martin itu.
Sambil memperhatikan ke kiri dan ke kanan, Tigor akhirnya memakai kembali pakaiannya yaitu jas dan celana yang tadi dia kenakan di restoran itu.
Bagaimanapun, Tigor harus lebih berhati-hati lagi agar tidak semakin ramai yang mengetahui siapa orang yang berada di balik topeng kucing itu.