BLACK CAT

BLACK CAT
James bond ala Karman



Kembali dari gang kumuh, Tigor sengaja mengajak semua sahabat-sahabatnya yaitu Monang, Andra, Ucok, Sugeng, Karman, Acong, Jabat, Ameng, Thomas, Timbul langsung ke perumahan menengah ke atas Tasik putri yaitu Blok B untuk mengatur rencana keberangkatan.


Tigor juga Tidak lupa berpesan kepada sahabat-sahabatnya yang tinggal agar terus mengawasi keselamatan Mirna.


"Sebentar lagi aku akan berangkat ke rumah Martin. Kau persiapkan dirimu Karman!" Kata Tigor.


"Mau ngapain aku bersiap-siap?" Tanya Karman.


"Apakah Monang tidak ada mengatakan apa-apa kepada mu?" Tanya Tigor.


"Sebaiknya kau saja yang mengatakan langsung kepada Karman!" Kata Monang.


"Begini Karman. Aku akan mempatkan dirimu di sisi Martin sebagai mata dan telinga ku. Kau kan memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jadi, aku menginginkan agar kau melaporkan setiap apa saja pergerakan mereka kepada ku. Apa kau bisa?" Tanya Tigor.


"Huhf... Kau bang! Jangan sepele sama Karman. Asal kau tau saja. Jika bukan karena menghormati Monang, mungkin aku sudah menjadi atasan di dunia gemerlap malam. Minimal jadi tangan kanan Marven lah." Kata Karman mulai kambuh kesombongannya yang diikuti dengan ledakan tawa dari semua yang ada di ruangan itu.


"Lantak kau lah mau bicara apa, Karman. Apa kau sanggup sendirian atau kau membutuhkan kawan?" Tanya Tigor.


"Sendirian saja lah Bang. Aku lebih leluasa bergerak jika sendirian. Kalau kau mengirim aku kesana dengan teman, nanti akan menjadi beban bagiku. Kau tau kalau aku ini setia kawan. Harusnya aku bisa melarikan diri jika ada apa-apa, karena teman, aku bisa tertangkap." Jawab Karman menolak.


"Katanya ilmu mu tinggi. Mengapa lari?" Tanya Tigor.


"Contohlah padi bang! Semakin berisi semakin merunduk. Ilmu ku terlalu luas."


"Iya. Karena terlalu luas sampai-sampai kau tersesat di dalam ilmu mu sendiri." Kata Tigor mencibir.


Semua orang kembali meledak tawa mendengar obrolan Tigor dan Karman ini.


"Kau tunggu sebentar!. Aku ada sesuatu untuk mu." Kata Tigor bergegas memasuki kamar pribadi milik nya.


Tak lama setelah itu, Tigor keluar dari kamarnya dengan membawa setelan jas hitam, kemeja putih, sepatu kulit mahal warna hitam dan kacamata hitam. Pokoknya serba hitam kecuali kemeja tadi.


"Coba kau pakai ini! Aku rasa ukuran nya pas untuk dirimu." Kata Tigor sambil menyerahkan seperangkat pakaian ala Bodyguard internasional kepada Karman.


"Mirna! Minggir dulu kau. Aku Karman, Agent rahasia penerus James bond mau berganti pakaian." Kata Karman.


Mirna hanya menurut saja keinginan Karman lalu bergegas menuju ke kamar milik nya.


Saat ini tanpa malu-malu Karman membuka pakaiannya membuat semua orang membuang muka ke arah lain.


Setelah selesai, Karman pun mendekati kaca cermin lalu cengengesan seperti orang gila.


"Ck.., ck.., ck. Ganteng kali abang Karman ini. Tidak ku sangka aku seperti ini. Mantap. Ini baru mantap." Kata Karman memuji dirinya sendiri.


Benar saja. Begitu mereka melihat Karman sudah berubah wujud, mereka pun bergiliran memuji penampilan Karman itu.


"Ganteng kau Karman!" Puji Sugeng.


"Paten kan Geng?" Tanya Karman.


"Paten kali lah. Aku pikir tadi bukan Karman yang berdiri ini. Hebat kau." Puji Sugeng tulus.


"Karman! Aku ada beberapa pesan untuk mu. Nanti jika kau sudah berada di sisi Martin, jangan membantah. Begitu juga dengan Beni dan yang lainnya. Kau jangan melawan. Iyakan saja perkataan mereka. Ini demi keselamatan dirimu. Ketika kau mendengar ada orang yang menjelek-jelekkan kelompok kita, kau jangan panas. Tugasmu hanya melihat, mendengar, membaca situasi kemudian melaporkan kepadaku. Ngerti kan Karman?!" Kata Tigor.


"Ya. Aku mengerti. Tapi berapa gaji ku sebulan?" Tanya Karman.


"Gaji mu sebulan sepuluh juta. Itu dari ku. Dari Martin aku tidak tau. Asal kau pandai menjilat, pasti gaji mu akan ada tambahan dari mereka." Kata Tigor.


"Urusan mencari muka, itu perkara sepele. Sepuluh juta pun cukup. Daripada di bawah Monang. Gaji ku hanya lima juta."


"Kau ini Karman. Mentang-mentang dapat piring baru, piring yang lama sama sekali tidak kau kenang." Kata Monang cemberut.


"Maaf Monang. Kita sekarang udah berbeda Kasta." Kata Karman sombong.


"Sialan kau Karman."


"Ah sudahlah. Macam tak kenal Karman aja. Sesuka hati dia lah." Kata Tigor menengahi.


"Oh ya. Andra?! Kemana Pistol yang aku berikan kepadamu itu?" Tanya Tigor.


"Ada ini." Jawab Andra sambil mengeluarkan sepucuk pistol dari pinggang nya.


Setelah semua selesai, Tigor pun akhirnya berangkat bersama Karman menuju komplek elit perumahan kelas atas di Tasik putri ini.


*********


Komplek elit Tasik putri.


Melihat ada seorang lelaki bepakaian setelan jas hitam itu, membuat Martin merasa pangling. Dia sama sekali tidak mengenal Karman dengan perubahan penampilan seperti itu.


Hal ini juga terjadi kepada Marven. Padahal Marven pernah bersandiwara dengan Karman dan Tigor demi menggait perhatian Wulan putri Lalah dari Dolok ginjang.


"Selamat datang Tigor putra ku. Mengapa lama sekali?" Tanya Martin.


"Maaf Pak Martin. Sebelum kemari, aku harus mempersiapkan terlebih dahulu barang-barang bawaan dan segala sesuatunya." Jawab Tigor.


"Hmmmm.., baiklah. Sekarang mana pistol yang aku berikan kepadamu tempoh hari?" Tanya Martin.


"Ada ini. Sebenarnya untuk apa pistol ini? Kau ambil saja lah. Aku tidak pandai menggunakan pistol. Sumpit yang berada di tangan ku lebih berbahaya daripada pistol ini." Kata Tigor.


"Makanya kau belajar. Jangan goblok. Dengan pistol, kau tak perlu banyak mengeluarkan tenaga dan memusatkan fikiran. Berbeda dengan pisau lempar mu itu." Kata Martin.


"Iya lah. Setidaknya ada gunanya juga buat Andra." kata Tigor.


"Ada berapa lagi sisa peluru nya?" Tanya Martin sambil menekan sesuatu di bagian pistol tersebut untuk mengeluarkan magazen nya.


"Tinggal tiga. Berarti berkurang sembilan. Apakah sebanyak itu yang tewas di ujung senjata ku ini?" Tanya Martin.


"Ada delapan yang mati. Satu peluru aku tembakkan kepada rompi untuk menguji seberapa daya tahan yang dimiliki oleh Rompi anti peluru yang aku beli dari Poltak." Jawab Tigor.


"Seumur hidupku belum pernah aku menggunakan pistol ini untuk membunuh orang. Tapi, baru sehari semalam pistol ini berada padamu, sudah mengorbankan delapan nyawa. Sadis!" Kata Martin sambil memuji.


"Pistol ada untuk digunakan. Bukan untuk barang koleksi." Kata Tigor mencibir.


"Kau tunggu di sini! Aku akan mengambil peluru stok ku." Kata Martin bergegas memasuki kamarnya.


"Martin. Sebelum aku pergi, aku akan meninggalkan seseorang di sisi mu sebagai mata dan telinga ku di sini. Terus terang saja bahwa aku sedikitpun tidak mempercayai orang-orang yang berada di sekitar mu." Kata Tigor berbisik ke telinga Martin.


"Kau terlalu berlebihan Gor. Ini adalah rumah ku. Aku juga adalah ketua kalian semua. Siapa yang berani mengusik ku?" Tanya Martin.


"Tolong! Untuk kali ini jangan menolak. Aku tidak bisa tenang melakukan perjalanan jika tidak memastikan bahwa kau dalam keadaan baik-baik saja."


"Ok lah. Suka hati kau saja lah. Apakah itu orangnya yang akan kau suruh untuk berada di sisi ku?" Tanya Martin.


"Benar. Apakah kau tidak mengenali orang itu?" Tanya Tigor.


"Siapa dia? Memang aku seperti pernah melihatnya. Tapi entah di mana aku pun lupa."


"Karman! Apa iya kau tidak mengenal Karman anak buah Monang." Kata Tigor.


"Oh. Hahaha... Ternyata Karman si besar pasak dari tiang itu." Kata Martin sambil tertawa.


"Aku menempatkan dia di sini untuk mengamati keadaan. Dia akan terus berhubungan dengan ku. Kau bisa memberikan dia pekerjaan sebagai sopir atau apa lah. Asalkan dia terus berada di sisi mu." Kata Tigor.


"Itu masalah mudah. Kau tenang saja."


"Jika begitu, aku pamit dulu. Kemungkinan besar banyak yang tidak mengenal penampilan baru Karman ini. Lagi pula dia kan selama ini tidak pernah dianggap ada. Biarkan begitu. Itu jauh lebih baik."


"Ya. Hati-hati. Jangan lupa membawa alat pernafasan. Aku tidak khawatir kau akan bisa dikejar oleh polisi atau tentara laut. Namun untuk antisipasi, tidak ada salahnya. Setelah tiba di pelabuhan Victoria, jangan lupa memberi kabar!" Kata Martin.


"Siap Boss besar!" Kata Tigor.


Dia lalu menghampiri Karman untuk berpamitan dan segera keluar meninggalkan rumah Martin yang mirip Mansion itu.


Di depan, dia bertemu dengan Marven yang segera menjabat tangan Tigor.


"Doakan aku selamat pergi dan selamat kembali!" Kata Tigor.


"Aku akan mendoakan mu. Semoga kau berhasil. Ketika kau berhasil, organisasi kita akan mendapat kucuran dana segar." Kata Marven.


"Hahaha... Pasti!" Jawab Tigor singkat lalu segera berjalan menuju ke arah mobil nya.


Tak lama setelah itu, Mobil Tigor pun berlalu meninggalkan kawasan perumahan elit itu menuju ke arah restoran Samporna.


"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Tigor kepada empat Mister dadakan.


"Sudah Gor. Semua sudah kami atur. Termasuk mobil Van untuk mengangkut barang-barang kita. Aku juga menempatkan sekitar dua puluh orang anak buah kita untuk menjaga Acun di ruangan tempat dia di sekap." Kata Andra.


"Bagus. Jika begitu, mari kita berangkat ke Kuala nipah. Aku juga harus menemui kakek angkat ku di sana." Kata Tigor.


Mendengar perintah dari Tigor, empat orang mister dadakan bergegas menuju ke arah mobil Van.


Setelah berpamitan kepada teman-temannya yang tinggal, Tigor pun memasuki mobil nya dan segera memimpin di depan menuju ke pelabuhan Kuala nipah.