BLACK CAT

BLACK CAT
Rencana demi rencana berhasil



Gang kumuh


Pagi itu di rumahnya, Butet sangat terkejut ketika bangun dari tidur mendapati dirinya dalam keadaan compang-camping.


Dia kembali mengingat kejadian semalam ketika dia bersama dengan Marven makan malam di restoran lalu tiba-tiba dia merasa sangat pusing kemudian tidak ingat apa-apa lagi.


Dengan perasaan ketakutan yang teramat sangat, dia bergegas bangun dari tempat tidurnya lalu segera memeriksa keadaan dirinya yang kini mengalami perubahan.


Ada sesuatu yang tak wajar yang dapat dia rasakan saat ini.


Baru saja dia akan ke kamar mandi, kini dari kamar mandi dia melihat seorang pemuda yang sangat dia kenal baru saja selesai mandi.


"Marven. Apa yang kau lakukan kepada ku?" Tanya Butet dengan tatapan mata berkilat-kilat.


"Apa yang aku lakukan? Kau yang menginginkan dan kita sama-sama menikmatinya." Jawab Marven dengan santai.


"Kau..?!"


"Kau apa Butet? Kau mau menyalahkan ku? Di ajak makan malam malah mabuk. Jika aku tidak membawa mu kemari, mungkin kau sudah dibuang oleh manajer restoran di jalanan." Kata Marven.


"Kau memutar belitkan fakta, Marven. Katakan yang sebenarnya! Kau sudah merencanakan semua ini kan?" Desak Butet sambil berteriak.


"Merencanakan? Kau dengar Butet. Kau yang telah lama berencana dan berkomplot dengan Beni untuk menjebak aku."


"Kau lihat ke cermin sana! Cerminkan dirimu sebelum menuding jari ke orang lain. Aku akui bahwa aku memang bodoh. Tapi untuk dapat menangkap maksud dari caramu menggantung hubungan dengan ku, aku dapat tau bahwa selama ini aku hanya dimanfaatkan oleh mu."


"Sialan kau Marven. Apa buktinya jika aku memanfaatkan dirimu." Bentak Butet.


"Huhh. Kau kira aku tidak tau. Segala macam persyaratan kau inginkan. Setelah semuanya aku penuhi bahkan aku membunuh orang yang telah membesarkan ku, tapi masih juga kurang. Kau masih juga ingin yang ini dan yang itu."


"Heh betina. Aku beritahu kepada mu satu hal. Kau sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang. Kau ingin mengadu kepada Birong? Pergilah mengadu. Jika kau mengadu, niscaya kota batu akan aku buat mandi darah. Aku akan bekerjasama dengan Tigor di kota Kemuning untuk menyerang paman mu dari dua sisi. Pergunakan otak mu untuk berfikir!" Ancam Marven.


Marven sengaja mengatakan ini untuk menakut-nakuti Butet. Padahal dia juga merasa agak takut jika Butet akan mengadukan kejadian malam tadi kepada Birong.


Jika Birong marah dan memutuskan untuk membunuh Marven, maka Marven bisa saja mati katak di kota Tasik Putri ini. Ini karena semua anak buahnya adalah orang-orang yang direkrut oleh Beni. Dan kepatuhan mereka kepada Marven, hanya karena Marven belum menaklukkan kota Kemuning. Jika kota Kemuning sudah runtuh, kemungkinan Marven pasti akan disingkirkan dengan berbagai cara.


"Bajingan kau Marven." Kata Butet lalu menangis sejadi-jadinya.


"Pilihan ada di tangan mu. Aku akan mempertanggung jawabkan semua yang sudah aku lakukan. Jangan bertindak bodoh Butet. Sebagai seorang yang terpelajar, kau pasti akan menggunakan otak mu untuk berfikir." Kata Marven.


Dia sengaja mengatakan semua ini demi mendapatkan dukungan dari Birong. Jika bukan karena itu, baginya kini Butet tidak lebih dari seonggok sampah yang bisa di buang kapan saja.


"Aku kembali dulu. Kau tentu sangat lelah setelah semalaman menjadi kuda binal." Kata Marven sambil memakai kembali jasnya lalu segera meninggalkan Butet yang saat ini menangis histeris.


*********


Mobil BMW hitam itu telah lama terparkir di depan pintu pagar rumah yang ditempati oleh Butet.


Seorang lelaki cungkring berpakaian serba hitam tampak memainkan ponselnya seperti sedang mengirim pesan kepada seseorang.


Dengan sigap setiap pesan yang keluar dan masuk segera dia hapus. Ini menandakan bahwa pemuda kurus itu sangat menjaga rahasia pembicaraan mereka lewat pesan suara itu.


"Sebentar lagi akan geger bang. Rencana ku berhasil dengan sangat mulus seperti jalan tol." Kata lelaki kurus itu.


"Bagus Carmen. Untuk saat ini kau harus lebih berhati-hati lagi. Namun kau harus tetap mengawasi setiap pergerakan mereka dan kabarkan kepadaku secepatnya! Ini sangat diperlukan untuk kami di sini agar segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan." Kata suara seorang lelaki di dalam pesan suara tersebut.


Baru saja dia ingin membalas pesan tersebut, kini dari arah bagian dalam rumah yang ditempati oleh Butet, sudah terdengar teriakan pertengkaran diiringi dengan suara tangisan.


"Pertunjukan drama sudah di mulai bang. Mungkin sudah terjadi sesuatu antara Marven dan Butet."


"Kini kita tunggu saja. Apapun hasilnya, itu pasti sangat menguntungkan bagi kubu kita."


"Kau memang hebat Carmen. Tidak sia-sia aku mengembankan tugas ini kepada mu."


"Semua pembiayaannya sebesar 50 juta bang. Abang masih ingat kan nomor rekening ku?" Tanya Carmen sambil tertawa.


"Hahaha. Kau ini benar-benar seperti gergaji Carmen. Maju dan mundur sama saja. Sama-sama makan."


"Hehehe. Kapan lagi aku mendapatkan hasil dari ilmu padi yang sudah berada pada tingkat kesempurnaan ini." Kata Carmen berkelit.


"Baiklah. Aku akan segera mentransfer uang nya."


"Bang. Jangan balas lagi pesan ini. Marven tampaknya sudah keluar dari rumah Butet. Sudah dulu ya!" Kata Carmen lalu segera menghapus semua isi pembicaraan mereka lewat pesan suara di WhatsApp itu.


Kini dari arah pagar, tampak Marven keluar dengan senyum mengembang di wajahnya.


Melihat majikannya itu keluar, Mister Carmen Bond 070 langsung keluar dari mobil kemudian membukakan pintu di bagian penumpang lalu dengan hormat mempersilahkan majikannya tersebut untuk masuk.


"Bagaimana dengan malam anda Bos? Menyenangkan kah?" Tanya Carmen.


"Sangat menyenangkan. Ternyata cantik juga cara yang kau susun itu Carmen. Semua yang kau ajarkan kepadaku sudah aku katakan kepada Butet. Dia tidak bisa berkata-kata untuk membantah apa lagi menyangkal semua yang aku katakan." Jawab Marven.


"Hehehe. Setelah ini, Beni pasti akan mati kutu. Ini karena Butet pasti menginginkan agar bos bertanggung jawab. Dengan begitu, Birong sudah pasti berada di pihak mu kali ini." Kata Carmen.


"Tidak sia-sia aku mempercayakan semua ini kepadamu Carmen. Ternyata kau selangkah lebih maju dari Beni."


"Tujuh langkah Bos. Aku tujuh langkah lebih maju dari Beni. Ini semua aku lakukan demi anda. Supaya apa? Supaya kursi kepemimpinan anda tidak di rongrong oleh Beni yang kapan saja bisa menggulingkan mu dari posisi mu saat ini." Kata Carmen.


Lancar sekali Carmen ini berbicara. Sambil menjilat, memuji, mengangkat Marven tinggi-tinggi untuk menunggu waktu kapan Marven ini akan terhempas kembali ke bumi dengan segala penyesalan yang sudah serba terlambat.


"Sekarang kemana kita akan pergi Bos? Apakah kembali ke kompleks elite, atau anda ingin jalan-jalan dulu?" Tanya Carmen.


"Kita kembali saja ke rumah. Aku sangat lelah." Jawab Marven.


"Baik Bos."


Kemudian mobil BMW hitam itu pun bergerak meninggalkan depan pagar rumah Butet menuju ke kompleks elite.