
Malam itu. Sesuai dengan yang sudah dijanjikan oleh Tigor di dalam hatinya untuk memberi pelajaran kepada Beni, maka dengan senyap-senyap dia keluar dari rumahnya melalui pintu rahasia di kamarnya kemudian mengelilingi rumah itu seolah-olah dia baru saja tiba dengan berjalan kaki dari arah pusat hiburan dunia gemerlap malam.
Beberapa orang yang berjaga di sekitar halaman rumah milik Tigor di blok B itu serentak kaget begitu melihat sosok hitam sudah berdiri tegak di luar pintu pagar rumah itu.
Sambil mengucak mata, penjaga itu segera menghampiri gerbang lalu menyapa sosok hitam tadi.
"Black Cat. Kau kah itu?" Tanya penjaga itu.
Mendengar pertanyaan ini, sosok hitam itu langsung membuka mantel hitam penutup kepalanya dan kini terlihatlah oleh pengawal itu sosok dengan wajah tertutup topeng kucing berwarna hitam pekat.
"Buka pintu pagar ini!" Kata Black Cat dengan nada dingin.
"Ba.. Baik. Apakah kau ingin menemui bang Tigor?" Tanya penjaga itu sambil membukakan pintu pagar.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin mengambil kendaraan ku." Jawab Black Cat sambil melangkah melewati pintu pagar yang sudah terbuka itu.
Baru saja Tigor dengan pakaian Black Cat nya tiba di dekat pintu garasi, tiba-tiba satu suara dari belakang menegur nya.
"Black Cat?"
Mendengar suara yang berasal dari seorang wanita itu, Black Cat lalu membalikkan badan nya menghadap ke arah orang yang menegur nya tadi.
"Black Cat. Apakah aku sedang bermimpi?" Kata gadis itu sambil melangkah mendekati lelaki bertopeng kucing itu.
"Ini aku. Kau tidak sedang. bermimpi." Jawab Black Cat dengan suara dingin.
"Kemana saja kau? Mengapa tidak pernah lagi mengunjungi ku di pusat hiburan gemerlap malam?"
"Maafkan aku Mirna. Waktu itu aku banyak urusan. Lagipula, kau sudah di tolong oleh Tigor. Aku sudah tidak memiliki hak lagi untuk berhubungan dengan mu."
"Mengapa Black Cat? Mengapa kau berkata seperti itu?" Tanya Mirna semakin mendekat.
"Bagiku, pantang mendekati seorang wanita yang sudah dimiliki oleh lelaki lain. Aku tidak ingin timbul salah faham hanya karena masalah seorang wanita."
"Kau salah Black Cat. Bang Tigor memberikan kebebasan kepadaku untuk suka kepada siapa saja. Dia menolongku tanpa pamrih. Mengapa tidak kau bawa saja aku pergi dari sini?" Kata Mirna memohon.
"Maaf Mirna. Aku tidak bisa. Aku adalah seorang Black Cat. Ketika topeng ini menutupi wajah ku, maka tidak ada lagi sisi kemanusiaan dalam diri ku. Aku ini memiliki banyak musuh dan banyak orang yang menginginkan kematian ku. Akan sangat berbahaya jika aku membawa mu serta. Sekali lagi maafkan aku." Kata Black Cat sambil mundur untuk menjaga jarak dengan gadis itu.
"Baiklah. Aku menerima alasan mu. tapi, bisakah kau memenuhi satu permintaan ku?"
"Katakan apa keinginan mu! Jika aku bisa, maka aku akan memenuhi nya." Jawab Black Cat
"Bisakah aku melihat seperti apa wajah asli mu?!" Pinta Mirna.
Jujur saja bahwa dia selama ini sangat penasaran dan sangat ingin sekali mengetahui seperti apa wajah di balik topeng kucing hitam itu.
"Boleh. tapi dengan satu syarat." Jawab Black Cat.
"Katakan apa syarat nya!"
"Setelah kau melihat wajah ku, maka kau harus aku bunuh. Apakah kau sanggup memenuhi syarat dari ku?" Tanya Black Cat.
"Alah sudahlah. Pergi masuk! Kau jangan membuat aku terlambat melakukan pekerjaan ku." Kata Black Cat lalu segera membuka garasi untuk mengeluarkan sepeda motor Ducati hitam miliknya pemberian Lalah.
Beberapa menit kemudian, tampak sosok hitam menunggangi sepeda motor yang juga berwarna hitam meninggalkan rumah milik Tigor di kawasan blok B menuju komplek elit.
*********
Pinggiran kawasan perumahan komplek elit.
Malam itu, tampak rumah Beni kedatangan tamu yang tak di undang namun sangat dikenali dan ditakuti oleh semua yang berada di rumah itu.
Beberapa pengawal, atas perintah dari Beni berusaha untuk mencegah kedatangan lelaki yang memakai pakaian serba hitam itu. Tapi mendadak ciut begitu mendapat bentakan bernada dingin dari sosok yang mereka kenal dengan julukan Black Cat itu.
"Minggir atau kepala kalian akan terpisah dari badan." Bentak Black Cat yang saat itu sudah meraba di bagian pinggang nya.
"Maju lah jika kalian sudah bosan makan nasi!"
Beberapa orang anak buah Beni langsung ketakutan dan menciut nyalinya begitu mendengar suara dingin penuh ancaman itu.
Sementara itu, Black Cat sudah sangat dekat ke arah Beni lalu...,
Bugh...!
"Aduh maaaak..."
"Jangan katakan kalau aku tidak memperingati dirimu Beni. Aku sudah memberi peringatan agar kau jangan terlalu kasar. Sekarang apa? Kau mengabaikan peringatan dari ku."
"Ampun Black Cat! Sumpah. Tolong ampuni aku." Ratap Beni sambil berlurut.
Triiing....!
Tampak sebatang besi berukuran sekitar tiga jengkal tangan orang dewasa dilempar oleh Black Cat dan jatuh tepat di hadapan Beni.
"Aku menginginkan sebelah tangan mu patah. Kau tinggal pilih. Apakah aku yang mematahkannya atau kau sendiri yang mematahkannya." Kata Black Cat dengan sorot mata tajam memandang ke arah Beni.
"Ampun Black Cat. Aku mohon jangan lakukan itu kepada ku."
"Baik. Aku tidak akan melakukannya. Kalau begitu, aku menunggu mu untuk melakukannya sendiri."
"Ampuni aku Black Cat. Apa kesalahan yang sudah aku perbuat sehingga kau ingin menghukum ku?" Tanya Beni masih tidak beranjak.
"Seharusnya kau tanyakan saja kepada dirimu sendiri. Rencana busuk apa yang telah kau susun bersama dengan kedua orang sahabatmu itu dan dengan geng tengkorak di kota batu." Kata Black Cat.
"Iya iya aku mengaku salah. Tolong jangan patahkan tangan ku." Ratap Beni dengan menangis.
"Jangan buang waktu ku Beni. Lakukan atau aku sendiri yang akan mematahkan tangan mu!"
"Satu..."
"Dua..."
"Tolong ampuni aku Black Cat!" Kata Beni sambil terus meratap.
"Tiga...!"
Set....
Bugh....!
"Arrrrgggghh.....!"
"Meminta ampun lah kau kepada malaikat maut. Kau terlalu banyak menyita waktu ku. Orang tua bangsat seperti mu ini tidak ku bunuh saja kau sudah bersyukur." Kata Black Cat sambil melemparkan besi ke tanah.
Tampak kini bagi semua orang yang berada di situ bahwa tangan kiri Beni sudah terkulai karena patah akibat dipukul oleh Black Cat menggunakan batangan besi padu sepanjang tiga jengkal.
"Sakit Ha...? Ternyata kau tau sakit? Mengapa kau tidak pernah berfikir bahwa aku akan menghukum mu? Sekarang baru kau tau apa itu sakit."
"Hiks... Aduh...!"
Terdengar suara Beni mengerang kesakitan.
Tanpa terasa kini selangkangannya telah basah oleh cairan berbau pesing.
"Kau mungkin bisa mengelabui Marven dengan kelicikan mu itu. Tapi aku adalah Black Cat. aku tau bahwa kau telah menjadi tukang adu antara Tigor dan Marven. Aku peringatkan kepada mu bahwa selagi ada aku, kau jangan macam-macam! Ingat itu baik-baik.
Selesai mematahkan lengan kiri Beni, Black Cat pun berjalan santai ke arah sepeda motor nya sambil bersiul seolah-oleh tidak ada kejadian apapun.
Setelah Black Cat pergi, barulah Beni berani untuk bangun lalu dengan bantuan dari anak buah nya, Beni akhirnya dipapah memasuki rumah miliknya sambil menunggu tukang urut datang untuk memperbaiki lengannya yang patah akibat di hajar oleh Black Cat Tadi.