
Kota Batu.
Mobil KIA Carnival hitam baru saja berhenti di depan bangunan sebuah Villa megah di bukit batu ini.
Dari dalam, tampak seorang lelaki dengan wajah berlumuran darah keluar dari mobil dan berjalan sempoyongan menuju ke dekat gerbang pagar lalu berteriak.
"Ketua..! Tolong ketua."
Setelah puas berteriak, lelaki dengan wajah nyaris rata dan berlumuran darah itu jatuh terduduk dengan nafas kembang kempis.
Ketika itu di dalam bangunan mewah itu, gelak tawa Birong, Tumpal, Togar, Prengki dan Bongsor serta merta terhenti begitu mereka mendengar suara teriakan dari arah luar tersebut.
Sambil memasang wajah serius, Birong yang terkenal sebagai ketua organisasi geng tengkorak itu menyuruh salah seorang di antara mereka untuk melihat keluar.
"Biar aku saja bang!" Kata Togar segera bangkit dan berjala keluar mencari sumber suara tadi.
"Ketua... Celaka ketua. Semuanya mati terbunuh di Tikungan pitu."
Kembali terdengar suara yang tidak seberapa jelas dari arah luar pagar Villa itu.
Begitu mengetahui dari mana sumber suara itu berasal, Togar yang memang sengaja keluar untuk mencari tau siapa yang berteriak tadi segera menghampiri.
Degh!
Perasaan Togar mulai tidak enak begitu melihat seorang lelaki terduduk nyaris tanpa daya di luar pagar dengan wajah bersimbah darah.
"Katakan ada apa? Kau siapa dan apa yang terjadi denganmu?" Tanya Togar beruntun kepada lelaki yang seluruh wajah nya itu ketutupan darah.
"Bang Togar. Celaka."
"Apanya yang celaka. Kau cerita yang betul. Ayo ceritakan perlahan-lahan."
Togar kini mulai menghampiri lelaki itu dan berjongkok di dahapan nya.
"Bang. Aku adalah salah satu dari empat anak buah yang berangkat bersama Hasian ke tikungan pitu."
"Lalu apa yang terjadi? Mengapa keadaanmu sangat mengenaskan begini?" Tanya Togar.
"Celaka bang. Seseorang tiba-tiba datang mengamuk seperti kesetanan dan membantai semua orang yang terlibat dalam pengepungan terhadap Marven anak Martin itu. Semua mati termasuk Hasian."
Lalu lelaki itu menceritakan semua kejadian yang menimpa anggota geng tengkorak yang berangkat ke tikungan pitu untuk mencegat anak Martin bersama Wulan putri Lalah.
"Apa? Hasian juga terbunuh. Oh hantu. Bagaimana mungkin? Aku tidak percaya. tidak. Tidaaaak...!"
Seketika Togar merasakan lemas di sekujur tubuhnya dan langsung terduduk di depan lelaki yang mandi oleh darah itu.
"Semuanya memang benar Bang. Pembunuh itu memaksa ku untuk membawa potongan kepala Hasian kembali ke bukit Batu ini. Orang itu lalu pergi mengarah ke kota Kemuning setelah memastikan aku telah sampai di depan Villa ini." Kata Lelaki itu.
"Bang Birong. Bang Birong harus segera diberi tahu." Kata Togar bergegas bangkit dan tergesa-gesa memasuki Villa itu untuk menemui Birong dan orang-orangnya yang berada di dalam.
Sementara itu ketegangan di wajah Birong semakin menjadi-jadi ketika melihat Togar dengan mata berair dan tubuh gemetar memasuki Villa itu dan berdiri seperti kaku dengan tatapan kosong.
"Togar. Kenapa kau? Macam kemasukan hantu aja kau ku tengok." Kata Birong menegur adiknya itu.
"Hasian Bang."
"Hasian? Ada apa dengan Hasian? Apakah dia sudah kembali?"
"Hasian sudah mati bang. Hasian kembali. Tapi tanpa nyawa."
Cetaaaar!!!
Mendengar perkataan adiknya itu membuat Birong terkejut dan spontan bangun menghampiri adiknya.
"Huhuhu..." Sambil menangis Togar pun menceritakan semua yang dia ketahui dari lelaki anak buah mereka yang pulang membawa kabar.
Brugh....!
Mendengar semua yang dikatakan oleh Togar, Birong pun mulai merasakan tubuhnya seperti tak bertulang dan jatuh terduduk di lantai ruangan tengah Villa itu.
"Bang. tabahkan hatimu bang. Mari kita temui orang itu untuk mendapatkan kejelasan dari berita ini." Kata Prengki sambil memapah tubuh Birong yang besar dan berat itu.
Mereka kemudian beramai-ramai keluar menemui lelaki yang tadi membawa kabar yang masih tetap pada posisinya sambil menjelepok di tanah.
Begitu melihat keadaan lelaki itu, kini tau lah mereka bahwa sesuatu yang tidak baik sudah menimpa anggota geng tengkorak yang berangkat untuk mencegat Marven dan Wulan di tikungan pitu.
Ketika Birong dan yang lainnya dengan seksama memperhatikan keadaan orang tersebut, buku kuduk mereka semua mulai merinding. Bagaimana tidak? Bagian wajah lelaki itu mulai dari kening, hidung dan bibir nyaris sama rata akibat terkena tebasan benda tajam, dan mereka tidak dapat membayangkan andai itu adalah wajah mereka sendiri.
"Ketua. Maafkan aku yang tidak mampu melindungi Hasian. Saat ini aku hanya ingin agar anda membunuhku. Hidup juga bagiku sudah percuma." Kata Lelaki itu penuh ratapan.
"Lelaki pembunuh itu sengaja mengirimkan potongan kepala Hasian dengan pesan bahwa dia akan membalas setiap perbuatan anda terhadap keluarganya. Dia juga mengatakan semoga anda menikmati rasa kehilangan seperti mana yang orang lain rasakan karena ulah dan perbuatan anda."
Lalu lelaki itu menunjuk ke arah mobil.
"Di situ. Kepala Hasian berada dalam mobil itu." Kata lelaki itu lalu,
Brugh....
Setelah menyelesaikan kalimat nya, lelaki yang sudah kehabisan banyak darah itu langsung jatuh terkapar. Pingsan.
"Anak ku. Anak ku...!" Kata Birong langsung berlari menuju ke arah mobil tanpa memperdulikan keadaan lelaki yang sudah sangat sekarat itu.
Ketika pintu mobil dibuka, tampak lah (kita sensor) menggelinding jatuh tepat di ujung kaki Birong.
Semua histeris saat ini terutama Birong dan Togar.
"Hasian...!"
"Keponakanku...!"
"Bangsaaaat...! Siapa yang melakukan perbuatan biadab ini?"
Birong benar-benar histeris saat ini. Dia meraung-raung sambil mencakar tanah di dekat mobil yang terparkir itu seperti orang yang sedang kesurupan.
Baru kali ini dia merasakan pukulan yang sangat keras selama hidupnya yang bergelimang dengan kekerasan.
Selama ini orang lain yang mengalami seperti yang dia alami saat ini. Itu semua karena ulah nya. Namun malam ini, dia dapat merasakan kehilangan seorang putra yang paling dia cintai. Bahkan cara kematian yang mengenaskan itu benar-benar sebuah palu besar yang dengan telak menghantam ulu hati dan jiwanya.
"Siapa yang melakukan ini? Apakah Marven anak Martin?" Tanya Togar kepada lelaki yang membawa kabar itu.
Mendengar pertanyaan itu lelaki tadi hanya menggelengkan kepala dan menjawab, "bukan Marven. Saya tidak mengenal pelaku nya karena orang itu memakai topeng kucing berwarna hitam." Kata lelaki itu dengan bahasa yang kurang tepat akibat bibir atas dan bawah yang sudah rata dengan dagu.
"Black Cat."
Terdengar suara berguman dari bibir Togar seolah-olah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
"Siapa sebenarnya hantu itu? Mengapa dia selalu bertindak merugikan kelompok kita?" Tanya Birong sambil terus meratapi kematian putranya.
"Tidak ada yang tau seperti apa wajah dibalik topeng kucing nya itu. Tidak pula ada yang tau apa motif dari perbuatannya itu. Sampai saat ini kita juga tidak mengetahui untuk siapa dia bekerja. Namun yang pasti adalah, dia pasti antara orang yang menyimpan dendam kepada kita, Bang! Coba kau ingat-ingat siapa yang menaruh dendam kepadamu?!" Tanya Togar.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu Togar?" Bentak Birong seperti kesurupan. "Pekerjaan seperti ini sudah pasti banyak yang sakit hati kepada kita. Aku tidak tau sudah berapa banyak nyawa yang aku cabut dengan paksa dari para korban ku. mana aku tau siapa-siapa saja yang berdendam kepadaku. Semua musuh pasti menunggu masa saja untuk membalas. Namun sampai saat ini, baru orang bertopeng itu yang berani."
"Kalian semuanya! Sampaikan kepada semua orang bahwa aku ingin mengadakan sayembara. Bagi siapa yang dapat menangkap Black Cat ini hidup-hidup, aku akan memberikan hadiah kepadanya 10 milyar rupiah. Semua boleh ikut tanpa terkecuali." Kata Birong dengan tangan terkepal dan bergetar.