BLACK CAT

BLACK CAT
Tigor mulai merekrut sahabat²nya



"Debora, ayo kita pulang!" Ajak Irfan dengan lembut.


Dia tau bahwa saat ini Debora sangat kesal dengan penolakan dari Tigor.


Sebenarnya Debora sama sekali tidak berniat untuk membantu Tigor mencari pekerjaan. Dia hanya berusaha untuk memanas-manasi Tigor dengan kebersamaannya dengan Irfan saat ini.


Ketika acara reunian antara dirinya dan mantan sahabatnya di SMA, dia sedikit merasa bersalah karena telah meninggalkan Tigor begitu saja di restoran tempo hari. Dia merasa bahwa dia telah menyakiti Tigor karna meninggalkan pemuda itu begitu saja.


Beberapa hari ini Debora sengaja menunggu Tigor datang ke klinik miliknya dengan marah-marah karena telah mengabaikannya. Namun moment yang dia tunggu tidak juga kunjung datang. Dia bahkan melihat Tigor baik-baik saja. Hal inilah yang membuat Debora menjadi kesal setengah mati. Padahal jika Tigor datang dengan keadaan marah, maka dia akan tau seperti apa isi hati Tigor terhadap dirinya dan dia akan meminta maaf lalu mereka pun jadian.


Ternyata apa yang diharapkan oleh Debora hanyalah harapan kosong. Tigor sama sekali tidak menganggap dirinya. Lalu, apa lagi yang bisa dilakukan oleh Debora selain memendam kekesalan dalam hatinya.


"Ayo Fan antar aku ke klinik. Aku lagi tidak selera mau ngapain aja." Kata Debora yang segera beranjak memasuki mobil.


*


"Gor mau kemana kau?" Tanya salah seorang dari tukang ojek langganannya yang biasa mangkal di salah satu warung kopi pinggir jembatan itu.


"Mau ke restoran Samporna." Jawab Tigor sambil menendang kaleng minuman energi dengan kesal.


"Dua puluh ribu rupiah." Kata lelaki itu sambil berusaha tersenyum manis.


"Iya udah ayo antar aku." Kata Tigor.


"Alhamdulillah dapat penumpang. Dapat juga buat mengisi perut hari ini." Kata tukang ojek itu bersyukur.


"Kau belum makan ndra?" Tanya Tigor kepada tukang ojek langganannya itu yang bernama Andra.


"Tadi siang sudah. Tinggal nyari untuk sore ini. Eh.., pertanyaan mu itu aneh Gor. Apakah kau mau mentraktir aku?" Tanya Andra sambil nyengir.


"Boleh. Ayo antar dulu aku ke restoran itu. Nanti aku akan mentraktir mu makan apa saja yang kau mau. Sekaligus kau bisa membawa beberapa bungkus makanan untuk teman-temanmu ini." Kata Tigor.


"Hey Gor. Kau serius?" Tanya Andra.


"Ayo lah Ndra. Aku buru-buru ini." Kata Tigor tanpa menjawab pertanyaan tukang ojek langganannya itu.


"Ayo lah." Kata Andra langsung mengengkol motor nya.


"Duit darimana kau untuk mentraktir ku Gor?" Tanya Andra.


"Duit dari mana aja." Jawab Tigor.


"Jangan bilang kau merampok lalu tidak mengajak aku." Kata Andra sambil tertawa.


"Ceritanya panjang. Tapi aku akan menceritakan kepadamu singkat nya saja." Kata Tigor.


"Aku sudah bekerja untuk geng Martin."


"Apa? Wuuaaah... Hebat kali kau Gor. Bagaimana kau bisa berkenalan sama Martin ini?" Tanya Andra.


"Aku pernah menolong dia ketika ban mobilnya kempes. Makanya dia berhutang nyawa kepadaku." Jawab Tigor sesukanya.


"Tunggu tunggu tunggu! Ban mobil kempes. Apa hubungan nya dengan nyawa?" Tanya Andra.


Tanpa terasa mereka akhirnya sampai juga di depan restoran samporna. Begitu Tigor memasuki restoran tersebut, beberapa orang penjaga keamanan langsung memberi hormat kepada Tigor dan ini membuat Andra merasa sangat heran.


"Hey Gor. Hebat kali kau ini. Macam mana pulak caranya sampai mereka pun menunduk hormat sama kau." Tanya Andra.


"Aku bukan gila hormat Ndra. Tapi memang begitu lah. Apa kau mau menjadi anak buah ku?" Tanya Tigor sambil tersenyum.


"Kau tepati dulu janjimu. Setelah perut kenyang, semua bisa di atur." Kata Andra.


"Ok." Kata Tigor sambil mengajak Andra memasuki satu ruangan khusus dan meminta pelayan membawakan menu makanan.


Setelah pelayan membawakan pesanan dan melihat sikap hormat dari sang pelayan tersebut kepada Tigor, barulah Andra faham bahwa Tigor ini tidak main-main.


"Makan Ndra!" Kata Tigor mempersilahkan.


Tanpa banyak cing-cong lagi, Andra yang memang jarang mendapat makanan enak langsung tancap gas seribu dua ratus kilo meter per jam melahap apa aja yang ada di meja itu hingga kandas kecuali piring dan sendok serta gelas. Lainnya langsung tidak bersisa.


"Hah? Besar juga tabung perutmu." Kata Tigor terheran-heran.


"Hehehe... Aku sangat jarang dapat makanan enak seperti ini Gor. Masa kau tak tau bagaimana kehidupan kita di jalanan." Kata Andra.


"Makanya itu aku ingin mengajak kau untuk mengubah nasib. Aku tidak mau nanti kalian menuduhku karena tidak mengingat teman."


"Sebenarnya sebagai apa kau di sisi Martin itu Gor?" Tanya Andra.


"Masalah itu jangan kau tanyakan. Yang pasti jabatan ku lebih tinggi dari tukang parkir. Hanya saja pekerjaanku ini penuh dengan resiko. Setiap waktu bahaya selalu mengintai. Kemungkinan besok, lusa atau kapan saja bisa terbunuh. Ah kau masa tak tau jika sudah bergabung dengan Martin." Kata Tigor.


"Sebenarnya aku ingin mengumpulkan teman-teman kita di jalanan yang memiliki kemampuan berkelahi dan memiliki kecepatan dalam bergerak. Aku ingin merekrut mereka kedalam organisasi kucing hitam. Tapi ketika aku memikirkan sekali lagi bahaya yang akan dihadapi, aku merasa harus berfikir ribuan kali untuk mengajak kalian terjerumus dalam kubangan yang sama dengan ku Ndra." Kata Tigor mulai menceritakan keraguannya.


"Apa kau lupa Gor bahwa di jalanan juga tidak kalah kejam. Setiap saat juga kematian mengintai kok. Contoh saja ya. Untuk rebutan lahan parkir saja sampai tikam tikaman. Berebut pangkalan ojek saja sampai harus baku hantam berperang dan pukul-pukulan. Rebutan lahan memulung aja sampai harus mati. Kurang kejam apa lagi dunia kita Gor? Kalau hanya masalah kekerasan, ancaman nyawa itu dunia kita lebih kejam daripada dunia Mafia. Mereka masih pakai mikir bertindak. Lah kita ini, kalau perut sudah lapar?! Jangankan berkelahi. Membunuh pun sanggup." Kata Andra.


"Memang tidak salah Ndra. Sebenarnya musuh yang paling bahaya itu adalah perut kita ini."


"Ok. Aku berikan tugas pertama kepadamu untuk merekrut mereka yang layak. Kalian akan menjadi anak buah ku. Kau tunggu sebentar di sini!" Kata Tigor lalu segera meninggalkan ruangan itu.


Tak lama kemudian Tigor muncul dengan membawa tas yang tidak terlalu besar lalu melemparkan kepada Andra. "Tadi kau minta ongkos 20 ribu rupiah kan? Di dalam tas itu ada 20 juta rupiah. Aku memberikan itu cuma-cuma kepada mu. Tinggal bagaimana caramu membalas ku." Kata Tigor.


"Apa? Kau.., kau. Vanke bener dah. Kau serius Gor?" Tanya Andra sambil membuka resleting tas tersebut dan melihat empat ikat uang seratusan ribu yang setiap satu ikat bernilai lima juta rupiah.


"Bagaimana?" Tanya Tigor.


"Nyawaku untuk mu Gor." Jawab Andra dengan tegas.


"Sekarang kau boleh kembali. Rerkut yang memiliki kemampuan saja! Biar sedikit tapi mumpuni. Jangan sampai kau merekrut anggota yang akhirnya menjadi beban buat kita." Kata Tigor berpesan.


"Kau tenang saja Gor. Aku gerak dulu." kata Andra.


"Jangan lupa bawa nasi bungkus dan berikan kepada teman-temanmu. Sampaikan salam ku kepada mereka" Kata Tigor sambil menepuk pundak Andra lalu segera meninggalkan ruangan tempat mereka makan tadi diikuti tatapan mata terbelalak dari Andra.


"Ini bukan mimpi. Bukan mimpi. Jika mimpi, aku tidak ingin terbangun." Kata Andra sambil menampar pipi nya sendiri.