
Berita dari Kota Kemuning hati ini.
Kabar tentang Tigor yang akan menikah dengan Mirna mendadak Viral di berbagai kota.
Berita itu mendadak jadi buah bibir di kalangan orang-orang yang suka terhadapnya maupun yang membencinya.
Bagi Wulan dan Debora, berita itu bagaikan sengatan listrik berkekuatan tinggi.
Bagi Martin dan Lalah pula, berita ini lumayan menyenangkan sekaligus membingungkan.
Betapa tidak? Tigor yang terkenal sebagai raja kecil di kota Kemuning ternyata seleranya terbilang cukup rendah karena. Ini tidak lain karena Mirna ini adalah mantan seorang kupu-kupu malam.
Namun di sisi lain, Martin juga senang. Ini karena Tigor sudah dewasa sekarang.
Di pihak lain pula, Marven yang terkenal tidak mau kalah dalam segala hal mulai berbincang dengan Beni.
Dia yang awalnya sempat mencibir karena ternyata Tigor memiliki selera yang sangat rendah akhirnya termakan bujukan Beni untuk ikut-ikutan melamar Butet.
Ini adalah sebagian dari rencana Beni untuk menjebak Marven agar pemuda itu terdesak untuk duduk di kursi ketua.
Segala rencana ini sebenarnya sudah mereka pikirkan dengan sangat matang. Hanya saja belum ada kesempatan untuk mendorong Marven ke arah sana.
Dengan berita Tigor akan segera menikah ini, Beni pun lalu menusukkan kembali jurus jarum beracun nya kepada Marven agar ikut-ikutan melamar Butet dengan alasan, jangan sampai dia kalah saing dengan Tigor.
Marven yang termakan hasutan ini pun bergegas berangkat ke Gang Kumuh untuk menemui Butet.
***
Mobil BMW silver yang dikendarai oleh Marven berhenti di salah satu rumah di perumahan elite Gang Kumuh ini.
Dengan membawa seikat bunga, Marven pun keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pagar lalu menekan bel.
Tak lama kemudian seorang gadis cantik entah itu karena oplas keluar dari dalam dengan pakaian seksi berlenggak-lenggok berjalan ke arah pintu pagar dan segera membuka pintu tersebut.
(Sensor sensor) pun terjadi ketika sepasang muda mudi itu berhadap-hadapan. Kemudian Butet pun mempersilahkan Marven untuk masuk ke dalam.
"Bang. Tumben siang-siang begini datang ke mari. Tapi, makasih loh bunga nya." Kata Butet setelah mereka tiba di dalam rumah itu.
"Butet. Abang rasa hubungan kita ini sudah lama ya kan?"
"Lumayan juga. Adalah beberapa bulan." Jawab Butet.
"Begini sayang. Abang kemari ingin mengatakan kepada mu bahwa abg akan melamar mu. Abang merasa sudah sangat cocok dengan hubungan ini dan ingin melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Bagaimana?" Tanya Marven.
Mendengar kepolosan kata dari Marven ini membuat Butet tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Marven.
"Begini bang Marven. Bukannya aku tidak mau kau ajak untuk lebih serius lagi. Tapi sebelum itu, pastikan dulu posisi mu di dalam organisasi."
"Maaf jika aku terlalu memilih.
Aku adalah wanita yang memiliki obsesi. Mimpi ku terlalu tinggi dan setiap lelaki yang ingin melamar ku harus memenuhi syarat." Kata Butet.
"Syarat? Coba katakan kepada ku kriteria lelaki seperti apa yang kau inginkan?!"
"Jadi bang, aku berjanji di dalam hati ku bahwa aku akan menerima calon suami yang memiliki masa depan cerah. Dia harus menjadi ketua sebuah organisasi atau seorang pemilik perusahaan besar dengan aset dan kekayaan melimpah. Aku tidak mau lagi menjadi bawahan. Udahlah aku ini anak dari seorang bawahan, masa sih harus jadi istri bawahan pula." Kata Butet sambil memanas-manasi Marven.
Ini adalah sebagian dari perencanaan yang telah mereka sepakati antara dirinya, Beni, Togar dan Birong bahwa dia harus bisa memanas-manasi Marven.
Jika Marven sudah panas, maka kedudukan Martin di kursi ketua tidak akan lama lagi pasti akan di kudeta.
"Kalau masalah itu kau jangan khawatir Butet. Sebentar lagi kursi ketua akan menjadi milikku. Aku adalah pewaris satu-satunya karena aku adalah anak tunggal dari seorang ketua organisasi kucing hitam. Kau jangan khawatir. Ketika aku nanti naik tahta, kau akan menjadi ratu di kota Tasik Putri ini." Kata Marven dengan bangga.
"Apa benar begitu? Takutnya tidak. Jauh panggang dari api." Jawab Butet sambil mencibir.
"Apa maksudmu Butet?" Tanya Marven yang mulai emosi.
"Aku dengar ketua Martin sangat menyayangi Tigor. Dia bahkan kini menjadi ketua di kota Kemuning setelah meruntuhkan kekuasaan Jordan yang gila karena kematian anaknya."
"Dengan begitu, aku rasa Tigor bisa saja kapanpun untuk menggeser posisi mu sebagai ahli waris. Apa lagi Martin selalu mengatakan bahwa Tigor seperti anak nya sendiri. Posisi mu belum aman bang." Kata Butet semakin memanas-manasi Marven.
Praaak....!
Terdengar suara meja di gebrak dengan kasar.
"Mengapa marah bang? Bukankah perkataan ku itu benar?!"
"Terus terang saja. Andai Tigor yang datang melamar ku, saat ini juga aku terima lamaran itu. Ini karena dia adalah ketua di kota Kemuning. Masa depannya sangat cerah. Dia bisa kapan saja mendirikan organisasi sendiri dan menjadi ketua. Sementara dirimu?" Tanya Butet lagi sambil terus mencibir kearah wajah Marven.
Marven saat ini benar-benar mati suri oleh perkataan Butet barusan.
"Baiklah. Jika itu syarat untuk mendapatkan mu, maka kau persiapkan dirimu. Aku akan melamar mu setelah menjadi ketua di organisasi kucing hitam." Kata Marven.
Pemuda itu lalu berdiri dan tanpa permisi langsung berlalu dari hadapan Butet menuju ke arah mobilnya.
Butet yang merasa penuh kemenangan hanya memperhatikan saja sambil terus memainkan kuntum bunga mawar yang di bawa oleh Marven tadi.
Tak lama berselang, terdengar suara mesin mobil mendengung dengan keras menandakan pengemudinya memaksa menekan gas dengan kasar.
Sejenak setelah itu, mobil BMW silver itu melesat seperti kesetanan meninggalkan kawasan perumahan elite di gang kumuh ini.
Begitu melihat Marven telah pergi, Butet pun langsung meraih ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Halo Butet!"
Terdengar suara di seberang telepon.
"Tugas ku berhasil. Aku telah melakukannya dengan baik. Saat ini Marven sudah termakan perkataan ku." Kata gadis itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Bagus....! Bagus sekali. Kau tenang saja. Sebelum ke rumah mu, aku juga sudah mencuci otak anak itu." Kata suara lelaki di seberang telepon.
"Lalu bagaimana? Apakah ada tugas lain yang harus aku kerjakan?" Tanya Butet.
"Belum. Untuk saat ini masih belum. Aku dan ayah serta bapak tua mu masih harus menyusun rencana lain. Kau akan kami beritahukan jika ada sesuatu yang perlu kau kerjakan." Kata lelaki itu.
"Baiklah." Kata Butet lalu mengakhiri panggilan telepon itu.