BLACK CAT

BLACK CAT
Ucok telah sembuh



Tok tok tok...!


Tampak seorang pemuda mengetuk pintu rumah di bagian belakang restoran samporna yang memang disediakan untuk para staf yang bekerja di restoran dan hotel Samporna milik Martin yang berada di kota Tasik putri itu.


Tok tok.tok...!


Karena tidak mendengar jawaban dari dalam, pemuda itu kembali mengetuk. Karena mungkin ketukan yang pertama tadi tidak kedengaran oleh penghuni rumah tersebut.


"Siapa diluar?"


Terdengar suara seseorang dari dalam rumah tersebut.


"Ini aku Tigor. Buka dong pintunya!" Kata orang yang mengetuk pintu tadi.


Tak lama setelah itu, pintu rumah itu pun terbuka dan tampak seorang pemuda yang sebaya dengan pemuda bernama Tigor itu berdiri di depan pintu.


"Darimana kau bang? Sudah dua hari kau tak pulang." Kata pemuda yang berada di dalam rumah itu.


"Aku ada kerjaan dari Martin. Makanya baru bisa pulang sekarang. Oh ya Geng.., bagaimana kabar si Ucok?" Tanya Tigor.


"Itu lah bang. Kami hari ini mau menjenguk si Ucok lah di rumah sakit. Tapi kami menunggu abang pulang. Soalnya kami mana ada uang untuk membayar biaya perawatan Ucok itu." Kata Sugeng menjelaskan.


"Oh iya. Maaf aku sampai lupa. Kemana yang lainnya Geng?" Tanya Tigor.


"Jabat sama Thomas ada di kamar."


"Udah makan kalian? Ini aku ada bawak makanan ini. Ayo kita makan sama-sama. Setelah selesai, nanti kita sama-sama ke rumah sakit untuk menjenguk Ucok." Kata Tigor sambil menyerahkan plastik berisi nasi kotak kepada Sugeng.


"Woy bang. sudah pulang kau rupanya. Dari mana saja kau bang?" Tanya Jabat begitu melihat Tigor.


"Kerja aku Jo. Tau lah kau kalau aku ini bekerja sama Martin. Agak sibuk aku ini." Kata Tigor sambil duduk di atas kursi usang.


"Bang. Kata Thomas, hari ini Ucok sudah boleh keluar dari rumah sakit. Sekarang kalau abang mau, kita bisa menjemput si Ucok." Kata Jabat.


"Makan lah kalian dulu! Selesai makan, berangkat kita menjemput Ucok." Kata Tigor.


"Tapi bang."


"Tapi apa?" Tanya Tigor.


"Uang nya ada kan? Kau tau lah bang. Kami mana ada uang. Kerja pun baru beberapa hari." Kata Jabat.


"Oh. Udahlah makan aja kah kalian dulu. Nanti urusan biaya rumah sakit itu biar aku yang tanggung." Kata Tigor.


Semua sahabatnya merasa legah saat ini begitu mendengar bahwa Tigor mampu menanggung biaya rumah sakit.


"Kita bukan lagi sekedar sahabat. Tapi kita ini adalah saudara walaupun bukan lahir dari ibu yang sama. Susah mu adalah susah ku. Senang mu juga senang ku." Kata Tigor membuat semua sahabat nya terharu.


*********


Setelah semuanya selesai, Tigor yang menjadi pemimpin rombongan sahabat nya itu mulai keluar dari rumah untuk bergerak menuju ke rumah sakit tempat salah satu sahabat mereka di rawat.


Ketika sampai di rumah sakit, Tigor langsung bertemu dan berbicara langsung dengan pihak dokter yang menangani Ucok sembari mendengarkan nasehat-nasehat dari dokter tersebut tentang cara perawatan bagi Ucok dan juga segala jenis pantangan yang tidak boleh di konsumsi oleh Ucok.


Selesai dengan dokter dan membayar semua tagihan rumah sakit, Tigor pun mengajak sahabat-sahabat nya termasuk Ucok kembali ke rumah mereka yang di berikan oleh Martin sebagai tumpangan di belakang restoran Samporna.


Begitu mereka mulai melewati Jembatan, Ucok mulai merasa heran karena Tigor tidak menghentikan mini bus melainkan terus saja menuju ke arah pusat kota Tasik putri.


"Bang Tigor. Mengapa tidak menghentikan mini bus ini? Apakah kau sudah lupa jalan pulang?" Tanya Ucok heran.


Wajar saja Ucok tidak tau kalau mereka sekarang sudah tidak lagi tinggal di bawah jembatan itu. Ini karena Tigor dan teman-teman nya sudah menempati salah satu rumah di belakang restoran.


"Kita sudah tidak tinggal di bawah jembatan lagi Cok." Kata Jabat sambil tersenyum.


"Ini lah salah satu kejutan. Sekarang bang Tigor sudah bekerja untuk Martin. Jadi gengster dia sekarang. Rumah juga disediakan oleh Martin untuk kita. Kalau ada yang mengganggu kita di tasik putri ini, sebut saja nama Tigor. Mereka semua akan lari terbirit-birit." Kata Thomas bangga.


"Betul itu bang?" Tanya Ucok ingin tau.


"Percaya kali lah kau sama Thomas ini. Mana ada aku jadi gengster. Aku bekerja untuk Martin sebagai satpam saja di rumah nya." Kata Tigor.


"Ah udah paten lah itu. Setidaknya tiap pagi kita tidak perlu lagi masuk angin. Selama 7 tahun kita tinggal di jembatan itu, aku sampai kena paru-paru basah." Kata Ucok.


"Ya bersyukur lah karena sekarang keadaan kita sudah lebih baik. Aku dan jabat sekarang kerja di restoran. Sedangkan Sugeng menjaga tempat parkir. Nanti kalau kau sudah benar-benar pulih, kau bisa bekerja menemani Sugeng. Mau kan kau jadi tukang parkir?" Tanya Thomas.


"Mau lah. Apa lagi kerja mau pilih-pilih. Dulu kita serabutan. Asal dapat makan aja sudah bersyukur. Sekarang setiap hari ada kerja. Tiap bulan ada gaji. Udah paten lah itu. Ada uang, perut kenyang. Hahahaha..." Kata Ucok sangat antusias.


"Yang penting kalian baik-baik saja pun udah sebuah anugrah bagi aku. Kerja di restoran itu dan jaga parkir itu hanya untuk buang-buang suntuk aja buat kalian. Sebenarnya tanpa kerja pun aku bisa ngasih kalian uang. Pokoknya kalian tenang saja. Aku rela mati demi kawan senasib sepenanggungan." Kata Tigor.


"Aku juga sama bang. Dari kecil sampai lajang kita saling bahu membahu. Macam mana pulak aku tega menengok abang mati sedangkan kami hidup. Kalau ada yang macam-macam, atau abang dalam masalah, kami pun tak mungkin lah tinggal diam jadi penonton yang baik. Testing dulu lah tumbukan tangan ku ini. Betul tidak woy?" Kata Ucok.


"Betul kali bah. Mana mungkin kita diam saja. Tapi bang. Mengapa kau tak mau mengajak kami bekerja dengan mu bang? Kan bisa lah kami jadi anak buah mu." Kata Jabat.


"Aku bukan tak mau mengajak kalian Jo. Tapi kau harus tau. Pekerjaan ku ini taruhannya nyawa. Aku tak mau kita semua berkubang dalam lumpur yang sama. Setidaknya kalau aku kenapa-napa, ada kalian yang akan mengurus aku. Kalau kita sekali berlima kenapa-napa. Siapa yang akan perduli sama kita? lagi pun aku paling tidak tahan melihat kalian dalam masalah. Biar aku saja. Masalah uang, aku tidak akan melupakan kalian." Kata Tigor.


"Tapi bang."


"Itu sudah keputusan ku. Ingat! Kalau ada apa-apa sama aku, tugas kalian adalah menjaga adik ku Rio. Sampai dia jadi polisi."


"Kau kerja jadi mafia. Adik mu polisi. Tak takut kau bang?" Tanya Ucok.


"Tak ada pilihan bagi ku cok. Bukannya dulu kau kali yang mendesak aku menerima pekerjaan dari Martin itu." Kata Tigor.


"Iya waktu itu inisiatif dari rasa perut yang keroncongan bang. Maafkan aku bang." Kata Ucok.


"Apa pulak minta maaf. Mana kau ada salah sama aku. Dah lah. Sebentar lagi kita sampai. Tapi aku tak bisa lama. Sore ini aku ada tugas dari Martin."


"Tugas apa bang?" Tanya Ucok.


"Tugas melanggar daerah kekuasaan geng tengkorak. Kata Martin, dia mau aku jadi satpam di sana. Harus di rebut lah biar aku ada kerjaan. Kalau tidak, mau jadi satpam di mana aku?" Kata Tigor sambil tertawa.


"Itu bukan satpam. Itu penguasa wilayah namanya." Kata Jabat.


"Geng tengkorak itu bang. Kau berani sama mereka?" Tanya Ucok.


"Kalau aku sendirian berani lah. Yang aku takutkan kalian ini. Makanya setelah ini, kalian jangan terlalu akrab dengan aku. Kita bisa bertemu sesekali saja. Rio juga akan aku pindahkan sekolahnya. Mungkin di Bandung, Surabaya atau Jakarta. Aku takut kalau sampai mereka tau aku punya adik, wah bahaya." kata Tigor.


"Betul itu bang." Kata Ucok.


"Dah. Ayo kita turun. Sudah sampai. Kalian saja yang pulang. Aku akan menyuruh Andra ojek untuk menjemput ku di restoran. Ingat ya. Kita berjumpa pas malam-malam aja. Jangan terlalu akrab sama aku di tempat umum." Kata Tigor mengingatkan lalu segera memisahkan diri memasuki restoran Samporna.


Ketika Tigor melewati pintu, para penjaga langsung membungkuk hormat dihadapannya.


Melihat adegan itu, di sini lah teman-temannya dapat menilai seberapa tinggi kedudukan Tigor di sisi Martin.


"Ada benarnya juga mengapa dia melarang kita untuk akrab dengan nya. Kau lihat bagaimana petugas penjaga keamanan tadi membungkuk didepan Tigor?" Kata Ucok.


"Iya betul. Kalau dia satpam, mana mungkin orang itu begitu hormat."


"Dah lah. Yang penting kita saling menjaga. Kau Geng! Kau adalah antara orang yang paling mampu di antara kita. Jangan terlalu terlena. Pantau juga abang kita itu." Kata Thomas.


"Aku ingat kata-kata mu itu Thom. Tenang saja." Kata Sugeng.


"Ayo lah pulang. Panas ini. Udah macam orang-orangan sawah terlalu lama berdiri di sini." Kata Jabat.


Keempat pemuda itu saling berangkulan berjalan menuju ke arah bagian belakang restoran itu dengan perasaan gembira karena salah satu dari mereka yang terpisah karena sakit kini telah kembali dalam keadaan baik-baik saja.