BLACK CAT

BLACK CAT
Mirna dalam masalah



Dunia Gemerlap.


Malam ini Monang terlihat sangat gusar dan marah sekali.


Hal ini dikarenakan seorang wanita di pusat hiburan itu menolak untuk melayani tamu hidung belang yang datang ke tempat prostitusi itu dengan tujuan mengasah pedang warisan nenek moyang nya.


Lelaki setengah baya itu dengan marah langsung turun dari lantai dua pusat hiburan itu dan tanpa tedeng aling-aling memarahi Monang atas penolakan wanita penghibur tadi.


"Monang! Bagaimana kau mengurus para ayam di sini? Apakah segala sesuatu di pusat hiburan ini ada pengecualian dan terlepas dari kendali mu?" Tanya lelaki gemuk berhidung kembang dan berperut buncit itu.


"Pelan-pelan Pak Roby! Ada apa sebenarnya?" Tanya Monang merasa heran. Ini karena begitu nongol, lelaki yang memiliki potongan badan seperti ikan buntal itu langsung menhujaninya dengan teguran.


"Aku kecewa dengan layanan yang aku terima di dunia gemerlap malam ini. Jangan bilang kau tidak bisa mengatur ayam-ayam peliharaan mu di sini Monang! Aku sudah membayar mahal untuk salah satu wanita di pusat hiburan ini. Tapi apa yang aku dapat? Dia menolak untuk melayani ku!" Kata lelaki bernama Roby itu setengah berteriak.


"Apakah wanita itu si Mirna?" Tanya Monang kepada Karman yang berada di tempat itu.


"Benar Bang. Memang pak Roby ini tadi sudah membayar untuk mendapat layanan dari Mirna." Jawab Karman.


"Kurang ajar sekali Mirna ini. Aku sudah habis banyak untuk dirinya. Habis tenaga, habis fikiran dan habis modal. Jika dia tidak bisa bekerja dengan becus, sebaiknya aku bunuh saja gadis itu atau beri pelajaran yang bisa membuat dia jera." Kata Monang.


"Karman! Kau seret gadis itu turun menemuiku. Aku harus bertindak. Jika tidak, pelanggan di sini akan lari, dan aku pasti akan disalahkan oleh Marven." Kata Monang sambil menggosok-gosok kepalan tinju tangan kanannya dengan tangan kiri.


"Baik bang." Kata Karman lalu segera berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai dua tempat kandang ayam-ayam peliharaannya.


Beberapa menit berselang, tampak Karman turun dari lantai dua itu sambil menarik rambut seorang wanita hingga terseret-seret di tangga menurun itu.


Terlihat jelas raut wajah antara takut dan menahan kesakitan dari gadis itu begitu dia melihat lelaki gemuk yang memaksanya tadi, sedang berdiri di samping Monang.


Suasana yang tadinya meriah dengan musik DJ dan para pengunjung yang berjoget berubah jadi sepi dan saling berbisik sesama mereka.


Karman tidak memperdulikan bisikan dan tatapan dari para pengunjung. Dia terus saja berjalan sambil menarik rambut gadis bernama Mirna itu membelah kerumunan orang-orang yang tadi sedang melantai berjoget.


Begitu Mirna tiba di depan Monang, Monang langsung membentak dengan pertanyaan yang kasar.


"Mirna. Katakan kepadaku mengapa kau menolak untuk melayani pak Roby ini?" Tanya Monang dengan mata mendelik.


Mirna hanya diam dan tertunduk tanpa berani menjawab sepatah kata pun.


"Jawab pertanyaan ku atau aku akan memukul mu!" Bentak Monang lagi.


"Maafkan aku bang. Bukankah Acong sudah membooking ku selama seminggu. Dan lagi, pak Roby ini terlalu kasar. Memasuki kamar ku dan langsung memukuli tubuh ku. Jelas aku menolak." Jawab Mirna.


"Masalah Acong, biar aku yang urus. Aku bahkan akan mengembalikan uangnya dua kali lipat. Asalkan kau mau melayani Pak Roby ini. Dia sudah membayar mahal untuk dirimu." Kata Monang.


"Jangan bang. Jangan paksa aku melayani bandot tua yang kasar ini. Aku tidak mau." Jawab Mirna memelas.


"Kurang ajar!!!"


Plak...!


"Awww...!"


"Apakah aku memberi pilihan kepada mu? Bangsat sampah seperti mu hanya boleh menurut tanpa membantah." Kata Monang marah sambil melayangkan tamparan.


"Jangan Bang! Aku tidak mau!"


"Kalau tidak mau, aku akan menyiksa mu di sini. Di depan orang-orang ini. agar mereka mendapat tontonan gratis!" Kata Monang sambil menjambak rambut Mirna dan mengirim tamparan sekali lagi.


*********


Sepulangnya dari rumah mirip Mansion milik Martin, Tigor tidak langsung kembali ke Blok B. Melainkan, dia membelokkan mobil nya ke arah dunia gemerlap atau gemerlap malam.


Dia sendiri tidak mengerti entah mengapa memiliki perasaan yang kuat dan sulit untuk di lawan ketika tiba-tiba saja tangannya memutar kemudi untuk berbelok ke arah restoran Samporna.


Tidak mau berperang dengan hatinya sendiri, Tigor pun akhirnya turun dari mobil dan bergegas berjalan ke arah belakang restoran tersebut menuju dunia gemerlap malam.


Dia memilih memarkir mobilnya di depan restoran itu karena tidak mau di anggap sebagai pelanggan tetap pusat hiburan yang penuh kemaksiatan itu.


Tepat ketika dia sudah berada di dalam ruangan, dia melihat kerumunan orang seperti sedang menonton pertunjukan.


Merasa penasaran, Tigor langsung berjalan mengarah kerumunan orang-orang itu dan langsung menyeruak membelah kerumunan.


Bagai di sambar geledek. Saat ini Tigor menyaksikan seorang wanita yang dia kenal sedang babak belur di hajar oleh seorang lelaki yang juga dia kenal.


Tepat ketika lelaki itu akan mendaratkan sekali lagi tamparan nya, Tigor langsung menggenggam pergelangan tangan lelaki itu dari arah belakang.


"Mengapa terlalu kasar pada wanita?" Tegur Tigor kepada lelaki itu.


Lelaki yang akan memukul wanita itu segera berpaling ke arah datangnya suara tadi dan langsung mengendorkan ketegangan di wajah nya.


"Wanita ini memang pantas untuk di hajar. Selama dia berada di sini, hanya kerugian yang aku dapat. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk betina bangsat ini. Tapi apa? Dia bahkan tidak pandai melayani pelanggan. Jika begini terus tanpa peringatan, yang lain akan mengikuti jejaknya dan pusat hiburan ini bisa tutup. Aku bisa di pancung oleh Marven dan Martin." Kata lelaki itu.


"Jual saja kepada ku, Monang!" Kata Tigor cuek sambil berjalan ke arah kursi dan duduk dengan kaki diletakkan di atas meja.


"Karman! Bawa gadis itu dan suruh duduk di sini!" Kata Tigor.


Mendengar perintah ini, Karman sedikit ragu. Namun setelah Monang mengangguk, dia akhirnya melakukan juga apa yang diperintahkan oleh Tigor.


"Siapa nama mu Nona?" Tanya Tigor pura-pura tidak kenal.


"Nama ku Mirna bang." Jawab gadis itu masih terisak-isak.


"Hmmm... Nama yang bagus." Kata Tigor acuh tak acuh.


"Bagaimana dengan tawaran ku, Monang?"


"Apa kau serius Gor?" Tanya Monang sambil menghampiri sofa dan duduk di dekat Tigor.


"Katakan saja berapa jumlah yang harus aku bayar untuk menebus wanita ini." Kata Tigor serius.


"Lalu bagaimana dengan aku? Aku sudah membayar untuk wanita itu."


Tampak seorang lelaki gemuk menghampiri Monang.


"Aku akan mengembalikan uang mu dua kali lipat." Jawab Tigor.


"Aku tidak ingin uang. Yang aku inginkan adalah gadis itu." Kata lelaki itu ngotot sambil menunjuk ke arah Mirna.


"Apa kau bosan hidup?" Tanya Tigor dengan nada dingin.


"Katakan kepada ku jika kau bosan hidup. Aku akan memenggal kepala mu saat ini juga!" Kata Tigor lagi lalu bergegas berdiri.


"Ah... Bang Tigor. Kendalikan emosi mu. Dia mungkin sudah mabuk." Kata Monang berusaha meredahkan kemarahan Tigor.


"Aku akan mengadukan ini kepada Martin. Kau lihat saja!" Kata Lelaki itu mengancam.


"Saat ini Martin ada di rumahnya bersama Lalah. Kau pergilah adukan kepadanya tentang masalah ini. Katakan kepadanya bahwa pelaku nya adalah Tigor. Tapi ingat! Aku tidak menjamin nyawa mu masih aman ketika kau keluar dari rumah Martin di komplek elit." Kata Tigor dingin.


"Ah pak Roby. Kau jangan main-main dengan pemuda itu." Kata Monang berbisik ke telinga lelaki berbentuk ikan buntal itu.


"Memangnya mengapa? Apakah aku takut kepadanya?"


"Kau belum tau siapa dia. Sebaiknya urungkan niat mu mencari silang sengketa dengan Tigor itu." Kata Monang lagi.


"Siapa dia sebenarnya?" Tanya Roby.


"Dia adalah Tigor. Anak angkat Martin. Ketua nomor dua dari organisasi kucing hitam. Jangankan dirimu. Aku saja tidak berani macam-macam dengan Tigor itu. Sekali menjentikkan tangan, 200 anak buah nya akan memburu mu sampai ke lubang semut sekalipun." Kata Monang tanpa berusaha menakut-nakuti Roby.


Mendengar pengakuan dari Monang, akhirnya Roby pun mengalah.


"Baiklah Tigor. Aku mengaku kalah. Kembalikan uang yang sudah aku investasikan untuk betina sialan itu." Kata Roby.


"Urus dulu untukku Monang. Nanti sekalian aku akan membayar berikut dengan harga gadis ini." Kata Tigor.