BLACK CAT

BLACK CAT
Lalah tiba di kota Kemuning



Lima unit mobil bergerak dengan perlahan menuju ke bagian depan pos Security lalu berhenti tepat di depan sekitar lebih dua puluh orang lelaki dengan berbagai usia yang tampaknya memang sengaja menunggu rombongan itu.


Dari mobil yang paling depan, tampak seorang pemuda yang di kenal oleh Tigor bernama Roger buru-buru membukakan pintu mobil. Lalu seorang gadis pun keluar dari dalam mobil tersebut dengan malu-malu sambil menatap ke arah wajah Tigor.


Seorang lelaki lagi bernama Sudung yang dulu pernah digebuki oleh Black Cat gara-gara Karman juga tampak keluar dari kursi co-driver sambil membukakan pintu. Lalu dari dalam tampak keluar seorang lelaki setengah baya yang dikenal oleh Tigor adalah Lalah sang mafia bagian barang selundupan dari Dolok ginjang.


"Ternyata kau sudah sampai duluan, Poltak." Kata Lalah sambil menepuk pundak lelaki yang sebaya dengannya itu.


Poltak hanya tersenyum kecut tanpa menjawab sepatah katapun.


Kini Lalah memperhatikan semua orang yang ada di depan pos Security itu satu persatu lalu mengernyitkan dahi ketika dia melihat bahwa Tigor berdiri dengan menggunakan bantuan dari tongkat.


"Kau kenapa Tigor? Aku lihat sepertinya kau mengalami cedera." Tanya Lalah.


"Ceritanya panjang Pak Lalah. Ayo kita ke dalam dulu. Kita bisa ngobrol bersama sambil sarapan pagi." Ajak Tigor.


Lalu sebagai tuan rumah, Tigor pun melangkah mendahului rombongan itu sambil di bantu oleh Jabat dan Sugeng.


Sampai di dalam rumah, Tigor pun lalu mempersilahkan mereka untuk duduk dan menelepon manager restoran untuk menyiapkan sarapan pagi serta makan siang ini.


"Apa yang terjadi sebenarnya pak?" Tanya Tigor yang sebelumnya sudah mendapatkan bocoran dari Carmen Bond tentang niat Marven yang ingin menyerang kota Dolok ginjang. Namun lebih baik jika bertanya langsung kepada yang bersangkutan.


"Ini semua adalah ulah dari Marven. Apakah Poltak belum bercerita kepadamu?"


"Belum lengkap." Jawab Tigor.


"Marven telah mengirim orang-orang nya dengan bantuan Birong lalu menunjuk Tumpal, Strongkeng dan Togi untuk mengepalai ratusan anak buah mereka untuk menyerang Dolok ginjang."


"Bagi yang mau bergabung dengan mereka, maka semuanya selamat beserta usaha serta aset-asetnya tidak akan di ganggu. Namun jika menolak, ya seperti kami ini lah." Kata Lalah sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Saat ini seluruh Dolok ginjang sudah berada dalam genggaman Marven dengan orang-orang yang terus bertambah. Sangat berbahaya jika mereka semakin kuat. Karena sasaran mereka selanjutnya adalah kota Kemuning ini." Kata Roger.


"Ini tidak dapat dibiarkan. Kita tidak punya banyak waktu lagi untuk menyusun kekuatan." Kata Poltak pula.


"Aku menduga bahwa anggota kucing hitam saat ini sudah mencapai ribuan orang. Itu belum lagi ditambah dengan bergabungnya geng tengkorak. Mungkin puluhan ribu orang." Kata Lalah.


"Saat ini, kita tidak bisa berbuat banyak. Untuk menang melawan mereka, tentu sangat sulit. Jangankan menang. Untuk bertahan saja pun kemungkinan tidak akan sampai satu hari, kita pasti tumbang."


"Lalu apa rencana mu Gor?" Tanya Poltak.


"Kita tidak bisa mencegah mereka menyerang ke kota Kemuning ini. Tapi kita bisa menunda mereka."


"Maksud mu?"


"Aku masih punya Karman di sana. Ada potongan Video yang dikirim oleh Karman kepada ku tentang persekongkolan antara Beni, Venia dan Birong untuk menyingkirkan Marven. Dengan video itu, Karman bisa mengaduk-aduk air kolam dan mereka akan mabuk oleh rasa saling curiga." Kata Tigor sambil terkekeh geli.


"Ternyata kau sudah memikirkan masalah ini jauh-jauh hari Gor." Puji Lalah.


"Terus terang saja bahwa aku sudah lama mencium pengkhianatan Beni ini. Namun Martin tidak pernah mempercayai ku. Aku bahkan meminta untuk membunuh Beni. Tapi dia malah melarang ku. Oleh karena itu, atas berbagai pertimbangan, aku akhirnya mengirim Karman ke sarang mereka dan ternyata ada guna nya juga."


"Semuanya gara-gara Video ini." Jawab Tigor lalu memutar rekaman video yang dikirim oleh Karman kepadanya.


"Hah...?"


"Oh Tuhan. Ini?"


Tampak Lalah, Poltak, Roger, Sudung, Wulan serta yang lainnya terkejut setengah mati melihat rekaman video dalam tiga part itu.


"Aku tidak mampu mengendalikan emosi ku lalu berangkat sendiri menuju kota Tasik Putri. Yang tidak aku ketahui, bahwa mereka sudah memasang jebakan di perbatasan antara Kota Kemuning dan kota Batu."


"Ini karena Birong mengutus Togar untuk mencegat aku di sana." Kata Tigor.


"Berarti kematian Togar ada hubungannya dengan mu?" Tanya Lala.


"Jika bukan mereka yang mati, kemungkinan malam itu aku yang mati." Kata Tigor.


"Ternyata mereka sudah lama merencanakan semua ini. Kasihan Martin dikelilingi oleh penghianat."


"Aku akan membalas mereka. Pasti akan aku balas. Andai jalan menuju pembalasan itu tidak ku temui, aku akan meminta bantuan kepada Dragon Empire. Biarlah sekalian kami tunduk kepada mereka. Asalkan Birong, Beni dan Marven mati. Terutama Birong. Nyawa mendiang Ayah ku harus dia bayar. Aku akan mengulitinya hidup-hidup." Kata Tigor dengan mata berubah memerah.


"Benar kecurigaan ku selama ini. Ternyata memang kau lah orang yang melakukan pembunuhan di MegaTown itu."


"Darimana kau tau Pak Lalah?" Tanya Tigor.


"Berawal dari kecurigaan Martin. Dia lalu menelepon ku. Aku mulai menghubung-hubungkan antara kau dan Black Cat itu. Tapi tak apa. Hanya kita-kita saja yang tau." Kata Lalah.


"Aku tau memang tidak selamanya aku bersembunyi di balik topeng itu. Tapi setidaknya sebelum Birong mati, aku akan terus menggunakan topeng tersebut."


"Apakah kau yakin ingin menggabungkan diri dengan Dragon Empire. Ingat Gor! Mereka itu mafia kelas internasional. Jika mereka mau, sebentar saja untuk membumihanguskan sebuah kota."


"Anda tenang saja pak. Aku kenal dengan ketua mereka. Kenal dengan pentolan organisasi itu. Mereka semuanya baik-baik sepanjang tidak ada yang membuat urusan dengan mereka." Kata Tigor mematahkan keraguan Lalah.


Wajar saja dia berkata begitu. Ini karena, dia sudah mengenal Arslan dengan baik. Mengenal Black dengan baik. Bahkan dia juga mengenal Ryan, Riko dan Daniel dengan sangat baik pula.


Sementara itu, kesan pertama yang dia dapatkan dari pertemuan antara dirinya dan Jerry William yaitu ketua dari organisasi besar itu adalah baik.


Jerry William itu tidak pernah melakukan tindakan kekerasan kecuali dia sudah di ganggu terlebih dahulu.


Namun ketika dia sudah marah, maka tau sendiri akibatnya.


Hal ini bagi Tigor sangat lumrah dalam setiap organisasi yang bergerak dalam kegelapan.


Jangankan Jerry William itu yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Dirinya saja ketika bergabung dengan geng kucing hitam sudah tidak terhitung menghabiskan nyawa orang.


"Terserah kepada mu saja Gor. Jujur untuk saat ini, kami sudah tidak memiliki tempat perlindungan lagi. Hanya di kota Kemuning ini lah." Kata Lalah dengan pasrah.


"Aku Tigor, tidak akan meninggalkan sahabatku yang sedang terpuruk. Kalau hidup, mari hidup bersama. Kalau mati pun, mari mati bersama. Tidak ada penyesalan."