
Dolok ginjang.
Jauh dari lokasi real estate yang ditempati oleh Lalah, tepatnya di pinggiran kota, Tigor alias Black Cat menghentikan kendaraannya tepat di depan sebuah gang yang memiliki rumah-rumah padat dan sangat kotor.
Terlihat di sisi kiri dan kanan dari dinding-dinding lorong gang ini di cat dengan bebagai macam corak, bentuk dan warna layaknya seperti di film-film anak jalanan di America.
Tigor saat itu yang memakai pakaian Sweater hoodie warna hitam, celana hitam, memakai kacata hitam dan masker hitam sengaja menanggalkan topeng kucing nya agar tidak menarik perhatian, berjalan menelusuri lorong lembab itu menuju ke salah satu rumah.
Sebenarnya itu tidak layak dikatakan sebagai rumah. Bentuknya lebih tepat seperti gudang dan bagian depannya persis seperti bengkel. Namun jangan di tanya. Jika anda membutuhkan barang tiruan, datang lah ke tempat ini. Maka anda akan dimanjakan dengan bermacam pilihan barang tiruan dengan kualitas premium.
Ketika Tigor tiba di depan rumah seperti gudang tersebut, tampak dua orang lelaki layaknya seperti preman menghampiri Tigor.
"Sebutkan nama!" Kata salah seorang dari lelaki itu.
"Tanpa nama." Jawab Tigor.
"Organisasi?"
"Kucing hitam!"
"Sesuatu yang identik dengan anda?!"
Mendengar ini, Tigor mengeluarkan sapu tangan putih penuh bercak darah.
"Kami tidak mengenali lambang seperti ini." Kata mereka.
"Mulai hari ini kalian harus ingat! Ketika sapu tangan bernoda darah seperti ini berada di tempat kejadian, berarti itu adalah ulah dari Black Cat!" Jawab Tigor.
"Black Cat. Aku pernah mendengar nama itu. Akhir-akhir ini memang sering terdengar sepak terjang nya yang menggemparkan."
"Apakah kalian berbisnis?" Tanya Tigor.
"Ya. Kami berbisnis."
"Jika begitu, jangan buang waktu ku!"
"Apa yang anda cari?"
"Serupa tapi tak sama."
"Anda berada di tempat yang benar. Mari silahkan masuk!" Ajak mereka.
Tigor segera mengikuti kedua orang itu memasuki gudang yang ternyata memiliki ruangan rahasia di bawah tanah.
Ketika Tigor sampai di sana, ternyata di ruangan itu menyediakan berbagai macam pusat hiburan. Terkesan sepi di permukaan, namun ketika sampai di dalam, persis seperti neraka di mana banyak para pecandu yang melepaskan hajat nya di sana.
"Hmmm.., tidak jauh berbeda dengan gemerlap malam." Kata Tigor dalam hati.
"Silahkan ikut arah sini!" Kata salah seorang dari pemuda itu menunjukan jalan.
"Terimakasih!" Kata Tigor.
Begitu mereka memasuki satu lorong yang sedikit remang, Tigor akhirnya diantar ke ruangan yang layaknya seperti toko peralatan lengkap. Ada berbagai macam senjata, sepatu tentara, baju seragam tentara dan polisi, tali tambang, rompi anti peluru, pistol yang asli sampai yang palsu.
"Selamat datang ke markas kami. Hahaha... Tidak di sangka seekor kucing hitam mau membuang waktunya mengunjungi sarang tikus. Aku sangat terkesan. Sangat terkesan!"
Di depan sana, tampak seorang lelaki tegap berotot berkepala botak licin berdiri dari kursinya dan langsung melangkah ke arah Tigor sambil mengulurkan tangan nya.
"Darimana anda tau bahwa saya adalah orang dari organisasi kucing hitam?" Tanya Tigor.
"Bukan hal yang sulit. Kemajuan teknologi saat ini sudah sangat mumpuni sehingga cctv pun bisa menghasilkan suara." Jawab lelaki itu dengan cuek.
"Melihat dari gayamu yang dingin ini, aku dapat menduga bahwa kau ini adalah si Black Cat itu. Hmmm... Tidak heran mengapa sahabat ku Lalah sangat mengagumi mu anak muda."
"Sialan. Darimana orang ini tau segalanya tentang diri ku?" Maki Tigor dalam hati.
"Ah. Terimakasih atas pujian anda Pak. Tapi saya datang kemari karena ingin mendapatkan stok barang yang saya perlukan dari anda." Kata Tigor.
"Apakah Monang yang memberitahu tempat ini kepada mu?" Tanya Lelaki botak itu.
"Benar Pak. Maka dari itu, saya datang kemari secara langsung untuk membuktikan apakah omongan Monang itu benar adanya atau hanya membual saja." Kata Tigor.
"Poltak tidak akan memiliki reputasi baik tanpa prestasi. Ingat nak! Aku telah bermain dalam permainan seperti ini lebih dari separuh usia ku. Kau boleh meragukan Monang. Tapi tidak untuk Poltak."
"Anak muda. Hahaha. Anak muda memang selalu tergesa-gesa. Baik! Aku tidak pernah menyembutkan satu per satu barang dagangan ku. Kau cari apa yang kau butuhkan lalu kumpulkan di sana!" Kata lelaki botak bernama Poltak itu menunjuk ke arah sebuah meja besar di sudut ruangan.
Tanpa membuang waktu lagi, karna memang sudah sangat mepet, Tigor langsung bergerak cepat mengambil satu per satu barang yang dia perlukan.
Tepat ketika dia melihat rompi anti peluru, dia segera melihat-lihat.
"Maaf bung. sepertinya kau tertarik dengan rompi itu." Tanya seorang lelaki muda yang bertemu dengan dirinya tadi pas waktu di luar.
"Ya. Sepertinya itu akan sangat berguna untuk ku." Jawab Tigor.
"Rompi itu bukan rompi asli. Namun jika hanya pistol saja, kemungkinan rompi itu bisa menunda kematian karena di terjang peluru." Kata pemuda itu.
"Boleh aku coba?" Tanya Tigor.
"Oh silahkan!" Kata pemuda itu mempersilahkan.
Mungkin yang dia pikir adalah Tigor ingin mengenakan rompi itu. Namun yang tak terduga adalah, Tigor malah mengeluarkan pistol pemberian dari Martin.
"We.., we.., we. Apa maksud anda bung?" Tanya pemuda itu mendadak pucat.
"Bukankah aku ingin mencoba? Sekarang kau tembak rompi itu dengan pistol ini!" Kata Tigor sambil melemparkan pistol warna emas itu kepada pemuda tadi.
"Gila sekali setan serba hitam ini." Batin pemuda itu dalam hati. Namun dia tetap mengarahkan moncong pistol itu ke arah baju rompi anti peluru tadi.
Dooor....!
Satu das tembakan terdengar memenuhi ruangan itu membuat Poltak dan seorang pemuda lagi kaget dan buru-buru mendatangi mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Poltak dengan wajah pucat.
Dia mengira bahwa orang nya telah menyinggung Tigor sehingga menyebabkan Tigor menembak nya.
"Kami hanya menguji kekuatan rompi yang katanya adalah premium ini." Jawab Tigor.
Melihat bahwa pistol bukan di tangan Tigor, dia sedikit lega.
"Tolong ambilkan rompi itu. Aku akan mengukur seberapa banyak yang bisa aku harapkan dari barang palsu ini." Kata Tigor.
Setelah melihat-lihat dengan seksama, akhirnya Tigor merasa ada perlunya juga dia membeli rompi itu.
Untuk ukuran barang palsu, tentu tidak bisa berharap terlalu banyak. Namun itu cukup untuk mencegah peluru masuk terlalu dalam ketika tertembak.
"Bagaimana bung?" Tanya lelaki muda tadi sambil mengembalikan pistol milik Tigor.
"Aku akan mengambil Rompi ini. Tolong berikan kepadaku sebanyak 14 rompi dengan ukuran yang sama." Jawab Tigor.
Puas memilih-milih, Tigor akhirnya melakukan proses pembayaran dengan Poltak.
"Untuk apa semua ini. Sepertinya ada yang ingin kau tipu?" Tanya Poltak.
Dia sengaja bertanya begitu karena Tigor membeli 14 pasang seragam polisi palsu.
"Kau akan mendengar berita tak lama lagi. Hanya saja, tolong rahasiakan bahwa anak kucing hitam pernah datang kemari dan membeli perlengkapan kepada mu!" Pesan Tigor.
"Bagiku pelanggan adalah pelanggan. Aku tidak terikat dengan apa pun. Asal ada uang, silahkan datang. Aku berbisnis barang palsu. Bukan menjual informasi." Tegas Poltak.
"Di sini aku juga menjual senjata sungguhan, geranat sungguhan, dan juga senjata laras panjang AK47 sungguhan. Namun itu bukan dari Rusia melainkan hasil rakitan sendiri. Masalah daya tahan, jangan di ragukan. Aku juga menjual spare part untuk kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat bahkan sampai yang tidak beroda kita jadikan memiliki roda." Kata Poltak bercanda.
"Terimakasih pak. Ini adalah awal dari kerja sama kita. Kelak jika aku butuh sesuatu, aku akan menghubungi mu." Kata Tigor.
"Jika ada barang, kau jangan lupakan aku. Aku akan menukar barang mu dengan barang ku. Bagaimana? Kita bisa barter." Kata Poltak.
"Menukar barang mu dengan barang ku? Enak saja. Barang mu sudah jelek." Kata Tigor sambil bercanda.
"Hahaha. Memang anak muda sialan. Maksud ku adalah, jika kau punya narkoboi jenis apa saja, bawa kemari. Aku membutuhkan stok yang banyak. Setiap hari selalu kekurangan barang." Kata Poltak.
"Oh. Maaf. Untuk itu, kau harus berunding dengan boss ku yaitu Martin. Dia yang memutuskan semuanya." Kata Tigor.
"Baiklah. Aku tau itu sangat sulit. Ok..! Anak buah ku akan membantumu mengangkut barang-barang belanjaan mu ini." Kata Poltak.
"Terimakasih." Kata Tigor lalu segera melangkah keluar dari ruangan itu diikuti oleh kedua orang pemuda yang bertemu dengannya sejak dari luar tadi.