BLACK CAT

BLACK CAT
Waktunya untuk pamer



Berita tentang keinginan Wulan dan Debora yang ingin jalan-jalan ke kota Kemuning akhirnya sampai juga kepada Tigor.


Sebagai seorang putri dari penguasa Dolok ginjang yang terkenal sangat di sayang dan di manja oleh ayahnya, membuat Lalah tidak punya pilihan lain selain menyampaikan maksud putri nya ini langsung kepada Tigor.


Melalui panggilan telepon, Lalah mengatakan kepada Tigor agar menjaga keselamatan dan keamanan putrinya selama berada di kota Kemuning nanti.


Hal ini sedikit banyaknya membuat Tigor sedikit jengkel. Bukan kepada Lalah, tapi jengkel nya ini lebih kepada sifat manja nya Wulan ini.


Dengan nada bicara yang kurang bersemangat, akhirnya Tigor pun menyetujui juga keinginan Lalah ini.


***


Kamis pagi di kota Kemuning.


Mengetahui bahwa Wulan dan Debora akan berkunjung ke kota Kemuning langsung dari Lalah yang sangat dia hormati, kini Tigor langsung mengumpulkan seluruh anak buahnya termasuk geng Andra, geng Ucok serta juga ada Monang di sana.


Dalam pertemuan itu, Tigor meminta pendapat dari pada sahabatnya tentang keamanan perjalanan Wulan menuju ke kota Kemuning ini.


"Bikin repot saja gadis manja itu. Tak cukup-cukup menyusahkan aku." Omel Tigor ditengah-tengah pertemuan itu.


"Gor. Jangan lihat anaknya, tapi cobalah ingat kebaikan Ayah nya. Lalah kan selama ini sangat baik terhadap dirimu." Kata Monang berusaha meredakan emosi Tigor.


"Jika bukan karena menjaga wajah Lalah, bodo amat aku sama Wulan itu." Kata Tigor pula.


"Bang. Selama ini kan kau selalu diremehkan, diintimidasi, dilecehkan oleh Wulan dan Debora itu. Sekarang lah saatnya untuk menunjukkan siapa kau yang sekarang." Kata Ucok.


"Maksudmu Cok?!" Tanya Tigor.


"Kalau aku menjadi dirimu bang, akan aku buat penyambutan khusus buat mereka. Bila perlu, seluruh anak buah yang ada di sini akan aku berangkatkan untuk menjemput mereka di kota Tasik Putri." Kata Ucok menjelaskan maksud nya tadi.


"Apakah itu harus Cok?" Tanya Tigor ragu-ragu.


"Bang. Aku tau ketika aku dulu sakit, kau banyak menelan penghinaan dari Debora demi agar aku bisa mendapatkan perawatan di klik milik nya. Sekarang lah waktu yang tepat untuk pamer kekuatan dan kekayaan didepan betina mata duitan itu." Kata Ucok membangkitkan kenangan masa lalu mereka yang tidak enak.


"Benar Bang. Ingat waktu kau dijadikan seperti kacung oleh Wulan di Gang kumuh? Kau yang diperlakukan seperti itu, tapi kami yang malu. Balas bang! Dimana wajah geng kucing hitam mau di letakkan jika pemimpin nya saja dijadikan kacung oleh seorang perempuan." Kata Acong pula bagaikan menuangkan minyak ke dalam api.


"Aaaagggrrrrh.... Kalian jangan memanas-manasi ku!" Kata Tigor yang mulai tersulut emosi nya.


"Memanas-manasi itu kalau tidak sesuai kenyataan. Lah ini kenyataan nya benar-benar di depan mata." Kata Ameng pula. Lalu melanjutkan. "Kan Abang dulu itu seperti kerbau yang hidungnya di cucuku. Kemana-mana mengekori pantat Wulan sambil membawakan tas dan barang-barang miliknya. Balas lah bang!"


"Setaaaan! Sekarang aku tanya. Bagaimana dengan kursus mengemudi kalian?" Tanya Tigor dengan ekspresi entah marah entah senyum. Pokoknya ekspresi wajahnya sangat lucu kali ini.


"Hahahaha. Sebenarnya kami tidak perlu kursus karena mengemudi kendaraan roda empat itu tidak butuh sekolah. Kami mengikuti kursus karena hanya ingin mendapatkan surat ijin mengemudi. Hanya itu saja." Jawab Timbul.


"Sebagian ada yang mengikuti jalur yang benar. Tapi kebanyakan dari kami mengikuti jalur tembak. Kasih uang dah beres. Hidup lama di jalanan kok harus diajarkan lagi mematuhi rambu-rambu jalan. Kan itu udah makanan kita dari kecil." Kata Andra.


"Kalau makanan dari kecil, mengapa harus main suap?" Tanya Tigor.


"Kau kan tau kebanyakan dari kami ini adalah buta huruf. Di suruh praktek lebih mudah daripada sekedar teori." Jawab Andra.


"Uang sudah di bagi rata untuk kalian. Seharusnya kan sudah punya mobil sendiri?" Tanya Tigor.


"Selain mobil sendiri, aku juga berencana mau beli mobil yang bisa kentut bang." Jawab Jabat.


"Sialan. Apa maksudmu mu dengan mobil yang bisa kentut?" Tanya Tigor.


"Kau mau menikah Jabat?" Tanya Andra yang langsung berdiri dan memijit pundak jabat dari belakang.


"Hehehe. Kejutan untuk kalian." Kata Jabat sambil tersenyum.


"Mau menikah. Baru lepas sunat sudah sok-sokan mau menikah." Kata Sugeng sambil tertawa.


"Aiiih... Jaga lisan busuk anda. Sepertinya anda jarang gosok Gigi pakai Pepsodent." Kata Jabat sambil tertawa.


"Aku kira kau hanya main-main saja dengan si Melly itu Bat!" Kata Ucok pula.


"Aku serius dengan si Melly ini. Hanya dia yang mau berteman dengan kita dalam apa jua keadaan. Melly ini bersahabat dengan kita ketika kita masih menjadi sampah di mata masyarakat. Walaupun dulu aku mendapat penentangan dari orangtuanya, namun setelah kita memiliki pekerjaan dan atas kenaikan taraf hidup oleh bang Tigor, akhirnya orangtuanya merestui hubungan kami ini." Kata Jabat dengan mata berkaca-kaca.


"Iya. Kau beruntung Jabat. Dengan wajah mu yang pas-pasan itu, kau berhasil menggaet hati Melly. Aku seratus persen mendukung mu." Kata Thomas.


"Sialan. Kau menghina atau menghibur?" Tanya Jabat sambil mendelik.


"Hahaha... Aku mendukung." Jawab Thomas.


"Ok bang. Kita kembali ke pembahasan tadi.


Sebenarnya masalah mobil itu tidak masalah. Kami bisa menyewa mobil di perusahaan penyewaan. Yang terpenting adalah, buktikan merah mu!" Kata Jabat pula memulai kembali ke topik pembahasan mereka tadi.


"Baiklah. Jika kalian maunya seperti itu, maka kalian bisa berangkat sore ini dan menginap di gang kumuh. Sabtu siang kalian bisa kembali kemari sambil mengawal rombongan Wulan. Aku rasa dia tidak akan berdua saja. Tugas kalian untuk mengawal perjalanan mereka dengan selamat tiba di kota Kemuning ini." Kata Tigor.


"Aku akan memobilisasi semua anak buah kita untuk berangkat ke kota Tasik Putri siang ini. Bayangkan dua ratus kendaraan berkonvoi disepanjang jalan untuk menjemput Wulan dan Debora. Uhh... Itu pemandangan yang sangat luar biasa dan sekaligus mengukuhkan dominasi Tigor di kota Kemuning ini." Kata Monang.


"Jangan gila Monang. Jika semuanya berangkat, lalu siapa yang akan menjaga kota Kemuning ini?" Tanya Tigor sambil melotot.


"Eleh. Ada kau dan Black Cat yang kapan saja bisa muncul. Kemudian ada anggota Dragon empire. Gor. Waktunya untuk pamer sudah tiba. Mohon ampun kepada Tuhan andai ini adalah suatu kesombongan. Namun ini perlu agar kita tidak selalu diremehkan oleh orang-orang yang tidak menyukai keberadaan kita." Kata Monang.


"Apa kalian semua setuju dengan ide gila Monang ini?" Tanya Tigor.


"Setujuuuuu.....!" Jawab mereka serentak membuat Tigor kembali terduduk sambil geleng-geleng kepala.


"Terserah kalian lah. Aku pasrah. Tapi tak rela." Kata Tigor yang disambut oleh gelak tawa semua yang hadir.


"Baiklah. Kata sepakat sudah di ambil. Sekarang kau harus memberitahu kepada Bos Martin dan Lalah tentang rencana ini." Kata Monang.


"Hmmm... Pergilah kalian. Aku akan segera memberitahukan kepada mereka." Kata Tigor pasrah.


"Ayo kita bubar. Masih banyak yang harus kita urus. Kita masih punya waktu 4 jam dari sekarang untuk membuat persiapan."


"Waktunya pamer kekuatan!" Teriak Monang.


"Ya! Waktunya pamer kekuatan!" Jawab mereka serentak lalu bangkit berdiri dan dengan tertib satu per satu meninggalkan ruangan itu.


Kini tinggallah Tigor sendirian sambil manyun melihat kepergian anak buahnya itu.


"Kegilaan apa lagi ini ya Allah?" Tanya Tigor dalam hati. Namun dia segera tersenyum sambil bangkit.


"Memang sudah waktunya untuk pamer." Gumamnya sambil tersenyum sendiri seperti orang sinting.