
Setelah selesai berurusan dengan Roby, Monang dan Karman akhirnya menemui Tigor yang saat ini sedang duduk santai ditemani oleh Mirna yang masih meringis menahan sakit.
"Bagaimana Monang? Sudah selesai utusan dengan lembu tua itu?" Tanya Tigor.
'Beres. Sekarang tinggal berurusan dengan mu. Aku sudah banyak menghabiskan uang demi Mirna ini. Mungkin aku keterlaluan. Tapi kau kan tau sendiri. Aku juga berada dibawah perintah Marven." Kata Monang.
"Aku rasa tidak apa-apa hanya dengan Mirna ini saja. Toh juga kalian sering kedatangan stok baru." Kata Tigor.
"Sebenarnya apa untungnya bagimu Gor? Kau bisa mendapatkan gadis mana pun yang kau suka. Mengapa harus wanita tak benar seperti ini?" Tanya Monang.
"Dengan ketampanan yang kau miliki, dengan popularitas mu yang meningkat pesan saat ini. Apa lagi jika para gadis di tasik putri ini tau kalau kau adalah anak angkat Martin. Kau tinggal petik jari saja. Perempuan akan antri mendaftar." Kata Monang lagi.
"Lalu apakah kau akan membunuh gadis ini? Sudah lah Monang. kau berfikir terlalu jauh." Bantah Tigor atas perkataan Monang barusan.
"Baik. Aku juga merasa Mirna ini hanya menimbulkan kerugian kepadaku."
"Dua ratus juta Rupiah untuk Mirna. Tidak boleh kurang!" Kata Monang menentukan harga.
"Sebutkan nomor rekening mu!" Pinta Tigor.
"Gila. Maaf Gor. Apakah kau masih waras?" Tanya Monang sambil meletakkan punggung tangannya ke kening Tigor.
"Aku waras. Hanya kelelahan. Buka ponsel mu. Aku akan menScaan kode QR nya." Kata Tigor sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
"Setan. Benar-benar gila." Kata Monang sambil mengeluarkan ponsel nya untuk menyelesaikan proses penerimaan uang dari Tigor.
"Sudah. Dua ratus juta rupiah telah aku pindahkan ke rekening mu." Kata Tigor acuh tak acuh.
"Kau juga Karman. Kau di sini hanya main judi, judi dan judi. Hasil kerja mu habis begitu saja. Aku punya rencana untuk mu." Kata Tigor.
"Apa itu Bang?" Tanya Karman.
"Kau akan tau dalam beberapa hari ini. Sekarang kau naik ke atas dan kemas barang-barang milik Mirna. Aku akan membawanya pulang." Kata Tigor.
Setelah Karman berlalu meninggalkan mereka, Monang yang penasaran mendekati Tigor dan bertanya. "Rencana apa yang kau miliki untuk Karman ini. Sepertinya kau tidak main-main." Tanya Monang.
"Monang! Aku harap kau bisa menjaga rahasia." Bisik Tigor.
"Apakah kau sudah tidak mempercayaiku lagi Gor?" Tanya Monang.
"Terus terang Nang! Aku mencium adanya gelagat penghianatan di tubuh organisasi kita saat ini." Kata Tigor.
"Maksud mu Gor? Siapa penghianat itu?" Tanya Monang.
"Kau pasti tau jika kau jeli melihat keadaan. Orang-orang ini berada dalam lingkaran Martin. Mereka sengaja ingin membuang ku jauh-jauh dari kota Tasik putri ini agar tidak menghalangi niat jahat mereka."
"Maksud mu Beni?" Tanya Monang sambil menggeser duduk nya.
"Aku yakin dia memiliki rencana licik. Kau kan tau sendiri seperti apa kedekatannya dengan Tumpal. Sementara Tumpal saat ini berada di markas besar geng tengkorak di bukit Batu. Coba kau bayangkan betapa berbahaya nya mereka berdua ini bagi organisasi?!" Kata Tigor membuat Monang terpaksa berfikir keras.
"Lalu apa rencana mu dan apa hubungannya dengan Karman?" Tanya Monang.
"Aku akan menempatkan Karman di sisi Martin sebagai mata dan telinga. Aku rasa Martin pasti tidak akan menolak. Karman harus melapor kepadaku setiap hari apa saja yang dia ketahui. Tidak mungkin ketika aku berbeda di kota Kemuning, lalu aku mengetahui perkembangan di tasik putri ini." Kata Tigor.
"Tidak ku sangka kau begitu memperhatikan keselamatan Martin." Kata Monang.
"Kita harus membalas budi. Seekor anjing pun tidak akan menggigit tangan tuan yang memberi dia makan. Apa lagi kita Nang! Kau dan aku di angkat dari kubangan lumpur yang sama. Walau posisi ku lebih menguntungkan. Namun kita tidak boleh lupa darimana kita berasal dan apa imbal budi yang bisa kita berikan kepada orang yang sudah mengangkat derajat kita." Kata Tigor.
"Terus saling membantu agar organisasi ini tetap ada. Jika sudah hancur, tidak ada jalan lagi untuk memperbaiki. Semua komplotan saat ini menginginkan kehancuran kita. Itulah mengapa aku memindahkan adik ku jauh-jauh. Tujuannya supaya aku bisa bebas bergerak. Aku berlagak bodoh karena memikirkan keselamatan adikku. tapi sekarang, aku tidak memiliki beban. Jika Beni macam-macam, penggal saja langsung." Kata Tigor.
"Manusia Gor. Memiliki sejuta akal. Dia tidak akan melakukannya secara terang-terangan. Setidaknya pasti akan ada yang dia umpankan."
"Itulah mengapa aku menginginkan Karman berada di sisi Martin. Dia akan menjadi Agen kita." Kata Tigor.
"Agent Karman. Hahahaha.... Pasti dia akan berkoar-koar dan bangga sekali." Kata Monang sambil tertawa.
"Hahaha. Tapi dia jujur dan setia kawan. Itu yang aku suka dari Karman ini. Biarlah dia dengan ilmu padi nya itu. Yang penting ada gunanya. Di sini juga percuma. Setiap hari dia akan bermain judi lalu kalah. Uang gaji sudah habis sebelum ujung bulan. Mau sampai kapan dia begitu terus." Kata Tigor.
Mereka berdua berhenti berbicara ketika Karman menghampiri mereka dengan memanggul tas besar berisi barang-barang milik Mirna.
"Ini barang-barang milik Mirna, Bang. Semua sudah di sini." Kata Karman.
"Apakah besok kalian ada acara?" Tanya Tigor.
"Tidak. Biasanya aku memilih untuk tidur." Jawab Monang.
"Aku berniat untuk mentraktir kalian besok di restoran mahal Gang kumuh."
"Wah. Aku mau itu. Sumpah mati aku tidak akan menolak." Kata Karman.
"Diam kau! Tidak ada yang mengajak mu untuk ikut." Kata Monang disambut tawa ngakak oleh Tigor.
"Siap Bang. Kami akan tepat waktu besok." Jawab Karman.
"Urusan perut saja bagudung ini cepat tanggap." Kata Monang.
(Bagudung\=Tikus)
"Aku pamit dulu Nang. Sudah ngantuk." Kata Tigor sambil menyalami Monang untuk pamit.
Sebelum dia pamit, dia sempat memberikan sekitar sepuluh lembar uang seratus ribuan yang di gulung-gulung ke tangan Karman.
"Ingat! Ketahuan kau berjudi dengan uang pemberianku itu, jangan harap aku mau memberi lagi." Kata Tigor mengancam Karman.
"Hehehe... Semoga iman ku kuat." Jawab Karman sambil cengengesan.
"Ayo kita pergi!" Ajak Tigor kepada Mirna yang sejak tadi hanya diam saja.
Monang dan Karman mengantar Tigor sampai di depan parkiran restoran Samporna dan baru kembali ke pusat hiburan gemerlap malam ketika mobil yang dikendarai oleh Tigor dan Mirna menghilang di balik tikungan.
Sesampainya di rumah milik Tigor yang terletak di Blok B, Tigor mempersilahkan Mirna untuk masuk ke rumah besar itu.
"Bersihkan dulu dirimu. Setelah itu kau boleh menempati kamar yang di sana itu." Kata Tigor lalu menghenyakkan pantat nya di sofa empuk yang terdapat di ruangan tamu itu.
Mirna tidak membantah. Dia hanya menurut saja lalu segera berjalan mengarah ke kamar mandi.
"Sialan. Kapan aku bisa istirahat? Sudah pukul empat subuh." Kata Tigor mengeluh dalam hatinya.
Ketika Tigor menguap dan tanpa sengaja dia menoleh ke arah kanan. kini dia melihat sesosok tubuh langsing yang berdiri di depan nya, Tigor langsung terperanjat menyaksikan tubuh langsing milik Mirna berdiri dihadapannya tanpa selembar benang pun.
"Gila kau ya? Ngapain kau seperti itu?" Tanya Tigor sambil menutup wajahnya dengan bantal sandaran sofa.
"Kau sudah menghabiskan uang sebanyak 200 juta untuk ku. Apakah kau tidak ingin tubuh ku?" Tanya Mirna dengan nada bergetar.
"Setan kau. Sialan. Bukan itu maksud ku." Kata Tigor menggigil seperti orang ketakutan dengan bantal masih menutupi wajah nya.
"Lalu untuk apa kau menghabiskan banyak uang? Jika tidak ingin sesuatu dari diri ku." Tanya Mirna.
"Pakai pakaian mu kembali. Atau aku akan membunuh mu di sini!" Kata Tigor.
"Baik. Maafkan aku." Kata Mirna segera mengeluarkan pakaian dari dalam tas.
Ada perasaan rendah diri jauh di lubuk hatinya. Entah mengapa dia merasa menjadi bodoh. Jika dia tau akan mendapatkan penolakan, sudah pasti dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi.
"Aku sudah berpakaian." Kata Mirna namun masih tetap berdiri.
Perlahan-lahan Tigor melirik ke arah Mirna sambil terus memegang bantal yang masih menempel di wajah nya.
Ketika dia melihat bahwa Mirna sudah berpakaian lengkap, Tigor pun merasa lega.
Berulang-ulang kali Tigor mengelus dadanya. Bagaimanapun, ini adalah pengalaman pertama baginya melihat seorang wanita berdiri dihadapannya tanpa tertutup selembar benang pun.
Perasaan lucu dengan keluguan Tigor ini mulai menggelitik hati Mirna. Namun dia hanya diam saja. Mungkin karena canggung atau takut melihat bagaimana tadi Tigor mengendalikan keadaan ketika masih berada di pusat hiburan.
"Apa kau tidak lelah berdiri seperti itu?" Tanya Tigor.
"Emm..., emmmm....,"
"Em em em apa?" Tanya Tigor.
"Emm.., anu..."
"Tadi em sekarang anu. Ah pusing aku. Ayo ikuti aku!" Ajak Tigor sambil mengangkat tas milik Mirna.
"Mungkin kamar ini cocok untuk mu. Tempati saja dulu. Belum ada perabotan di rumah ini. Maklum aku sendiri kaget bisa memiliki rumah besar seperti ini. Semoga kau nyaman tinggal di sini."
"Oh ya. Semua kamar, semua ruangan boleh kau masuki kecuali kamar depan itu. Aku tidak mengizinkan siapa pun memasuki kamar itu. Mengerti kan?" Tanya Tigor.
"Mengerti bang." Jawab Mirna.
"Selamat malam dan selamat beristirahat." Kata Tigor sambil membantu Mirna membuka pintu dan membawa tas milik Mirna masuk ke dalam.
"Aku keluar dulu. Cepat Tidur. Besok kita akan mengadakan acara makan di restoran. Aku juga akan mengajak mu jalan-jalan. Sudah lama kan, kau terkurung di sana?" Tanya Tigor.
"Terimakasih bang. Iya. Aku akan istirahat." Kata Mirna.
"Baiklah. Aku pamit dulu." Kata Tigor bergegas keluar dari kamar itu sambil menutup pintu.
"Sialan. Hampir hilang keperjakaan ku." Kata Tigor dalam hati.