
Di waktu yang sama dengan keberangkatan Tigor ke Hongkong, Wulan yang merasa masih tersinggung dengan penolakan Tigor saat ditawari olehnya untuk menjadi pelayan merasakan perubahan pada diri Tigor.
Hal ini semakin diperkuat oleh Tigor sendiri yang terang-terangan pamer uang di depan dirinya ketika berada di rumah Martin.
Merasakan ganjalan dihatinya yang dia sendiri pun tidak tau apa penyebabnya, membuat dia segera keluar dari Dolok ginjang. Tujuannya adalah menemui Debora dan Rini.
Dengan dikawal oleh Sudung dan Roger dari kejauhan, Wulan pun bergerak dari dari Dolok ginjang sekitar pukul 3 sore dan saat yang sama ketika Tigor dan rombongannya tiba di Kampung kuala nipah.
Melihat kedatangan Wulan di klinik tempat dia praktek, Debora yang memang sudah mau tutup praktek untuk hari ini segera menghampiri sahabat lamanya itu sambil tersenyum riang.
"Hey Wulan. Angin apa yang membawamu kemari?" Tanya Debora sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
"Aku kemari naik mobil bukan naik angin!" Jawab Wulan becanda.
"Kau ini. Sama sekali tidak lucu. Kau kemarin datang ke gang kumuh. Namun mengapa kau tidak singgah menemuiku?" Tanya Debora sedikit merajuk.
"Aku kemari kan dengan Ayah ku. Mana berani aku kelayapan. Lagipula aku sedang kesal dengan Tigor ketika itu."
"Kesal dengan Tigor? Memangnya kenapa sampai kesal?" Tanya Debora.
"Dia berubah jauh sekarang. Dia sama sekali tidak menganggap ku lagi. Malam itu, aku sengaja menawarkan dia pekerjaan menjadi pelayan dalam acara perayaan karena Marven dan Beni berhasil merebut kembali ladang bisnis di gang kumuh. Tapi kau tau? Dia malah menolak. Bukan itu saja. Dia membentak dan memarahi aku. Bukankah itu sangat keterlaluan. Dia pikir dirinya itu siapa?" Kata Wulan kesal.
"Sudahlah. Biarkan dia. Tapi memang iya. Kalau di fikir-fikir lagi, Tigor ini memang sangat jauh berubah. Dulu dia sangat suka datang ke klinik ku. Dia juga sering meminta bantuanku ketika ada sahabat nya yang sakit atau sekedar membeli obat. Namun semenjak kejadian di room karaoke malam itu, dia kini seperti membenci ku. Pernah kami berselisihan ketika berjalan di dekat kafe, tapi dia malah membuang muka." Kata Debora mengadukan perubahan sikap Tigor ini.
"Dia sekarang sudah menjadi orang kepercayaan Paman Martin. Mungkin karena itu dia berubah. Dasar kacang lupa pada kulitnya." Kata Wulan.
"Kau marah kepadanya Lan?" Tanya Debora.
"Aku juga tidak tau harus menjawab apa. Bagiku adalah, Tigor harus selalu ada untuk ku dalam keadaan apapun dan dia tidak boleh menolak. Entah perasaan ego apa ini. Tapi yang jelas, aku cemburu ketika dia mengalami perubahan dalam kehidupan nya. Aku ingin dia tetap miskin agar aku bisa terus memiliki alasan untuk selalu dekat dengan dirinya."
"Aneh kau ini Lan. Padahal setelah aku fikir-fikir, Tigor tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepada kita. Dia malah rela dilecehkan hanya demi mengalah kepada kita. Sebenarnya kita yang mencari masalah dengan dia. Wajar kalai dia sakit hati kepada kita." Kata Debora.
"Debora! Mengapa kau malah membela Tigor itu?" Tanya Wulan dengan mendelik.
"Aku ingat ketika dia mengatakan kalau aku ini gadis sampah. Kata-kata seperti itu hanya ada satu orang yang pernah mengucapkannya kepadaku. Kau ingat lelaki bertopeng kucing itu Lan?"
"Ya aku ingat. Sudah berapa kali dia menyelamatkan nyawa ku. Hanya saja, aku tidak tau seperti apa wajah dibalik masker itu." Kata Wulan menjawab pertanyaan Debora.
"Itu lah yang menjadi pertanyaan dalam hatiku. Hanya dia yang berani mengatakan perkataan wanita sampah kepada ku. Bahkan sebanyak dua kali. Dan Tigor ketika malam itu juga mengatakan perkataan yang sama. Aku jadi curiga..."
"Apa maksud mu Debora?"
"Maksudku. Apakah Tigor ini adalah Black Cat."
Deg...!
"Masuk akal juga." Kata Wulan dalam hati.
"Seberapa yakin kau kalau dia itu adalah Black Cat?" Tanya Wulan penasaran.
"Aku juga tidak berani menduga terlalu jauh. Tapi sekuat apa pun lelaki bertopeng itu mengubah suara nya, dari logat dan gaya bahasanya aku yakin kalau itu adalah Tigor." Kata Debora.
"Aku juga begitu Debora. Aku sangat ingat sekali Aroma parfum yang aku belikan untuk Tigor. Dan aroma parfum yang sama juga dapat ku hirup aromanya dari tubuh Black Cat itu. Ini kembali menguatkan dugaanku bahwa Tigor dan Black Cat adalah orang yang sama." Kata Wulan.
"Berarti bukan hanya aku saja yang merasakan kecurigaan itu. Ternyata kau juga sama." Kata Debora.
"Lalu bagaimana?" Tanya Wulan.
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana cara kita untuk membuktikan jika Tigor itu adalah Black Cat?" Tanya Wulan.
"Bosan hidup kau rupanya?" Kata Debora.
"Aku pernah mendengar Irfan mengatakan bahwa ada seseorang dari anggota kucing hitam yang sangat penasaran dengan wajah Black Cat. Kau tau apa kata Black Cat?" Tanya Debora.
"Apa katanya Debor?" Tanya Wulan penasaran.
"Dia bilang, jika wajahnya di lihat oleh orang lain, maka orang itu harus dia bunuh."
"Iiih... Takut aku." Kata Wulan merinding.
"Makanya itu. Kau jangan cari penyakit. Tapi aku juga masih sangsi dengan fikiranku sendiri. Ini karena, antara Tigor dan Black Cat ini sangat bertentangan. Baik itu dari sikap, sifat dan juga tutur bahasa. Tigor cenderung lemah lembut, bicara sopan dan selalu mengalah. Berbeda dengan Black Cat. Aku pernah melihat dengan jelas bahwa lelaki hitam itu mengayunkan pedang nya dan kau tau? Telinga orang yang mengganggu di kafe dekat jembatan itu langsung putus." Kata Debora.
"Itu belum seberapa. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia membantai anak buah geng tengkorak dari kota batu. Tidak ada yang selamat kecuali seorang saja. Itu karena dia memenggal kepala Hasian anak Birong. Satu-satunya yang selamat karena dia menyuruh orang itu untuk mengirim kepala anak Birong itu ke Kota batu." Kata Wulan.
"Ternyata kau lebih ekstrim dari aku."
"Lalu Lan. Bagaimana dengan Tigor?" Tanya Debora.
"Entah lah. Saat ini aku masih sakit hati dengannya. Tapi aku fikir lagi, atas dasar apa aku bisa sakit hati? Kadang pas mau tidur aku selalu berfikir. Mengapa aku sakit hati? Tigor kan tak pernah mencari masalah dengan siapa pun? Tapi dasar hati ini tidak dapat menerima. Aku ingin Tigor selalu menjadi objek yang bisa aku tindas. Gila kan?" Tanya Wulan tersenyum kecut.
"Kalau aku beda lagi. Aku dulu sangat menyukai Tigor ini. Aku bahkan rela setiap pagi mampir ke kafe hanya untuk melihat dirinya. Namun semakin ke sini aku berfikir bahwa Tigor ini tidak memiliki masa depan. Terlebih lagi Irfan muncul dengan segala kelebihannya. Aku semakin angkuh dan sering menghina Tigor. Padahal coba kau perhatikan! Tigor itu kan ganteng?!"
"Dasar kau mata keranjang." Cibir Wulan.
"Jujur saja ya Lan. Andai dulu Tigor itu memiliki pekerjaan tetap. Tidak perlu tinggi. Cukup jadi office boy pun aku akan dengan sangat senang hati menerima cinta nya." Kata Debora.
"Kau akan terkejut Debora. Kau pasti akan menyesal. Kau tau apa mobil yang dibawa oleh Tigor ketika kerumah Paman Martin?" Tanya Wulan.
"Mobil? Tigor punya mobil? Mobil apa Lan?"
"BMW i8!" Jawab Wulan.
Jika Debora tidak memalingkan wajah, sudah pasti Wulan akan melihat bahwa mulut Debora ternganga lebar karena kaget mendengar jawaban Wulan.
"Kau yakin Lan?" Tanya Debora setelah dapat menguasai diri.
"Yakin lah. Paman Martin sendiri yang mengatakan bahwa itu adalah mobil milik Tigor. Tadinya aku mengira bahwa mobil itu dibeli oleh Paman Martin dari Ayah ku untuk Marven. Nyatanya mobil itu adalah hadiah dari nya untuk Tigor karena Tigor menerima ajakannya untuk bergabung dengan organisasi kucing hitam." Jawab Wulan.
"Semakin jauh jarak kita dengan Tigor. Semakin sulit untuk di gapai. Ibarat jauh panggang dari api." Gumam Debora.
"Menyesal kan kau?" Tanya Wulan menggoda sahabatnya itu.
"Sudahlah. Kita jangan membahas masalah Tigor lagi. Aku makin merasa aneh dalam hatiku."
"Oh ya. Kau kemari bukan karena ingin membahas tentang Tigor kan?" Tanya Debora.
"Pastinya ingin bersenang-senang!" Jawab Wulan.
"Ayo lah. Kita kerumah Rini. Dari sana kita langsung ke Dunia gemerlap malam." Kata Debora mengajak.
"Yuk. Apa kau tidak berganti pakaian?"
"Oh iya aku lupa. Kita kerumah ku dulu sebentar."
Kedua sahabat itu langsung menuju mobil masing-masing.
Walau mobil baru milik Debora tidak sebagus milik Wulan, namun untuk ukuran seorang gadis mandiri seperti Debora, itu sudah sangat bagus.
Tak lama setelah itu kedua mobil itu pun bergerak menuju rumah Debora di ikuti oleh satu mobil yang parkir agak jauh.
Itu adalah mobil Sudung dan Roger yang bertugas menjaga Wulan dari gangguan.