BLACK CAT

BLACK CAT
Birong melabrak Marven



Seorang lelaki setengah baya memiliki kulit yang sangat hitam tampak menatap penuh amarah ke arah seorang gadis yang sedang berlutut sambil menangis di lantai Villa besar itu.


Dari raut wajah lelaki itu, tampak seperti ingin menelan gadis itu hidup-hidup. Sedangkan si gadis yang menangis itu tampak tidak mampu mengangkat kepalanya untuk sekedar melirik ke arah lelaki yang sedang naik darah itu.


"Bodoh sekali kau ini Butet. Apakah otak mu sudah tak waras hah?" Bentak lelaki itu sambil akan menampar gadis itu. Namun hal itu urung dia lakukan karena belum lagi tamparan itu hinggap, si gadis sudah menangis duluan.


"Aku akan menemui anak kurang ajar dan biadab itu. Dia tidak tau sedang berurusan dengan siapa."


"Tumpal! Kumpulkan semua anak buah mu! Kita akan berangkat memimpin penyerangan ke kompleks elite. Akan aku cincang-cincang anak haram jadah itu sampai tak berbentuk rupa." Jerit lelaki berkulit hitam ini memberi perintah.


Tak lama kemudian seorang lelaki kurus yang sebaya dengannya yang dipanggil dengan sebutan Tumpal tadi pun menghampiri mereka berdua lalu bertanya. "Ada apa Bang Birong? Aku mendengar kau marah-marah."


"Ini semua gara-gara gadis tolol ini. Kau mencoreng kan tahi babi ke wajah ku ini Butet. Haaaaah....?!"


Plak!


"Aw.."


Tampak Butet terjengkang kebelakang akibat tamparan yang sangat keras itu.


Darah segar kini mulai mengalir di sudut bibirnya yang memucat.


"Sabar bang. Dia adalah keluarga mu satu-satunya yang tersisa. Jika dia mati oleh tangan kasar mu, kau akan sebatang kara bang!"


Tampak Tumpal membantu gadis itu untuk bangkit dan menatap ke arahnya dengan perasaan iba.


Sejahat-jahatnya Tumpal, dia juga punya anak. Oleh karena itu, dia mencoba menasehati Ketua geng tengkorak itu untuk tidak terlalu kasar kepada gadis itu.


"Bagaimana bisa sabar. Wajah ku ini dimana mau ditaruh? Hah? Di mana?" Bentak Birong seperti orang sedeng yang tidak waras.


"Boru Hasian. Coba ceritakan kepada tulang ada apa sebenarnya?" Tanya Tumpal kepada gadis itu dengan lembut.


(Boru Hasian \= Putri kesayangan. Sedangkan Tulang kalau dalam bahasa Batak \= Paman)


"Dia dan Marven sudah melanggar batas." Bentak Birong sebelum sempat Butet menjawab pertanyaan dari Tumpal tadi.


"Apa? Benarkah begitu Boru Hasian?" Tanya Tumpal.


Butet tidak menjawab. Dia hanya mengangguk saja sebagai pembenaran atas pertanyaan Tumpal tadi.


"Bang. Kau harus sabar bang. Ingat! Butet baru saja kehilangan ayah. Diana yatim sekarang bang." Pujuk Tumpal untuk meredakan kemarahan Birong.


"Mau sabar bagaimana lagi? Kau tau seperti apa lelaki memandang wanita yang kehilangan mahkota? Seperti sampah. Bahkan melebihi sampah yang menjijikkan. Kita ini bejat. Sangat bejat. Tapi ketika kau tau istrimu tidak perawan lagi, bagaimana perasaan mu?" Tanya Birong sambil mendekati Butet dan ingin menjambak rambutnya.


Beruntung bagi Butet karena Tumpal segera menghalangi niat Birong ini.


"Bang. Mengapa kau begitu tidak menggunakan akal sehat mu? Masih terlalu dini. Daripada kita membunuh Marven, lebih baik kita nikahkan saja mereka. Dengan begini, kan selesai masalah." Kata Tumpal memberikan jalan keluar bagi masalah yang sedang mereka hadapi ini.


"Huh. Mengapa aku tidak terpikirkan ke arah situ. Hmmm... Apa kau kira Marven ini akan bertanggung jawab?" Tanya Birong.


"Mereka kan melakukannya atas dasar suka sama suka. Mengapa tidak?" Jawab Tumpal.


Mendengar perkataan Tumpal yang mengatakan suka sama suka, Butet ingin membantah dan ingin mengatakan bahwa dia sebenarnya ditiduri karena dicekoki obat.


Namun untuk menjelaskan seperti itu, dia tidak berani. Baru saja dia mengatakan kepada Birong bahwa Marven telah menidurinya, Birong sudah kalap dan menghujaninya dengan tamparan tanpa mau bertanya apa dan karena apa.


"Benar juga kata mu itu. Namun, anak haram itu harus merasakan bogem mentah ku ini terlebih dahulu sebagai pelampiasan kemarahan ku." Kata Birong.


"Butet! Kau jangan kemana-mana. Tetap di sini sampai aku kembali. Jangan bertindak bodoh yang menyebabkan aku mencabut nyawamu itu. Mengerti?" Tanya Birong dengan nada membentak.


Butet hanya mengangguk saja sebagai tanda jawaban dari perkataan Birong tadi.


"Mari Tumpal. Ajak beberapa pengawal!" Kata Birong sambil membuka laci mejanya dan mengeluarkan senjata api kemudian menyelipkan di pinggang nya.


*********


Selama kurang lebih empat jam, akhirnya rombongan Birong, Tumpal dan yang lainnya tiba juga di kompleks elite Tasik Putri.


Terhitung ada enam unit mobil mengiringi mobil yang dikendarai oleh Birong dan Tumpal itu.


Sambil menyembunyikan senyum dan berpura-pura ketakutan, dia lalu menghampiri Marven yang sedang bermalas-malasan setengah berbaring di kursi dekat kolam renang.


"Celaka Bos. Celaka." Kata Carmen sambil menghampiri Marven.


"Hei. Bicara perlahan! Apanya yang celaka?" Tanya Marven sambil menaikkan kacamata hitam nya ke atas.


"Birong Bos. Dia datang bersama Tumpal Kemari." Jawab Mr.Carmen.


"Ah apa yang perlu ditakutkan? Paling-paling dia mau keponakan nya di lamar." Kata Marven dengan santai.


"Kemungkinan seperti itu. Tapi..,"


"Ah sudahlah! Ayo kita temui mereka!" Kata Marven bergegas memakai pakaiannya lalu melangkah menuju ke ruangan tengah.


Tepat disaat itu, Birong pun sudah tiba di depan pintu dan tanpa ba bi bu lagi langsung mengirimkan bogem mentah nya yang tepat hinggap dengan sangat manis ke perut Marven.


Bugh!


"Akh..."


"Sakit? Ha. Sakit ya? Bangsat kurang ajar seperti mu ini harus di beri pelajaran." Kata Birong lalu..,


Bugh.!


Plak.


"Uhuk..."


"Cukup Paman. Kau bertamu ke rumah ku apakah hanya untuk memukuli ku?" Tanya Marven.


Ribut-ribut itu kini menarik perhatian seorang wanita setengah baya yang baru saja turun dari lantai dua.


Melihat hal yang sedang terjadi itu, wanita setengah baya itu pun langsung bertanya kepada mereka semua.


"Ada apa ribut-ribut ini?"


"Hei. Bukankah kau adalah Birong?" Tanya Wanita itu.


"Venia. Begini caramu mendidik anak?" Bentak Birong.


"Apa maksudmu Birong? Duduk lah dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik." Pinta wanita setengah baya itu.


"Jika tidak memandang wajah mu, sudah ku dor kepala anak mu ini." Kata Birong lalu segera menghempaskan pantatnya di sofa yang terdapat di ruangan tengah itu.


"Katakan ada apa Birong. Kau bahkan bersama Tumpal datang kemari. Masih punya muka juga kau Tumpal?" Tanya Wanita itu dengan sorot mata tajam.


"Venia. Antara aku dan kau sama-sama ular dan sama-sama brengsek. Jadi, tidak perlu sok suci. Aku tau siapa dirimu dan dari mana kau berasal serta apa hubungan mu dengan Beni." Kata Tumpal sambil tersenyum sinis.


"Sudah sudah sudah! Jangan mengalihkan topik! Aku kemari untuk meminta pertanggung jawaban dari putra mu yang telah meniduri putri ku si Butet. Apa jawab mu?" Tanya Birong dengan kesal.


Mendengar pernyataan dari Birong ini, Venia langsung menatap ke arah Marven yang mulai meluruskan tubuhnya akibat menahan rasa sakit karena pukulan tinju Birong tadi yang hinggap di perut nya.


"Kau Marven. Bajingan kau!" Kata Venia langsung bangun berdiri lalu melayangkan tamparan ke arah pipi Marven.


Sebelum tamparan itu hinggap, Marven segera menangkap pergelangan tangan wanita setengah baya itu.


"Mengapa Bu? Apakah ibu juga ingin memukul ku? Ibu jangan merasa bersih Bu. Ingat dulu apa yang ibu lakukan di masa muda sehingga aku bisa lahir?" Kata Marven sambil menghempaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Venia dengan kasar.


Lalu dia melanjutkan. "Atau ibu kaget dengan langkah yang aku ambil ini?" Tanya Marven dengan senyum mengejek.


"Kau?!"


Venia tampak sangat gusar dengan tanggapan dari Marven ini.


Dia tidak menyangka bahwa Marven berani berkata seperti itu kepadanya.


Bersambung