
Seorang lelaki setengah baya tampak sedang berjalan dengan langkah kaki panjang menuju ke dalam sebuah Villa mewah terletak di bukit batu.
Lelaki yang di kenal dengan nama Tumpal, yaitu mantan anggota geng kucing hitam dari tasik Putri tampak sedang terburu-buru.
Begitu dia tiba di ruangan besar Villa milik ketua geng tengkorak itu, dia segera disambut dengan pertanyaan oleh Togar.
"Apakah kau mendapat berita, Tumpal?" Tanya Togar.
"Benar Bang Togar. Beni telah menelepon ku tadi." Jawab Tumpal.
"Katakan apa saja yang dikatakan oleh Beni!" Perintah seorang lelaki besar dan hitam yang sedang duduk di sofa.
"Ternyata benar dugaan kita, bang. Bahwa pelaku dari semua kejadian di bangunan tua itu adalah pekerjaan dari anak buah Martin." Kata Tumpal melaporkan.
Praaak....!
"Kurang asam betul si Martin ini. Punya nyawa cadangan rupanya dia?" Bentak Birong sambil memukul meja dengan tangan besar nya.
"Katakan! Siapa yang dia kirim untuk melakukan kekacauan yang menyebabkan puluhan anak buah ku menjadi korban." Kata Birong lagi setengah berteriak.
"Tigor dan Black Cat Bang. Semua ini atas perintah dari Tigor. Ternyata sebelum transaksi itu di mulai, Tigor ini sudah mengirim ratusan anak buah nya untuk mencari informasi dan mencari tau di mana Acun akan melakukan transaksi. Setelah menguasai seluk beluk tempat yang akan dijadikan tempat transaksi itu di gelar, mereka sudah menumpuk ratusan anak buah nya lalu membuat jebakan untuk anak buah kita yang mengejar sampai ke perkebunan karet." Jawab Tumpal.
"Apakah kau yakin dengan laporan dari Beni itu?" Tanya Birong.
"Aku percaya bang. Beni juga mengatakan bahwa Tigor ketika malam kejadian itu telah datang berkunjung ke rumah Martin sambil membawa lima buah koper yang semuanya berisi uang jutaan Dollar Amerika."
"Sialan betul si Tigor ini. Anak kemarin sore berani mencari masalah dengan ku. Aku pasti akan membalas."
"Togar! Siapkan anak buah kita. Kita akan berangkat untuk menyerbu kota Tasik putri." Kata Birong lagi.
"Sabar bang. Jangan terbawa emosi. Boleh saja emosi, tapi lihat dulu keadaan kita! Saat ini kelompok kita sedang terluka. Kita telah kehilangan banyak pengikut. Jika kita berangkat untuk menyerang geng kucing hitam, kita pasti akan kalah dan dapat dipukul mundur. Apakah menurut abang, itu tidak memalukan?" Kata Togar.
"Setan alas betul Martin ini. Apakah menurut mu kita sudah terlalu lemah untuk menghadapi mereka?" Tanya Birong.
"Kita masih cukup kuat bang. Tapi mereka akan di untungkan dari berbagai segi. Pertama, kita datang ke sarang mereka. Kedua, Tigor pasti sudah memikirkan semua ini dan mempersiapkan rencana untuk memukul mundur jika ada serangan yang datang. Ketiga, ini yang paling aku khawatirkan. Andai kita kalah, maka sangat susah untuk memukihkan keadaan."
"Coba abang fikir. Atas kejadian ini, saat ini saja sudah ada beberapa kelompok organisasi membatalkan perjanjian kerja sama dengan kita. Gara-gara mulut Mr.Chan, semua pelanggan kita sudah kabur. Kita harus mengembalikan kepercayaan dunia mafia bang! Jika tidak, kelompok kita ini akan hidup segan mati tak mau." Kata Togar panjang lebar.
"Yang dikatakan oleh Togar itu semuanya benar bang. Saat ini hanya rencana yang bisa kita lakukan." Kata Tumpal.
"Rencana apa maksud mu? Apa lagi yang bisa kita lakukan?"
"Bang. Saat ini kekuatan Martin memang sedang meningkat pesat. Namun abang jangan khawatir. Beni memiliki rencana. Menurutnya, dia akan mengadu domba antara Tigor dan Marven. Dengan begini, setidaknya akan ada pertengkaran di tubuh organisasi mereka. Kita juga harus membantu supaya rencana Beni ini bisa sukses." Kata Tumpal.
"Togar. Bukankah si Marven anak Martin itu adalah mata keranjang? Pergunakan putri mu si Butet untuk menjebak Marven ini." Kata Birong.
"Benar juga kata abang. Tapi dia kan masih kuliah di Singapore?! Macam mana pulak aku bisa meminta bantuan dari dia." Jawab Togar.
"Coba kau telepon dulu lah si Butet itu. Kalau dia setuju, kita pindahkan saja dia kuliah di tasik putri." Kata Birong.
"Iya lah bang. aku telepon lah dulu boru hasian ku itu. Manalah awak tau. Entah bisa nya dia kita harapkan untuk menjerumuskan si Marven buaya darat itu." Kata Togar sambil mengeluarkan ponsel nya.
Begitu panggilan itu terhubung, kini terdengar suara manja dari seberang sana menyapa.
"Hallo Ayah. Tumben menelepon."
"Alah kau ini Butet. Tak boleh rupanya ayah kau ini menelepon?" Tanya Togar.
"Setiap ayah menelepon, pasti ada maunya. Biasanya awak yang menelepon ayah. Kalau ayah yang menelepon awak, bilang aja ayah mau apa?!" Kata gadis yang di panggil butet oleh Togar itu.
"Butet. Ayah ada satu pekerjaan untuk kau. Sekarang ini bapak tua mu menghadapi musuh yang sangat tangguh. Umur nya sama dengan umur kau. Tapi dia ini macam tak punya rasa takut. Sudah banyak anak buah bapak tua kau di bunuh oleh orang ini."
"Oh begitu. Sebelumnya awak mau nanya. Apakah orang nya genteng?"
"Bodat betul anak nih. Bukan sama orang itu. Tapi sama Marven. Kenal nya kau itu sama Marven anak si Martin? Dulu waktu kecil kan kalian sering main bersama. Target mu si Marven ini. Kalau dia bisa kau genggam, maka kita bisa mengaduk-aduk internal organisasi mereka." Kata Togar.
"Marven? Kenal! Aku kenal Marven ini. Tak susah sama bajingan itu. Jadi macam mana kuliah awak di sini? Nanti terbengkalai kuliah awak gara-gara membantu bapak tua. Ayah tanya dulu sama bapak tua. Macam mana kuliah awak."
"Sini ponsel mu itu Togar!" Pinta Birong.
Begitu Togar menyerahkan ponselnya kepada Birong, Birong pun langsung berkata. "Anak gadis kesayangan bapak tua. Masalah kuliah kau tidak perlu risau. Biar bapak tua yang mengurus semuanya. Nanti kau bisa melanjutkan kuliah mu di kota Tasik putri." Kata Birong.
"Betul bapak tua? Ok lah. Kalau begitu aku meminta bapak tua memenuhi permintaan ku."
"Apa? Banyak kali maunya anak ini." Kata Birong.
"Awak mau mobil baru. Yang mahal. Pokoknya awak mau tampil bergaya. Serba mewah. Kalau bapak tua tidak mau ngasih, awak pun malas lah menuruti kemauan bapak tua." Kata Butet.
"He anak begu ganjang! Sejak kapan bapak tua pelit sama kau. Bapak tua tidak pernah membedakan antara kau dan Hasian. Tapi sayang Hasian sudah meninggal oleh musuh bapak tua. Musuh yang sama yang membuat bapak tua terus mengalami kerugian. Apa kau tak mau membantu bapak tua mu ini hah?"
"Berarti musuh yang sama? Kalau begitu cepat lah urus kepindahan ku ini. Semakin cepat semakin baik. Biar lekas awak sampai ke kota Batu."
"Besok! Besok bapak tua dan Ayah mu akan berangkat ke Singapore. Kau tunggu saja lah. Mungkin paling lama seminggu lah itu proses pindah universitas. Setelah itu, kau baru bisa melanjutkan kuliah mu di sini." Kata Birong.
"Lama kali lah seminggu. Uang bapak tua kan banyak. Kasih saja pelicin biar cepat segala urusan."
"Diam lah kau. Kok ngatur pulak kau sama orang tua." Kata Birong sambil tersenyum.
"Iya lah iya. Yang muda ngalah." Kata Butet.
"Dah lah. Bapak tua lagi pening ini. Kau tunggu saja kabar dari kami. Mungkin besok kami sudah sampai di Singapore." Kata Birong sambil mengakhiri panggilan.
"Mau dia bang?" Tanya Togar setelah Birong selesai dan mengembalikan ponsel kepada dirinya.
"Mau dia. Aku yakin dia ingin membalaskan kematian Hasian. Makanya dia setuju."
"Bagus lah. Sekarang mari kita rundingkan rencana selanjutnya. Kali ini kita pastikan mereka akan hancur. Bukan dengan kekuatan kita. Tetapi kekuatan mereka kita lagakan." Kata Togar dengan senyum penuh kebusukan.