BLACK CAT

BLACK CAT
Tewasnya Bedul



Setelah Tigor turun dari mobil dan menghilang di balik gang rumah warga, Martin segera memerintahkan kepada sopir untuk bergerak perlahan menuju halaman kafe.


Ketika mereka tiba di depan halaman kafe tersebut, keadaan di dalam kafe itu sudah sangat berantakan walaupun dari luar kelihatan sangat tenang.


Sementara itu di bagian dalam, Tampak lelaki bertubuh besar sedang duduk di kursi Vip sambil mengisap cerutu dengan kaki di atas meja.


Tampak juga di kiri dan kanan lelaki itu beberapa gadis pelayan kafe dan seorang lelaki berperut buncit dan kepala sedikit botak sedang berdiri dengan kaki gemetar katakutan.


Di sekeliling mereka tampak sekitar 20 orang lelaki bersenjata kayu dan bat stick sedang tertawa terbahak-bahak.


"Manager. Katamu Boss besar mu akan datang tidak lama lagi. Tapi mengapa sudah 20 menit dia tidak juga tiba?" Tanya lelaki itu sambil melemparkan puntung cerutu ke arah kepala lelaki setengah baya yang disebut sebagai Manager itu.


"Ma.., ma.., mana aku tau Bang Bedul. Tadi katanya dia akan segera tiba." Jawab lelaki buncit itu ketakutan.


Plaak...!


"Sialan kau. Aku beri waktu sampai sepuluh menit lagi. Jika dia tidak datang, maka aku akan membakar kafe ini dan membiarkan kalian menjadi manusia panggang didalam kafe ini. Mengerti kalian?" Kata lelaki bernama Bedul itu menggertak.


"Am.. Ampuni kami bang Bedul. Kami hanya pekerja saja. Kami tidak tau apa-apa dengan urusan orang-orang besar. Kami di sini hanya bekerja untuk menafkahi keluarga. Tolong jangan sakiti kami." Kata salah seorang dari pelayan kafe itu.


Bugh....!


"Kurang ajar kali kau. Siapa yang menyuruh muncung kau itu becakap hah? Aku tidak perduli kau mau menafkahi siapa. Jika Boss mu tak datang, kau akan ku jadikan daging panggang." Kata Bedul.


Mendengar perkataan Bedul yang penuh ancaman ini, mereka semua menjadi semakin ketakutan dan ada beberapa orang kini mulai kencing di dalam celana.


"Ampuni kami Bang Bedul...! Ampuni kami." Ratap mereka. Kini mereka merasakan bahwa nyawa mereka benar-benar sudah di tenggorokan.


Saat ini ponsel Bedul berbunyi menandakan pesan telah masuk.


Dengan cekatan, Bedul langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan masuk yang ternyata adalah pesan suara itu.


"Bedul. Saat ini Martin sudah berada di luar kafe."


"Hmmm, penghianat ini ternyata benar-benar tidak main-main."


"Tumpal. Dari mana kau tau Martin ada di luar?" Tanya Bedul dan langsung mengirim balasan pesan tersebut.


"Pak Tumpal?"


"Aih si Tumpal."


"Apakah Tumpal hamonangan tangan kanan Boss kita?"


"Diaaam...! Bising kali kalian ini bah. Ku jait nanti mulut kalian itu."


"Apa rupanya? Iya. Orang itu memang Tumpal hamonangan tangan kanan Martin. Dia sudah berpihak kepada geng tengkorak karena geng milik Martin sudah tidak ada kekuatan lagi. Geng kucing hitam kalian sudah lama mati suri. Kini saatnya kami menguasai seluruh kabupaten tasik putri ini. Tak senang kau hah?" Bentak Bedul.


"Kalian lihat ke luar! Apakah mobil Martin ada di luar." Kata Bedul memerintahkan kepada anak buahnya.


Tak lama setelah itu beberapa orang kini mulai melihat ke arah luar. Setelah itu mereka memberi laporan. "Bang. Di luar ada mobil BMW Hitam sedang bergerak perlahan menuju kearah halaman kafe." Kata anak buah Bedul itu melaporkan.


"Hah... Bedebus...! Punya nyali juga induk kucing korengan itu rupanya."


"Siapkan alat kalian. Hancurkan mobil itu!" Kata Bedul memberi perintah. Namun belum lagi hilang gema perintah itu, tiba-tiba...,


Bam...!


"Hah...! Lampu mati."


"Gelap sekali woy."


"Kurang ajar. Siapa yang berani main-main dengan Bedul haaa?" Teriak Bedul sambil berdiri dari kursinya dan menyalakan korek api untuk memberikan cahaya kepada anak buahnya yang mencari-cari switch untuk menyalakan lampu.


Sreeeeet....!


Sriiiiing....!"


"Heh... Apa itu?"


Wuzzz....!


Bet..?!


"Argkh......"


Wuzz....!?


Tampak beberapa orang kini bertumbangan sambil memegangi leher masing-masing yang kini sudah bersimbah darah.


Bedul yang tadi menyalakan korek api hanya sempat melihat bayangan hitam dan kilatan cahaya keperakan sambar menyambar yang kini mengakibatkan hampir separuh dari anak buahnya telah tergeletak jadi mayat dengan luka menganga bekas tebasan senjata yang sangat tajam.


"Siapa..? Hah.. Siapa? Kalau berani jangan main sembunyi seperti pengecut. Ni Bedul. Lawan lah secara jantan." Kata Bedul sambil memutar pandangan ke kanan dan ke kiri.


Sebagai jawaban terhadap tantangan dari Bedul ini, tiba-tiba bayangan hitam itu kini melompat keluar dari persembunyiannya dan mulai kembali menebaskan benda tajam ke arah anak buah Bedul yang tersisa.


Sreeek....!


Wuzzzz...!


"Bang Bedul... Argh....!"


"Setaaaaan....! Keluar kau!' Teriak bedul dengan marah. "Jika kau jantan, hadapi aku. Jangan beraninya seperti pengecut."


"Hahahaha... Kau berbicara layaknya seperti seorang ksatria, Bedul. Kau itu tidak ubah seperti kotoran yang berbau. Nafas dan kentut mu sama-sama bau."


"Manager..! Nyalakan lampu! Biar bangsat satu ini tidak mati penasaran."


Terdengar suara tawa penuh ejekan di susul dengan kata-kata mengandung perintah membuat sang Manager kafe bergegas mencari tombol untuk menyalakan lampu.


Tidak lama kemudian berkat usaha dari sang manager, lampu di ruangan itu akhirnya hidup kembali dan kini suasana kembali terang benderang.


Setelah membiasakan diri dengan suasana terang itu, kini di hadapannya Bedul melihat sesosok tubuh kekar memakai pakaian serba hitam dengan wajah di tutupi oleh topeng kucing berwarna hitam berdiri tegak bagai batu karang dengan pedang tipis yang sangat lentur berada dalam gengaman tangan.


"Black Cat." Kata Bedul dalam hati.


"Puiih..! Ternyata bangsat ini. Sudah lama aku mencari mu Black Cat. Kali ini jangan harap kau bisa lolos dari tangan ku." Kata Bedul dengan sangat sombong.


"Begitu? Dengan apa kau ingin meringkus ku? Lihat di sekeliling mu! Apakah dengan mayat-mayat itu?" Tanya lelaki yang mengenakan topeng kucing hitam itu.


"Hah..?" Tanpa sengaja Bedul bergumam seolah tidak percaya melihat semua anak buah yang dia bawa dari kota batu telah bergelimpangan mandi darah dengan bekas luka terdapat di beberapa bagian tubuh yang mematikan.


"Jahanam kau Black Cat. Pengecut kau. Berani nya hanya bermain kucing-kucingan. Mengapa kau tidak muncul secara jantan? Hah...?" Bentak Bedul.


"Hahaha... Secara jantan katamu. Aku tanya kepada mu satu hal Bedul. Sekitar delapan tahun yang lalu. Bagaimana cara mu membantai keluarga Kapten Bonar? Kau dan beberapa orang sahabat mu telah membantai seorang pegawai kepolisian yang jujur dengan cara yang sangat pengecut. Apa kau ingat bagaimana caramu membunuh Kapten polisi itu, Bedul?"


"Heh.. Apa hubungan mu dengan Kapten Bonar?" Tanya Bedul yang mulai menggeser kakinya kebelakang.


"Ketahuilah Bedul. Aku beritahu agar kau tidak mati penasaran. Aku adalah anak lelaki dari Kapten Bonar yang kalian bunuh sekitar delapan tahun yang lalu. Kini aku akan menuntut balas. Persiapkan dirimu!" Kata Black Cat sambil menatap tanpa berkedip kearah Bedul.


"Ampuni aku. Ya aku mengaku bersalah. Ampuni aku Black Cat." Kata Bedul.


Mulut nya berkata ampun. Namun tangannya kini mulai bergerak cepat ke arah pinggang.


"Mati kau bangsaaaat.....!" Kata Bedul sambil menodongkan pistol ke arah Black Cat.


Sreeeet...!


Wuzzzz.....


Bet...!


"Arrrgggh.... Tangan ku...!"


Belum sempat Bedul menarik pelatuk, tiba-tiba satu cahaya keperakan berdesir membawa hawa dingin memapas pergelanga tangan bedul hingga putus.


"Tidak akan ada yang bisa lolos dari Black Cat. Tidak akan ada yang bisa lolos dari dendam ku. Tidak satupun...!"


Craaassss....!


"Ugh... Arrrggh...."


Brugh...!


Terdengar suara bergedebug jatuh menimpa lantai kafe tersebut di ikuti muncratan darah dari leher dengan kepala terpisah dari tubuh.


Dengan geram Black Cat menendang kepala itu sampai menyusup di bawah kolong meja lalu dia pun keluar berjalan menghampiri mobil BMW hitam yang sejak tadi terparkir di luar.


"Aku sudah menyelesaikan tugas ku. Tugas kalian adalah bersih-bersih."


"Oh ya, ada satu hal lagi. Ini adalah ulah dari Tumpal hamonangan. Orang kepercayaan mu. Jika kau mau bukti, bukti itu ada di ponsel milik Bedul."


Setelah berbicara seperti itu, Black Cat pun langsung berlari dan melompat di antara tembok pagar rumah warga lalu hilang di balik kegelapan malam.