BLACK CAT

BLACK CAT
Mengacaukan kota Batu



malam itu bermacam jenis kendaraan melaju meninggalkan kota Tasik putri menuju kota batu.


Seperti yang telah direncanakan oleh Tigor, Andra, Timbul, Ameng dan Acong, bahwa malam ini tepat pukul satu dini hari, mereka harus membuat kekacauan di Kota batu untuk menarik perhatian geng tengkorak agar berhenti mencari tau tentang identitas Tigor terutama adiknya yang bernama Rio.


Walaupun ini hanya bersifat sementara, namun sekecil-kecilnya peluang itu benar-benar sangat berharga bagi pak Harianja untuk membawa Rio memasuki kota Batu.


Dengan kekacauan yang akan mereka timbulkan, otomatis Birong akan menarik seluruh anggota geng tengkorak yang terpencar dan akan melakukan pengejaran terhadap para pengacau. Hal ini sudah di perkirakan oleh Tigor bersama ke empat bawahannya.


Saat itu tepat pukul 11 malam, anggota Geng kucing rekrutan Tigor sudah tiba di pusat kota Batu dan mulai menyebar ke titik-titik yang sudah ditetapkan oleh Tigor.


"Ndro. Aku pergi dulu. Ingat untuk menahan diri sebelum pukul satu dini hari nanti." Kata Ameng berpesan sebelum pergi.


"Ok. Kalian juga ya! Begitu pukul satu, segera lakukan keributan!" Kata Andra.


"Sip. Aku tidak akan membawa ramai untuk membuat kekacauan. Cukup sepuluh orang saja. Sisanya aku siagakan di tempat-tempat tersembunyi. Jika terjadi pengejaran, mereka akan menghalangi dengan melemparkan bom molotov rakitan kita. Hahaha. Kita panggang mereka." Kata Acong pula.


"Andai tidak bisa menyelesaikan dua titik, jangan dipaksakan. Kembali ke niat awal kita. Bahwa kita hanya ingin mengalihkan perhatian. Ketika sudah terdesak, segera lari ke perbatasan kota Kemuning." Kata Andra berpesan.


"Saat ini aku juga tidak tau apakah Black Cat sudah berada di antara kita atau belum. Jika dia belum datang, maka sia-sia saja kita lari ke perbatasan." Kata Timbul.


"Kalau begitu begini saja. Setiap di antara kita ambil lima belas orang. Suruh mereka lebih dulu ke perbatasan kota Kemuning. Nanti jika terjadi sesuatu kepada kita, atau kita di kejar sampai ke perbatasan, mereka yang telah menunggu di sana harus menyongsong para pengejar. Jadi, andai Black Cat belum tiba, kita telah membantai mereka terlebih dahulu. Ya hitung-hitung menghemat tenaga." Kata Andra.


"Idea bagus juga tuh. Terlalu ramai juga susah melarikan diri."


"Kawan-kawan. Mari berangkat. Setelah tiba di tempat sasaran, lima belas orang diantara kalian segera berangkat ke perbatasan!" Kata Acong.


Ameng, Timbul juga berkata seperti yang dikatakan oleh Acong tadi. Sementara Andra yang memang memiliki target yang lebih dekat, segera memerintahkan kepada lima belas orang anak buahnya untuk berangkat duluan ke perbatasan.


"Ayo kalian susul anak buah Andra!" Kata Ameng.


"Ok. Jangan terlalu lama kalian di sini. Segera berpencar. Nanti akan menimbulkan kecurigaan." Kata Andra.


"Sip. Kami gerak dulu. Ingat untuk saling berkomunikasi!" Kata Timbul.


Mereka lalu bersalaman dan mulai berpencar menuju titik sasaran masing-masing.


********


Pukul sebelas malam.


Seorang pemuda tampak mengendap-endap antara pohon-pohon jambangan di depan rumah milik warga sambil memperhatikan ke satu arah yaitu rumah kontrakan pak Harianja.


Sejak tadi tampak dia bergantian melirik kearah jam tangannya dan kemudian kembali fokus ke arah rumah pak Harianja.


Pemuda bernama Tigor itu terus saja berlindung di balik pohon bunga kenanga.


"Sudah jam 11 malam. Aku rasa pasti mereka sudah tiba di kota Batu. Hmmm.., aku harus segera meninggalkan tempat ini agar bisa sampai tepat waktu." Kata Pemuda itu dalam hati.


Begitu pemuda itu memasuki mobil, dia segera melepaskan pakaian luarnya dan kita yang ada hanya pakaian ketat serba hitam. Dia juga memakai sarung tangan hitam sebelum menyalakan mesin kendaraan sport tersebut.


Setelah semuanya beres, dia kemudian menekan gas secara perlahan dan ban mobil itu pun menggelinding secara perlahan dengan mengeluarkan suara yang tidak berisik.


Mobil yang dikendarai oleh Tigor terus bergerak perlahan menuju ke jalan raya.


Setelah sampai di jalan raya, barulah mobil itu melesat kencang seperti dikejar setan meninggalkan kawasan rumah kontrakan pak Harianja itu.


Tepat pukul 2 dini hari, mobil yang di kendarai oleh Tigor tiba di pusat kota Batu.


Dia sengaja memperlambat laju kendaraan nya dan memperhatikan ke arah club malam yang sepertinya terbakar. Meskipun api sudah padam, namun masih terlihat petugas pemadam kebakaran berada di area pusat hiburan malam itu. Beberapa polisi juga tampak sedang sibuk menjawab pertanyaan dari wartawan.


"Andra telah menyelesaikan satu pekerjaannya." Kata Tigor bergumam.


"Hmm.., tinggal sejam lagi. Aku harus cepat-cepat sampai di perbatasan."


Dia lansung melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mencapai perbatasan tepat waktu. Karena sesuai rencana, tepat pukul tiga subuh, seluruh anak buahnya harus sudah tiba di sana untuk menunggu geng tengkorak yang akan melakukan pengejaran.


Hampir pukul 3 subuh, empat pusat hiburan lagi terbakar di kota batu dan kali ini anak buah Tigor terang-terangan menampakkan diri dan memukuli petugas keamanan sampai babak belur sebelum mereka melarikan diri menggunakan sepeda motor Yamaha RX king.


Malam itu ada total delapan pusat hiburan kota batu yang mengalami kerusakan berat akibat serangan dari orang yang tidak di kenal.


Hal ini tidak biasa. Siapa yang berani menjadi pengacau di kota Batu? Kota yang terkenal dikuasai oleh organisasi geng tengkorak.


Tak pernah terjadi sebelumnya kekacauan seperti ini. Baru kali ini ada yang berani.


Selama ini kota Batu aman-aman saja. Hal ini yang membuat Birong tidak terlalu memperketat keamanan. Karena bagi orang-orang kota Batu, cukup tempel nama Birong saja di depan pintu masuk, orang sudah akan ketakutan. Namun kali ini berbeda. Sepertinya Birong mendapatkan lawan yang tidak punya urat takut.


Laporan demi laporan yang diterima oleh Birong membuat lelaki besar berkulit hitam itu segera memerintahkan kepada Bongsor untuk mengejar pelaku dan memerintahkan Prengki untuk mengumpulkan seluruh anggota Geng tengkorak yang tersebar untuk memperkuat pertahanan mereka di kota Batu.


"Menurut laporan yang aku terima, para pengacau ity melarikan diri ke Kota Kemuning. Kau Bongsor! Segera bawa anak buah mu dan kejar mereka. Aku menginginkan darah mereka untuk memadamkan bara api dalam dadaku ini." Kata Birong.


"Baik Ketua. Aku akan segera pergi mengejar mereka." Kata Bongsor lalu bergegas keluar.


Sebentar saja dia berdiri, kini entah dari arah mana saja telah berkumpul sekitar lima puluh orang lelaki berbadan tegap dan mereka langsung mengikuti Bongsor untuk melakukan pengejaran.


"Siapa.sebenarnya mereka ini? Berani betul mencari penyakit dengan mengusik Kota Batu tempat raja Mafia di provinsi ini bercokol." Kata Birong.


"Entah lah bang. apa mungkin ini pekerjaan geng kucing?" Kata Togar.


"Apa berani si Martin itu mencari masalah dengan ku? Dia tidak akan memiliki keberanian itu." Kata Birong.


"Martin memang tidak berani Bang. Tapi Tigor? Dia sepertinya tidak perduli dengan siapa pun. Aku malah curiga bahwa ini pasti kerjaannya dia." Kata Togar.


"Biarkan Bongsor melakukan pengejaran. Kita akan tau setelah dia kembali. Hahaha berani bermain-main dengan Birong, ke lubang semut pun aku kejar." Kata Birong sambil tertawa untuk menyembunyikan kegundahan hatinya.