BLACK CAT

BLACK CAT
Beni ketakutan



Menjelang malam, di salah satu rumah di kawasan pinggiran komplek elit Tasik putri, tampak Beni sedang ketakutan ketika baru saja dia kembali ke rumah, sudah di suguhi oleh salah satu pengawal penjaga rumah itu dengan sebuah sapu tangan bernoda darah diiringi dengan pesan-pesan yang di katakan oleh Black Cat kepadanya.


Saat itu beni yang baru saja keluar dari mobil nya dengan ketakutan langsung memasuki lagi mobilnya itu dan bergegas pergi lagi mengarah ke rumah Strongkeng.


Saat itu Strongkeng yang sedang menonton acara televisi dikejutkan dengan suara deru mesin kendaraan yang langsung saja berhenti di tengah-tengah halaman rumah dua lantai miliknya itu.


"Mati aku Strongkeng. Mati aku."


Terdengar suara Beni yang ketakutan dan langsung memasuki rumah sahabatnya itu.


"Ada apa bang Beni? Siapa yang mati?" Tanya Strongkeng heran.


"Black Cat. Dia mau membunuh ku."


"Ha...? Black Cat? Di mana kau bertemu dengannya?"


"Air. Berikan aku air putih. Aku haus. Mati aku. Mati aku." Kata Beni sambil terduduk di sofa ruangan tamu rumah Strongkeng itu.


"Ini bang Beni. Minum dulu!" Kata Istri Strongkeng sambil menyodorkan gelas berisi air mineral kepada Beni.


"Coba kau ceritakan pelan-pelan sama aku bang. Ada apa sebenarnya. Aku tengok masih hidup nya kau ini. Lalu siapa yang kau katakan mati?"


"Black Cat. Tadi siang dia datang ke rumah ku. Dia memberikan ini." Kata Beni sambil menyerahkan sapu tangan bernoda darah kepada Strongkeng.


"Bah! Gawat kita kalau begini bang." Kata Strongkeng lalu bertanya. "Apa pesan dia sama pengawal kau bang?"


"Panjang lebar pesan dia. Intinya dia bilang kalau aku jangan terlalu main kasar."


"Kalau hanya begitu, berarti tak ada maksud dia mau membunuh kau bang. Masih aman nyawa kau."


"Siapa yang bisa menjamin? Dia itu entah jin entah setan. Bisa saja dia berubah pikiran."


"Lalu bagaimana sekarang bang?" Tanya Strongkeng.


Jujur saja bahwa dia pun saat ini sedang ketakutan.


Strongkeng bahkan saat ini menatap liar ke segala arah. Ini karena dia merasa sepertinya wujud Black Cat ada di mana-mana dan siap untuk menebas lehernya seperti yang pernah terjadi dalam rapat di rumah Martin beberapa minggu yang lalu.


"Aku kemari mau meminta pendapat. Bukan mau memberi pendapat. Pakai lah otak kau itu Strongkeng. Nyawa kita sudah di ujung tanduk ini." Kata Beni.


"Sabar bang. Takut boleh saja takut. Tapi, jangan sampai ketakutan itu yang membunuh mu.


Menurut penilaian ku, jika Black Cat ingin membunuh mu, dia pasti tidak kekurangan cara untuk melakukannya. Hanya saja, kemungkinan dia masih menahan diri."


"Lalu?"


"Percepat rencana kita untuk menyingkirkan Tigor dari Tasik putri ini. Jika Tigor sudah pergi, Black Cat sebagai orang suruhannya juga pasti akan mengikutinya." Kata Strongkeng.


"Betul juga kata kau itu. Mana bini mu? Tambahkan lagi air mineral ku ini. Haus aku nih."


"Gini bang. Kan kau ada rencana mau mengadu domba antara Marven dan Tigor. Sekarang lah saatnya kau bergerak. Sebelum dia pulang dari Hongkong."


"Mana bisa sekarang. Kita masih harus membahas masalah ini secara detil dengan Birong, Togar dan Tumpal.


Begini saja. Besok kau temani aku ke Kota batu. Masalah ini harus segera kita bahas. Ajak Togi untuk ikut serta. Tapi ingat! Jangan sampai ada yang tau keberangkatan kita ke sana."


"Tak usah khawatir abang. Malam ini juga aku akan pergi menemui Togi."


"Woy.. jangan!. Aku takut sendirian. Besok pagi saja. Kau cukup menelepon dia. Gunakan kata-kata samar biar dia saja yang tau maksud nya." Kata Beni.


Mana berani dia ditinggal sendirian di rumah Strongkeng ini.


Dia juga kemari karena ketakutan.


"Baiklah bang kalau begitu. Malam ini kau jangan pulang ke rumah mu. Tidur saja di sini. Nanti aku suruh mak nya anak-anak menyiapkan kamar untuk mu." Kata Strongkeng.


Sementara, malam itu di Blok B, setelah main kucing-kucingan dengan anak buah nya, akhirnya Tigor bisa juga masuk ke garasi rumah nya dengan cara menyembunyikan sepeda motor miliknya di lorong sempit dekat rerimbunan pohon cemara.


Selesai berganti pakaian, Tigor akhirnya keluar juga dari dalam kamarnya setelah setengah hari dia berada di dalam kamar itu menurut yang tidak mengetahui.


Hanya dia yang tau kemana dia pergi setengah hari dari siang sampai malam.


Sampai di ruangan tamu, Tigor melihat Monang sedang duduk termenung di dekat jendela. Dia baru sadar setelah Tigor menepuk pundak nya.


"Eh.., kau ternyata Gor. Enak kali kau tidur sampai setengah hari." Kata Monang sambil memaksakan senyum.


"Ada apa kau melamun Nang?" Tanya Tigor.


"Aku sedang memikirkan bagaimana bisa aku terkecoh. Aku juga sedang memikirkan bahwa aku hanya memiliki waktu 5 hari saja di tasik putri ini. Setelah itu, Marven pasti akan memburu ku jika masih berada di kota ini." Jawab Monang.


"Oh. Masalah itu. Sudah lah! Semua sudah terjadi. Jika tidak pernah berbuat salah, bagaimana kita bisa memperbaiki diri. Adanya benar karena salah tercipta. Begitu juga Hitam. Adanya putih karena hitam tercipta. Jika tidak, selamanya kita tidak akan tau apa itu putih."


"Masalah ancaman Marven, sudah jangan di lawan. Empat hari lagi, aku akan mengirim mu ke kota Kemuning. Kau hanya cukup menjadi perintis jalan saja. Amati keadaan disana! Kabarkan kepadaku untuk aku pelajari." Kata Tigor.


"Aku juga heran Gor. Bagaimana bisa seluruh rencana yang aku diskusikan dengan Ucok, Thomas, Jabat dan Sugeng bisa tercium oleh Beni." Kata Monang yang sejak kemarin merasakan ganjalan di hatinya.


"Jawabannya adalah satu. Ada penghianat dalam kelompok mu. Saat itu, siapa saja yang mengetahui rencana kalian?" Tanya Tigor.


"Selain aku dan keempat sahabat mu, di sana juga ada sekitar lima atau enam orang anak buah ku." Jawab Monang.


"Hmmm... Berarti ada penghianat didalam kelompok mu. Begini saja Nang. Aku tidak butuh anak buah mu. Kembalikan saja kepada Marven. Aku sudah cukup dengan 200 orang anak buah ku. Kalaupun aku akan merekrut anak buah, aku hanya akan merekrut anak-anak jalanan. Mereka itu setia kawannya melebihi saudara kandung." Kata Tigor.


"Ikut apa kata mu saja lah Gor. Oh ya. Terimakasih karena kau mau menampung aku. Sebenarnya aku sudah tidak memiliki tujuan lagi selain menunggu kau pulang dari Hongkong."


"Ah bicara apa kau Nang. Kita ini ibarat satu periuk. Kita berada di dalam kapal yang sama. Aku menganggap bahwa setiap dari kita memiliki peran dan kepentingan yang sama. Kau tau apa maksud ku dengan mengatakan bahwa kita adalah satu kapal?"


"Salah satu dari kita berulah, semua akan karam." Jawab Monang.


"Betul. Jadi, jangan korek lobang dimanapun. Atau kita akan karam dan tenggelam bersama." Kata Tigor.


"Satu dari kalian yang terkena masalah, semua akan merasakan dampak nya. Kita memiliki dua barisan yang saling menjaga keseimbangan. Jika salah satu tiada, maka keseimbangan akan hilang. Ketika kapal kehilangan keseimbangan, kapal tersebut akan oleng dan akibat terburuk adalah, karam!" Kata Tigor lagi.


"Salut sama mu Gor. Kesetiakawanan mu beda level. Tidak seperti aku. Ambil satu contoh, si Karman. Baru dapat kepercayaan darimu, sudah pongah minta ampun. Sekarang malah mengganti nama menjadi Carmen Bond 070." Kata Monang meringis menahan tawa akibat luka di wajah yang dia derita.


"Hahaha. Kau jangan mengambil hati dengan Karman upst sorry. Maksud ku Carmen Bond itu. Dia memang seperti itu sejak dalam perut."


"Hahahaha. Sialan. Tapi masih untung ada dia. Jika tidak, kemungkinan banyak di antara kami yang mati terbunuh. Dia hebat dan bisa diandalkan." Puji Monang dengan sangat tulus.


"Oh ya. Kemana yang lain? Aku ingin mengajak kalian makan malam." Kata Tigor sambil memberikan sebuah bungkusan kepada Monang.


"Apa ini Gor?" Tanya Monang.


"Oleh-oleh dari Hongkong. Itu bonus ku di sana. Belum sempat aku tukarkan ke rupiah." Jawab Tigor.


"Wah. Ternyata seperti ini uang hongkong. Berapa ini jumlah nya Gor?" Tanya Monang sambil mengeluarkan isi dari bungkusan kertas itu.


"Sepuluh ribu. Delapan ratus sembilan puluh ribu lagi nanti aku berikan setelah kita pindah ke kota kemuning. Aku hanya diberi uang tunai sebanyak seratus lima puluh ribu HKD oleh Mister Ming Kang Khang atas bantuanku menyelesaikan beberapa transaksi di sana. Itu sebagian kecil dari sepuluh juta yang sudah dia kirim ke rekening ku." Kata Tigor.


"Wah. Banyak uang kalian sekarang Gor."


"Bukan aku, bukan kalian. Tapi kita." Jawab Tigor.


"Hebat cara kau menghasilkan uang. Aku salut." Kata Monang.


"Kita harus memiliki uang. Dengan uang, banyak hal bisa kita lakukan. Kau tau jika kita miskin? Jangankan orang lain. Saudara sendiri pun tidak menyukai kita. Bahkan hantu pun pura-pura tidak kenal dengan orang miskin. Ini cara kita menghasilkan uang." Kata Tigor.


"Hahahaha... Siap komandan." Kata Monang membuat gestur menghormat ala polisi.