
Tanpa terasa Tigor sudah dua hari berada di Kuala Nipah.
Tidak ada apa-apa yang dia pelajari selama berada di rumah kakek Mahmud, selain dari nasehat dan falsafah tentang hidup. Namun walau begitu, Tigor merasa seperti betah berada di rumah kakek angkat nya itu.
Walaupun terkadang kakek itu terkesan seperti sesukanya dan terkadang ugal-ugalan seperti kurang waras, namun semua yang diucapkan oleh orang tua itu mengandung makna yang dalam.
Sebelum melepaskan kepulangannya tadi ke Tasik putri, Kakek Mahmud berkata bahwa Tigor harus menyelesaikan semua masalah yang tertunggak saat ini. Setelah semua beres, maka dia boleh kembali untuk di gembleng oleh lelaki tua itu.
Menurut nya, bukan dia tidak mau mengajari Tigor, namun percuma saja jika pikiran anak muda ini bercabang. Dia akan gagal karena perhatiannya tersita oleh hal-hal yang lain.
Tepat sekitar pukul 12 tengah hari, Tigor sampai juga di kota Tasik putri dengan menumpang ojek.
Baru saja Tigor akan memasuki kafe tempat dia dulu biasa ngamen, dari arah belakang terdengar seseorang memanggil namanya.
"Darimana saja Gor?"
Tigor yang mengenali suara ini segera berbalik dan menemukan bahwa Andra yang meneriaki namanya sambil melangkah menghampiri.
"Woy Ndro. Kau ternyata."
"Kemana saja kau. Sudah dua hari baru kelihatan." Tanya Andra begitu berada tepat di depan Tigor.
"Aku dari suatu tempat. Itu rahasia." Jawab Tigor sambil berjalan memasuki kafe.
"Gor. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Dan ini sangat penting." Kata Andra.
Melihat wajah Andra begitu serius, Tigor lantas merendahkan nada suaranya. "Ada apa Ndro? Katakan saja. Sepertinya serius amat."
"Kemarin sampai hari ini, ada beberapa orang datang ke Kota tasik putri ini. Katanya mereka adalah saudara mu yang telah lama kehilangan. Mereka berkata bahwa salah satu dari mereka adalah adik ayah mu." Kata Andra.
"Haa? Adik ayah ku?" Kata Tigor heran.
Mana mungkin dia memiliki paman. Ini karena ayahnya tidak memiliki adik. Yang ada hanya adik angkat ayahnya. Itu pun sudah dibunuh oleh orang-orang dari geng tengkorak.
"Kau lihat seperti apa ciri-ciri orang itu? Apakah dia mirip dengan ku?" Tanya Tigor.
"Itu lah yang membuat aku curiga. Karena tadi malam, orang-orang kita yang berada di Gang kumuh di serang oleh orang-orang dari geng tengkorak. Persis beberapa saat setelah kami memberi tahu kepada orang yang mengaku paman mu itu bahwa kau sedang tidak berada di tempat." Kata Andra.
"Begini saja Ndro. Nanti jika orang itu datang lagi, kau harus membuntuti orang ini. Cari tau dari mana orang ini berasal. Saat ini kita memiliki banyak musuh. Jika tidak hati-hati, bisa hilang kepala ini." Kata Tigor.
"Ya aku mengerti. Yang aku khawatir adalah, mereka juga menanyakan tentang adik mu si Rio."
Serrr...
Berdesir darah Tigor begitu mendengar yang disampaikan oleh Andra barusan.
"Celaka. Berarti adikku dalam bahaya." Kata Tigor dalam hati.
"Apakah ada di antara kalian yang memberitahu tentang adik ku?" Tanya Tigor.
"Tidak. Tapi aku khawatir mereka akan terus mencari informasi tentang dirimu. Ini jelas sangat berbahaya bagi keselamatan adik mu. Dia masih kecil."
"Ndro. Antar aku kembali ke Blok B! Gawat ini. Aku harus menjaga adik ku." Kata Tigor.
"Kau tidak makan dulu?" Tanya Andra.
"Nafsu makan ku sudah hilang. Ayo Ndro antar aku kembali. Aku harus segera bergerak sebelum terlambat." Kata Tigor tak sabaran.
Kedua pemuda itu segera keluar dari kafe itu. Sementara Andra mengambil sepeda motor nya, Tigor benar-benar merasa tidak tenang.
"Ayo Gor!" Teriak Andra.
Tanpa membuang waktu lagi, Tigor segera berlari menghampiri Andra dan mereka pun langsung tancap gas menuju ke Blok B perumahan tasik putri.
Begitu sampai di depan rumah yang di ingat oleh Andra sebagai rumah tempat mereka dulu mengangkat sumpah, Tigor langsung memasuki rumah tersebut untuk meminta kunci garasi dan buru-buru mengeluarkan mobil sport BMW i8 miliknya pemberian Martin.
"Andra. Terimakasih karena sudah mengantarku. Maaf aku harus buru-buru. Kau boleh masuk ke rumah ku. Bebas mau ngapain aja. Asal jangan masuk ke kamar ku. karena di kamar itu banyak ranjau." Kata Tigor.
"Tidak usah Gor. Aku pulang saja. Kau harus berhati-hati!" Kata Andra.
"Makasih. Setelah urusan ku beres, baru kita buat perhitungan dengan orang-orang geng tengkorak itu." Kata Tigor lalu segera menekan gas dan berlalu dari hadapan Andra.
*********
Mobil yang dikendarai oleh Tigor berhenti tepat di depan rumah pak Harianja.
Begitu keluar dari mobil tersebut, Tigor segera mengetuk pintu rumah pak Harianja dan tak lama seorang lelaki yang sudah berumur lanjut membukakan pintu.
"Tigor ada apa kau seperti di kejar oleh hantu?" Tanya pak Harianja heran.
"Pak. Bagaimana dengan surat pindah sekolah Rio? Apakah sudah dikeluarkan oleh kepala sekolah?" Tanya Tigor.
"Maafkan aku Gor. Kepala sekolah sepertinya selalu menghindar ketika aku menanyakan tentang surat pengajuan pindah sekolah itu. Aku pun tidak bisa memaksa." Kata Pak Harianja.
"Jika pak Harianja tidak bisa, maka aku sendiri yang akan meminta. Jika dia menolak dengan alasan yang tidak masuk akal, sekolah itu akan aku ratakan dengan tanah." Kata Tigor mulai marah.
"Mengapa dengan sekolah nya? Kepala sekolah yang salah. Bukan sekolah nya. Jika kau meratakan sekolah itu dengan tanah, di mana murid lain akan belajar?" Kata pak Harianja merasa tidak setuju.
"Maka rumah kepala.sekolah itu yang akan aku ratakan dengan tanah. Sekarang bawa aku menemui kepala sekolah. Orang ini harus berkenalan dengan Tigor. Kalau tidak patah kakinya, tidak akan kapok. Biar dia mengingat siapa Tigor ini." Kata Tigor sambil menarik tangan Pak Harianja menuju ke mobil.
Begitu Pak Harianja yang terheran-heran melihat mobil mewah nan cantik itu, Tigor sudah memaksanya untuk segera masuk ke dalam dan segera menekan gas membuat mobil itu melompat seperti kesetanan menuju me arah sekolah menengah pertama di kawasan itu.
Begitu tiba di rumah dinas kepala sekolah itu, tanpa basa basi lagi Tigor langsung memasukan sebelah roda mobil nya ke teras rumah dinas itu dan langsung turun dari mobil dengan gaya angkuh.
"Apakah anda adalah kepala sekolah di SMP ini?" Tanya Tigor begitu melihat seorang lelaki baru muncul dari pintu yang baru saja terbuka itu.
"Benar. Ada apa anda mencari saya?" Tanya kepala sekolah itu.
"Perkenalkan. Nama ku Tigor. Ketua dari kelompok preman yang menguasai Kota tasik putri ini. Di sini aku tidak ingin banyak bicara. Aku kesini hanya untuk menanyakan tentang surat pindah sekolah untuk siswa bernama Rio Habonaran. Menurut pak Harianja, anda menolak untuk mengeluarkan surat tersebut. Aku hanya ingin bertanya. Apakah kau bosan makan nasi?" Tanya Tigor dengan mata melotot.
"Sabar Tigor. Sabar!" Kata Pak Harianja yang mulai menggigil karena ketakutan.
Dia faham betul sifat Tigor ini jika sudah marah. Bisa-bisa kepala sekolah itu akan mati."
"Aku sudah bersabar. Sekarang keluarkan surat izin untuk pindah sekolah atau aku akan membunuh mu di tempat ini. Aku tidak butuh lemah lembut lagi." Kata Tigor sambil mengeluarkan. besi bulat sebesar jempol kaki dari dalam mobil dan siap untuk dihantamkan kepada kepala sekolah itu.
"Mengapa susah sekali mengeluarkan surat itu? Apakah kau merasa bahwa Rio itu adalah Siswa miskin? Kau salah pak kepala sekolah. Rio tidak miskin. Aku adalah abang nya. Jika uang yang kau inginkan, katakan berapa harga untuk surat pindah itu?" Tanya Tigor.
Baginya saat ini adalah, menyelamatkan adiknya dari bahaya. Bahkan jika perlu, mengeluarkan seratus atau dua ratus juta rupiah pun tidak apa-apa baginya asalkan adiknya tidak terancam.
"Ba.. Baik. Anda tunggu di sini. Aku akan membuat surat pindah sekolah itu." Kata Bapak kepala sekolah itu ketakutan.