
Dolok ginjang.
Kekesalan Wulan atas kegagalan keenam orang-orang suruhannya yang di tugaskan untuk memberi pelajaran terhadap Karman dan Tigor ternyata masih terbawa sampai ke rumah.
Sambil menghentakkan kaki nya dengan kesal, Wulan akhirnya menghampiri ayahnya yang saat itu sudah mulai beranjak dari kursi tempat duduknya menuju ke kamar untuk tidur. Namun dia membatalkan niatnya tersebut begitu melihat Wulan Putrinya memasuki ruangan itu dengan membawa tampang wajah seperti jeruk purut.
"Wah anak gadis ayah. Mengapa wajah mu seperti sangka busuk?" Tegur Lalah melihat tingkah putrinya itu.
"Ayah. Aku kesal dengan keenam anak buah ayah itu." Kata Wulan dengan manja.
"Ada apa dengan Sudung dan anak buah nya? Apakah mereka melakukan kesalahan?" Tanya Lalah sambil menyuruh putrinya itu untuk duduk.
"Iya lah. Memang badan saja yang besar. Tenaga seperti cacing. Melawan satu orang saja tidak becus." Kata Wulan sambil merengut.
"Tenanglah dulu putri ayah. Ceritakan apa sebenarnya yang terjadi!" Pinta Lalah kepada anak gadisnya itu lagi.
"Tadi pagi kan aku di jambret oleh seorang gelandangan di depan kafe tasik putri."
"Iya benar. Kau sudah menceritakannya." Kata Lalah membenarkan perkataan putrinya itu.
"Nah. Tadi aku bertemu dengan lelaki gelandangan yang menjambret tas ku itu. Lalu aku menghubungi Sudung dan teman-temannya untuk memberikan pelajaran kepada tukang jambret itu. Sialnya bukan dia yang memberi pelajaran kepada jambret itu. Malahan dia yang dipukuli sampai babak belur." Kata Wulan mengadukan masalah di tasik putri tadi kepada ayah nya.
"Ah.., apa mungkin seperti itu? Mana si Sudung ini? Apa iya ada orang setangguh itu bisa menghajar si Sudung dan ke lima orang anak buahnya sekaligus?" Kata Lalah terheran-heran.
"Ayah tanyakan saja langsung kepada anak buah ayah yang tidak berguna itu." Kata Wulan dengan kesal.
"Roger! Apa kau melihat Sudung di luar?" Kata Lalah sambil berteriak.
"Sudung baru saja sampai bang. Itu mobilnya." Kata lelaki bernama Roger itu.
"Panggil dia! Katakan aku ingin bicara dengannya!" Perintah Lalah.
"Iya Bang. Nanti aku panggil dia." Kata Roger sambil melangkah menghampiri mobil Van yang baru saja tiba itu.
Tak lama kemudian Roger pun memasuki ruangan besar itu diikuti oleh enam orang lelaki yang sangat compang camping.
Demi melihat penampilan keenam orang yang masuk bersama Roger tadi, Lalah ingin tertawa. Tapi untuk menjaga wibawahnya, dia terpaksa menahan juga.
"Sudung...! Katakan kepadaku kenapa kalian bisa seperti ini?!" Kata Lalah sambil memperhatikan keenam orang itu silih berganti.
"Begini bang. Non Wulan menyuruh kami untuk memberi pelajaran kepada seorang lelaki yang katanya telah menjambret tas tangan milik nya pagi tadi di depan kafe kota tasik putri sebelum jembatan itu."
"Terus?!" Kata Lalah.
Mendengar penuturan dari Sudung ini, mau tak mau Lalah mengerutkan dahi juga demi mencerna semua yang disampaikan oleh Sudung.
"Lelaki yang mengenakan topeng kucing warna hitam. Sepertinya aku pernah mendengar tentang orang ini." Gumam Lalah seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri.
"Ilmu bela diri nya terlalu sulit untuk kami hadapi Bang. Lihat saja tangan kananku sudah lepas dari engsel nya. Hanya pegang, pukul sedikit tiba-tiba persendian tulang ku lepas." Kata Sudung sambil menunjukkan tangannya yang sudah terkulai tak berdaya kepada Lalah.
"Apakah dia ada menyebutkan namanya kepada kalian?" Tanya Lalah ingin mencari kesimpulan.
"Iya bang. Ada. Dia mengatakan kepada kami bahwa namanya adalah Black Cat." Kata Sudung.
"Black Cat? Celaka. Untung saja kalian tidak dibunuh oleh orang itu. Asal kalian tau saja. Dia tidak pernah melepaskan mangsa nya. Kalian bisa dikatakan beruntung bisa kembali dengan selamat. Biasanya jika dia sudah bertindak, tidak akan ada yang dibiarkan kembali dengan hidup-hidup." Kata Lalah.
"Apa iya begitu bang?" Kata Sudung yang mulai merinding bulu kuduk nya.
"Kalian pasti tau cerita tentang anak buah Birong ketua organisasi tengkorak kan? Sudah berapa banyak yang terbunuh karena kemunculan Black Cat ini? Walaupun kalian pulang dalam keadaan menyedihkan seperti ini, Namun itu jauh lebih baik daripada kalian pulang tinggal nama." Kata Lalah serius tanpa ada maksud untuk menakut-nakuti.
"Lain kali kalian jangan asal main hajar saja. Selain kalian tidak tau siapa lawan kalian, kalian juga sudah melanggar kawasan milik sahabatku Martin. Bayangkan saja jika kedatangan kalian dikira sebagai orang yang membuat onar, ini bisa membuka silang sengketa antara aku dan Martin." Kata Lalah lagi.
"Kami minta maaf Bang. Namun apalah kami ini. Kami hanya menjalankan perintah dari Non Wulan." Kata Sudung sambil tertunduk.
"Kau Wulan. Lain kali hati-hati. Kita tidak tau apa tujuan Black Cat ini. Memang kehadiran dirinya tidak pernah mengganggu kita. Untuk yang aku ketahui, dia hanya mengincar orang-orang dari Geng tengkorak. Tapi jika kau memulai menyulut api, maka dia pasti akan nyasar sampai ke Dolok ginjang ini." Kata Lalah.
"Apakah Black Cat itu manusia, Ayah?" Tanya Wulan.
"Sama seperti kita. Tapi kedatangan dan kepergian nya sama seperti hantu. Tiba-tiba muncul memakan korban lalu menghilang begitu saja. Lagi pula, untuk apa kau pergi ke kafe tasik putri tadi pagi?" Tanya Lalah.
"Aku hanya sekedar ingin mencari ketenangan saja. Aku bosan di rumah terus. Setiap hari hanya wajah ayah, Ronggur dan Roger saja yang aku lihat. makanya aku keluar sesekali. Tapi tidak menyangka akan jadi masalah." Kata Wulan dengan wajah penuh penyesalan.
"Ayah juga tidak menyangka kau bisa memotori Sudung dan kelima anak buahnya untuk membuat onar di tasik putri. Beruntung mereka bisa pulang dengan selamat." Kata Lalah.
"Ayah. Jika memang benar Black Cat itu seperti yang Ayah katakan tadi, mengapa Ayah tidak mencoba saja untuk merekrut nya agar bekerja sebagai anak buah Ayah? Bukankah itu sangat berguna untuk menambah kekuatan kita?" Kata Wulan memberikan usul.
"Tidak semudah itu putriku. Kita tidak tau siapa orang ini. Kapan dia akan muncul dan kemana dia pergi setelah selesai dengan mangsa nya. Jika ayah bisa mengenal orang ini dan bertemu dengannya, sudah pasti ayah akan merekrut orang ini bekerja untuk kita." Kata Lalah.
"Kalian semua boleh pergi dan istirahat. Besok pergi kr rumah sakit dan obati luka-luka kalian itu!" Kata Lalah menyuruh Sudung dan kelima anak buahnya untuk beristirahat.
"Kau juga Wulan. Setelah membuat ulah malam ini, kau tentu lelah. Masuk ke kamar mu dan tidur!" Kata Lalah kepada Wulan.
"Baik Ayah." Kata Wulan lalu segera berlalu meninggalkan ruangan itu.