BLACK CAT

BLACK CAT
Kekhawatiran Acong



Pukul 9:00 pagi. Tepat di Blok B perumahan tasik putri, sorang pemuda tampak teruburu-buru ke kamar mandi.


Pagi ini dia memiliki janji dengan sahabat-sahabat nya untuk mentraktir mereka makan dan jalan-jalan membawa Mirna seorang gadis yang baru dia selamatkan dari dunia hitam.


Sebelum dia ke kamar mandi, dia sempat menggedor pintu kamar Mirna untuk bersiap-siap.


"Mirna bangun! Mandi. Kita akan segera berangkat!" Jerit pemuda tampan dengan gaya rambut belah tengah dan sedikit pirang itu.


"Aku sudah siap dari tadi bang!" Jawab gadis itu dari dalam kamar.


"Oh. Berarti aku yang bangun kesiangan." Kata pemuda itu dalam hati lalu bergegas menuju kamar mandi.


Entah karena sengaja atau memang goblok nya sedang kambuh. Untuk apa dia ke kamar mandi belakang padahal di kamar nya pun ada kamar mandi.


Selesai mandi dan berpakaian, pemuda itu langsung keluar dari kamarnya dan dia sedikit terkejut melihat gadis cantik dengan pipi sedikit memar sudah berada di sofa dekat ruang tamu.


Dengan perlahan pemuda menghampiri gadis yang duduk di sofa itu lalu mengangkat dagu nya sedikit untuk melihat bekas memar itu.


"Apa masih sakit?"


"Tidak apa-apa bang Tigor. Sudah agak mending." Jawab Mirna sambil berusaha tersenyum.


"Jika itu bukan Monang, aku pastikan bahwa tangan orang yang menyakitimu tidak akan berfungsi dengan baik." Kata pemuda yang ternyata adalah Tigor itu.


"Sudah nasib ku Bang. Aku terima apa saja yang sudah digariskan oleh takdir."


"Ya sudah. Jangan terlalu dramatis. Ayo kita berangkat!" Kata Tigor sambil menarik tangan gadis itu.


Ketika tiba di garasi, kembali Tigor bertanya. "Mau naik mobil atau motor?"


"Terserah abang saja. Aku kan tinggal ikut." Kata Mirna menyerahkan keputusan di tangan Tigor.


"Sepeda motor lebih enak. Tapi mobil lebih nyaman."


Berfikir sejenak, Tigor membatalkan untuk naik mobil. Dia memilih menelepon taksi. Karena tidak mungkin dia naik mobil sport yang mewah sementara sahabatnya naik taksi atau ojek. Sungguh sangat pincang dipandang mata.


"Kita naik taksi saja." Kata Tigor.


Begitu taksi datang menjemput mereka, Tigor langsung membukakan pintu lalu mempersilahkan Mirna untuk masuk. Hal ini sungguh menyentuh hati Mirna. Karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun entah mengapa hatinya tidak bisa melupakan sosok misterius bertopeng yang pertama kali mencuri hatinya.


"Ada apa Mirna?" Tanya Tigor.


"Tidak apa-apa." Jawab Mirna singkat.


"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu." Tanya Tigor.


"Ah. Tidak juga bang."


"Kau memikirkan kekasih mu yang jauh di kampung halaman?" Tanya Tigor.


Mendengar pertanyaan ini, semburat merah mulai meliputi wajah Mirna. Hal ini membuat Tigor kembali menggodanya.


"Jika kau rindu kepada kekasih mu, katakan saja! Aku akan mengantar mu kembali ke kampung halaman mu. Tentunya setelah urusan ku selesai." Kata Tigor.


Mirna semakin gelagapan mendengar tawaran dari Tigor ini. Bagaimana dia bisa kembali ke kampung halamannya? Dia saja bisa sampai ke kota Tasik putri ini karena dijual oleh ayah tirinya untuk menutupi hutang. Sedangkan ibunya sudah meninggal sekitar setahun yang lalu.


"Tid.. Eh jangan. Anu bang. Aku.., aku...,"


"Mengapa? Apakah kau tidak punya pacar? Jika iya, katakan saja! Aku akan dengan senang hati mengantar mu kembali ke kampung halaman mu."


"Ceritanya panjang bang. Namun kalau masalah pacar, terus terang aku tidak punya." Kata Mirna.


"Apakah kau normal Mirna?"


"Tentu saja aku normal Bang." Jawab gadis itu.


"Sudah gadis seperti ini. Mengapa kau tidak punya pacar? Apakah kau pernah jatuh cinta?" Tanya Tigor.


"Entah lah bang. Aku tidak tau apakah itu dinamakan jatuh cinta atau tidak. Soalnya, sampai saat ini aku masih belum melihat dengan jelas wajah orang itu seperti apa. Dia datang lalu pergi sesuka hatinya. Seperti angin. Datang lalu menghilang." Kata Mirna sambil menghela nafas berat.


"Jangan katakan bahwa kau jatuh cinta sama hantu." Kata Tigor menggoda.


"Dia bukan hantu bang. Dia manusia juga. Namun sangat misterius. Dia selalu menemuiku dalam bentuk misteriusnya itu. Berpakaian hitam dan mengenakan topeng kucing juga warna hitam." Kata Mirna.


Seeeerrrr....!


"Buset deh. Dia mencintai diriku dalam sosok lain." Maki Tigor dalam hati.


"Black Cat!" Jawab Mirna.


"Anjaaaay.... Mati aku." Kata Tigor lagi dalam hati.


Saat ini ingin rasanya dia mengungkapkan siapa sebenarnya Black Cat itu. Tapi dia segera sadar. Tidak mungkin dia mengungkapkan sosok lain dari dirinya hanya karena seorang wanita. Bagaimanapun, dendamnya kepada Birong dan organisasi geng tengkorak mengalahkan rasa cintanya kepada siapapun.


***********


Taksi yang membawa Tigor dan Mirna akhirnya sampai juga di kafe dekat jembatan.


Sebelum turun, Tigor sempat melihat sudah ada puluhan orang yang menunggu dia di kafe itu.


"Ayo Mirna! hati-hati!" Kata Tigor mempersilahkan gadis itu untuk turun sambil di tuntun olehnya bak seorang putri raja.


"Cieee... Abang kita sudah punya gebetan!" Kata Acong. namun dia segera pucat melihat siapa wanita yang di gandeng oleh Tigor itu.


"Masalah! Ini masalah besar. Bang Tigor membawa wanita milik Black Cat. Bagaimana ini?" Kata Acong dalam hati. Namun dia berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya. Baginya asalkan itu tidak menyangkut dirinya, ya sudah.


"Biarkan mereka yang menyelesaikannya sendiri." Katanya lagi dalam hati.


"Hi teman-teman! Apakah aku terlambat?" Tanya Tigor begitu tiba di teras kafe.


"Tidak bang." Jawab mereka.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Sarapan disana saja sekalian makan siang!" Kata Tigor sambil mengajak teman-teman nya untuk keluar dari kafe itu.


Sementara itu, Acong yang mulai tidak kuat menahan kekhawatirannya mulai menghampiri Tigor.


"Tunggu sebentar bang! Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu." Kata Acong.


Sebenarnya Tigor sudah tau apa yang akan disampaikan oleh Acong. Namun untuk menjaga agar kesannya tidak terlalu mencolok, Tigor pun menurut saja ketika Acong menarik tangannya ke samping.


"Ada apa Cong?" Tanya Tigor.


"Bang. Darimana abang angkut wanita itu?" Tanya Acong.


"Enak aja angkut-angkut. Emangnya barang."


"Begitu lah bang. Kau faham kan maksud aku?" Tanya Acong serius.


"Dia bekas peliharaan Monang. Ada apa?" Tanya Tigor.


"Bang. kau ingat tidak ketika kau mengembalikan uang ku?"


"Ya aku ingat."


"Uang itu dari Black Cat kan?"


"Benar!" Jawab Tigor.


"Bang. sebenarnya Black Cat berhutang kepadaku ya karena perempuan itu. Sekarang ini malah wanita itu ada bersama mu. Bahaimana nanti jika Black Cat tau. Apakah hubungan kalian nanti tidak berantakan gara-gara dua kucing memperebutkan seekor kucing betina?" Tanya Acong dengan wajah was-was.


Sebenarnya wajar jika Acong sangat ketakutan. Ini karena, dia sangat faham sepak terjang Black Cat ini. Jika sudah tersinggung, maka yang menyinggungnya harus sekarat.


Hal ini lah yang sangat di takuti oleh Acong. Dia tidak ingin hanya karena seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya, kelompok mereka bisa berantakan bahkan terancam bubar jika terjadi perkelahian antara Tigor dan Black Cat. Padahal mereka merintis dari bawah. Sama-sama dari Nol.


"Kau tidak perlu khawatir. Masalah Black Cat itu sudah ku urus. Dia tidak mempermasalahkan hal ini. Kau tenang saja!" Kata Tigor sambil menepuk pundak Acong.


"Benar begitu bang?" Tanya Acong meminta kepastian.


"Sumpah demi apa aja."Jawab Tigor.


"Ya sudah. Jangan ada masalah dikemudian hari hanya karena urusan pedang warisan nenek moyang. Aku tidak ingin hanya karena perempuan, persaudaraan kita bisa retak. Perempuan bisa menjadi pelengkap. Tapi juga bisa menjadi penghancur. Ingat itu bang!" Kata Acong.


"Terimakasih karena sudah mengingatkan ku. Kau percayalah bahwa aku lebih mengutamakan kalian daripada urusan pribadi." Kata Tigor.


Setengah mati Tigor menahan agar tawanya tidak meledak.


Ini karena dia merasa lucu. Black Cat itu adalah dirinya. Dan Tigor juga dirinya. Apa iya Tigor cemburu kepada Black Cat karena Mirna ternyata jatuh cinta kepada dirinya yang terbungkus pakaian hitam dan topeng kucing.


Apa iya Black Cat akan melabrak Tigor hanya karena Black Cat merasa bahwa Tigor sudah merebut wanita milik nya. Tigor dan Black Cat adalah dua karakter dalam satu diri. Jika Black Cat orangnya dingin dan ganas serta haus darah, berbeda dengan Tigor yang penyayang, lugu, sangat bersahabat dan sedikit lucu. Semuanya dikemas dengan baik oleh Tigor demi satu tujuan yaitu..,


'BALAS DENDAM'