
Blok B perumahan menengah ke atas Tasik putri.
*
Menjelang tengah hari, dari arah kota batu tampak lima kendaraan roda dua meluncur dengan santai memasuki kawasan real estate Blok B dan berhenti tepat di rumah mewah milik Tigor yang dihadiahkan oleh Martin kepadanya hampir setahun yang lalu.
Para pengendara sepeda motor yang ternyata memjemput rombongan Tigor yang kembali dari Hongkong dan mendarat di kuala nipah itu sengaja mengambil jalan berputar seolah-olah mereka ini dari kota Batu dan bukan dari kawasan pinggir laut Kuala nipah.
Hal ini sengaja mereka lakukan untuk menghilangkan jejak sekaligus mengecoh andai ada mata-mata yang di kirim oleh musuh.
Sesampainya di halaman rumah, Tigor sengaja melarang mereka untuk melepas helm dan menyuruh semuanya masuk. Baru setelah berada di dalam rumah, helm itu mereka lepas.
Saat Tigor sampai di dalam, dia melihat Ucok, Sugeng, Jabat dan Thomas sedang sibuk membuka perban di wajah Monang dan di bantu oleh Mirna.
Awalnya mereka mengira hanya anggota kelompok Tigor saja yang datang sebanyak sepuluh orang. Namun ketika mereka membuka helm masing-masing, kini mereka melihat bahwa lima dari sepuluh orang itu adalah Tigor, Andra, Ameng, Timbul dan Acong.
Menyadari siapa yang datang, mereka langsung antusias. Namun setelah Tigor mencegah mereka agar jangan mencolok, mereka pun mengerti dan bersikap wajar.
"Ada apa dengan mu Monang?" Tanya Tigor begitu dia mendekat dan duduk di sofa yang masih kosong sambil mengambil air minum dalam gelas yang terdapat di meja.
"Huh... Tau lah kau Gor. Resiko bawahan." Jawab Monang sambil menarik nafas berat.
Ada semacam beban tersirat di sorot mata Monang jika tidak dikatakan beban dendam.
"Siapa yang melakukan ini? Martin kah atau Marven?" Tanya Tigor.
"Marven atas hasutan Beni." Jawab Monang.
Entah karena terlalu marah, atau karena jengkel, tanpa sadar Tigor meremas gelas yang berada di genggaman tangannya membuat gelas itu langsung pecah dan serpihan kacanya langsung melukai telapak tangan Tigor.
Mirna yang melihat hal ini langsung terkejut dan ingin membantu. Namun segera di cegah oleh Tigor.
"Ambilkan saja aku sapu tangan putih di kamar bersebelahan dengan kamar mu!" Kaya Tigor.
Mirna yang khawatir tidak membantah dan langsung mengambilkan sapu tangan berwarna putih kepada Tigor.
Begitu sapu tangan itu diberikan oleh Mirna, Tigor langsung mengusap darah tersebut kemudian melipat kembali sapu tangan putih itu dengan rapi.
"Semua yang berada di dalam rumah ini tidak boleh keluar kemanapun sampai besok pagi!"
"Ingat! Tidak ada kata bantahan!" Kata Tigor lalu bergegas memasuki kamar pribadi miliknya dan mengunci pintu dari dalam.
Semua orang yang berada di ruangan tengah di rumah milik Tigor itu merasa heran dan saling pandang antara satu dengan yang lainnya.
"Apa maksud Bang Tigor?" Tanya Ucok.
"Entahlah. Aku juga tidak tau." Jawab Jabat.
"Ada apa dengan Tigor Ndra?" Tanya Monang.
"Dia sengaja merahasiakan kepulangan kami ke tasik putri ini. Entah rencana apa yang dia miliki. Namun asal kalian tau saja. Ketika kami kembali dari Hongkong, ada sekitar tiga puluh orang yang mencegat kami di pantai dengan niat untuk membunuh." Kata Andra lalu menceritakan semuanya kepada Ucok, Monang dan yang lainnya.
"Oh Tuhan. Ternyata sampai begitu sekali Beni ini. Manusia berhati iblis itu jika tidak mati ditangan ku, maka aku tidak akan tenang." Kata Monang sambil meringis menahan sakit akibat terlalu marah, maka kulit wajahnya yang terluka jadi menegang.
"Kalian semua harus ingat sumpahku. Nyawa Beni adalah milik ku. Cepat atau lambat!" Kata Monang lagi.
*********
Sementara itu, Tigor yang berada di dalam kamarnya segera membuka lemari dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian serba hitam, dengan ikat pinggang dari kulit yang tampak sangat kaku karna di dalam ikat pinggang itu ada sejenis logam tipis yang sangat lentur.
Dia menimbang-nimbang sejenak apakah menunggu waktu malam atau bergerak di siang bolong untuk mendatangi Beni.
Karena amarah sudah sangat menguasai dirinya, maka dia segera membuka pintu rahasia yang terdapat di kamar nya tersebut yang menghubungkan ke garasi.
Di dalam garasi, terdengar deru mesin sepeda motor Ducati Panigale serba hitam.
Tak lama setelah itu, pintu garasi terbuka dari dalam kemudian melesatlah keluar sosok serba hitam dari arah garasi membuat banyak orang yang berada di halaman rumah besar itu terkejut.
"Black Cat!"
"Iya itu Black Cat. Mau kemana dia? Kapan masuk nya? Tau-tau sudah keluar saja dari garasi."
Terdengar bisikan dari para anggota komplotan yang di kenal sebagai kelompok anak buah Tigor ini.
Sementara itu, sepeda motor yang dikendarai oleh Black Cat terus saja meluncur dengan kecepatan tinggi mengarah ke satu jurusan yaitu pinggiran Komplek elit.
Sepeda motor Ducati milik Black Cat yang dia dapatkan dari Lalah sebagai hadiah itu akhirnya berhenti di depan pagar salah satu rumah di pinggiran kawasan perumahan komplek elit dan langsung menabrak pagar rumah itu tanpa tedeng aling-aling.
"Black Cat!"
"Alamaaak. Mati kita!"
Kata mereka begitu sosok serba hitam itu berjalan mendatangi mereka yang gemetar ketakutan.
"Katakan kepada ku di mana Beni?"
Dingin suara tanpa nada itu bertanya kepada sekitar sepuluh orang penjaga di kediaman Beni itu.
"B Black.. Black Cat. Kami tid tidak tau kemana Beni. Di..., dia tadi pagi-pagi sekali sudah pergi." Jawab salah satu dari peengawal itu dengan tergagap.
"Apakah kau tidak berbohong kepadaku?" Tanya Black Cat.
"Sumpah demi Ibuku. Dia benar-benar pergi tadi pagi dan belum kembali." Jawab lelaki iti lagi dengan bersumpah untuk meyakinkan Black Cat.
Merasa tidak ada gunanya menimbulkan masalah kepada para pengawal yang hanya menjalankan perintah itu, Black Cat pun langsung mengeluarkan sapu tangan putih bernoda darah lalu menyerahkannya kepada pengawal itu.
"Berikan ini kepada Beni. Katakan bahwa ini dari Black Cat. Katakan kepadanya bahwa jika ingin bermain kotor, maka Black Cat lebih kotor dari kotoran jin iprit. Jangan sampai kau lupa atau kau tidak akan bertemu lagi dengan anak istri mu!" Gertak Black Cat.
"Ba... Baik Black Cat. Aku tidak akan lupa." Kata lelaki tadi dengan tangan gemetar menerima sapu tangan dari Black Cat tadi.
Sudah bukan rahasia lagi setiap Black Cat membunuh seseorang, dia akan meninggalkan sapu tangan putih penuh noda darah di atas tubuh korban nya sebagai pesan bahwa dialah yang melakukan semua itu.
Dengan mengirim langsung sapu tangan ini kepada Beni, berarti itu adalah peringatan keras untuknya.
Tanpa membuang waktu lagi, Black Cat langsung menggeber sepeda motornya menuju rumah besar mirip Mansion milik Martin di tengah-tengah komunitas elit di Komplek elit tersebut.
Tidak sampai lima menit, akhirnya Black Cat tiba juga di depan pintu pagar mansion tersebut.
Para pengawal yang sudah tau siapa yang datang tidak banyak tanya lagi dan langsung saja membukakan pintu.
Selamat menjelang sore Black Cat!" Sapa pengawal itu.
"Apakah Martin ada di dalam?" Tanya Black Cat.
"Oh kebetulan Ketua sedang tidak kemana-mana hari ini setelah seharian kemarin sibuk mengurus ganti rugi di bangunan yang terbakar berhampiran pusat hiburan dan restoran samporna." Jawab pengawal itu.
"Hmmm... baiklah. Aku akan masuk dulu." Kata Black Cat lalu segera turun dari sepeda motor nya dan langsung saja berjalan menuju ke arah pintu.
"Martin...! Aku sudah kembali." Teriak Black Cat begitu tiba di ruangan tamu yang sangat luas itu.
"Oooi... Anak angkat ku sudah kembali. Bagaimana perjalananmu? Bukankah kata sopir speed boat kemarin bahwa perjalanan kalian tertunda?" Tanya Martin.
"Tidak tertunda. Aku hanya sengaja merahasiakan kepulangan ku. Namun sia-sia juga." Jawab Black Cat.
"Apa maksud mu?" Tanya Martin heran.
"Pak Martin. Kau tau bahwa di pantai kuala nipah sudah ada sekitar 30 orang anak buah Beni yang mencegat rombongan ku. Aku nyaris mati di pinggir pantai itu."
"Kau yakin anak buah Beni?" Tanya Martin tidak percaya.
"Yakin. Sangat yakin." Jawab Black Cat.
"Kau jangan asal main tuduh saja. Siapa tau itu adalah anak buah geng tengkorak yang mengaku-ngaku." Kata Martin.
"Sekarang aku mau tanya kepadamu Pak Martin. Siapa yang membocorkan keberangkatan ku ke Hongkong? Siapa yang mengkhianati ku? Hanya ada tiga orang yang tau. Kau, Karman dan Marven. Katakan apakah aku harus membunuh penghianat ini?" Tanya Black Cat.
"Jangan nak jangan! Ini adalah salah ku. Jangan kotori tangan mu. Sebagai gantinya, aku akan memberikan semua hasil transaksi mu di hongkong. Semuanya berjumlah 150 juta USD. Semua milik mu."
"Pak. Aku kecewa. Sungguh sangat kecewa. Kau selalu menyelesaikan masalah dengan uang. Kelak jika kau sudah tidak punya uang, lalu apa yang akan kau andalkan?"
"Uang ku tidak akan habis tujuh keturunan. Tapi jika kau melukai Marven, aku tidak akan memaafkan mu. Kau tau bahwa hanya Marven lah yang aku miliki. Sekarang kemarikan ponsel mu! Aku akan mentransfer semua uang itu ke rekening milik mu."
"Huft... Ini ponsel ku." Kata Black Cat menghempaskan nafas berat sebagai luapan kekecewaannya.
Dalam hati dia berfikir bahwa organisasi ini tidak akan lama lagi pasti akan bubar jika cara Martin menghadapi masalah selalu seperti ini.
Tidak ada ketegasan. Tanpa wibawa dan minim pengaruh.
Organisasi ini pasti akan hancur.
Yang menjadi kekhawatiran Black Cat adalah, tidak mengapa jika organisasi ini hancur. Selagi Martin tidak kenapa-napa, itu sudah cukup. Namun yang dia khawatirkan adalah, setelah dia nanti ke kota kemuning, Martin akan sendirian. Dan dengan sikap seperti ini, Martin pasti akan di gulingkan.