
Kompleks elite Tasik Putri.
*
Menjelang subuh, setelah berkelahi dengan hatinya sendiri, Marven pun akhirnya tiba juga di kompleks elite Tasik Putri.
Tanpa memperdulikan mobilnya yang melintang tak tentu arah, Marven keluar dari mobilnya dan membanting pintu dengan kasar lalu bergegas memasuki rumah besar itu.
Beberapa pengawal saling pandang dan hanya mengangkat bahu saja melihat Tingkah Marven yang dalam beberapa bulan ini tampak sangat berubah.
Kini dia sudah tiba di kamar nya. Dan segera membuka lemarinya.
Kini dia segera mengeluarkan peti besi dan membuka kunci peti tersebut, lalu mengeluarkan pistol dari dalam peti itu.
Berkali-kali Marven mengeluarkan, memasukkan lalu mengeluarkan dan memasukkan lagi magazen ke dalam bagian bawah pistol kaliber tersebut.
"Kau mati jika tidak menuruti keinginan ku." Kata Marven berteriak seperti orang gila.
Kini Marven menatap kearah sepucuk lagi senjata api model lama berwarna kuning keemasan itu. Itu adalah senjata koleksi kesayangannya yang tidak pernah dia gunakan.
Dengan tangan bergetar Marven mengambil senjata itu lalu mengeluarkan semua peluru yang ada dalam senjata itu lalu berkali-kali menelan pelatuk ke arah kaca.
"Tes.. tes.. tes...! Lalu modar." Kata Marven sambil memperagakan cara menembak.
Jika ada yang melihat kelakuan Marven ini, maka semua akan mengira bahwa dia saat ini sedang gila.
Tanpa memasukkan kembali peluru yang dia keluarkan tadi, kini Marven menyelipkan senjata itu di pinggangnya sebelah kanan, lalu menyelipkan satu lagi senjatanya yang memiliki dua belas peluru di pinggangnya sebelah kiri.
"Wahai kota Tasik Putri. Besok aku akan menjadi ketua di organisasi kucing hitam ini. Ucapkan salam kepada junjungan mu ini!" Kata Marven seperti orang gila.
Dia kini mengambil sebotol anggur klasik 1950 dan menunjukkan ke gelas lalu menenggak habis isi gelas tersebut.
Berkali-kali hal itu dia lakukan sampai akhirnya dia pun tertidur dengan gelas dan botol anggur terjatuh dan pecah di lantai pun dia sudah tidak sadar lagi.
***
Tepat menjelang senja, kini rombongan Martin pun kembali dari kota Kemuning bersama dengan Venia yang langsung dipandu sendiri oleh Mr.Carmen.
Sementara mobil Beni, Strongkeng dan Togi menyusul dibelakang mereka.
"Carmen, kau parkir mobil ini dengan baik. Aku rasa, sebaiknya di cuci saja. Cuci yang bersih!" Perintah Martin kepada Carmen lalu melangkah bersama Venia memasuki rumah sambil diikuti oleh Beni, Strongkeng dan Togi dari belakang.
Begitu Mereka tiba di dalam, alangkah kagetnya Martin melihat bahwa di ruang tamu tampak seperti kapal pecah.
Beberapa botol anggur berserakan bahkan ada yang pecah di lantai. Itu belum lagi bungkus makanan dan puntung rokok berserakan.
Sementara itu Marven kini terbaring mengangkang dengan sebelah kakinya berada di atas meja.
Hal ini langsung membuat Martin naik darah. Lalu dengan suara keras dia menegur Marven.
"Marven. Dasar anak sialan. Kau bukan saja tidak menghormati orang-orang berpangkat di kota Kemuning. Kau juga telah mempermalukan aku dengan pergi begitu saja sebelum acara selesai." Bentak Martin.
Marven yang pura-pura tertidur kemudian bangun dan dengan acuh tak acuh menjawab.
"Lalu?" Tanya nya dengan wajah masa bodoh.
"Jika bukan karena kau adalah anak ku, sudah ku bunuh kau!" Bentak Martin dengan tubuh menggigil menahan emosi.
"Lakukan saja. Karena di mata mu hanya ada Tigor. Tidak rugi bagimu jika aku mati. Iya kan?" Tanya Marven dengan lagak orang mabuk.
"Beginilah anak jika di didik dengan kemewahan. Tidak dapat menghargai orang lain. Bangun kau sekarang!" Bentak Martin.
Marven dengan bermalas-malasan langsung bangun dan dengan sempoyongan dia berkata.
"Kalian semua jangan ada yang keluar dari rumah ini. Hari ini kalian akan menjadi saksi siapa yang dipilih oleh Bos besar kita ini. Marven, atau Tigor." Kata Marven langsung menunjuk ke arah Beni, Strongkeng dan Togi.
Mendengar kata-kata dari Marven ini, dengan senyum samar, Beni menatap ke arah kedua konco nya itu lalu segera duduk di sofa yang berantakan itu.
"Sekarang aku mau meminta kepastian dari ayah. Aku inginkan kota Kemuning. Pilih antara aku atau Tigor!" Bentak Marven.
"Anak celaka. Kau berani membentak ku hah?" Jawab Martin mulai kesal.
"Jawab saja. Jika kau tidak memberikan kota Kemuning kepada ku, maka kau boleh membunuh ku sekarang!" Ancam Marven.
Melihat kejadian ribut-ribut di dalam, Karman atau Mister Carmen Bond langsung memasang kamera ponselnya, mengaktifkan Zoom, lalu merekam kejadian itu dari luar yang tidak terlalu jauh.
"Ayah. Kau bisa memilih. Hanya ada satu pilihan. Jika kau tidak memberikan kota Kemuning, maka kau boleh menembak ku dengan pistol ini." Kata Marven lalu meletakkan pistol berwarna kuning keemasan itu di atas meja tepat di depan Martin.
"Kau ingin memaksa ku Marven?" Tanya Martin.
Saat ini kemarahannya sudah benar-benar pada tahapan tingkat tertinggi.
"Ayah hanya boleh memilih. memberikan kota Kemuning, atau membunuh ku."
"Aku pasti akan membunuh mu anak sialan." Kata Martin lalu mengambil pistol itu dan..,
Cek.. ceklek...!
Tampak jari telunjuk Martin menarik pelatuk pistol tersebut. Namun tidak satupun peluru yang keluar.
"Hahaha. Benar dugaan mu Beni. Bahwa dia lebih memilih Tigor di banding aku." Kata Marven diikuti gelak tawa dari Beni, Strongkeng dan Togi.
"Kau.. kalian?! Apa maksud dari semua ini?" Tanya Martin yang sudah pucat.
"Kau ingin menembak ku Martin? Hahaha. Apakah semudah itu membunuh ku? Kau yang akan mampus di tangan ku." Kata Marven sambil tertawa mengejek.
"Dasar anak durhaka. Kau mau mendurhakai ku hah?" Bentak Martin.
"Siapa bilang aku adalah anak mu. Kau tanya ibuku. Dia yang lebih tau siapa bapak dari anak nya." Kata Marven menunjuk ke Venia.
"Venia... Kau?!"
"Benar Martin. Marven adalah buah dari hubungan asmara ku dengan Beni. Kau yang memaksa ku untuk menikah dengan mu."
"Kau Beni..."
"Benar kata Tigor. Kau adalah penghianat. Menyesal aku tidak membunuh mu." Kata Martin.
"Penyesalan memang datangnya terlambat, Martin. Sekarang, kau akan menerima konsekuensi dari ketololan mu itu." Kata Beni dengan senyum mengejek.
"Ucapkan selamat tinggal kepada dunia!" Kata Marven lalu...,
Dor....!
Brugh....
Tampak tubuh Martin terjatuh ke lantai dengan kening berlubang diterjang peluru yang dilepaskan dari pistol di genggaman tangan Marven.
"Berakhir sudah riwayat ketua bodoh ini."
"Sekarang Kalian dengarkan aku! Aku adalah ketua organisasi kucing hitam yang baru." Kata Marven dengan tawa yang menggelegar.
Kini di dalam mobil, tampak Carmen mengirim potongan-potongan video yang dia rekam itu kepada Tigor. Lalu segera menghapus pesan itu hanya untuk nya.
Tidak lupa juga dia segera mencabut memori card di ponselnya kemudian berpura-pura seperti tidak ada kejadian.
"Carmen. Mana Carmen?" Tanya Marven sambil berteriak-teriak.
"Saya di sini Bang!" Jawab Carmen sambil berpura-pura menyuci mobil.
"Sekarang Martin sudah mati. Kau tinggal pilih. Setia kepada ku atau mati!" Ancam Marven.
"Saya setia kepada uang!" Jawab Carmen.
"Bagus! Sekarang lihat ponsel mu!" Pinta Marven.
Dengan santai Carmen memberikan ponselnya kepada Marven.
Marven menerima ponsel itu, lalu mengacak-acak isinya kemudian mengembalikan ponsel tersebut kepada Carmen.
"Kau boleh menjadi pengawal ku mulai saat ini." Kata Marven lalu bergegas memasuki rumah.
"Katakan kepada Geng tengkorak. Jika mereka ingin bergabung dengan kita, maka syarat utama nya adalah, menjaga laluan dari kota Kemuning ke kota Tasik Putri. Aku curiga bahwa kabar pembunuhan ini akan segera tersebar."
"Kalian buat rekayasa seolah-olah Martin telah di rampok. Kemudian persiapkan diri kalian semua. Kita akan menyerang Lalah di Dolok ginjang." Kata Marven.
"Siap ketua." Kata Beni, Strongkeng dan Togi bersamaan.
"Hahaha... Hahahaha... Aku adalah ketua sekarang!" Kata Marven sambil berkacak pinggang.