BLACK CAT

BLACK CAT
Mencegat di perbatasan



Perbatasan kota Batu-kota Kemuning.


Sama seperti perbatasan antara kota Tasik putri dan Dolok ginjang, perbatasan antara kota Batu dan kota Kemuning juga terpisah oleh perkebunan milik PT. Hanya saja bedanya adalah, jika di perbatasan Dolok ginjang adalah perkebunan kelapa sawit tepatnya di tikungan pitu, kalau di kota Kemuning ini adalah perkebunan karet.


Perkebunan milik Negara ini luas membentang di sepanjang jalan dan terbagi dua dengan separuh masuk kawasan kota batu dan separuhnya lagi berada dalam kawasan kota Kemuning.


Tidak ada satu pun perkampungan di sini. Semua yang ada hanya gelap gulita dan sepi. Biasanya setiap malam, hanya ada suara jangkrik dan burung hantu saja di sini. Jika sudah malam, kawasan ini terasa sangat mencekam dan tidak ada pengendara yang akan pelan mengemudikan kendaraan nya di kawasan ini.


Tapi kali ini berbeda. Di dalam pekat nya malam, tampak sekitar enam puluh orang sedang bersembunyi di balik batang besar pohon karet di sepanjang jalan tersebut. Mereka adalah anggota dari geng kucing hitam rekrutan Tigor.


Sesuai dengan rencana dari Andra, Acong, Timbul dan Ameng, bahwa masing-masing dari mereka telah mengirim lima belas orang untuk menguasai area tersebut untuk menyongsong orang-orang dari geng tengkorak yang akan melakukan pengejaran dengan Andra dan yang lainnya sebagai umpan.


Di setiap tangan semua orang kini tampak menggenggam botol bir yang sudah di isi dengan minyak bensin dan menggunakan sumbu dari sobekan kain cotton. Rencananya adalah, ketika Andra, Ameng, Acong dan Timbul membawa pengejar sampai ke kawasan itu, mereka akan melempari kendaraan mereka dengan menggunakan Bom molotov rakitan tersebut.


*


Di ujung jalan, tampak sebuah mobil BMW sport i8 mendekat dengan kecepatan rendah dan berhenti tepat di depan orang-orang yang bersemabunyi tadi. Ketika memastikan di depan ada sebuah jalan memasuki perkebebunan yang tidak di aspal, mobil itu perlahan bergerak dan memasuki kawasan perkebunan tersebut dan menyembunyikan mobil di balik semak-semak.


Kini dari dalam mobil tampak sesosok orang berpakaian serba hitam dengan mengenakan topeng kucing juga berwarna hitam pekat keluar dan langsung melompat dengan gesit untuk bersembunyi di antara rerimbunan tanaman kacangan. Keadaan kembali sepi. Namun itu tidak berlangsung lama.


Sekitar 15 menit kemudian terdengar raungan suara mesin sepeda motor Yamaha RX king dan bus mini sedang menderu-deru memainkan gas seperti sedang memancing keributan.


Benar saja. Tak jauh di belakang konvoi sepeda motor tersebut, tampak puluhan kendaraan roda empat sedang mengejar.


"Andra... Dii depan sana ada tikungan jalan untuk memasuki kawasan perkebunan. Pancing mereka dan kita bereskan di sana!"


Tampak seorang lelaki berteriak kepada temannya yang berada di atas motor bersebelahan dengannya.


"Apakah di sini tempat nya Meng?" Tanya Andra.


"Harus nya di sini. Sesuai janji, aku menyuruh mereka menunggu di sini." Kata orang tadi.


"Ok. Ayo. Kau yang membawa jalan!" Kata Andra.


Mereka lalu bergegas mempercepat laju sepeda motor dan berbelok ke kanan.


"Hei ini kan mobil Tigor. Dari mana dia tau kalau ada perubahan rencana dari kita?" Tanya Andra.


"Ah. Mungkin hanya kebetulan saja." Jawab temannya.


Tepat ketika Pengejar mulai memperlambat laju kendaraannya dan berniat berhenti di simpang jalan tanpa aspal itu, tiba-tiba saja dari arah semak-semak dan dari balik pepohonan tampak kerlap kerlip cahaya korek api dan sebentar saja kawasan perkebunan itu sudah terang benderang oleh cahaya seperti obor itu.


Keheranan di hati orang-orang geng tengkorak tidak berlangsung lama. Karena setelah itu, api obar tadi langsung melayang dari balik semak menghantam kendaraan mereka dan tidak menunggu waktu lama, kendaraan dari orang-orang geng tengkorak sudah menjadi api unggun.


"Celaka. Kita di jebak."


"Cepat mundur. Masuk ke dalam mobil yang belum terbakar!" Teriak Bongsor yang menjadi ketua komplotan itu.


"Arrrgkh...."


"Uggghh...."


Tampak beberapa orang yang mencoba mendekati mobil yang belum sempat terbakar itu mulai berjatuhan dengan tangan memegangi bagian leher yang sudan koyak ternganga.


Kejadian yang begitu cepat itu membuat membuat Bongsor sangat kaget dan langsung mengalihkan perhatiannya ke satu sosok hitam mengenakan topeng kucing berwarna hitam sedang tegak berdiri bagai batu karang. Di gengganam tangannya tampak sebilah pedang yang sangat lentur berwarna keemasan terkena pantulan dari cahaya api mobil yang terbakar.


"Black Cat kah itu?" Tanya Bongsor dalam hati.


Sementara itu Andra, Ameng, Acong dan Timbul mulai saling berbisik di antara mereka.


"Lihat Black Cat sudah ada di sini." Kata Andra.


"Mungkin mobil Tigor dia yang bawa. Soalnya aku tidak menemukan jika Tigor ada di sini." Kata Acong pula.


"Tampak nya akan terjadi banjir darah di tempat ini." Kata Timbul.


"Kita lihat saja. Jujur aku penasaran. Apakah Black Cat ini seperti yang dibicarakan oleh orang-orang? Jujur saja bahwa aku sangat penasaran." Kata Ameng.


"Sama. Aku juga penasaran. Aku sudah lama hidup dalam kekerasan jalanan. Makanya aku penasaran apakah ada orang yang memiliki darah dingin yang bisa membunuh seperti menebas rumput?" Timpal Andra pula.


"Kalian semua dengarkan aku! Pastikan tidak ada diantara orang-orang dari geng tengkorak yang bisa kembali ke bukit batu dalam keadaan bernyawa."


Dingin terdengar nada suara yang lantang itu membuat percakapan antara Andra dan yang lainnya langsung berhenti bergosip tentang diri Black Cat.


Selesai berbicara seperti itu, Black Cat langsung bergerak menebas siapa saja yang ada di hadapannya membuat semua orang-orang geng tengkorak kocar kacir.


Black Cat mulai berhenti ketika tangan kirinya menjangkau leher Bongsor yang diam mematung seperti terhipnotis.


"Bagaimana kabar mu Bongsor? Apakah kau baik-baik saja? Sudah delapan tahun aku menunggu saat-saat seperti ini. Dan hari ini semuanya terlaksana juga." Kata Black Cat dengan suara dingin.


"Si.., siapa kau sebenarnya?" Tanya Bongsor dengan gugup.


"Aku adalah anak yang telah kalian renggut kebahagiaan nya dan kalian hancurkan masadepannya tepat sekitar delapan tahun yang lalu. Sekarang aku ingin menuntut balas." Kata Black Cat.


"Katakan siapa.kau sebenarnya!" Kata Bongsor.


"Hahaha. Kau tidak layak untuk.bertanya." Kata Black Cat.


Sebenarnya Black Cat bisa saja mengatakan siapa dirinya kepada Bongsor. Namun itu tidak jadi dia lakukan karena saat ini di tempat itu juga ada Andra, Ameng dan yang lainnya yang sudah mengetahui bahwa Tigor adalah anak dari kapten Bonar yang di bunuh oleh anggota geng tengkorak.


Jika Black Cat mengatakan hal yang sama kepada Bongsor, sudah pasti identitas Black Cat akan terbongkar.