BLACK CAT

BLACK CAT
Pembantaian di tikungan pitu



Beberapa sosok bayangan kini mulai bermunculan dari dalam semak-semak kemudian mendekati mobil yang dikendarai oleh Marven dan Wulan di mana Marven saat ini sudah di cegat oleh sekitar empat orang berpakaian serba hitam.


Setelah orang-orang yang keluar dari semak belukar tadi mendekat, mereka lalu mengelilingi mobil BMW i8 tersebut lalu salah satu dari mereka bertanya. "Mau kemana kau buru-buru sekali ingin masuk ke mobil?"


"Benar. Mengapa kau terlalu terburu-buru. Di sini saja dulu menemani kami." Kata yang lainnya menyelah.


"Siapa kalian dan mau apa kalian mencegat perjalanan ku?" Tanya Marven mulai merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya.


"Hahaha... Kau tidak perlu tau siapa kami dan dari mana asal kami. Yang perlu kau ketahui adalah, kami menginginkan gadis yang di dalam mobil itu berikut nyawa busuk mu." Kata lelaki yang paling depan menjawab.


"Oh. Mau nyawa ku dan gadis itu ya? Apakah kau sudah berfikir dalam-dalam sebelum membuat silang sengketa dengan ku? Ketahuilah bahwa aku adalah Marven. Putra tunggal Martin penguasa Kota tasik putri ini. Dan asal kalian tau saja bahwa gadis yang berada dalam mobil itu adalah Wulan putri Lalah dari Dolok ginjang." Kata Marven berusaha menggertak menggunakan nama besar ayah nya.


"Hahahaha... Apa katamu? Anak Martin ya? Hahaha... Uh... Aku takuuut..."


Mendengar pernyataan dari Marven barusan, mereka semua yang ada di tempat itu juga ikut-ikutan tergelak tawa mengikuti ketua mereka.


"Andai Martin sendiri pun berada di tempat ini, dia juga pasti akan kami lenyapkan. Apa kau kira geng kucing milik ayah mu itu sudah terlalu kuat? Ha...? Geng mu itu tidak lebih dari perkumpulan orang-orang pesakitan yang sama sekali tidak ada artinya di hadapan kami."


"Hahaha. Sudah bang! Hajar saja kucing kecil ini. Banyak mulut kali dia. Tangan ku sudah gatal ini." Kata mereka kemudian bergerak merengsek semakin mendekat.


'Berani kalian berbuat macam-macam, jangan salahkan aku!" Kata Marven berusaha membuka pintu mobil untuk mengambil sebatang pipa besi yang memang selalu di bawa kemana-mana olehnya.


"Kau tidak akan bisa kemana-mana nak. Kau akan mati di sini." Kata lelaki itu sambil mendorong tubuh Marven merapat ke mobil lalu mencekik leher pemuda itu.


"Argh... Lepaskan bangsat! Aku pastikan bahwa kau akan menyesal karena telah mencari perkara dengan ku." Kata Marven disela-sela cekikan tangan besar milik penghadang itu.


Bugh....!


"Akh....! Uhuk... Uhuk.."


Satu pukulan mendarat kearah perut Marven membuat dia tertunduk menahan rasa sakit lalu terbatuk-batuk.


"Nyawa sudah di ujung tanduk tapi kau masih terus berkoar-koar. Ayo buktikan omongan mu. Pukul aku ayo!" kata lelaki itu.


"Lepaskan bangsat. Biar ku hajar wajah bopeng mu itu." Kata Marven sambil memukul tangan lelaki berbadan tegap itu lalu setelah cekikan itu terlepas, dia mulai main sradak-sruduk memukul lelaki itu. Sialnya satu pun pukulannya tidak ada yang mengenai sasaran.


"Hahaha... Ayo anak manja. Apakah mulut besar mu sesuai dengan kemampuan mu?" Tanya lelaki itu sambil menghindari serangan dari Marven yang membabi-buta.


"Hiaaah...!"


"Heit.., tak kena..."


Plak...!


"Hoeeek...! K*parat kau." Kata Marven yang terduduk akibat ulu hatinya terkena sodokan sikut lawan.


"Paksa gadis itu keluar dari mobil dan bawa dia. Kita jadikan sate dan kita pesta malam ini. Hahahaha..."


"Baik bang. Hahahaha.."


*********


Di sisi lain, sekitar 5. orang lelaki masih tetap bersembunyi di balik semak-semak dan mengendap-endap berjalan sambil membungkuk mendekati mobil yang terkepung itu.


"Bagaimana Hasian? Apakah kita sudah boleh


keluar?" Tanya seorang lelaki yang tepat berada di belakang lelaki muda bernama Hasian itu.


"Ya. Sebaiknya ayo kita keluar. Kita harus berpura-pura menolong gadis itu. Setelah itu kita berpura-pura kalah lalu kabur membawa putri Lalah itu kemudian biarkan mereka membereskan anak Martin itu." Kata Hasian.


"Baiklah. Ayo kita keluar sekarang." Jawab anak buahnya itu.


Kelima orang itu kini serentak keluar dari balik rimbun rerumputan dan mulai bergerak mendekati gerombolan penghadang yang sedang memukuli seorang pemuda yang sudah babak belur.


Namun, baru saja pemuda yang di depan ingin berteriak berpura-pura mencegah, tiba-tiba dari balik tikungan sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi kemudian berhenti tepat bersebelahan dengan mobil BMW i8 yang di kepung oleh sekitar 20-an orang-orang berbadan tegap itu.


Tanpa ba-bi-bu lagi penunggang sepeda motor itu langsung turun dari tunggangannya lalu berjalan ringan ke arah kerumunan orang-orang yang sedang mengeroyok seorang pemuda yang sudah bonyok itu sambil meraba ke bagian pinggangnya.


Kini di tangan penunggang sepeda motor itu tampak tergenggam gagang pedang yang sangat lentur kemudian tanpa sepatah kata pun langsung ditebaskan secara acak kearah kerumunan lelaki pengeroyok itu.


Wuzzz....!


Werrr....!


"Akh...."


"Awas hati-hati...!"


Wuzz....


"Hooeeeek....?!"


Tampak kini beberapa tubuh roboh mencium aspal. Ada yang memegangi bagian leher, bahu dan lain sebagainya yang telah robek terkena senjata yang sangat tajam di tangan lelaki penunggang sepeda motor bertopeng itu.


"Siapa kau? Mengapa ikut campur urusan kami?" Tanya salah seorang dari lelaki berbadan tegap itu.


Sebagai jawaban, lelaki bertopeng itu malah mengirim tebasan yang langsung mengenai dari bagian kening, ujung hidung dan sebagian bibir lelaki itu sehingga bentuk wajahnya kini persis seperti tengkorak.


"Akh.... Wajah ku... Tolong aku. Hasian...! Tolong aku!" Kata lelaki itu sambil menekap wajahnya yang kini sudah berlumuran darah.


Selesai berkata seperti itu, tanpa membuang-buang waktu lagi, lelaki bertopeng itu bergerak sangat lincah mengirim tebasan kesana kemari dan hasilnya, beberapa tubuh ambruk roboh bagaikan batang pisang saling tumpang tindih.


"Sialan kau. Katakan siapa namamu dan mengapa kau ikut campur dalam urusan geng tengkorak?" Tanya seorang pemuda yang baru tiba bersama empat orang di belakang nya.


"Kau pasti Hasian putra Birong kan? Ketahuilah. Namaku adalah Black Cat. Kau tau? Bahwa setiap musuh yang mengetahui namaku, maka dia harus mati. Sekarang persiapkan dirimu!" Kata Black Cat.


"Hahaha... Tidak semudah itu membunuh Hasian. Kita lihat saja siapa yang mati duluan." Kata Hasian.


"Maju lah jika ingin tau seluas apa samudra dan tingginya gunung. Ingat! Tidak ada yang selamat dari kalian berlima. Khusunya kau Hasian! Aku akan mengirim kepalamu kepada Birong sebagai salam perkenalan dari ku." Kata Black Cat.


"Hiaaaat....!"


Selesai berbicara seperti itu, Black Cat bagaikan terbang langsung mengirim tebasan ke arah leher Hasian.


Merasakan desiran angin yang ditimbulkan oleh pedang tipis itu, Hasian secara spontan langsung menundukkan kepalanya menghindari tebasan. Namun malang bagi kedua orang yang berada di belakang dan sampingnya. Karena tidak sempat menghindar, leher mereka menjadi sasaran empuk ujung pedang milik Black Cat.


"Argh....!!!"


"Hoeeek...!"


"Jahanam kau Black Cat! Ayo serang dia!" Kata Hasian memerintahkan kepada dua orang anak buahnya yang tersisa.


Dengan agak ketakutan namun tidak memiliki pilihan lain, kedua orang yang tersisa itu pun akhirnya mengikuti juga perintah dari hasian. Karena bagi mereka, melawan mati, tidak melakukan perlawanan juga kemungkinan besar akan mati juga. Lebih baik mati secara terhormat.


Baru saja mereka bergerak dengan menggunakan senjata kayu, Black Cat sudah duluan melompat dan berlutut tepat di depan salah seorang dari anak buah Hasian dengan posisi pedang telah menancap di ulu hati lelaki itu.


"Kau...?!"


Hanya itu kata-kata yang terucap dari mulut yang dipenuhi darah itu sebelum lelaki itu ambruk menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu bergelar almarhum.


Melihat hanya tinggal dia berdua saja dengan Hasian yang tersisa, anak buah Hasian yang seorang lagi masih hidup berusaha melarikan diri. Namun belum lagi dia jauh berlari, Black Cat sudah melemparkan pedang nya dan dengan tepat menembus punggung lelaki itu sampai ke dada.


"Bagaimana Hasian? Kita bermain tangan kosong?" Tanya Black Cat dengan nada suara dingin.


"Sialan. Siapa kau sebenarnya? Dan mengapa kau mengganggu urusan orang lain. Aku bahkan tidak mengenalmu. Lalu mengapa kau ikut campur?" Tanya Hasian dengan suara bergetar antara takut dan rasa marah.


"Aku hanya ingin memberikan sensasi rasa kehilangan kepada ayah mu Birong. Karena selama ini, hanya orang lain saja yang selalu kehilangan karena perbuatan nya. Kini aku akan memberikan perasaan yang orang lain rasakan. Agar dia bisa tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling dia cintai."


"Puiiih. Anj*ng kau. Kau kira aku takut?"


"Aku tidak menyuruhmu untuk takut. Aku hanya menyuruhmu untuk mempersiapkan diri. Jangan pernah berfikir untuk lari dari tempat ini dalam keadaan hidup." Kata Black Cat.


"Aku tidak akan lari sebagai pengecut. Tidak ada keturunan keluarga ku yang pengecut. Sekali mati, sekali hidup. Aku tidak takut. Hiaaaaat...!"


Wuzz...!


Tampak kini Hasian berlari lalu mengirim pukulan kearah dada yang dengan spontan di hindari oleh Black Cat lalu...,


Tap...!


Begitu pukulan itu dapat di hindari, Black Cat tiba-tiba langsung memapas pukulan itu dengan tangan kiri. Setelah tangan Hasian terangkat ke atas, tangan kanan Black Cat langsung menyambar pergelangan tangan Hasian.


"Huh... Sialan kau. Lepaskan tanganku.!" Kata Hasian sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Black Cat yang seperti jepitan besi baja itu.


Bukannya di lepaskan. Black Cat malah metenggut pergelangan tangan Hasian dengan tiba-tiba dan sangat kuat sekali membuat persendian antara lengan dan sikut nya terlepas.


"Argh.....! Aduh..!" Kata Hasian meringis memegangi sikut nya yang kini mulai membengkak. Tapi kali ini Black Cat sepertinya tidak ingin membuang-buang waktu lagi.


Bugh...!


"Hoeeek...!"


"Sudah waktunya kau pulang menghadap ayah mu di kota Batu. Tapi hanya kepala mu saja." Kata Black Cat sambil melangkah ke arah sosok tubuh anak buah Hasian yang melarikan diri tadi dan mencabut pedangnya yang tertancap di tubuh itu.


"Berdoalah kepada Tuhan mu agar arwah mu diterima di sisi-Nya!" Kata Black Cat sambil mengayunkan pedangnya dan...,


Wuuuuz....!


Brugh...."


(Harus di sensor)


Setelah semuanya selesai, kini Black Cat menghampiri satu-satunya anggota geng tengkorak yang selamat yaitu yang dari jidat, hidung dan bibirnya rata karena tebasan pedang Black Cat tadi lalu berkata, "Jika kau mau selamat, bawa kepala anak Birong ini bersama mu. Kembalilah ke Bukit batu dan serahkan kepada Birong. Katakan bahwa urusan 8 tahun yang lalu belum selesai. Akan ada hari pembalasan. Katakan begitu!. Jika kau lari, aku akan mencarimu bahkan sampai ke lobang cacing sekalipun."


"Ba.. Baik. Aku akan melakukan perintahmu. Asal jangan ambil selembar nyawa busuk ku ini." Kata lelaki itu. Namun karena bibirnya sudah sumbing, maka kata-kata yang terucap pun seperti suara kentut keledai.


"Kau juga Marven dan Wulan. Kalian segera tinggalkan tempat ini! Dan kau Marven! Mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati! Karena di dalam organisasi kucing hitam mu, ada musang berbulu ayam. Katakan kepada Martin untuk mengadakan pertemuan dengan Tigor bagi rencana menjebak ular berkepala dua itu!" Kata Black Cat dan tanpa bicara lagi langsung menunggang sepeda motor nya dan berlalu dengan kecepatan tinggi meninggalkan arena pembantaian yang telah merenggut dua puluh empat nyawa anggota geng tengkorak itu.


Kini tinggal lah Marven dan Wulan seperti orang bodoh.


"Ayo bang. Kita bersihkan dulu kaca mobil ini lalu segera tinggalkan tempat ini!" Kata Wulan mengambil tisu dari dalam mobil dan mengusap kaca mobil yang terkena lemparan benda cair tadi.


Melihat Wulan sudah mulai membersihkan kaca, Marven pun segera ikut membantu.


Setelah semuanya selesai, mereka pun bergegas memasuki mobil lalu tancap gas meninggalkan tempat pembantaian di kelok pitu itu