
Restoran Samporna-Tasik Putri.
Malam itu di Restoran Samporna sedang berlangsung pertetemuan antara Martin, Marven dan Tigor dengan tangan kanan Martin bernama Beni dan Tumpal membawa seorang klien untusan dari kota Kemuning bernama Roland.
Dalam pertemuan itu Martin menjelaskan mengapa dia sampai batal mengunjungi Kota Kemuning. Ini tidak lain karena kelompok geng tengkorak yang di utus oleh Birong telah mencegat dirinya beserta delapan orang pengawal di jalan lintas Kota Batu dekat area pemakaman umum sebelum kantor polisi kota Batu.
Martin juga tidak lupa memperkenalkan Tigor kepada Tumpal, Beni dan Roland. Jika tidak karena Tigor, sudah pasti malam itu Martin sudah mati di bunuh oleh anak buah Birong.
"Hmmm.., Aku melihat Tigor ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari anak ini. Apakah Ketua yakin ingin merekrut Tigor ini kedalam kelompok kita?" Tanya Tumpal sambil memandang dengan sinis ke arah Tigor.
"Saya juga senada dengan Tumpal. Saya sama sekali tidak melihat keistimewaan apa pun pada diri Tigor ini." Kata Beni.
"Apa maksud kalian dengan perkataan kalian ini?" Tanya Martin dengan nada tidak senang.
"Begini Ketua. Aku minta maaf kepada anda, juga kepada Tigor. Bukan maksudku merendahkan atau meragukan kemampuan mu. Tapi seperti yang Ketua ketahui bahwa saat ini kelompok kita setiap tahun semakin lemah. Maksud ku adalah, jika ingin merekrut seorang bawahan, biarlah yang meyakinkan dari segi fisik serta kemampuan. Tigor ini terlalu tampan dan lembut menurut ku. Sedangkan kita membutuhkan orang yang berdarah dingin untuk masuk ke dalam geng kita." Kata Beni menjelaskan maksudnya.
"Berarti kalian sudah tidak menghormati pilihan ku?" Kata Martin sambil bangkit berdiri.
"Tenangkan dulu dirimu ketua. Geng kucing hitam milik kita bukan team hore. Masuk ke dalam organisasi berarti sudah siap mati. Jika kita tidak tega menginjak, maka kita yang akan di injak. Itu tadi hanya sebuah perumpamaan yang sangat sederhana. Aku khawatir jika Tigor ini, jangankan membunuh manusia, menyakiti seekor semut pun dia tidak akan tega." Kata Tumpal.
"Maaf jika saya di izinkan untuk ikut campur." Kata Roland meminta izin untuk ikut bicara. Dia lalu melanjutkan. "Berapa banyak orang yang tertipu dengan penampilan. Kadang kita lihat orang itu baik. Contoh saja koruptor. Wajahnya begitu bersih. Lemah lembut tutur bahasanya. Berbudi pekerti. Tapi itu hanya tampilan luarannya saja. Ketika butuh dengan orang lain, bukan main menjilat. Ketika sudah tercapai maksud di hati, semua janji dengan mudah di ingkari."
"Ada juga yang terlihat kasar, bengis, dan terkesan apa adanya. Tapi dia tidak merugikan orang lain. Bertindak sesuai hati nurani. Walaupun terkesan urakan, tetapi dia tidak pandai bersandiwara untuk memperdaya orang lain.
Janganlah sampai kita tertipu dengan penampilan orang sekilas pandang. Karena, bukan sekali dua kali mata ini menipu pemiliknya." Kata Roland panjang lebar membuat semua yang ada di ruangan itu mulai berfikir.
"Aku faham maksud anda itu Roland. Tapi jujur saja. Ada pepatah mengatakan, 'Tak kenal maka tak sayang' dan Tigor ini butuh di uji terlebih dahulu sebelum di rekrut untuk masuk ke dalam kelompok organisasi kucing hitam." Kata Beni.
"Hahahaha... Kalian berdua ini berbicara seolah-olah aku sangat tertarik untuk bergabung dengan kalian. Jangan terlalu besar kepala Pak Beni dan anda Pak Tumpal. Terus terang saja aku muak mendengar perkataan dari anda sampai mulut berbusa padahal anda tidak tau apakah aku tertarik atau tidak."
"Menurut anda apakah Geng kucing hitam ini adalah kelompok yang kuat? Jawabannya adalah tidak. Jika kalian merasa bahwa organisasi ini patut di banggakan, mengapa Kafe melody dan sekitarnya sampai diambil alih oleh geng tengkorak? Mikir sendiri lah. Apalah hebagnya geng kucing hitam. Tidak pantas untuk Tigor." Kata Tigor mulai naik darah.
"Apa maksud dari perkataan mu ini Tigor? Apakah kau menolak untuk bergabung dengan ku? Terus terang saja. Kau sangat membutuhkan dukungan untuk membalas dendam kematian ayah mu Kapten Bonar yang di bunuh oleh orang-orang dari Geng tengkorak. Kau butuh orang-orang yang berdiri di belakang mu." Kata Martin.
"Apa? Tigor ini adalah anak mendiang Kapten Bonar yang terbunuh sekitar 7 tahun yang lalu?" Tanya Beni.
Tumpal saat ini juga membelalakkan matanya begitu mendengar perkataan dari Martin tadi.
Tigor hanya diam saja dan tidak menjawab sedikitpun pertanyaan Tumpal.
"Ini sudah menjadi satu alasan untuk geng kucing merekrut Tigor kedalam organisasi kucing hitam. Dia memiliki motivasi untuk menyerang geng tengkorak dan memberikan keuntungan bagi kelompok anda secara otomatis." Kata Roland.
"Hahh..., dendam saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan. Asah dulu kemampuan mu karena geng kucing hitam bukan ajang uji coba bagi pemula." Kata Tumpal masih tidak dapat menerima.
"Baik. Jika begitu, jangan kalian membuang waktu hanya untuk membahas tentang diriku. Aku permisi dulu!" Kata Tigor sembari bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu Tigor!" Kata Marven.
"Jika mereka tidak memgizinkanmu untuk masuk ke dalam organisasi kucing hitam, kau boleh bekerja untukku sebagai pengawal pribadi ku." Kata Marven memberikan tawaran.
"Tidak. Tidak boleh. Di sini aku yang menentukan. Hitam kata ku, maka hitam. Putih kataku, maka putih lah. Jadi, aku dengan resmi mengangkat Tigor sebagai bagian dari kelompok organisasi kucing hitam. Dan keputusanku sudah final!." Kata Martin dengan mantap.
"Terimakasih Martin. Namun perlu kalian semua ketahui bahwa diriku adalah milikku. Aku berhak menerima atau menolak. Dan aku menolak perekrutan ini. Aku harap anda menghormati keputusan ku." Kata Tigor sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu dulu Tigor!" Kata Martin sambil bergegas mengejar Tigor yang sudah hampir menjangkau pintu keluar.
"Ada apa lagi Martin?" Tanya Tigor yang sudah tidak ingin basa-basi lagi.
"Ambil ponsel ini. Jika kau berubah fikiran, kau bisa menghubungi ku kapan saja, dan aku akan dengan senang hati menerima mu di dalam organisasi." Kata Martin sambil menyelipkan ponsel pemberiannya kedalam saku celana Tigor.
Tigor hanya mengangguk pelan dan berbalik meninggalkan Martin yang terus berdiri menatap kepergian Tigor sambil menggelengkan kepala nya.
Begitu Martin memasuki ruangan pertemuan tadi, dia langsung mengamuk sejadi-jadinya kepada Beni dan Tumpal.
"Ini semua karena kalian. Gagal sudah rencanaku untuk mempekerjakan Tigor."
"Bukan maksud ku menolak bang. Tapi Tigor ini masih terlalu muda. Lihatlah perawakannya yang lemah lembut itu. Tidak pantas berada di dalam organisasi." Kata Tumpal.
"Aku kecewa kepada kalian semua. Apakah karena kelompok kita semakin hari semakin lemah membuat kalian tidak lagi menghormati ku?" Tanya Martin.
"Sama sekali tidak. Bukan begitu maksud ku Bang."
"Sudahlah. Aku tidak mau tau lagi. Jika Tigor berubah fikiran dan ingin bekerja dengan kita, maka kalian tidak memiliki hak untuk berbicara. Keputusan ku sudah bulat. jika karna kalian menyebabkan Tigor tidak menjadi bagian dari organisasi kita, aku tidak akan memaafkan kalian!" Kata Martin memberikan ancaman.