
...Kompleks elite Tasik Putri...
Mobil BMW hitam itu memasuki pekarangan rumah besar yang berada dalam komunitas elite di kota Tasik Putri ini.
Setelah parkir dengan benar, seorang lelaki cungkring dengan stelan jas serba hitam, memakai sepatu, topi koboi dan kacamata serba hitam membuka pintu dan keluar dari mobil lalu buru-buru melangkah ke arah pintu bagian belakang kemudian membukakan pintu untuk majikannya.
Kini tampak seorang pemuda berusia sekitar 28 tahun keluar dari mobil tersebut dengan lagak angkuh namun ada guratan gelisah terlihat dari raut wajahnya.
Baru saja dia keluar dari dalam mobil, kini dia sudah berteriak kepada pembantu rumah nya.
"Di mana Ibu ku?" Katanya berteriak membuat pembantu di rumah itu berdatangan dan langsung memberi hormat.
"Bos besar. Nyonya besar tadi pergi keluar dengan pak Beni." Jawab mereka.
Mendengar jawaban ini, Marven langsung menatap ke arah Carmen dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.
"Sabar Bos." Kata Carmen lalu menyuruh pembantu rumah itu untuk segera pergi.
"Kalian lanjutkan pekerjaan kalian yang tertunda." Kata Carmen.
Pembantu rumah itu hanya mengangguk saja lalu mereka pun bergegas kembali ke belakang.
"Carmen, sekarang katakan kepadaku apa yang sedang kau rencanakan untuk mementahkan rencana gila yang sedang di atur oleh Beni dan Ibuku?!" Kata Marven.
Tampak kegusaran tersirat di wajahnya ketika ini.
"Duduk dulu Bos." Kata Carmen sengaja menggantung rasa ingin tahu Marven.
"Cepatlah Carmen. Jangan bertele-tele! Aku ingin mendengar apa rencana mu untuk mengantisipasi rencana gila dari Beni ini." Bentak Marven yang sudah habis batas kesabarannya.
"Bos. Seperti kata ku tadi. Hanya ada dua hal yang bisa membuat rencana mereka mentah di tengah jalan."
"Yang pertama, Jangan Serang kota Kemuning. Beni ini pengecut. Dia ingin memanfaatkan dirimu sebagai ujung tombak. Kelak setelah kau berhasil, baru dia akan menyingkirkan dirimu. Jadi, untuk menunda rencana mereka ini, kau harus menunda dulu penyerangan terhadap orang-orang Tigor yang berada di kota Kemuning, sambil mencari dukungan dari Birong. Atau, paksa dia untuk mendukung mu." Kata Carmen.
Seperti menjala di air yang keruh. Satu umpan mendapat dua mangsa. Itulah yang dilakukan Carmen Bond 070 saat ini.
Dia tau benar bahwa posisi Tigor di kota Kemuning saat ini benar-benar terancam. Dengan mengatakan bahwa Marven jangan atau menunda dulu rencana untuk menyerang Tigor, maka secara alami Tigor sudah bisa bernafas lega lalu bisa memulihkan diri sambil menyusun kembali kekuatan mereka.
Sasaran ke dua adalah, dengan membenturkan antara Beni, Marven dan Birong, fokus mereka akan terpecah. Akan ada tiga kubu yang akan saling berdebat demi kepentingan masing-masing.
"Aku mengerti maksud mu tentang kota Kemuning itu. Aku juga berfikiran yang sama untuk menunda dulu penyerangan ke sana. Namun untuk mendapatkan dukungan dari Birong, ini yang aku masih belum mengerti bagaimana caranya." Kata Marven.
"Bos. Semuanya ada pada diri Butet."
"Maksud mu Carmen?"
"Kita sudah tau bahwa Birong sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Pertama putranya Hasian telah dibunuh oleh Black Cat. Bos tentu tau cerita ini."
"Baru-baru ini Togar pula mati di perbatasan kota Kemuning dan kota Batu. Dengan begini, hanya ada Butet satu-satunya orang yang tersisa di keluarga Birong. Sudah pasti dia akan menumpahkan seluruh kasih sayang nya kepada gadis itu. Ini kesempatan bagi mu bos untuk menikahi Butet agar kau mendapatkan dukungan langsung dari Birong." Kata Carmen menjelaskan.
"Ini dia masalahnya. Butet sepertinya mempermainkan aku. Satu demi satu syaratnya aku penuhi. Namun dia masih saja menggantung keputusan. Aku juga buntu." Kata Marven.
"Jika begitu, Paksa dia." Kata Carmen.
"Maksudmu?"
Sebelum melanjutkan, Carmen tersenyum sejenak lalu duduk mendekati Marven dan berbisik.
"Saat ini dia sedang berduka bos. Aku akan mengirimkan dia bunga atas nama anda lalu mengirimkan undangan kepadanya di sebuah restoran mewah dan romantis. Setelah itu, hehehehe...." Kata Carmen/Karman tertawa.
"Hahaha. Kau jenius Carmen. Ok cepatlah pergi dan atur semuanya. Aku sudah tidak sabaran lagi. Kelak jika kau kekurangan uang, jangan sungkan untuk meminta kepada ku." Kata Marven.
"Hehehe. Terimakasih Bos. Anda adalah Bos yang paling baik yang pernah aku kenal." Kata Carmen sedikit menjilat membuat senyum di wajah Marven sedemikian lebar merekah.
...*********...
Mobil BMW hitam itu bergerak perlahan meninggalkan pekarangan rumah besar milik mendiang Martin itu menuju ke toko bunga.
Dari dalam tampak Carmen keluar dari mobil dan membeli seuntai bunga dengan sekaligus meminta kepada penjual untuk menuliskan kata-kata pada kartu yang akan dia selipkan di karangan bunga tersebut.
Setelah selesai dan melakukan pembayaran, Carmen pun kembali memasuki mobil tersebut lalu mengeluarkan ponselnya.
Sementara itu, Tigor yang sedang duduk bersama dengan Lalah, Poltak, Empat mister dadakan, serta Monang dan yang lainnya, terpaksa menghentikan pembahasan mereka karena saat ini ponsel milik Tigor tiba-tiba berdering.
Tigor yang melihat ke arah layar ponsel segera tersenyum membuat mereka semua penasaran dan langsung bertanya.
"Siapa Gor?" Tanya Lalah.
"Sepertinya Karman sudah beraksi." Jawab Tigor lalu menggeser layar ponsel untuk menjawab panggilan.
Kesemua mereka langsung merapat ke arah Tigor seolah-olah seperti anak-anak 90-an yang tinggal di kampung apabila ketika melihat orang sedang menelepon, terasa seperti sesuatu yang 'Wah'.
"Hallo Karman." Sapa Tigor setelah menjawab panggilan itu.
"Harap di ralat. Saya adalah Agen rahasia Carmen Bond 070 dan bukan Karman. Mohon kondisikan muncung anda sebelum berucap." Kata lelaki di seberang telepon sana.
"Sialan. Kau sudah berani memuncung muncungkan aku ya Karman. Jangan sampai padi mu ku tuai." Ancam Tigor.
"Hahaha... Becanda bang. Sumpah aku becanda. Jangan marah lah."
Terdengar suara tawa terbahak-bahak dari seberang telepon sana.
"Bagaimana Tuan Agen rahasia Carmen Bond 070? Apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya Tigor.
"Ada lah. Belum tau aja Abang ketika ilmu padi ku telah keluar. Sekali Wuz Wuz wuz.., langsung dapat seratus lima puluh juta." Jawab Carmen.
"Ha? Bagaimana caranya?" Tanya Tigor heran.
"Sambil menyelam makan nasi Padang lah bang. Ilmu padi aji mumpung ku telah berhasil membuat Marven tak berkutik. Pokoknya Abang sekarang bisa bernafas lega. Marven tidak akan menyerang kota Kemuning setidaknya dalam waktu tiga bulan ini. Karena dia saat ini sedang sibuk untuk mendapatkan dukungan dari Birong." Kata Carmen lalu menceritakan semua aksinya kepada Tigor.
Bagaikan orang haus diberi teh botol Sosro, Mendengar kabar ini, membuat wajah Tigor dan yang lainnya yang sama-sama berada di ruangan itu menjadi ceria dan cerah.
"Hebat kau Karman. Tidak sia-sia uang ku melayang sepuluh juta tiap bulan untuk mu. Baiklah, begitu rencana mu sukses, kau jangan lagi berada di sana. Itu berbahaya. Kau kembali ke Kota Kemuning, lalu kita sama-sama mempersiapkan penyerangan ke kota Batu dan kota Tasik Putri." Kata Tigor.
"Siap Bang! Pokoknya jangan santai bang. Susun terus kekuatan dan atur perencanaan."
"Bang. Udah dulu. Aku harus mengerjakan tugas dari Marven. Ini juga adalah bagian dari strategi adu domba ku." Kata Carmen.
"Baiklah. Kau jangan terlalu gegabah. Perhatikan juga keselamatan mu." Kata Tigor memperingatkan.
"Selow lah geng. Aku tau lah bagaimana caranya bermain cantik." Kata Carmen lalu mengakhiri panggilan itu.