
Kriiiing...
Kriiiing....!
"Hallo Fan. Bagaimana dengan pekerjaan mu?" Tanya suara lelaki setengah baya tanpa basa-basi setelah menjawab panggilan telepon itu.
"Lancar. Saat ini Marven sudah masuk perangkap." Jawab Irfan.
"Bagus. Kau segera menjaga jarak dengan Marven. Cukup orang-orang suruhan saja yang membuntutinya."
"Baik Ayah. Kalau begitu aku pulang dulu." Kata Irfan lalu segera mengakhiri panggilan.
Begitu dia keluar dari toilet mengarah ke ruangan tempat dia meninggalkan Marven dan Butet tadi, terlihat sofa yang mereka duduki sudah kosong.
"Hmmm... Ternyata mereka sudah pergi." Kata Irfan dalam hati.
Tak lama setelah itu Irfan pun keluar dari pusat hiburan itu menuju ke area parkir untuk memasuki mobil nya dan kembali ke pinggiran komplek elit.
*
Dolok ginjang
Pagi itu, seorang lelaki layaknya seperti seorang tukang pos berhenti di sebuah rumah besar lalu bergegas menemui salah satu dari pengawal rumah tersebut dan bertanya dengan sopan.
"Maaf pak. Apakah benar ini rumah Wulan?" Tanya lelaki yang terlihat seperti seorang kurir tersebut.
"Wulan? Sebelum saya menjawab, saya ingin mengetahui terlebih dahulu ada keperluan apa anda menanyakan rumah Wulan?" Tanya pengawal tadi.
"Begini pak. Jika benar ini adalah alamat Wulan sesuai dengan alamat yang tertera di amplop ini, saya mendapat tugas untuk memberikan kiriman ini kepada orang yang bernama Wulan. Kabarnya dia adalah putri dari Lalah." Jawab sang kurir tadi.
"Baiklah. Anda berada di alamat yang benar alias bukan alamat palsu. Katakan apa barang yang anda bawa itu?"
"Maaf pak. Sebagai orang yang profesional dalam pekerjaan, saya hanya boleh memberikan barang ini kepada orangnya langsung." Kata sang kurir tadi.
"Oh baik. Anda bisa menunggu di sini sebentar. Saya akan memanggil nona muda kami." Kata lelaki pengawal itu lalu bergegas melangkah ke arah rumah dan menyampaikan sesuatu kepada seorang lelaki yang berada di dekat pintu rumah itu.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya seorang gadis ditemani oleh seorang pemuda yang dengan hormat mengawal dibelakang gadis itu berjalan mendekati lelaki yang berpenampilan seperti kurir tersebut lalu bertanya. "Ada keperluan apa anda mencari saya Pak?" Tanya gadis itu dengan suara datar.
"Maaf nona. Apakah saya sedang berhadapan dengan Nona Wulan?" Tanya sang kurir.
"Tepat sekali." Jawab Wulan singkat.
"Begini nona. Saya adalah seorang pegawai pos. Sengaja datang kemari untuk membawa barang kiriman untuk anda." Kata lelaki kurir itu sambil menyerahkan sebuah amplop yang lengkap dengan prangko dan alamat lengkap.
"Silahkan anda tanda tangan di sini sebagai bukti bahwa barang tersebut sudah anda terima!" Katanya dengan sopan.
Merasa penasaran dan tak mau berbelit-belit, Wulan pun akhirnya menerima amplop tersebut dan segera membubuhkan tanda tangannya di kertas yang diberikan oleh kurir tadi.
"Terimakasih Nona. Saya permisi dulu." Kata sang kurir lalu bergegas ke sepeda motornya dan meninggalkan kawasan depan rumah Lalah di dolok ginjang tersebut.
Wulan yang merasa penasaran langsung saja berjalan memasuki rumahnya dan terus ke kamar.
Dia sangat ingin mengetahui apa isi dari amplop tersebut yang menurut dari alamat si pengiriman, bahwa amplop itu datang dari Tasik putri.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Wulan pun merobek ujung atas amplop dan mengeluarkan isinya.
Cetaaaaarrrr.....!
Bagai petir di siang bolong, gadis itu sangat terkejut begitu melihat isi dari dalam amplop itu adalah beberapa keping gambar yang sudah di cetak menunjukkan adegan mesra sepasang muda-mudi yang sangat mesra dan romantis.
"Marve?!" Kejut Wulan melihat wajah lelaki dalam gambar tersebut.
Dengan tangan bergetar, Wulan melihat satu demi satu foto dengan berbagai adegan.
Saat ini air mata Wulan sudah tak terbendung lagi.
Dia merasa kesal, marah, emosi melihat gambar itu. Dan yang lebih membuat dia marah lagi adalah, Marven itu adalah kekasihnya yang telah berjanji untuk sehidup semati dengan nya. Tapi kenyataannya begini.
Dengan perasaan campur aduk, Wulan pun berusaha menyembunyikan tangisnya lalu bergegas keluar dari kamarnya menuju garasi.
Tak lama setelah itu, terdengar deru bising suara mesin yang ditekan dengan sangat keras membuat semua yang mendengar menjadi saling pandang.
Tak lama kemudian satu unit mobil mewah Lexus LC 500 warna merah seperti anak panah lepas dari busur meninggalkan rumah yang dikenal sebagai tempat tinggal Lalah itu menuju ke kota Tasik putri.
Tujuan Wulan saat ini adalah, menemui Marven dan ingin meminta penjelasan tentang gambar ini.
Di sepanjang jalan dia berusaha untuk menelepon Marven. Namun ponsel pemuda itu tidak aktif.
Tiba di kota Tasik putri, saat itu sudah tengah hari. Tanpa membuang waktu lagi Wulan langsung saja menuju ke komplek elit. Tujuannya kali ini adalah rumah Martin.
Tiba di sana, dia tidak menemukan Marven. Bahkan para pengawal dan pembantu rumah itu pun tidak tau kemana perginya Marven. Sedangkan Martin juga tidak.berada di rumah. Mungkin sedang sibuk memantau para pekerja yang sedang membangun kembali pusat hiburan dunia gemerlap malam.
Merasa lelah, marah dan frustasi, Wulan akhirnya singgah di kafe dekat jembatan untuk sekedar beristirahat dan memesan minuman penghilang dahaga.
Baru saja Wulan memasuki kafe tersebut, di meja paling sudut, tampak empat orang pemuda, dan satu dari keempat pemuda itu sangat dikenal oleh Wulan.
"Tigor...!" Kata Wulan menegur salah seorang dari keempat pemuda itu.
"Hei Lan. Kok ada di sini? Mencari ku ya?" Kata Tigor becanda seenaknya aja. Namun yang tidak dia duga adalah Wulan malah mengangguk dan memerintahkan pelayan untuk membawakan satu kursi tambahan untuknya agar bisa bergabung dengan Tigor dan kawan-kawannya.
"Hari ini aku yang traktir. Kalian tinggal pesan saja." Kata Wulan berusaha untuk menyembunyikan sesak didalam dadanya.
"Wah baik sekali. Terimakasih Nona." Kata Acong dengan semangat.
"Makan saja. Ayo makan. Kita makan sampai kenyang." Kata Wulan lalu tertawa.
"Sama sekali tidak lucu dengan tawa itu. Lalu, mengapa Wulan seperti orang gila?" Kata Tigor dalam hati.
"Lan. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Tigor.
"Kenapa? Apakah kau melihat aku sedang sakit?" Tanya Wulan.
"Yakin kau baik-baik saja?" Tanya Tigor lagi.
"Hahahaha... Aku baik-baik saja kok. Wulan itu gadis hebat." Jawabnya tak mau kalah.
Melihat ada yang tidak wajar, Tigor lalu memberi kode kepada ketiga sahabatnya itu untuk meninggalkan meja tersebut.
Tau akan maksud dari kode yang diberikan Tigor, Acong, Andra dan Ameng segera meminta diri dengan alasan masih ada sesuatu yang harus mereka kerjakan.
"Mbak Wulan. Terimakasih atas traktir nya ya. Kami minta diri dulu." Kata Andra sambil malu-malu kucing.
"Oh iya sama-sama." Jawab Wulan masih memaksa tersenyum walau saat ini ekor matanya sudah berair.
"Gor. Pinjamkan aku pundak mu!" Kata Wulan setelah semua sahabat Tigor pergi.
"Untuk apa? Kau ada masalah?" Tanya Tigor mendadak seperti orang bego.
"Marven. Dia berkhianat. Pinjamkan aku pundak mu sebentar saja." Kata Wulan lalu membenamkan wajahnya di bahu Tigor dan menangis sejadi-jadinya.
Tigor yang mati kutu hanya diam saja seperti patung tidak tau harus berbuat apa.
Sementara itu Wulan masih saja terus menangis membuat Tigor menjadi tidak sampai hati.
Dengan pelan dan lembut, Tigor mengangkat wajah Wulan lalu mengusap air mata gadis itu.
"Coba ceritakan kepadaku ada apa dengan Marven?" Tanya Tigor.
"Kau lihat ini!"
Setelah berhasil menguasai diri, Wulan akhirnya mengeluarkan beberapa keping foto cetak dari dalam handbag nya lalu menyerahkan kepada Tigor.
Karena penasaran, Tigor akhirnya melihat juga kearah gambar tersebut. Walau tidak sedih, tapi Tigor cukup kaget juga melihat Marven sangat mesra dengan seorang gadis yang sama sekali tidak dia kenal.
"Sabar Lan. Sekarang bagaimana?" Tanya Tigor.
"Aku tidak tau harus ngapain lagi Gor. Aku cape. Andai aku bertemu dengan Marven hari ini, aku pasti akan mengacak-acak wajah bajingan itu." Kata Wulan.
"Tenang Lan. Jangan emosi. Sekarang sudah sore. Kemana tujuan mu?" Tanya Tigor lagi.
Wajar saja Tigor khawatir kepada Wulan. Ini karena dia sudah mengenal Wulan ini cukup lama walaupun selama dia berkenalan dengan gadis manja ini, selalu saja kerugian berpihak kepadanya.
"Aku ingin pulang. Melupakan semuanya. Percuma aku meminta penjelasan dari Marven. Lidah seorang lelaki bajingan seperti Marven ini pasti memiliki sejuta alasan."
"Kau berani pulang sendiri? Pasti malam nanti baru sampai. Aku khawatir dengan keselamatan mu. Apa lagi tikungan pitu tidak aman." Kata Tigor mengemukakan kekhawatirannya.
"Apakah kau tidak keberatan untuk mengantar ku pulang?" Tanya Wulan.
"Ya sudah. Ayo aku antar. Besok biar Roger yang mengantar aku kembali ke blok B." Kata Tigor.
Kedua muda-mudi itu pun pergi meninggalkan kafe dekat jembatan itu menuju ke dolok ginjang.
Kejadiannya juga sama seperti kemarin. Tanpa mereka sadari dari jarak yang cukup aman, beberapa orang sedang merekam tindak tanduk mereka berdua.