
"Aku sedikitpun tidak tertarik dengan ajakan dari Birong tersebut. Mana mungkin sebuah organisasi induk harus meleburkan diri kepada bekas anggotanya dan menjadikan bekas bawahan tersebut sebagai majikan. Birong terlalu bermimpi."
"Ketika yang lain menyetujui persekutuan itu, mereka mulai menamai organisasi mereka dengan nama Tengkorak dengan mengusung dua misi. Misi pertama adalah menyingkirkan Kapten Bonar yang menjadi duri dalam daging bagi mereka, serta yang ke dua adalah membumi hanguskan Geng kucing hitam yang menjadi batu sandungan bagi geng tengkorak untuk menguasai kota Tasik putri ini. Jika geng kucing ini bisa mereka basmi dan menguasai kota Tasik putri ini, maka target mereka selanjutnya adalah kota Dolok ginjang."
"Untuk memuluskan rencana, Birong telah mempersiapkan putranya untuk melamar putri tunggal Lalah yaitu bernama Wulan guna mewujudkan sebuah aliansi dengan ikatan pernikahan anak-anak mereka. Jika hal ini sampai terwujud, organisasi kucing hitam kita akan berada ditengah-tengah dua kekuatan yang akan menekan kita dari sisi kiri dan kanan." Kata Martin mengemukakan kekhawatirannya.
"Boss. Kau kan tau bahwa aku memiliki seorang anak lelaki bernama Irfan. Bagaimana jika aku menyuruh anak ku itu untuk mendekati wulan? Jika ini berhasil, kita bisa mencegah rencana Birong untuk mengikat Lalah dengan kedok pernikahan." Kata Beni.
"Pak Beni. Izinkan aku memberi pandangan tentang segala kemungkinan yang terjadi." Kata Tigor lalu melanjutkan. "Wulan itu adalah putri satu-satunya dari Lalah. Banyak anak muda yang tergila-gila dengan kecantikan gadis itu selain kekayaan milik Lalah sendiri. Saat ini yang aku ketahui adalah, Wulan ini sedang di dekati oleh Ronggur. Apakah Irfan putramu yang lebih tertarik dengan bidan desa itu mampu bersaing dengan Ronggur?" Tanya Tigor.
"Apa maksud dari ucapan mu itu Tigor? Apakah kau kenal siapa Wulan ini? Apakah kau kenal siapa itu Ronggur. Kau bahkan sok kenal dengan putra ku dan mengatakan bahwa dia lebih tertarik dengan bidan desa." Kata Beni dengan kesal karena merasa rencananya untuk kembali mencari muka do depan Martin terhalang oleh Tigor.
"Pak Beni. Jika anda bertanya tentang Wulan dan Ronggur ini, jelas beberapa hari yang lalu aku pernah berkenalan dengan mereka berdua ketika Wulan putri Lalah itu di jambret oleh kenalan Monang. Benar begitu kan Monang?!" Tanya Tigor sambil berpaling menatap Monang.
Monang yang di tanya oleh Tigor spontan mengangguk. Karena memang seperti itu lah kejadiannya.
Tigor kemudian melanjutkan. "Masalah Irfan anak lelaki mu itu, aku sempat berkenalan dengannya di salah satu restoran biasa sekitar 600 meter dari kafe melody. Ketika itu aku menemani Debora seorang bidan yang membuka praktek di daerah jembatan sekitarnya. Kau tau pak Beni? Begitu aku dan Debora tiba di acara reunian itu, Irfan ini seperti cacing kepanasan dan mungkin dia cemburu kepadaku. Irfan ini lantas mengajak Debora si bidan desa itu untuk pindah merayakan reunian mereka di restoran dolok ginjang milik Lalah. Tak percaya, kau boleh menanyakan langsung kepada putramu itu." Kata Tigor sambil merentangkan kedua tangannya.
Bagai ditampar dengan dengan kotoran, wajah Beni kini benar-benar merah padam. Dia hanya bisa memperhatikan wajah-wajah yang berada di hadapannya seperti sedang tersenyum mengejek. Apa lagi dia melihat raut wajah penuh kekecewaan di wajah Martin.
"Kau akan membayar mahal untuk semua ini Tigor!" Kata Beni dalam hati.
"Lalu apa rencana mu Tigor?" Kata Martin bertanya.
"Aku tidak terlalu pandai dalam berpolitik tentang aliansi atau apa pun yang seumpama dengannya. Namun satu hal yang harus kita ketahui bahwa Marven mungkin masih jomblo." Kata Tigor diikuti oleh suara tersedak oleh Marven.
"Aku..?" Tanya Marven sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya. Kenapa? Apakah kau tidak mau mencoba untuk mendekati Wulan?" Tanya Tigor.
"Aku hampir lupa bahwa aku masih memiliki kartu As. Kartu itu ternyata adalah putra ku sendiri."
"Marven! Mulai saat ini aku perintahkan agar kau segera mendekati Wulan putri Lalah ini. Terserah kau mau pakai cara apa. Yang penting adalah, kau harus bisa menggalkan aliansi di antara Birong dan Lalah." Kata Martin.
"Irfan mu itu biarkan saja dengan Debora. Karena kelas putramu hanya dari menengah ke bawah. Maksudku bukan menyepelekan pekerjaan si Debora ini sebagai Bidan desa. Namun jika di bandingkan dengan Wulan yang merupakan putri seorang yang sangat berpengaruh di kota Dolok ginjang, putramu si Irfan itu sama sekali tidak layak untuk Wulan." Kata Tigor sambil tersenyum mengejek.
"Aku tidak bertanya kepadamu Bocah. Siapa yang memberikan kesempatan untuk berbicara kepada mu?" Bentak Beni dengan lantang.
"Kau lupa dengan kedudukan mu saat ini di geng kucing? Kau bisa berada di sini saat ini adalah karna rasa belas kasihan dari Pak Martin. Jika itu aku, kau sudah lama aku tendang keluar dari pintu pertemuan ini." Kata Tigor mulai tersulut emosi nya.
"Kau...!"
Beni saat ini benar-benar tidak menyangka bahwa dia harus menelan penghinaan dari anak kecil yang sama sekali tidak dia perhitungkan. Namun kenyataannya adalah, bahwa dia dipermalukan di hadapan orang ramai oleh Tigor yang lebih layak menjadi kacungnya daripada menjadi atasan.
"Sudahlah Beni. Jangan terlalu memaksakan diri. Biarkan Marven dan Tigor mengatur rencana bagaimana caranya supaya bisa mendekati putri Lalah ini. Jika Irfan mu juga ikut-ikutan, maka putri Lalah pasti akan curiga." Kata Martin meredam kemarahan Beni.
"Sebaiknya kau pulang saja dulu. Istirahat yang cukup. Kami masih ada sesuatu yang harus di bahas. Pergi lah sekarang!" Kata Martin mengusir Beni secara halus.
"Baik Bang. kalau memang tenaga tua ini sudah tidak dibutuhkan lagi, ya aku pergi." Kata Beni bergegas membalikkan badan dengan kesal lalu segera melangkah meninggalkan ruangan pertemuan itu.
"Huhh... Dasar talam bermuka dua. Dia kira aku tidak tau akal bulusnya itu." Kata Tigor sambil mencibir.
"Oh ya.., kesimpulan apa yang kau dapat dari penawaran diri oleh Beni tadi?" Tanya Martin.
"Dia merekomendasikan putranya juga sambil menyelam minum kopi. Pertama dia ingin memperbaiki pengaruhnya di depan anggota geng. Yang kedua dia ingin putranya mendekati putri Lalah itu dengan maksud terselubung. Andai dia berhasil, maka dia bisa berkolaborasi dengan Lalah sebagai besan dan menyusun kekuatan sendiri. Andai gagal, dia tidak rugi. Karena dia akan mengatakan setidaknya putranya sudah mencoba memberikan yang terbaik untuk kelompok ini. Kau tentu tidak akan menyalahkan putranya karena gagal mendekati anak gadis Lalah itu bukan? Dia ingin berburu menggunakan satu anak panah dan menargetkan dua ekor rusa yang gemuk. Benar-benar licik." Kata Tigor mengemukakan pandangannya tentang situasi ini.
"Ternyata kau berpandangan cukup jauh dalam menganalisa setiap masalah. Aku merasa beruntung dapat merekrutmu. Oh ya.., besok aku akan membelikanmu sebuah mobil. Kau bisa menggunakannya untuk urusan pekerjaan. Mana ada anggota geng kucing yang jalan kaki." Kata Martin.
"Sepeda motor saja cukup. Aku khawatir kalau mobil, itu terlalu mendadak." Kata Tigor.
"Baiklah. Mobil dan motor. Besok siang mobil itu akan di parkir di depan halaman rumah baru mu di blok B tasik putri. Dan motor Yamaha R1 akan segera di order besok. Kalian segera bubar dan istirahat dengan baik. Ingat Tigor! 3 hari lagi ada tugas berat menantimu." Kata Martin.
"Siap Pak. Aku mengerti."
"Nah. Monang akan mengantar mu pulang." Kata Martin lalu dia pun segera mengajak Marven untuk kembali ke Komplek elit Tasik putri.