BLACK CAT

BLACK CAT
Pesan dari Dolok ginjang



Sepeda motor yang membawa Tigor dan Acong akhirnya tiba di rumah milik Tigor pemberian Martin yang terletak di Blok B perumahan menengah keatas tasik putri itu.


Setelah membayar ongkos, Tigor segera mengajak Acong untuk memasuki Rumah yang sangat jarang sekali dia tempati itu.


Ketika tiba di halaman rumah, Tigor sempat melirik ke arah mobil Pajero yang di parkir di depan rumah miliknya itu.


Sejenak dia memperhatikan plat nomor mobil tersebut dan dia kini dapat tau bahwa plat nomor itu berasal dari Dolok ginjang.


"Mobil siapa ini bang?" Tanya Acong.


"Ntahlah Cong. Tapi dari nomor polisi nya, mobil ini dari Dolok ginjang. Ayo masuk! Nanti kita akan tau jawab nya." Kata Tigor.


Mereka berdua lalu melangkah memasuki teras rumah tersebut lalu terus saja ke dalam tanpa mengetuk pintu.


"Martiiin. Mengapa kau mengundang tamu ke rumahku? Apakah kau tidak memiliki rumah?" Jerit Tigor begitu dia tiba di dalam.


"Dasar anak kurang ajar. Duduk kau! Beruk tak berekor ini betul-betul.membuat ku jengkel." Kata Martin sambil mengacungkan pipa rokok nya.


"Hehehe..., jangan marah. Nanti kau kena struk, aku juga yang susah." Kata Tigor diikuti oleh Acong yang tersenyum sumbing.


"Apakah pantat mu tumbuh duri? Atau berbisul?" Tanya Martin sambil mendelik.


"Apa maksudnya? Kau mendoakan aku tumbuh bisul?" Tanya Tigor sambil menampilkan gestur merinding.


Keletuk...!


"Aduuuh... Sakit! Dasar induk kucing."


"Duduk di sini! Mau aku jitak lagi pakai pipa rokok ku ini?" Tanya Martin membuat Acong dan seorang pemuda tamu Martin menyeringai lucu.


"Oh. Maaf kalau aku tidak sopan. Ada tamu ternyata."


"Perkenalkan, nama ku Tigor!" Kata Tigor sambil mengulurkan tangannya.


"Oh iya. Perkenalkan. Nama ku Roger!" Kata pemuda itu menyambut uluran tangan Tigor.


"Salam kenal ya. Senang berkenalan dengan anda. Tapi maaf?! Kalau aku boleh tau, darimana anda ini, apa keperluan anda datang ke tasik putri, dan dalam rangka apa?" Tanya Tigor.


"Pertanyaan mu banyak benar sobat. Baiklah. Tujuan ku datang ke sini memang harus dijelaskan. Oleh karena itu lah pak Martin menyuruh mu datang." Kata pemuda bernama Roger itu.


"Begini Pak Martin.., dan sobat Tigor. Seperti yang sudah aku jelaskan kepada pak Martin tadi, bahwa aku datang ke Tasik putri ini sebagai utusan dari Boss ku bernama Lalah dari Dolok ginjang. Lalah mengutusku karena ada hal yang sangat penting menyangkut soal kota Kemuning." Kata Roger menceritakan kembali maksud kedatangannya ke kota Tasik putri ini.


"Hmmm.., baik. Kau bisa menceritakan secara bertahap!" Kata Martin mempersilahkan.


"Begini Pak Martin. Tadi malam putri Lalah bernama Wulan telah di ganggu oleh anak seorang pengusaha dari kota Kemuning. Nama pengusaha itu adalah Jordan, dan anak nya bernama Ronggur. Ketika Wulan mengadukan perkara ini kepada Lalah, Lalah sangat marah sekali dan langsung menelepon Ronggur untuk meminta penjelasan."


Mendengar keterangan dari Roger ini, Tigor hanya menyembunyikan senyumnya dan berpura-pura tidak tau. Padahal, seluruh kejadian itu semuanya dia ketahui dengan sangat rinci.


"Lalu apa tanggapan dari si Ronggur itu?" Tanya Martin penasaran.


"Nah. Disini lah permasalahan nya Pak.


Ketika Lalah menelepon ke nomor Ronggur, yang menjawab panggilan itu bukan Ronggur. Melainkan, Birong."


Serrrr....


Kali ini bukan hanya Martin yang kaget. Tapi Tigor yang tidak terlalu menyimak penjelasan dari Roger mau tak mau merasa kaget juga mendengar nama Birong.


"Mengapa bisa Birong?" Tanya Martin tidak mengerti.


"Menurut dari penjelasan majikan ku, saat ini Ronggur sedang bernegosiasi dengan Birong dalam hal kerja sama. Menurutnya, jika kesepakatan kerja sama ini tercapai, maka mereka akan menyatukan dua kekuatan dan akan menyatukan kota Batu dan kota Kemuning dalam sebuah kesepakatan kerja sama yang saling menguntungkan. Menurut dugaan ku, kedatangan Ronggur semalam di kota Tasik putri ini lalu membuat keributan, bukan karena cemburu kepada Wulan. Melainkan dia ingin mengukur seberapa kekuatan yang dimiliki oleh geng kucing hitam. Namun karena kebetulan Wulan berada di sini, maka itu menjadi alasan baginya untuk melakukan tindakan." Kata Roger.


"Berbahaya. Sangat berbahaya. Jika Jordan menghianati kesepakatan kerja sama antara aku dan dia, lalu dia menjalin kerja sama dengan Birong, maka seluruh aset milik ku di kota itu dalam keadaan bahaya." Kata Martin sambil mengurut kening nya.


"Begitu juga yang ada dalam fikiran majikan ku, Pak. Dia juga beranggapan bahwa seluruh aset yang anda miliki di kota Kemuning bisa hangus oleh ulah Birong ini. Maka dari itu, dia mengirim ku kemari untuk segera memberitahukan semua berita ini tepat waktu. Bagaimanapun, Lalah sudah memutus hubungan dengan Birong. Tanpa Jordan pun, Birong sudah sangat kuat. Apa lagi di tambah dengan bergabungnya dia dengan Jordan, maka Lalah sudah jelas tidak bisa duduk tenang. Lambat laun mereka akan menyebrang ke Dolok ginjang untuk menguasai kota kami dan akan membuat kota Tasik putri ini terkepung. Itu yang ditakutkan oleh Lalah." Kata Roger mengemukakan kekhawatiran majikannya.


"Bagaimana pendapat mu Gor?" Tanya Martin.


"menurut ku, mungkin kerja sama antara Birong dan Jordan ayah Ronggur ini sudah terjalin. Mereka memanfaatkan kelemahan geng kita dan kelambanan Lalah dalam bertindak. Kesalahan besar menurutku adalah, Lalah begitu berani menyulut sengketa dengan kota Batu tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Harusnya dia membuat antisipasi sebelum melancarkan perang saraf dengan Birong."


"Begini saja. Aku akan meminta orang-orang ku untuk menyebar bagi menyerap kabar andai ada pergerakan dari kubu mereka. Saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa bertahan saat ini." Kata Tigor.


"Lalu bagaimana dengan aset kita yang berada di kota kemuning?" Tanya Martin.


Sebagai jawaban, Tigor hanya menggelengkan kepalanya.


Suasana hening sejenak sebelum Tigor melanjutkan.


Tepat ketika Martin akan berbicara lagi, Tigor segera mengedipkan sebelah matanya kepada Martin.


Martin yang mengetahui akan kode ini segera membungkam mulutnya dan batal berbicara.


"Begini saja Roger. Kau kembali lah dulu ke Dolok ginjang. Katakan kepada Lalah bahwa aku sedang memikirkan cara untuk menyekat pergerakan anggota geng tengkorak ini. Katakan juga kepadanya bahwa dalam waktu dekat ini aku akan menghubunginya." Kata Martin.


"Baiklah Pak. Kalau begitu aku permisi dulu." Kata Roger lalu segera mohon diri untuk kembali ke Dolok ginjang.


Setelah mengantar Roger keluar rumah, Tigor segera meminta Andra untuk menjemput Acong agar dia dan Martin bisa dengan leluasa membahas langkah selanjutnya.


Ketika Andra tiba di depan rumah Tigor, Tigor langsung menginstruksikan kepada Andra untuk menarik semua anggota mereka yang berada di kota kemuning agar kembali ke kota tasik Putri dan berkumpul di gang kumuh untuk menjaga segala kemungkinan.


Kini tinggal mereka berdua di rumah itu. Bahkan Tigor pun menyuruh penjaga rumah itu untuk keluar agar dia dan Martin bisa bebas mengatur segala rencana untuk melawan kekuatan geng tengkorak.


"Martin. Aku ingin bertanya kepadamu satu dua hal. Yang pertama, untuk apa kau memelihara Beni? Yang ke dua adalah, apa kontribusi dari orang-orang yang berada di bawah mu? Aku melihat mereka hanya makan tidur, makan lagi dan tidur lagi. Sebenarnya untuk apa mereka ini? Ok lah jika Monang dan Karman. Mereka bertugas di gemerlap malam. Lalu yang lain? Apakah tidak mubazir?" Tanya Tigor.


"Ini juga yang jadi fikiran ku. Apa kau punya Idea?" Tanya Martin.


"Ada. Itu lah sebabnya mengapa aku menarik seluruh orang-orang ku dari kota Kemuning. Itu karena aku akan menempatkan orang-orang mu di sana. Biar mereka tau bagaimana rasanya diumpankan dekat dengan mulut harimau. Selama ini kan mereka terlalu enak." Kata Tigor.


"Jadi, bagaimana dengan Beni?"


"Beni bukan urusanku. Dia adalah senior di dalam organisasi. Namun perlu kau ketahui bahwa Beni ini bisa menjadi pisau bermata dua. Keatas dia dapat melukai, dan kebawah dia dapat memotong. Sebaiknya, apa pun rencana kita nanti, tolonglah agar kau tidak menceritakan walau kepada siapapun. Jika Beni tau, maka aku khawatir dia akan membocorkan rencana kita kepada Tumpal. Kau tau kan jika Tumpal sampai mendapat bocoran? Kita bisa mati." Kata Tigor.


"Masalahnya sekarang adalah, bagaimana cara kita untuk melawan mereka ini? Aku merasa bahwa dunia ini sangat sempit bagiku sekarang ini." Kata Martin.


"Mengikis kekuatan lawan. Seperti yang aku lakukan selama ini. Kau ingat beberapa hari yang lalu soal tragedi diperbatasan antara kota Batu dan kota Kemuning kan? Berapa orang yang mati? Itu termasuk Bongsor. Pentolan dari geng tengkorak." Tanya Tigor.


"Ya aku ada membaca beritanya." Kata Martin.


"Kau fikir siapa yang melakukan itu?" Tanya Tigor.


"Maksud mu? Apakah itu adalah ulah mu?" Tanya Martin.


"Hahaha..., itu adalah pekerjaan Black Cat!"


"Sialan. Aku sempat mengira bahwa telah terjadi kecelakaan di sana. Ternyata."


"Ssssst.... Aku dan orang-orang ku tidak ingin makan gaji buta."


"Oh ya. Bukankah minggu depan Acun akan datang dari Singapore?"


"Benar. Ada apa Gor?" Tanya Martin.


"Kau kan tidak jadi mengadakan transaksi itu. Kau tenang saja. Aku akan merampok mereka. Seperempat dari hasil rampokan itu nanti untuk mu. Sedangkan sisanya akan aku gunakan untuk menjajah kota kemuning. Kau tidak berani memasuki kota itu bukan? Biar aku yang ke sana. Tapi ingat! Orang-orang mu harus di sana juga. Di bawah kendali ku. 70% keuntungan dari aset mu di sana akan masuk kedalam rekening mu. Sedangkan 30% untuk ku dan dua ratus orang anak buah ku. Bagaimana?" Tanya Tigor.


"40% untuk mu. 60% untuk ku." Kata Martin menaikkan harga.


Baginya yang terpenting adalah, daripada aset nya menjadi gosong di kota Kemuning, lebih baik berbagi dengan Tigor.


"Ingat Pak Martin. Jangan sampai rencana ini bocor ketelinga Beni. Saat ini aku masih akan merekrut beberapa orang lagi. Aku juga harus berpura-pura lemah supaya tidak terlalu menarik perhatian. Sebenarnya tadi alu harus mengenakan Topeng. Tapi dasar salah ku sendiri karena mengajak Acong untuk ikut. Akhirnya Roger tau kalau Tigor bekerja untuk Martin. Andai dia menceritakan kepada Wulan, modar aku." Kata Tigor.


"Tidak apa-apa Gor. Bukannya Wulan sudah tau kalau kau bekerja untuk ku ketika dia mengantar mobil itu." Tanya Martin.


"Ya. Tapi beda. Aku mengaku sebagai kacung nya Marven. Bukan tangan kanan mu."


"Alah biar lah. Makanya kau jangan dekat-dekat dengan perempuan. Mereka itu bisa jadi penghambat bagi langkah mu."


"Kali ini aku akan mendengarkan saran mu. Ok. jika tak ada lagi, silahkan pulang. Aku malas melihatmu di sini. Ini kan rumah ku. Pulang sana!" Kata Tigor mengusir Martin.


"Kau. Aduh. Setan alas. Berani kau mengusir ku?" Tanya Martin.


"Mengapa memangnya? Ini kan rumah mu. Pulang sana!"


Keletuk...!


"Aduh maaaak...!"


Tiba-tiba saja Martin menyambar kening Tigor dengan pipa rokok di tangan nya membuat Tigor kembali merasakan jitakan di kening nya dari pipa rokok yang terbuat dari gading gajah itu.


"Makanya jangan kurang ajar sama orang tua." Kata Martin sambil bangkit dari kursinya.


"Ya sudah. Aku pulang dulu. Ingat pesan ku. Kau tidak boleh terlalu bergaul dengan betina. Atau kau akan terjerumus oleh nya." Kata Martin berpesan.


"Berpesan untuk ku seenak jidat nya saja. Padahal anak lajang nya sendiri main perempuan di sana-sini." Kata Tigor dalam hati.