
"Bang. Semuanya sudah aku persiapkan. Saat ini ada sekitar lima puluh orang yang akan aku bawa ke kota Tasik Putri untuk membuat kekacauan di sana."
Tampak seorang lelaki berbadan tegap berucap sambil melangkah cepat memasuki ruang tengah di sebuah Villa yang besar di kawasan bukit batu.
"Apakah hanya 50 orang saja?" Tanya seorang lelaki yang juga berbadan besar namun memiliki kulit tubuh yang sangat hitam untuk ukuran orang Sumatra.
"Hanya itu yang ada Bang. Jika dipaksakan membawa lebih, aku khawatir Villa ini akan tanpa pengawalan. Sangat berbahaya." Kata lelaki yang baru masuk tadi.
"Baiklah. Suruh Tumpal untuk menghubungi Beni. Dia harus mengerahkan anak buah nya juga. Kita lihat saja. Apakah dia mau berkontribusi untuk melakukan serangan ini."
"Kalau begitu aku pamit dulu bang!"
"Hmmm...!"
Selesai dengan ucapannya, lelaki yang baru saja masuk tadi segera keluar meninggalkan lelaki berkulit hitam itu.
Sampai di dekat pagar, tampak seorang lelaki yang memiliki tubuh kurus jangkung sedang menunggunya sambil sesekali melirik ke kiri dan ke kanan.
Begitu lelaki berbadan besar tadi tiba di hadapannya, lelaki bertubuh kurus itu langsung bertanya.
"Bagaimana Togar? Apa kata bang Birong?" Tanya lelaki kurus itu.
"Bang Birong bilang, kau harus menelepon Beni untuk memberitahu bahwa sore ini juga kita akan berangkat ke Tasik putri. Katakan kepada Beni agar dia menyiapkan juga anak buah nya. Kita serang mereka dari luar dan dalam." Kata lelaki berbadan tegap itu.
"Baik lah Gar. Aku akan segera menelepon Beni." Kata Tumpal lalu mengeluarkan ponselnya.
Tut....
Tut.....!
"Hallo Tumpal."
Terdengar suara menyapa di seberang sana.
"Beni. Saat ini aku dan Togar sudah bersiap untuk berangkat ke Tasik Putri. Kemungkinan akan tiba di sana malam hari." Kata Tumpal.
"Oh. Bagus lah kalau begitu." Jawab Beni melalui panggilan telepon.
"Beni! Ada pesan dari Bang Birong. Katanya, kau harus mempersiapkan orang-orang mu juga. Kami akan menyerang dari luar, sedangkan kau dari dalam." Kata Tumpal.
"Tumpal! Saat ini orang-orang ku terbagi dua. Sebagian berada di kampung Kuala nipah untuk mencegat rombongan Tigor. Mungkin ada sekitar 30 orang yang saat ini bisa aku gerakkan untuk membantu." Jawab Beni.
"Hanya tiga puluh orang Gar. Bagaimana?" Tanya Tumpal sambil berbisik ke telinga lelaki berbadan besar disamping nya itu.
"Tiga puluh orang juga boleh. Daripada tidak sama sekali. Tujuan kita hanya untuk membuat kekacauan. Bukan menguasai." Jawab lelaki berbadan tegap itu.
"Beni! Segera siapkan orang-orang mu. Kami akan berangkat sekarang." Kata Tumpal.
"Baik. Kalau begitu, katakan di mana kami akan menunggu kedatangan kalian!"
"Tunggu kami di pusat hiburan dunia gemerlap malam!" Jawab Tumpal.
"Ok!" Kata Beni singkat lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Ayo kita berangkat Bang Togar!" Ajak Tumpal yang di jawab dengan anggukan oleh lelaki berbadan tegap itu.
Setelah mengatur dan mengucapkan beberapa hal kepada anak buah nya, tak lama rombongan itu pun segera memasuki bus dan mobil masing-masing untuk segera berangkat menuju kota Tasik putri dengan tujuan membuat kekacauan di sana.
...*********...
Beberapa pengawal yang bekerja untuk menjaga sebuah rumah besar seperti Mansion yang diketahui adalah tempat kediaman boss mafia terbesar di kota ini bernama Martin itu tampak berkumpul dan saling bergosip sesama mereka.
Baru saja tadi salah seorang ketua mereka mendapat panggilan telepon dari Beni mengatakan bahwa mereka mendapat satu tugas yang harus mereka jalankan malam ini.
Keadaan yang tidak biasa ini membuat Karman yang telah mendapat tugas dari Tigor untuk menjadi pengawal Martin pun penasaran.
Karena Karman memang tidak popular dan keberadaannya sering kali di pandang sebelah mata, bahkan sama sekali tidak di anggap membuat Karman bisa bergerak leluasa. Apa lagi sekarang ini penampilannya sudah berubah dan gaya nya yang selalu tidak pernah serius membuat dia selalu saja menjadi bahan olok-olokan di kediaman Martin itu.
Seperti biasa, Karman dengan setelah jas hitam, sepatu kulit, kacamata hitam dan memakai topi koboi ala topi yang sering dipakai oleh kaum yahudi itu pun menghampiri kerumunan orang-orang tersebut dan ikut nimbrung di sana.
"Hei kalian ini. Ada apa berbisik-bisik. Jika ada rejeki, mengapa tidak bagi-bagi sama teman?" Kata Karman sambil mendekati mereka sambil seenaknya saja duduk di tengah-tengah lingkaran orang-orang yang sedang berbisik-bisik tadi.
"Heh orang baru. Siapa kau yang mau ikut nimbrung dengan kami. Di senggol sedikit saja kau langsung oleng." Ejek salah satu dari hampir sepuluh orang yang mengobrol tadi.
"Aku memang seperti ini. Di senggol memang oleng. Itu adalah ciri khas ku. Sebenarnya ilmu ku tinggi. Namun, untuk menyembunyikan kepandaianku, aku sering kali harus berpura-pura lemah. Jika tidak karena terlalu marah, aku tidak akan berkelahi." Kilah Karman untuk memasukkan jurus sombong andalannya.
"Karman. Sudah berapa lama kau kenal dengan Tigor?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Huh... Jangan tanya-tanya setan itu kepada ku. Aku benci sama dia. Gara-gara dia aku jadi babu di rumah Martin ini. Kau belum kenal Karman kan? Dulu aku adalah Boss mafia terbesar di Tanjung karang. Setelah kalah dengan Tigor, aku menjadi babu di sini." Kata Karman berbohong. Hal ini dia lakukan agar bisa mengorek informasi dari orang-orang ini.
"Mafia besar di Tanjung Karang? Kok aku tidak pernah dengar nama Karman." Tanya mereka.
"Karman Bond. Pernah dengar nama Karman Bond? Itu adalah aku. Ketika aku menjadi boss mafia di sana, kamu mungkin masih menyusu dengan ibu mu." Jawab Karman.
"Sombong sekali kau ini Karman." Kata Mereka mencibir.
"Fakta! Itu adalah Fakta. Kau kenal Jordan dari kota Kemuning?" Tanya Karman.
"Pernah dengar nama. Tapi belum pernah bertemu dengan orang nya." Jawab mereka.
"Jordan itu dulu kerjaannya adalah kacung bagiku. Kelak jika bertemu dengan Jordan, tanyakan padanya tentang Karman Bond. Dia pasti akan merasa linglung."
"Linglung karena memang tidak kenal. Ya pastilah dia heran." Kata Karman dalam hati sambil menahan tawa.
"Ah... Aku masih tidak percaya. Kau ini besar pasak dari tiang. Persis seperti yang dikatakan oleh ketua kita, Martin." Kata mereka dengan mimik wajah menyepelekan.
"Terserah kalian lah. Mau percaya atau tidak. Tapi kalian kan sudah menjadi teman sepekerjaan dengan ku. Kalau ada rejeki, jangan makan sendiri dong! Ingat kawan yang satu periuk dengan mu!" Kata Karman.
"Begini Karman. Malam ini kami punya tugas dari Beni. Aku juga tidak tau. Tapi Beni mengatakan akan ada kerja sampingan di pusat hiburan dunia gemerlap malam. Dia juga menyinggung tentang geng tengkorak. Kau kenal geng tengkorak?" Tanya lelaki itu.
"Alaaaah... Apa hebatnya si Birong itu. Kau tau mengapa dia bisa menjadi hitam seperti itu?" Tanya Karman.
Mendengar pertanyaan Karman ini, semuanya menggeleng.
"Birong itu dulu nya berkulit putih bersih. Aku yang menjemurnya di tengah terik matahari selama tujuh hari tujuh malam. Makanya dia bisa hitam seperti itu. Hanya gigi nya saja yang kuning." Kata Karman sambil menepuk dada.
"Kau gila. Ah sudahlah. Jangan kita ladeni orang gila ini. Melihat tampang Birong saja mungkin dia sudah kencing di celana." Kata mereka sambil mengibaskan tangan.
Ketika Karman ingin bicara lagi, mereka langsung bergotong-royong mengangkat tubuh Karman dan langsung melemparkannya di bagian belakang rumah besar itu.
"Hey... Hey...?! Mau apa kalian. Turunkan aku. Woy...." Jerit Karman.
Bruugh....!
"Sakit setan!" Teriak Karman menggeliat begitu dia di lempar di rerumputan karpet tepat di bagian halaman belakang rumah Martin itu.
"Setan betul. Aku masih belum mengorek semua keterangan dari mereka. Ah nasib. Tapi setidaknya aku merasa malam ini akan ada sesuatu yang akan merugikan teman-temanku. Sebaiknya aku hubungi Monang sekarang." Kata Karman dalam hati sambil meraba saku celana nya untuk mengeluarkan ponsel.