
Seorang lelaki berusia setengah baya tampak sedang memainkan ponsel di tangannya.
Tampak dari raut wajahnya bahwa dia sedang berfikir.
"Kemana perginya Tigor ini." Katanya dalam hati.
Lelaki yang tak lain adalah Martin itu mondar-mandir di ruang tamu tersebut.
Entah mengapa saat ini hatinya tergerak untuk menyalakan pesawat televisi.
Martin kini mengambil remote tv dan mulai menekan tombol power lalu duduk kembali di sofa.
"Berita luar negeri hari ini."
"Seorang pengusaha dari kota MegaTown, tewas terbunuh malam tadi di salah satu Villa mewah miliknya tepat di pusat kota MegaTown. Kejadian pembunuhan ini sangat menggemparkan seisi kota bahkan beberapa kota lainnya di negara tersebut. Hal ini karena selain korban adalah seorang pengusaha, beliau juga aktif di dunia politik dan saat ini sedang berupaya untuk mengusung salah satu calon Gubernur dari partai buruh nasional.
Setelah pihak kepolisian melakukan investigasi penyelidikan di tempat kejadian, pihak kepolisian menemukan beberapa bukti dari pelaku melalui rekaman cctv."
Lalu di layar televisi kini terpampang hasil rekaman cctv yang membuat Martin sangat terkejut.
Bagaimana tidak? Saat ini dia melihat sosok serba hitam dengan memakai topeng kucing itu dengan jelas mengarahkan wajahnya ke alat perekam tersebut setelah itu kabur melalui jendela di lantai dua Villa itu.
"Banyak pihak kini mulai berspekulasi tentang motif dari pembunuhan ini. Sebagian mengatakan bahwa tragedi berdarah ini disebabkan oleh ulah dari pesaing bisnis korban tersebut. Namun tidak sedikit yang beranggapan bahwa telah terjadi perselisihan antara korban dengan salah satu calon yang akan mengikuti pemilihan di kota tersebut. Hal ini di kuatkan lagi dengan berbagai barang bukti yang ditinggalkan oleh pelaku termasuk salah satu nya adalah sebuah amplop berwarna emas yang berisi tentang surat perjanjian antara korban yang bernama Fardy ini dengan calon Gubernur dari partai buruh nasional di Metro City yaitu Tuan Holmes.
Sampai saat ini, banyak bermunculan video-video pendek di berbagai platform media sosial yang menyiarkan adanya pertengkaran diantara korban dengan calon Gubernur tersebut.
Sampai saat ini pihak kepolisian setempat masih mengumpulkan beberapa bukti lainnya dan agan terus melakukan penyelidikan dalam kasus ini.
Sekian berita luar negeri untuk hari ini.
Wassalam."
Begitu selesai menonton siaran berita tersebut, Martin kini faham mengapa Tigor mendadak menghilang dalam lima hari ini. Hal ini pasti ada hubungannya dengan pembunuhan itu.
"Pasti. Ini pasti pekerjaan Tigor." Kata Martin dalam hati.
Lelaki setengah baya itu lalu menghubung-hubungkan kerja sama antara perusahaan R2D MegaTown dengan peristiwa ini.
"Sah. Tidak salah lagi. Ini pasti Tigor yang melakukannya. Siapa lagi jika bukan dia. Aku harus segera ke Kota Kemuning untuk memastikan apakah Tigor berada di sana atau tidak." Kata Martin lalu segera meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar dari rumah besar miliknya tersebut.
Tampak di luar seorang pemuda memakai jas serba hitam, topi koboi dan kacamata hitam telah menunggu nya.
"Kemana kita akan pergi Ketua?" Tanya pemuda itu.
"Kita segera berangkat ke kota Kemuning. Segera panggil sopir!" Kata Martin.
Pemuda itu langsung bergegas memanggil sopir dan tak lama setelah itu, mobil BMW hitam itu pun bergerak menuju ke kota Kemuning.
*********
Semua staf dan manager kini berjejer di depan lobi hotel seperti sedang menunggu sesuatu.
Menurut informasi yang mereka dapat, bahwa hari ini Bos besar mereka akan tiba di kota Kemuning ini.
Tidak terkecuali bagi Andra, Monang, Ucok dan yang lainnya. Mereka yang berjumlah sekitar lebih dari dua ratus orang itu juga tampak berbaris rapi menunggu kedatangan Bos besar dari kota Tasik Putri tersebut.
Dari kejauhan kini tampak mobil BMW hitam melaju kencang lalu memasuki halaman depan Martins Hotel tersebut.
Tampak Monang dan Andra berlari-lari untuk membukakan pintu bagi bos besar mereka itu.
"Selamat sore Bos besar!" Kata Monang dan Andra bersamaan.
"Hmm.. terimakasih dan selamat sore juga untuk kalian." Jawab Martin.
"Ah itu tidak perlu. Aku kemari memang buru-buru. Dimana Tigor?" Tanya Martin.
"Bang Tigor sudah lima hari meninggalkan kota Kemuning bos. Katanya dia ada urusan. Karena lima hari yang lalu Pak Lalah datang dari Dolok ginjang untuk menjemput putrinya karena merasa khawatir atas kematian Ronggur." Kata Andra menjawab pertanyaan Martin.
"Khawatir?"
"Benar Bos. Lalah khawatir andai terjadi bentrok antara kami dan orang-orang Jordan. Makanya dia berinisiatif untuk datang langsung menjemput putrinya ke sini."
"Lalu Tigor?" Tanya Martin.
"Itu lah Bos. Bang Tigor berangkat untuk mengantar langsung pak Lalah ke Dolok ginjang. Dia juga berpesan bahwa dia tidak kembali dulu ke kota Kemuning dalam seminggu ini karena ada urusan penting. Dia juga mengatakan agar merahasiakan keberangkatan nya." Jawab Monang.
"Hmmm... Benar kecurigaan ku."
"Maksud anda Bos?"
"Apakah kalian ada menonton berita hari ini?" Tanya Martin.
"Em.. tidak Bos. Kami tidak tertarik dengan berita." Kata Monang.
"Aku harus menelepon Lalah. Dimana dia dan Tigor berpisah." Kata Martin sambil mengeluarkan ponselnya.
Setelah melakukan panggilan, terdengar suara Lalah di seberang sana menyapa Martin.
"Halo Martin."
"Lalah. Apakah lima hari lalu kau ada ke kota Kemuning?" Tanya Martin langsung ke pangkal masalah.
"Ya ada. Aku ke sana untuk menjemput putri ku." Jawab Lalah.
"Apakah kau bertemu dengan Tigor?" Tanya Martin.
"Ya ada. Dia bahkan mengantar ku langsung." Jawab Lalah.
"Di mana kalian berpisah Lalah?" Tanya Martin mulai memburu.
"Kami berpisah di restoran Samporna milik mu. Ada apa Martin?" Tanya Lalah yang mulai curiga karena Martin terus memberondong dirinya dengan pertanyaan.
"Tidak apa-apa. Apakah kau ada menonton berita pagi tadi?"
"Ada. Dan aku tau. Kau pasti memiliki pemikiran yang sama dengan aku." Jawab Lalah.
"Ya sudah jika begitu. Aku masih ada urusan di sini. Kau bersantai lah. Kapan-kapan kita ketemuan dan makan malam bersama." Kata Martin.
"Baik jika begitu. Aku pegang janji mu." Kata Lalah pula sambil mengakhiri panggilan itu.
"Sebenarnya ada apa Bos? Ada apa dengan bang Tigor?" Tanya Monang.
"Kalian cukup tau saja dan jaga mulut kalian itu. Tigor berangkat ke luar negeri dan melakukan pembunuhan di sana." Kata Lalah sambil sedikit menahan nada bicaranya.
"Hah...?"
Hanya itu yang keluar dari mulut kedua pemuda itu.
"Cukup tau saja dan jangan banyak omong! Jika berita ini tersebar, aku akan menghukum kalian." Kata Martin memberi ancaman.
"Kami tidak akan bernyanyi bos." Jawab mereka berdua.
"Bagus. Sekarang kalian semua jaga di sini. Aku akan beristirahat sambil menunggu kedatangan Tigor. Aku tidak puas jika tidak mendengar langsung jawaban dari bibirnya. Daripada terus berspekulasi, lebih baik bertanya langsung." Kata Martin lalu berjalan di dampingi oleh seorang pemuda yang mereka kenal sebagai Karman atau Carmen Bond 070.