
Bawahan terpercaya pemimpin manusia kucing oren bernama Loren Oranye, laki-laki muda yang berumur 28 tahun, warna rambutnya juga berwarna oren. Ia juga adalah sebagai anak angkat pemimpin kaum kucing oren.
Pemimpin mereka saat ini juga terlihat lebih muda, ia juga baru naik tahta setelah pemimpin terdahulu meninggal karena sakit yang sangat parah. Ia bernama Roren Oranye. Ia memiliki dua putri yang masih cukup muda, kakak perempuan pertama bernama Vioren Oranye berumur 20 tahun, dan adik perempuan bernama Cioren Oranye berumur 18 tahun.
--
Tiga hari sudah berlalu..
Lacky masih belum terlihat sadarkan diri, ia masih terbaring lemah di atas kasur. Kakak beradik itu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merawat lukanya, namun mereka tidak tahu tentang penyakit yang sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa kepala Lacky masih terluka dan balum sembuh, mereka tidak memiliki kekuatan penyembuhan atau apapun itu.
"Apa kita cari keluarganya saja? Sepertinya mereka juga sedang mencarinya? Bukankah kata ayah dia ini keturunan bangsawan dari kaumnya?."
Cioren juga sudah tidak ingin melihat Lacky semakin parah, ia ingin Lacky segera di obati agar cepat sembuh. Ia tidak tega melihat Lacky yang masih terbaring di kasurnya, melihat keadaan Lacky yang tidak ada tanda-tanda keadaannya membaik.
"Kita tunggu sebentar lagi, jika dia belum sadar! Kita minta ayah untuk mencari keluarganya."
"Baiklah kak. Aku pergi dulu, kalau dia sudah bangun kasih tahu aku."
"Oke."
Cioren meninggalkan kakaknya yang masih berada di kamar adiknya bersama Lacky yang belum sadar. Ia juga sedikit malu karena ini pertama kalinya ia berduaan dengan seorang laki-laki, ia juga sedikit merasa tubuhnya mulai panas jika tangannya sedang menyentuh tangan Lacky.
Vioren langsung saja menarik tangannya karena ia sedikit takut kalau dirinya kehilangan kendali dan malah melakukan hal yang tidak ia ingin lakukan kepada Lacky yang masih terbaring itu.
"Padahal ketika aku menyentuh tangan Loren tidak seperti ini, mengapa perasaan aneh datang kepada laki-laki ini?."
"Apa aku mulai tertarik dengannya? Padahal aku belum memasuki upacara kedewasaan, tapi tubuhku rasanya ingin melakukan hal-hal yang pernah di ceritakan ibu."
Terlihat Vioren mulai berkeringat karena tubuhnya merasa kepanasan, padahal di dalam hutan suasananya sangatlah sejuk dan adem. Ia juga segera berdiri menjauh dari tempat tidur Lacky, ia sudah mulai tidak tahan jika terlalu lama di dalam kamar itu. Ia pergi meninggalkan Lacky dengan berlari untuk segera mandi mendinginkan tubuhnya.
--
Di sore hari...
"Argh!! Kepalaku sakit sekali. Dimana aku?."
Terlihat Lacky mulai terbangun dan ia juga menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit. Ia juga tidak mengingat apapun yang sudah terjadi dengannya. Ia mulai berdiri dan pergi keluar kamar, ia juga masih merasa bingung tentang di mana ia berada.
Saat Lacky keluar rumah. Terlihat pemandangan yang sangat sederhana, sebuah desa yang lumayan besar dan di penuhi orang-orang dengan pakaian sederhana, ia berulang kali melihat pakaiannya juga karena lumayan berbeda seperti yang mereka pakai.
"Kenapa pakaianku berbeda dengan mereka? Pakaianku terlihat bersih dan rapi sedangkan mereka terlihat biasa saja? Apa aku bukan penghuni asli di sini?."
Lacky sangat kebingungan karena ia tidak dapat mengingat apapun, ia tidak tahu dimana sekarang ia berada. Orang-orang juga mulai memandanginya dengan tatapan penasaran, ia hanya bisa berjalan sambil menundukkan kepalanya.
Lacky mulai pergi menjauh dari keramaian, ia juga tanpa sengaja berjalan masuk kedalam hutan tidak tahu arah tujuan, ia tidak tahu jalan mana lagi yang harus ia ambil untuk kembali kedesa itu, ia sudah mulai tersesat di dalam hutan sendirian.
"Dimana aku sekarang? Siapa aku sebenarnya?."
Terlihat Lacky sangat kebingungan dan terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia hanya berjalan memutari hutan mencoba mengingat sesuatu tentang dirinya, namun semuanya sia-sia karena ingatannya sudah terganggu.
"Tolong!!."
Suara wanita di dalam hutan tiba-tiba terdengar sedang meminta tolong. Lacky yang mendengarnya langsung saja pergi ke arah suara itu, ia dengan sangat cepat menuju tempat dimana teriakan itu berasal.
"Tolong aku-?."
Terlihat wanita yang cukup muda sedang di dekati oleh seekor ular yang lumayan besar, wanita itu juga langsung pingsan karena sudah terlalu takut. Lacky langsung saja berusaha menyelamatkan wanita itu dengan mencoba memukul ular itu dengan batang pohon.
Ular itu sedikit kena pukulan Lacky namun tidak membunuhnya, karena ular itu sudah merasa takut ia segera pergi. Lacky akhirnya bisa bernafas lega dan mencoba membangunkan wanita itu dengan cara memukul-mukul pipinya dengan pelan.
"Heii..Bangun? Ularnya sudah pergi?."
"Arghhhh!!!!!?."
"Aaaahhh!!?."
Mereka terlihat sama-sama kaget setelah memandangi wajah satu sama lain. Wanita itu juga langsung saja menjauh dari Lacky, ia juga masih merasa terkejut kenapa Lacky bisa berada di sana. Lacky juga terkejut karena wanita itu tiba-tiba berteriak ketika memandangnya.
"Kenapa kamu bisa disini?."
"Aku? Hah? Apa kamu mengenalku?."
"Heeii, jangan terlalu dekat?."
Lacky langsung saja mendekati wanita itu karena merasa senang karena wanita itu sepertinya mengenalinya, ia tidak sabar ingin bertanya siapa dirinya sebenarnya. Namun wanita itu juga bingung setelah melihat tingkah laku Lacky yang sangat aneh.
"Bukankah kamu berada di kamarku? Kenapa kamu berada di hutan ini?."
"Emmm..Ketika aku bangun? Aku merasa bingung dan setelah itu aku pergi keluar dan akhirnya sampai kesini."
Ternyata wanita itu adalah Cioren yang sedang belajar berburu sendirian di dalam hutan. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya ia juga bisa seperti kakak perempuannya Vioren yang sangat ahli dalam memanah.
"Kalau begitu kita harus pulang dulu. Kamu masih terluka jadi perlu istirahat sekarang."
Cioren merasa kasian melihat keadaan Lacky yang terlihat tidak dapat mengingat apapun. Ia segera menggenggam tangan Lacky untuk mengajaknya pulang ke rumah bersama. Namun Lacky yang masih penasaran ia bertanya dengan wanita yang tidak bisa ia ingat sama sekali.
"Siapa kamu? Apa kita sudah kenal?."
"Namaku Cioren Oranye."
"Oh Cioren. Terus nama aku siapa?."
"Tunggu sebentar, sepertinya aku sedikit mengingat tentang namaku."
Terlihat mereka masih bergandengan tangan berjalan menuju desa. Lacky juga mencoba mengingat namanya yang sedikit muncul di pikirannya. Ia hanya mengingat-ingat seseorang di dalam kepalanya memanggilnya Lacky itu saja, dan ia langsung memberi tahukan kepada Cioren.
"Namaku Lacky."
"Oh namamu Lacky ya? Baiklah Lacky kita akan pulang terlebih dulu."
Terlihat Cioren dengan terburu-buru menarik tangan Lacky agar mempercepat langkahnya berjalan menuju desa. Karena ia takut ayahnya sedang mencarinya, ia tidak mau keluarganya mengetahui tempat dimana ia berlatih memanah.
Diluar hutan Cioren dan Lacky sudah di tunggu oleh Loren, ia sedikit marah kenapa Cioren bisa bersama dengan Lacky. Ia hanya ingin menjaga Cioren agar tidak dekat-dekat dengan orang asing (tidak di kenal).
"Mengapa kalian bisa bersama keluar dari hutan?."
"Maaf kak Loren! Aku terburu-buru?."
Cioren mengabaikan Loren, ia tidak ingin ayahnya marah kalau menemukannya sedang berada di luar rumah saat hari semakin mulai gelap. Loren juga kesal kepada Lacky karena gara-gara kehadirannya dirinya di abaikan oleh Cioren.
"Cih."
Loren sedikit bergumam melihat dirinya di abaikan hanya karena laki-laki asing yang belum diketahui asal usulnya dengan jelas, bahkan ia juga tahu kaumnya ini di benci oleh kaum lainnya. Sebab itulah Loren sangat tidak menyukai kaum lainnya jika berada di dekat dengan keluarganya.
--
"Tuan gawat! Beberapa orang berpakaian hitam sedang menuju ke perbatasan hutan!."
"Apa? Aku harus melaporkan kepada pemimpin terlebih dulu. Kalian cegah mereka masuk terlebih dulu sebelum aku ke sana!."
"Baik tuan."
Salah satu bawahan Loren yang biasa berjaga di perbatasan hutan melaporkan tentang beberapa orang yang mencurigakan sedang menuju ke tempat mereka. Loren segera pergi ke rumah pimpinan untuk mengatakan hal mendesak itu.
--
"Tok..tok..!!."
"Silahkan masuk!."
Terlihat Roren pimpinan kaum kucing oren sudah berada di ruangan tamu bersama Lacky dan ke dua putrinya. Loren sedikit iri namun ia lebih mengutamakan tugasnya sebagai penjaga desa. Ia langsung saja membisikkan hal itu ke telinga Roren.
"Baiklah! Anak-anak kalian tetap tinggal di rumah jangan keluar apapun terjadi. Kalau kalian tetap keluar maka aku akan menghukum kalian."
Roren dan Loren langsung saja keluar rumah untuk memeriksa siapa orang-orang yang mencurigakan itu. Mereka dengan cepat berlari menuju ketempat perbatasan hutan yang lumayan jauh dari desa tempat mereka tinggal.
--
"Siapa kalian? Apa ada hal penting jadi sampai kalian pergi ke perbatasan kami ini?."
Ketika Roren sampai di sana. Ia juga sedikit kaget bahwa mereka adalah kaum kucing hitam dengan pangkat yang lumayan tinggi. Mereka juga berjumlah puluhan orang membuatnya sedikit khawatir dengan keluarganya.
"Apa kalian pernah melihat seorang laki-laki rambut hitam kulit putih dan mata ungu menuju tempat ini?."
"(Apa dia sedang mencari laki-laki itu? Apa dia sedang di kejar atau bagaimana?)."
Roren sedikit bingung untuk mengatakannya. Ia juga ragu untuk menjelaskannya karena Lacky juga sedang kehilangan ingatannya. Roren juga belum tahu kepastiannya apakah Lacky dalam bahaya atau tidak, ia belum bisa mengambil kesimpulan sebelum ingatan Lacky pulih kembali.
"Bukankah itu-?."
"Suttt!!."
Loren dengan cepat ingin menjawabnya, karena ciri-ciri yang baru saja di katakan oleh pria berjas hitam itu sangat mirip dengan Lacky. Namun mulutnya langsung di tutup oleh Roren, ia juga di pandangi dengan tatapan tajam bahwa ia harus diam terlebih dulu.
"Maaf sepertinya tidak ada seorangpun masuk kewilayah kami, jika itu benar mungkin dia sudah mati!."
Roren dengan kekuatan penuhnya mengeluarkan hawa membunuhnya lagi, membuat beberapa kaum kucing hitam merinding. Mereka tahu bahwa kaum kucing oren sangat berbahaya, mereka mulai takut dan waspada setelah merasakan hawa membunuh itu. Bahkan Loren yang biasanya sudah terbiasa sekarang sedikit merasa susah untuk bernafas karena baru kali ini ia melihat pemimpinnya mengeluarkan hawa membunuhnya dengan sangat kuat.
"Baiklah, kami akan segera pergi!!."
Terlihat puluhan kaum kucing hitam meninggalkan perbatasan dengan sedikit gemetar, mereka juga terlihat berlari sangat cepat sampai-sampai terlihat hitungan detik saja mereka langsung pergi jauh meninggalkan perbatasan.
--
"Ugrh!! (Mengapa pemimpin merahasiakannya bukankah laki-laki itu yang mereka cari?)."
Loren masih lemah di atas tanah setelah tekanan tadi, ia juga sedikit bingung memikirkan apa alasan pemimpinnya berbohong dan lebih memilih untuk menyembunyikan Lacky di dalam desa.
"Maaf semuanya. Lain kali jika kaum lain mecari laki-laki itu tolong rahasiakan terlebih dulu."
"[Ba-baik tuan!!]."
Roren pergi setelah mengucapkan beberapa kata kepada beberapa bawahannya yang masih lemah akibat tekanan yang kuat tadi. Mereka juga tidak menyangka bahwa pimpinan mereka menyembunyikan kekuatan sebesar itu.
Loren hanya bisa menerimanya karena semua itu perintah dari pemimpinnya. Ia juga masih penasaran tentang keputusan Roren merahasiakan keberadaan Lacky, ia juga tidak bisa membantah keputusan itu, ia sangat takut dengan kekuatan tadi yang hampir saja membunuhnya.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.