BLACK CAT

BLACK CAT
Bertemu dengan Wulan



Sore itu tampak Marven sedang memantau kerja-kerja pemulihan pusat hiburan dunia gemerlap malam pasca kebakaran yang diakibatkan oleh serangan dari geng tengkorak.


Saat sedang serius melihat planing kerangka kerja yang coba dijelaskan oleh pimpinan proyek, tiba-tiba seorang pemuda datang menghampirinya.


"Bang. Serius kali abang aku tengok. Jangan terlalu lama berpanas-panasan bang! Nanti hitam kulit mu." Tegur pemuda yang baru tiba tadi.


"Oh kau Irfan. Macam mana keadaan mu? Sejak keluar dari rumah sakit, baru sekarang kau menemui aku." Kata Marven kepada pemuda yang baru tiba bernama Irfan tadi.


"Dokter melarang aku untuk terlalu bergerak bang. Katanya masih banyak luka dalam yang belum sembuh akibat dihajar oleh anak buah Ronggur sialan itu. Oh ya. Aku lihat sendiri aja. Mana yang lainnya?" Tanya Irfan.


"Alah. Makan gaji buta aja semuanya. Apa lagi Tigor itu. Semenjak pulang dari Hongkong, macam tuan besar aja dia. Di blok B terus makan tidur."


"Tigor?" Tanya Irfan heran.


Dia sebenarnya sudah tau dari Beni. Tapi berpura-pura heran saja.


"Iya. Mengapa kau heran?"


"Tigor gelandangan itu kan bang?"


"Ada berapa orang bernama Tigor di sini?"


"Sejak kapan dia masuk ke dalam organisasi?" Tanya Irfan.


"Bah. Kemana saja kau sampai Tigor menjadi anggota geng kucing hitam pun kau tak tau." Tanya Marven sambil membesarkan matanya.


"Manalah aku tau bang. Kan selama ini aku jarang terlibat dengan orang-orang di dalam organisasi." Kata Irfan.


"Sudah lebih setahun dia berada dalam organisasi. Bahkan dia menjadi anak angkat ayah ku."


"Berarti selama ini Tigor hanya berpura-pura dengan aku sebagai gelandangan. Apa motif dan tujuan Tigor ini?" Kata Irfan seolah-olah sedang bertanya kepada dirinya sendiri.


"Sudahlah! Itu tidak penting. Katakan ada apa kau mendatangi aku kemari?" Tanya Marven ingin tau maksud dan tujuan Irfan menemui dirinya.


"Bang. aku ada berita bagus untuk mu." Kata Irfan sedikit berbisik.


"Berita bagus apa?" Tanya Marven penasaran.


"Bang. Aku mendapat kabar bahwa ada mahasiswi baru yang mendaftar kemarin di universitas Tasik permai. Setelah aku selidiki, ternyata cantik sekali dia bang." Kata Irfan dengan sangat antusias.


"Cantik? Serius kau Fan?!"


"Sumpah semi hantu laut bang! Cantik kali pokoknya. Namanya Della. Tapi orang-orang memanggilnya dengan panggilan Butet. Dia pindahan dari universitas National of Singapore. Kemarin aku selidiki lagi. Ternyata dia tinggal di Gang kumuh." Kata Irfan sambil menepuk tangannya karena terlalu bersemangat.


"Macam mana kecantikan cewe baru itu? Apakah setara dengan Wulan?"


"Beeeeh... Wulan lewat. Debora si bidan itu pun kalah bang. Kalau dalam perlombaan balap, Wulan akan kalah dua kilo meter. Sedangkan Debora akan kalah lima belas kilo meter bang!"


"Secantik itu kah cewek baru itu?"


"Cantik bang. Bulu matanya lentik seperti onta padang pasir yang tandus bang. Hitam dan mempesona. Rambutnya panjang dan lurus serta hitam dan mempesona. Alis matanya bagai semut beriring. hitam dan mempesona. Giginya yang tersusun rapi bak untaian zamrud katulistiwa..."


"Apakah hitam dan mempesona juga?" Cetuk Marven memotong penjelasan dari Irfan.


"Kali ini bukan hitam bang. Tapi putih mempesona." Jawab Irfan.


"Begini saja bang. Bagaimana kalau nanti malam kita main ke gang kumuh?! Lagipula kan sudah lama aku tidak menghirup aroma wangi anggur kelas dunia. Ayo lah bang. Masa sih aku baru sembuh tapi tidak ada perayaan." Rengek Irfan seperti anak kecil.


"Kau ini memang sejak kecil selalu menyusahkan aku. Nanti lah. Kalau aku ada waktu."


"Aku hanya membuka jalan saja bang. Nanti kalau cewek itu di sikat orang, jangan salahkan aku adik mu ini karena tidak memberitahu kepadamu." Kata Irfan menakut-nakuti Marven.


Dia tau benar tabiat dan watak Marven ini jika sudah menyangkut persoalan wanita. Apapun itu, kalau sudah berhubungan dengan keris pusaka warisan leluhur, dia pasti akan berangkat walau sesibuk apapun dirinya.


*********


Di sore yang sama, saat ini Tigor dan sembilan orang sahabatnya sengaja keluar dari blok B perumahan menengah keatas tasik putri untuk sekedar menikmati sore hari di kafe dekat jembatan. Soalnya sudah 3 hari ini mereka kembali secara harasia dari Hongkong. Sekarang lah saatnya untuk menghirup udara beraroma asap kendaraan di kota Tasik putri ini.


Keberangkatan Tigor kali ini menggunakan delapan sepeda motor dengan Tigor membonceng Mirna dan Jabat berangkat dengan membonceng Melly. Seorang anak gadis yang sejak dulu selalu mengikuti mereka mengamen hanya karena suka-suka semata.


"Waaah... Mobil ini mewah sekali."


"Berapa Milyar rupiah harganya ini?"


"Iya. Mewah sih mewah. Tapi mobil ini telah menghalangi jalan kita." Kata Andra.


"Ayo kita menyamping nyari jalan. Jangan sampai tersenggol. Sekali lecet mampus kita." Kata Jabat sambil menarik tangan Melly.


Sedikitpun Melly tidak membantah. Dia hanya menurut saja ketika Jabat menarik tangannya dan disusul oleh yang lainnya mengikuti Jabat menuju ke kafe. Namun sebelum mereka lebih jauh melangkah, tampak kaca mobil bagian sopir itu turun dan terlihat jelas raut wajah seorang gadis sedang tersenyum kearah mereka membuat semua pemuda kecuali Tigor merasa salah tingkah.


"Sama siapa dia tersenyum itu woy? Sama aku kah?" Kata Acong sambil celingak-celinguk.


"Jangan terlalu gede rasa lah kau. Mungkin sama aku." Kata Sugeng pula tak mau kalah.


"Hi Tigor. Lama tak jumpa. Kemana saja kau?" Tegur wanita itu membuat semua orang serentak memandang ke arah Tigor.


"Dia kenal sama kau Bang?" Tanya Thomas.


"Apa.tak kenal pulak. Kan Wulan itu. Kau ingat waktu si Karman dulu menjambret tas nya di sini juga. Ingat kau waktu kalian mengatakan wajah Ronggur seperti pantat kuali?" Kata Tigor.


"Ooooh....! Ingat. Aku ingat. Dia juga yang menjadikan mu sebagai kacung. Ya kan? Hahahaha..." Kata Andra menyela.


"Alah. Setan kalian semuanya. Kali ini mungkin aku akan dijadikan kacung lagi." Kata Tigor menggerutu.


"Siapa gadis kaya itu bang?" Tanya Mirna.


"Namanya Wulan. Dia anak seorang mafia berbagai jenis kendaraan dari Dolok ginjang." Jawab Tigor.


"Dia memanggil mu bang. Pergilah temui!" Suruh Mirna.


"Kau tidak cemburu?" Tanya Tigor.


"Asem. Pertanyaan bodoh seperti apa itu tadi?" Maki Tigor dalam hati.


"Mengapa aku harus cemburu. Aku milik mu jika kau mau. Tapi hati ku milik orang lain."


"Black Cat kah itu?" Tanya Tigor.


"Udah ah. Lihat tuh dia menunggu mu." Kata Mirna.


"Meng. Kau bawa mereka memasuki kafe. Aku akan menjinakkan harimau betina ini dulu." Kata Tigor lalu bergegas menuju ke arah mobil milik gadis yang ternyata Wulan itu.


"Em... Lan. Ada apa? Apakah kau..? Eh Anu Lan. Kau?"


"Sialan sekali lidah ku ini." Maki Tigor dalam hati.


"Kemana saja kau Gor? Hampir sepuluh hari aku tidak melihat mu." Tanya Wulan.


"Aku baru kembali dari Hongkong. Ada tugas melakukan transaksi di sana atas perintah dari Martin." Jawab Tigor.


"Wah... Hebat kau Gor. Baru menjadi anggota, tapi sudah mendapat kepercayaan sebesar itu dan berani mengambil resiko. Hebat! Ternyata aku yang bodoh selama ini." Kata Wulan.


"Kau tidak bodoh Lan. Hanya saja, kesombongan mu menutupi kebaikan hati dan fikiran mu." Kata Tigor.


"Begitu kah. Terimakasih karena sudah mengingatkan."


"Ada apa Lan? Apakah kau kemari sengaja ingin menemui aku?" Tanya Tigor.


"Tidak juga. Aku hanya sekedar lewat tadi. Tak disangka aku melihat mu disini." Jawab Wulan.


"Oh ya?! Kemana tujuan mu?" Tanya Tigor.


"Aku hanya ingin menemui Debora."


"Ya sudah. Aku pergi dulu. Lain kali kita bertemu lagi." Kata Wulan lalu bergegas memasuki mobil nya tanpa mereka sadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan gerak gerik mereka dari jarak yang cukup aman.