
"Saudara-saudaraku sekalian. Karena kita terlalu ramai, maka setiap 10 orang di antara kalian harus di tempatkan di lokasi berbeda. Sekitar 100 orang di antara kalian akan dipindahkan ke Kota kemuning untuk menguasai daerah sana. Dan seratus orang harus tetap di Tasik putri ini untuk menjaga disekitar hotel, restoran, kafe dan pusat hiburan. Aku teteh menghubungi Monang di dunia gemerlap. 10 orang diantara kalian segera berangkat ke sana." Kata Martin mulai membagi-bagi tugas rekrutan baru organisasi yang dia pimpin itu.
"Saudaraku. Harap kalian membagi diri menjadi dua kelompok dan siang ini juga kalian akan diberangkatkan ke Kota kemuning. Setelah itu kalian pilih satu orang wakil agar aku bisa menghubungi kalian melalui wakil yang kalian pilih sendiri." Kata Black Cat.
Semua yang ada di tempat itu kini terbagi menjadi dua kelompok dan setelah berembuk antara mereka, akhirnya satu orang terpilih menjadi wakil atau perantara yang menghubungkan mereka dengan Boss besar atau Tigor.
"Perkenalkan nama mu sobat!" Kata Tigor mempersilahkan wakil dari kelompok yang akan dikirim ke kota kemuning itu.
"Perkenalkan! Nama saya adalah Ameng. Saya memang berasal dari kota kemuning dan pindah ke tasik putri ini karena di sini ancaman dari geng tengkorak tidak terlalu parah." Kata Ameng menjelaskan.
"Apakah di Kota kemuning geng tengkorak sering menggangu?" Tanya Black Cat.
"Sering. Terkadang mereka meminta uang keamanan dan merampas hasil kerja kami. Sering terjadi bentrok antara kami dan mereka. Tapi kami tidak pernah menang." Kata Ameng mengadukan perihal geng tengkorak kepada Black Cat.
"Hmmm.., aku ingin lihat. Apakah setelah kita bersatu, mereka masih memiliki keberanian. Kau simpan nomor ponsel Tigor supaya jika ada sesuatu terjadi di sana, kami yang di sini bisa memberi bantuan." Kata Black Cat sambil meminta Martin untuke memberikan nomor ponselnya itu.
"Baiklah. Kau Andra. Nanti perintahkan 10 orang untuk menemui Monang. Sisanya akan aku atur nanti. Sekarang kalian boleh bubar." Kata Martin sambil menyuruh penjaga rumah tersebut untuk mengantar anggota baru itu keluar.
"Ameng. Ingat untuk menghubungi Tigor jika kalian mendapat gangguan dari Geng tengkorak." Kata Martin yang di balas dengan anggukan hormat dari Ameng.
Setelah semua mereka pergi meninggalkan ruangan itu, Black Cat pun langsung terduduk di sofa depan Martin sambil menarik nafas dalam.
"Ramai sekali mereka datang. Apakah tidak akan merepotkan mu nantinya?" Tanya Black Cat yang kini mulai membuka topeng kucing nya.
"Mengapa merepotkan? Ramai begini lah yang aku inginkan. Jika ada seribu orang itu lebih baik." Kata Martin.
"Jangan terlalu bangga dengan kuantitas jika kualitas nya kosong. Biar sedikit asal pandai pertarung dan gesit saat meninggalkan jejak. Itu yang aku mau." Kata Black Cat/Tigor.
"Lalu apa rencana mu Tigor?" Tanya Martin.
"Harus ada seorang master yang bisa menggembleng mereka ini. Mereka harus di latih baik fisik maupun kemampuan bertarung. Karena jumlah saja tidak akan berguna tanpa kemampuan." Kata Tigor.
"Aku pernah mendengar ada seorang jago pencak silat di kampung Kuala nipah namanya tengku mahmud. Nanti akan aku coba untuk kesana menghubungi orang tua itu. Jika dia mau, terserah dia yang kemari mengajar atau 200 orang ini kita kirim ke padepokan tengku itu. Pokoknya dalam waktu setahun, mereka harus sudah siap tempur. Ini seperti investasi jangka panjang." Kata Martin.
"Sudah waktunya kita mengembalikan kejayaan organisasi ini seperti dulu. Sudah waktunya juga kita merebut kembali wilayah-wilayah kita yang lepas ke tangan Birong. Aku akan membuat kekacauan seperti yang selama ini mereka lalukan di tasik putri ini. Yang jelas, uang keamanan tidak boleh lagi mengalir dari tasik putri ke kota batu." Kata Tigor.
Kau ganti dulu pakaianmu. Sebentar lagi mobil yang aku janjikan untukmu akan tiba. Aku telah meminta Lalah untuk memodifikasi mobil milikmu agar bisa menggunakan daya listrik serta bahan bakar." Kata Martin.
"Mobil apa yang kau belikan untuk ku, Martin?" Tanya Tigor.
"BMW i8. Kau siap-siap. Mobil itu akan dikirim kemari dari Dolok ginjang plus dengan sepeda motor Yamaha untuk mu. Aku akan pulang dulu." Kata martin lalu bergegas bangkit dari kursi nya.
"Ada apa pula Lalah ini menelepon ku." Kata Martin sambil menjawab panggilan itu.
"Lalah. ada apa kau menelepon ku?"
"Martin. Tadinya aku ingin mengantar mobil pesanan mu. Tapi kali ini putriku Wulan yang ingin mengantarnya secara langsung. Kau tunggu di sana! Dia sedang dalam perjalanan." Kata Lalah.
"Mengapa harus aku. Mobil itu untuk orang kepercayaan ku. Biarkan dia yang melakukan serah terima. Aku sedang rindu sama bini ku." Kata Martin.
"Terserah kau lah. Payah kali kau ini." Kata Lalah jengkel ketika Martin menyebutkan tentang bini tadi. Ini karena Lalah sudah ditinggal oleh istrinya yang meninggal ketika melahirkan Wulan.
"Nanti kau suruh orang kepercayaan mu itu mengantar putriku kembali ke rumahku sekalian testing mobil baru." Kata Lalah.
"Iya iya. Kau ini. Ada-ada saja kerja tambahan untuk ku. Kau ikut saja sekalian." Kata Martin.
"Jangan biarkan dia ikut. Ini kesempatan bagi Marven untuk mendekati putrinya Lalah." Bisik Tigor di telinga Martin.
"Oh betul juga."
"Ok lah Lalah. Kau jangan kesini. Biar putraku nanti yang akan mengantar putri mu ke Dolok ginjang." Kata Martin bersemangat.
"Mantap. Ok lah. Aku masih ada bisnis lain. Lain kali kita sambung lagi." Kata Lalah langsung mengakhiri panggilan.
"Bagus juga idea mu Tigor. Mengapa aku tidak terpikir kesana ya?" Tanya Martin begitu panggilan telepon itu berakhir.
"Pak Martin kan sudah tidak muda lagi." Kata Tigor tertawa melihat Martin yang tidak senang dikatakan tidak muda lagi oleh Tigor.
"Martin. Panggil saja Marven kemari. Ada beberapa hal yang harus aku rencanakan dengan nya serta beberapa acting. Ini perlu untuk menaikkan pamornya di depan Wulan nanti." Kata Tigor.
"Apa lagi yang perlu di bincangkan? Marven kan tidak kalah jauh soal ketampanan dibandingkan dengan kau itu. Apa lagi yang perlu di acting kan?" Tanya Martin.
"Ini masalah beberapa waktu yang lalu antara aku dan Wulan. Telah terjadi salah faham antara aku, Karman dan gadis itu. Pokoknya suruh saja Marven kemari. Ini urusan anak muda. Yang tidak muda lagi tidak boleh masuk campur." Kata Tigor setengah mati menahan tawa.
"Kurang ajar muncung mu itu Tigor." Kata Martin meradang.
"Hahaha... Awas kalau marah nanti jadi makin cepat tua." Kata Tigor tertawa.
"Ya sudah. Nanti aku hubungi Marven dan menyuruh dia agar menemui mu di sini. Awas kalau rencana kalian gagal. Ku jitak kepalamu." Ancam Martin lalu segera meninggalkan ruangan itu di ikuti tatapan Tigor sambil mengernyitkan kening nya.
Tanpa mengabaikan kesopanan, Tigor pun langsung mengiringi Martin menuju halaman rumah mewah itu sampai boss besar kelompok kucing hitam itu masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan blok B tasik putri menuju komplek elit tasik putri.